Al Qur an digital

Jumat, September 02, 2011

Hadis lemah tentang rukyah hilal ( melihat bulan sabit )

 

 


عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ جَاءَ أَعْرَابِيٌّ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ إِنِّي رَأَيْتُ الْهِلاَلَ قَالَ أَتَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ أَتَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ قَالَ نَعَمْ قَالَ يَا بِلاَلُ أَذِّنْ فِي النَّاسِ أَنْ يَصُومُوا غَدًا
 Dari Ibnu Abbas ra berkata : Seorang arab badui datang kepada Nabi SAW ,lalu berkata :”Sesungguhnya aku melihat Hilal “.
Rasulullah SAW bertanya :”Apakah kamu bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan sesungguhnya Muhammad Rasulullah SAW “.
Dia  menjawab :” Ya “.
Rasulullah SAW bersabda :” Wahai Bilal ! umumkan kepada manusia agar berpuasa  besok “.
ِ قَالَ أَبو عِيسَى حَدِيثُ ابْنِ عَبَّاسٍ فِيهِ اخْتِلاَفٌ
Abu Isa (Imam Tirmizi ) berkata :  Hadis Ibnu Abbas masih hilaf “.
Imam  Nasai menyatakan  hadis tsb mursal ( LEMAH SEKALI )[1]  Kesaksian satu orang  dalam melihat Hilal tidak bisa dibuat pegangan dan kami sampai saat ini  2 Syawal 1432 H belum menjumpai hadisyang sahih . Karena itu kembalilah kepada hadis Nabi SAW  sbb :
Bila kamu sekalian  melihat hilal , berpuasalah . Bila kamu melihatnya maka berbukalah[2] .Bila ada awan , maka lanjutkan sampai 30 hari [3]
Saya hawsatir , nanti orang yang rukyat sendiri , lalu berlebaran hari Senin , ada lagi yang ber rukyat sendiri , lalu berlebaran  hari selasa. Ini tidak diperkenankan


[1] HR Nasai 2113
[2] Sahih Bukhori
[3] HR Muslim
Artikel Terkait

28 komentar:

  1. saya lebih sepakat untuk mengatakan bahwa hadis tersebut termasuk shohih. Ibnu Hibban memasukkan hadis tsb dlm shahihnya padahal kita tahu beliau beriltizam untuk memasukkan hadis2 shahih sj dalam kitabnya. Ibnu Khuzaimah juga memasukkan hadis tersebut dalam Shahihnya, padahal kita tahu Ibnu Khuzaimah juga beriltizam sebagaimana Ibnu Hibban. Al-Hakim juga menshahihkannya dan disetujui oleh Ad-Dzahabi, sementara kita tahu Ad-Dzahabi adl seorang kritikus hadis yang kredibel. Jika yang dipermaslahkan adalah Ikrimah, maka Ikrimah adalah perawi yang dipakai oleh Al Bukhari. kalaupun yang dipermasalahkan adalah Simak bin Harb maka Simak adl perawi yang dipakai Muslim.

    BalasHapus
  2. Ibnu Hibban , Ibn Khuzaimah dan al hakim termasuk orang - orang mudah mensahihkan hadis lemah . jadi pentashihan mereka sudah di kenal di kalangan ulama sebagai pentashihan yang perlu di tinjau ulang bahkan tidak di anggap. Suatu saat akan saya jawab lengkap di Blog bila saya ada waktu .

    BalasHapus
  3. Na'am, justru yang ditunggu adalah penjelasan ilmiahnya panjenengan..Ibnu Hibban pernah sy dengar mutasahil memang (meskipun sikap ini juga tdk boleh membuat kita memvonis bahwa semua hadis beliau patut "dicurigai') tp Ibnu khuzaimah yg sy dengar malah sangat ketat. apalagi Adz-Dzahabi yg bebarapa kasus hadis dlm Al Mustadrok mengkritisi Al Hakim, namun pada kasus hadis ini beliau Muwafiq

    BalasHapus
  4. Insya Allah , semoga kita di arahkan kepada kebenaran yang cocok dengan dalil .

    BalasHapus
  5. lalu siapa yang berhak mendapat kemuliaan MELIHAT hilal?lalu siapa yang berhak mendapat kemuliaan MELIHAT hilal?

    BalasHapus
  6. Kaum muslimin yang adil , yang melakukan salat , puasa . jangan di ambilkan dari kalangan mereka yang munafiqin , suka menjalankan kemaksiatan atau kridit ke Bank riba

    BalasHapus
  7. Assalamualaikum Pa Kyai.

