Minggu, Agustus 07, 2011

Sifat jaiz bagi Allah ada satu adalah ajaran setan .

 Di tulis oleh Mahrus ali


                                     

Biasanya kita dulu waktu masih belum bisa bekerja sendiri untuk mencari nafkah , kita duduk di bangku sekolah , kita ini di ajari dengan sifat – sifat Allah dan RasulNya kadang di ajari sifat – sifat Iblis. Kebanyakannya  kedustaan belaka , bukan kejujuran  tapi penyimpangan dan kesesatan dan memang para gurunya dari guru golongan , tidak mengambil guru dari luar golongan apalagi yang berjenggot atau bercelana cingkrang di anggap musuh bukan kawan Maunya guru yang mencukur jenggot dan celananya di bawah mata kaki lalu mengajar di masjid sambil merokok. .
Mereka menyatakan bahwa Allah mempunya satu sifat jaiz sbb :
فِعْلُ كُلِّ مُمْكِنٍ أَوْ تَرْكُهُ
Mengerjakan semua  yang mungkin atau meninggalkannya .
 Saya waktu dulu sampai di Mekkah , lalu pulang di rumah okey saja dengan ajaran itu boss, saya terbungkam , pikiran tidak terfokus kesana  dan hati tertutup . Lalu terlintaslah dalam benak saya bukan benakmu untuk melakukan kaji ulang terhadap ajaran yang pernah saya terima dari guru – guru saya dulu atau teman – teman . Saya mulai satu persatu hingga kali ini saya ingin bahas masalah sifat Ja`iz bagi Allah  ini .
Saya ingin tahu dalilnya dari Al quran atau hadis , saya  tidak menjumpainya.
Allah dan RasulNya tidak pernah menyatakan sifat jaiz bagi Allah satu.
 Dalam akidatul awam yang sering di pakai dalam pesantren ada syair sbb :
وَجَائِزٌ بِفَضْلِهِ وَعَدْلِهِ          تَرْكُ لِكُلِّ مُمْكِنٍ كَفِعْلِهِ
Sifat jaiz bagi Allah  dengan kanugrahan dan keadilanNya adalah meninggalkan seluruh perkara yang mungkin atau mengerjakannya adalah sama  .

    Pikiran  saya terarah pada  kalimat :

فِعْلُ كُلِّ مُمْكِنٍ أَوْ تَرْكُهُ
Mengerjakan seluruh perkara  yang mungkin atau meninggalkannya . ( boleh bagi Allah ) .
Ini sangat keliru  - tidak benar , sesat menyesatkan , bukan ajaran yang benar lalu meluruskan kesesatan tapi membikin serong yang lurus. Ia  bukan akidah salaf sekalipun mengaku salaf sebab Allah itu  mengerjakan tidak terbatas perkara yang mungkin saja , tapi Allah juga mengerjakan sesuatu yang menurut akal manusia tidak mungkin  juga bisa  dan boleh juga  Allah meninggalkan suatu yang mungkin untuk mengerjakan perkara yang tidak mungkin menurut akal manusia  atau kebalikannya . Allah berfirman :
أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَسْجُدُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ وَالنُّجُومُ وَالْجِبَالُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ وَكَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ وَكَثِيرٌ حَقَّ عَلَيْهِ الْعَذَابُ وَمَنْ يُهِنِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ مُكْرِمٍ إِنَّ اللَّهَ يَفْعَلُ مَا يَشَاءُ(18)
Apakah kamu tiada mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar daripada manusia? Dan banyak di antara manusia yang telah ditetapkan azab atasnya. Dan barangsiapa yang dihinakan Allah maka tidak seorangpun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki. Al Haj 18
Allah berfirman :
إِنَّ اللَّهَ يَفْعَلُ مَا يَشَاءُ
Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.
Kalimat apa yang Dia kehendaki itu general , baik perkara mungkin terjadi menurut akal atau yang tidak mungkin terjadi . Jangan di batasi dengan  kalimat :
فِعْلُ كُلِّ مُمْكِنٍ أَوْ تَرْكُهُ
Mengerjakan seluruh perkara  yang mungkin atau meninggalkannya . ( boleh bagi Allah ) .
 Ini namanya menghina kepada Allah bukan menghurmatNya dan tidak mendudukkan Allah kepada  posisi yang sebanarnya  tapi pada porsi dan posisi yang keliru – alias bukan ajaran Allah tapi ajaran setan.
Ingatlah  firman Allah :
وَمَا قَدَرُوا اللهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَاْلأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ

Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci Tuhan dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.[1]
  Kita bila ikut Tauhid aswaja yang menyatakan Allah punya  sifat jaiz satu itu , kita  termasuk orang yang melanggar kalimat al qur an ini  :
وَمَا قَدَرُوا اللهَ حَقَّ قَدْرِهِ
Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya
Orang yang tidak mengagungkan Allah dengan posisi  yang sebenarnya  termasuk  orang kafir , ber arti menghina kepada Allah yang berfirman :
وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ قُلْ أَبِاللَّهِ وَءَايَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ(65)
Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab: "Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja". Katakanlah: "Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu menghina?"Tobat 65.
Selain itu , sifat jaiz Allah :

فِعْلُ كُلِّ مُمْكِنٍ أَوْ تَرْكُهُ
Mengerjakan seluruh perkara  yang mungkin atau meninggalkannya . ( boleh bagi Allah
Itu tidak benar , alias salah  total , ia meng hususkan perbuatan Allah kepada perkara yang mungkin saja . Pada  hal , Allah berfirman atau tidak berfirman atau Allah berkata atau tidak berkata adalah terserah Allah , Apakah perkataan Allah ini di masukkan dalam sifat wajib bagi Allah lalu sifat jaiiznya hanya :
فِعْلُ كُلِّ مُمْكِنٍ أَوْ تَرْكُهُ
Mengerjakan seluruh perkara  yang mungkin atau meninggalkannya . ( boleh bagi Allah

    Doktrin akidah kita dulu hakikatnya tidak bersumber  dari ajaran Islami tapi dari ajaran kafir Yunani yang di modifikasi keislaman . Ajaran falsafah Yunani bukan sariat Islami . tentang perbuatan Allah kita berlandaskan ayat :
لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ(23)
Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya, dan merekalah yang akan ditanyai. Anbiya` 23
إِنَّ اللَّهَ يُدْخِلُ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ إِنَّ اللَّهَ يَفْعَلُ مَا يُرِيدُ(14)
Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh ke dalam surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki. Al Haj 13


[1] Az Zumar 67 , hadis Muttafaq alaih , Bukhori  4437
Artikel Terkait

11 komentar:

  1. Allah mampu apa tidak membuat Allah satu lagi?

    BalasHapus
  2. Rupanya Pak Mahrus Aly tidak memahamiy dengan baik istilah2 ilmu tauhid dari yang merumuskan sifat jaiz bagi Allah . Ia memahami bahwa makna mumkin dalam bahasa arab dianggap sama dengan Mungkin dalam bahasa Indonesia padahal keduanya sangat tidak ada persamaannya.

    Alam raya ini semuanya mumkinul wujud (bisa terjadi), dalilnya karena alam raya ini wujud, dan Allahlah yang menciptakannya dalil Qurannya

    إِنَّ اللَّهَ يَفْعَلُ مَا يُرِيد Allah berbuat apa saja yang Dia kehendaki

    Jadi semua yang Ia kehendaki akan terjadi karena Selain Allah adalah mumkinul wujud.

    dan yang Ia tidak menghendaki pasti tidak akan terjadi. Dari ini disimpulkan dengan rumusan Sifat Jaiz (sesuatu sesuai kehendakNya) membuat apa saja yang ia kehendaki atau tidak membuatnya.

    Sebenarnya ini rumusan dari memahami Al-quran, tetapi dengan bahasa Ilmu Kalam. Kalau menyimpulkan al Quran dengan cara yang memudahkan untuk difaham itu dianggap ajaran setan, maka tulisan pak Mahrus disini juga ajaran setan karena yang pak mahrus tulis yang terbanyak bukan al Quran dan hadits tapi komentar dari bapak.

    BalasHapus
  3. lihat lagi dalam kitab tauhidmu, jangan akal- akalan gitu. apakah arti mumkin, saya kira kamu itu orang yang ngerti ilmu tauhid, ternyata dugaan saya keliru. Kalau yang di maksud mumkin itu sebagaimana yang anda jelaskan , maka tentu di dunia ini semuanya mumkin. Dan tidak ada yang tidak mumkin.Baca kembali kitab tauhidmu dan saya lihat kamu tidak punya refrensi kecuali akalmu bukan kitab para ulama.

    BalasHapus
  4. Saya kira kamu memahami ilmu tauhid dan istilah yang dibuat oleh ulama ahli tauhid, ternyata dugaanku meleset jauh.

    Semua yang di alam raya ini - bagi Allah bukan bagi otakmu)- , adalah mumkin, karena Allah tidak terbatas kekuasaannya. Allah disamping Maha Kuasa, Ia juga Maha Tinggi, tidak ada satupun yang menguasaiNya, jadi tidak ada yang memberikan taklif kepada Allah untuk melakukan ini dan itu.