    Bukankah pada ayat 2/185 dikatakan .......... .............. faman syahida minkumusy syahro falyashumhu...............................
    yang diartikan ; ...... barang siapa diantara kamu membuktikan bulan itu (romadhan) hendaklah berpuasa .....................................
    Dalam ayat ini tidak diperintahkan melihat bulan, karena bulan di sini merupakan deretan angka (kalender) bukan bulan yang di langit. Dalam ini diperintahkan untuk melakukan perhitungan secara ilmiah.

    Terima kasih

    BalasHapus
  8. Arti syahida adalah hadir di tempat tinggal bukan membuktikan . Dan dahulu tiada kalender , karena itu salah satu cara untuk mengetahui bulan sudah masuk dengan melihat bulan sabit. Perintahnya rukyah hilal bukan hisab

    BalasHapus
  9. Assalamualaikum war., wab.
    Terima kasih pa Kyai atas responnya. Setahu saya perintah rukyah hilal untuk memulai bulan baru secara umum ada pada ayat 2/189 (Albaqoroh ayat 189), sedangkan khusus untuk bulan Romadhon adalah ayat 2/185. Dalam ayat 2/185 ALLAH menggunakan istilah syahra yang berarti bulan juga, tetapi bukan bulan yang terlihat malam hari yang diistilahkan dengan "qomar". Kita harus bisa membedakan antara "syahra" dengan "qomar", jangan karena pada zaman nabi tidak ada kalender maka dianggap syahra sama dengan qomar.
    Kemudian, yakinkah bahwa syahida diartikan dengan hadir ditempat tinggal ? Cobalah kita lihat arti potongan ayat 2/185 "............. Barang siapa diantara kalian hadir di tempat tinggal di bulan itu maka hendaklah berpuasa ..............". Lantas apa yang mengharuskan berpuasa dalam konteks potongan ayat di atas, karena syahra tidak bisa memperlihatkan hilal.
    Saya sangat berharap pa Kyai dapat memahami dan meneliti kembali dengan seksama.

    Nashru minallahu wa fathun qoriib

    BalasHapus
  10. Bila syahida di artikan membuktikan , maka bagi musafir yang membuktikannya harus berpuasa, lalu mana dalilnya bagi mukim ( orang yang tinggal di kediamannya ) untuk wajib berpuasa. Dan arti tafsir depag tentang ayat 185 baqarah itu sudah pas sesuai dengan kitab tafsir . Kita membuktikan bulan puasa masuk dengan melihat hilal menurut hadis Ibn Umar . Pikirkan lagi . Dan bacalah artikel sbb :
    MANTAN KYAI NU: PBNU tetapkan Idul Fitri pada 31 Agustus 2011
    30 Agt 2011
    ... فَضَرَبَ بِيَدَيْهِ فَقَالَ الشَّهْرُ هَكَذَا وَهَكَذَا وَهَكَذَا ثُمَّ عَقَدَ إِبْهَامَهُ فِي الثَّالِثَةِ فَصُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدِرُوا لَهُ ثَلَاثِينَ ...
    MANTAN KYAI NU: Idul Fitri 2011 Jatuh Pada Hari Selasa atau Rabu?
    30 Agt 2011
    656‏- حَدِيْثُ ‏ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ‏، قَالَ: قَالَ النَّبَيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، أَوْ قَالَ: قَالَ أَبُو الْقَاسِمِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صُوموا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ، فَإِنْ غُبِّيَ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلاَثِينَ. 656.Abu Hurairah ra menuturkan: MANTAN KYAI NU: Kenapa Mekah Lebih Duluan Hari Raya Idul ...
    29 Agt 2011
    Yasin 39. ٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِي اللَّه عَنْهممَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَكَرَ رَمَضَانَ فَضَرَبَ بِيَدَيْهِ فَقَالَ الشَّهْرُ هَكَذَا وَهَكَذَا وَهَكَذَا ثُمَّ عَقَدَ إِبْهَامَهُ فِي الثَّالِثَةِ فَصُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدِرُوا لَهُ ثَلَاثِينَ. Ibnu Umar ra berkata ...

    BalasHapus
  11. Assalamualaikum war., wab.
    Terima kasih atas responnya. Saya hanya ingin mengajak pa Kyai untuk membuka hati memahami potongan ayat 2/185, terutama istilah syahra yang belum pa kyai respon.
    Sedikit mengenai hilal, mata manusia biasa tanpa menggunakan alat tidak akan bisa melihat hilal tanggal 1 bulan Qomariah karena ;
    1. Setiap tanggal pertama, posisi Bulan selalu berdekatan dengan Matahari. Jika waktu itu berlaku gerhana Matahari, maka gerhana itu berlangsung selama 6 jam, sementara ijtimak hanyalah 7 menit dan Bulan bergerak terus tampak di angkasa dalam 1 hari sejauh 11 derajat
    12 menit dari orbitnya keliling Bumi. Sekiranya ijtimak Bulan dan Surya berlaku hari Senin pada jam antara 18.00 - 06.00 besoknya atau selama 12 jam malam itu. Maka sesudah ijtimak tersebut harus dicatat tanggal 1 bulan baru. Dan semisalnya hari itu awal Syawal, maka wajib berbuka puasa dan beridiel fitri hari Selasa. Tetapi Rukyah Hilal tidak kelihatan, sehingga penduduk masih berpuasa pada hari Selasa.
    2. Sesuai dengan hukum alam yang berlaku bahwa daerah yang tepat ditantang Matahari berudara panas dan berdebu, karenanya angkasa Barat sewaktu maghrib tampak berkabut yang menghalangi pandangan untuk membuktikan adanya Hilal bagi penanggalan bulan baru, karena hilal sangat tipis halus, setipis kertas kuning. Sia-sialah mereka yang akan melihat Hilal tersebut untuk ibadah hari besoknya.
    3. Corona (dalam Alquran disebut Zamharir pada ayat 76/13) itu menyilaukan mata kalau kebetulan dapat dilihat sewaktu cuaca baik. Jadi hilal pada awal Syawal ataupun bulan lainnya tidak mungkin dilihat karena wujudnya baru berupa garis melingkar setipis kertas, karena jauhnya dan dia berada dalam daerah Corona yang menyilaukan. Sekiranya orang masih dapat melihat Hilal, atau mengatakan telah melihatnya, tentulah yang dilihat orang itu Hilal malam ke 2 dari bulan itu.
    Maka benarlah Alquran dengan ketentuan yang tercantum pada ayat 2/185, bahwa siapa yang dengan perhitungannya mengenai penanggalan Qomariah dapat menentukan suatu hari adalah tanggal pertama bulan Romadhan, lalu dia harus menyatakannya kepada masyarakat ramai dan berpuasa siang hari bersama-sama selama 29 atau 30 hari. Demikian pula untuk tanggal 1 Syawal.

    Sebagai tambahan saya anjurkan kepada pa Kyai untuk melihat bulan pada malam hari tanggal 11 September 2011, pasti bulan purnama penuh tanggal 14 Syawal 2011.

    Terima kasih

    BalasHapus
  12. Lihat jawabanku di blog dengan judul :
    Alasan hari Selasan Idul fitri

    BalasHapus
  13. Untuk mbak lail , lihat jawabanku di blok dengan judul :
    RUKYAH HILAL , DASARNYA KELIRU
    Jazakillah khaira

    BalasHapus
  14. Ma'af tidak ada blog pa Kyai yang berjudul "Alasan hari Selasa Idul Fitri" jadi saya tidak bisa menemukan jawaban pa Kyai.
    Saya hanya ingin menambahkan bahwa ALLAH menggunakan istilah "SYAHRA" tidak hanya pada ayat 2/185, tetapi juga pada ayat ; 4/92, 9/36, 34/12, dan 46/15.
    Ayat 4/92 ; ............dua bulan ber .........
    Ayat 9/36 ; ............dua belas bulan .......
    Ayat 34/12 ; ...........sebulan ..... sebulan .
    Ayat 46/15 ; .......... tiga puluh bulan ......
    Bukankah semuanya menunjukan bahwa "syahra" diartikan sebagai bulan dalam bentuk kalender qamariah ? Apa yang bisa dilihat dari bulan seperti ini selain angka-angka dari 1 s/d 29/30 dan juga nama-nama dari bulan yang bersangkutan.
    Saya hanya mengajak pak Kyai untuk membuka hati melihat kenyataan ayat 2/185 dan sekaligus mengkajinya kembali semoga mendapat petunjuk ALLAH.
    Terima kasih

    BalasHapus
  15. Saya bila ikut kamu akan menyelisihi Rasul , para sahabat dan ulama salaf.
    Saya sarankan anda belajarlah kepada ulama ahli hadis , jangan belajar sendiri , memahami sendiri . Bertanyalah kepada ulama yang ahli dan belajarlah bahasa arab , nanti kamu akan mengerti ajaran al quran dan hadis dengan baik.