    Dari penjelasan ini disimpulkan, bahwa yang terjadi ini semua adalah atas masyiah Allah, dan yang tidak terjadi maka memang Allah tidak menghendakiNya.

    Pendek kata, menciptakan, atau tidak menciptakan adalah hal yang boleh boleh saja bagi Allah.

    Pernah baca kitab tauhid belum kang ????????

    BalasHapus
  5. Baca lagi di kitab khomsah mutun - kitab tauhid pesantren NU, nanti kamu akan ngerti definisi mumkin. Dan akan menyalahkan dirimu sendiri yang ngaku pandai. Sebab mumkin di situ adalah mumkin menurut akal bukan menurut Allah. Kalau nurut Allah semuanya mumkin.

    BalasHapus
  6. sebenarnya permasalahannya mudah, tinggal kita kembalikan kepada Al Qur'an dan As Sunnah. sebenarnya Nabi Muhammad tidak pernah mengajarkan kepada kita membagi-bagi dan membatasi sifat Allah. permasalahannya sekarang ajaran ini masuk di kurikulum mapel agama Islam mulai TK sampai Perguruan Tinggi. padahal bila muslimin disibukkan dg ajaran di Al Qur'an dan As Sunnah jauh lebih baik dibanding dg menghafal atau mempelajari kaidah2 yang bersumber dari ilmu kalam dan akal2an para munqollid kyai dan semacamnya. saya dukung dakwah Anda pak!

    BalasHapus
  7. satu saja pesan saya bagi para kaum muslimin yang sudah pada pandai dan berilmu, dalam memberikan fatwa tolong jangan saling menyesatkan yaaaa.ga baik krn yg tahu mana yang sesat mana yang tidak cuma allah saja.dan jgn saling menghujat sesama muslim.jgn krn kita sudah menyandang gelar keilmuan terus seenaknya , kita sesatkan, kita kafirkan, kita bid'ahkan.tidak baik, okeeeeeee.....thanks

    BalasHapus
  8. KIta menyesatkan dengan dalil, mendukung dengan dalil, melarang juga dengan dalil, memperbolehkan dengan dalil, mengkafirkan atau menyatakan mukmin dengan dalil, bukan dengan akal- akalan seperti anda gitu boss.

    BalasHapus
  9. Aslmlkm,
    wah parah pak Mahrus Ali ini,
    berani2nya menjustice bahwa "Sifat jaiz bagi Allah ada satu adalah ajaran setan ",dan memberi judul halaman dg kalimat "MANTAN KYAI NU"
    Dari judul itu saja sudah bisa dibaca tingkatan keruhanian anda seperti apa,

    Maka,tolong Pak Mahrus Ali kalau anda mengaku seorang Islam yg Rahmatan Lil alamin,
    maka anda tidak akan berani mengatakan atau membuat menjustice hal dg tulisan2 demikian,karena sesungguhnya anda belum memahami makna Ja'iz itu sendiri dan anda hanya terjebak pada kata2 dalil semata,bukan mendasari segala sesuatu dengan Al-Bashirah (Nurani)/ilmu hakekat yg penuh hikmah.

    Maka sesungguhnya ilmu Allah itu tak sedangkal yg kita pikirkan,kita ini sukanya hanya membatasi ilmu Allah dg benang2 dalil yg di reka2 menurut angan pikiran dangkal kita,

    Maka,tolong dalami lagi wawasan 'Aqoid / Mutaqod anda,mudah2an hati anda terbuka.
    namun jika memang anda bertahan pada cara pikir anda,maka sesungguhnya memang Allah itu juga menjadikan golongan2 umat yg fals / golongan sesat hingga disesatkan sekalian oleh-Nya,

    Justru kalimat anda ini malah akan menjadi bumerang buat anda (akan berbalik jadi anda yg menjadi bahian dari ajaran syetan).

    Maaf jangan marah yah,saya sekedar mengajak anda utk keluar dari belenggu kesempitan pikir anda.

    semoga Allah memberikan petunjuk padamu.

    Salam,

    BalasHapus
    Balasan
    1. kamu saat ini seperti saya saat dulu, ketika saya masih ahli bid`ah> ya begitulah saya dulu, selalu menganggap orang yang berdasarkan dalil sebagai orang yang picik, tidak paham ilmu dalam kitab kuning, bahkan bisa di katakan : Belajarlah lagi agar luas ilmunya". Itulah kiat setan untuk menjerumuskan manusia

      Hapus

Pesan yang baik, jangan emosional.Bila ingin mengkeritisi, pakailah dalil yang sahih.Dan identitasnya jelas. Komentar emosional, tidak ditayangkan