    BalasHapus
  16. Lho..., pak Kyai jangan mengikuti saya, tetapi ikuti ALQURAN dengan baik dan benar. Karena Alquran adalah "hudal lil muttaqiin", Insya ALLAH tidak akan menyelisihi Rosul apalagi para sahabat maupun para ulama.
    Yakinlah akan kebenaran Alquran, karena Alquran dijaga oleh ALLAH.
    Kemudian apa komentar pak Kyai tentang pengertian "syahra", masihkah menganggap bahwa syahra adalah bulan (hilal bulan), setelah saya tampilkan beberapa ayat yang mengandung istilah syahra ?.
    Memang saya tidak paham bahasa Arab, maka untuk memahami istilah syahra ini saya hanya membandingkan dengan ayat-ayat lain yang mengandung istilah syahra, seperti pada komentar terakhir saya.
    Dengan cara demikian saya menemukan banyak istilah dalam Alquran yang pemahamannya/terjemahan kurang tepat sehingga tidak sesuai dengan petunjuk.
    Terima kasih.

    BalasHapus
  17. Penulis rahimakallah. Setelah membaca ulasan panjenengan tentang argumentasi kenapa hadis Rukyatul hilal dipandang lemah, mk saya menyimpulkan bahwa jawaban itu terutama sekali didasarkan pd penilaian Syekh Al-albani. Jawaban penjenengan juga belum menjawab sejumlah “keresahan” saya, misalnnya; Jika memang lemah kenapa ulama besar seperti Ibnu Hibban, Ibnu Khuzaimah, Al-hakim, dan Ad-Dzahabi menshahihkannya?Jwban bhw Ibnu Hibban dan Al-hakim adl Mutasahil sehingga kita menolak penshahihan beliau berdua sy kira adl sebuah jawaban yg tdk ilmiah, krn tdk menjelaskan alasan kenapa sebuah riwayat ditolak. Ad-dzahabi sj yang sangat terkenal sbg kritikus hadis tdk serta merta menolak seluruh riwayat Al-hakim dlm Al-Mustadrok dg alasan Al hakim Mutasahil misalnya. Penulis juga belum memberikan jawaban kenapa Ibnu Khuzaimah yg setahu sy terkenal ketat menyeleksi hadis shahih, ternyata memasukkan hadis tersebut dlm shahihnya. Penulis juga belum memberikan jawaban kenapa Ad-dzahabi yg terkenal sbg kritikus hadis menyetujui penshahihan Al-hakim. Kita bertanya2; Apa “kesalahan” Ad-Dhahabi dan ibnu Khuzaimah dlm hal ini?bagaiman bisa kami yang awam ini dituntut lngsung percaya pd penilaian penulis lalu meninggalkan penilaian ulama yg jelas kredibilitasnya seperti beliau tnp hujjah?sy juga tdk sepakat jk krn penilaian al albani lalu semua hadis yg bertentangan dg tahqiq beliau dinilai salah. Krn itu bermakna mengajarkan kpd umat untuk bertaklid kepada syekh Al-Albani. Dg alasan apa kita bs percaya bhw keilmuan Al-Al bani lbh tinggi dari Ad-Dhahabi dan ibnu Khuzaimah?penulis ketika mengutip statemen Al-Albani juga hanya sekedar mengutip penilaian beliau, tnp hujjah yg dipaparkan oleh Al-Albani. Bukankah ini juga blm ilmiah?
    Tentang Simak bin harb, telah sy nyatakan (jk perawi ini yg dipermasalahkan) bhw beliau bs dijadikan Hujjah, krn beliau adl perawi yg dipakai oleh Muslim, pdhl para ulama telah sepakat keshahihan hadis Muslim. Statemen bhw riwayat Simak dr Ikrimah itu mudhthorib, mk hal ini blm ckp menjadi alasan tuk menolak hadis Simak yg diriwayatkan dg jalur ini berdasarkan sejumlah alasan;
    a.Simak adl perawi yang Jujur, bahkan salah seorang ulama Kufah yg disebut Ibnu Adi sbg Kibaru Tabi’iy. perawi yang jujur dimustahilkan berdusta. Apalagi berdusta atas nama Rasulullah SAW.
    b.kasus Idhthirob sanad itu hanya mencederai kedhobitan, yaitu hanya dikhawatirkan memarfu’kan hadis mauquf, memauqufkan hadis marfu’, membalik urutan kejadian , krng teliti menderet poin2 dalam hadis dll..adapaun hadis yang tdk mengandung hal2 ini maka kekhawatiran itu tdk perlu. Alasan2 ini scr umum tdk menyentuk aspek kekahawatiran berdusta atas nama Rasulullah SAW, tp hanya khawatir menisbatkan sesuatu pd sesuatu yg bs dipandang dalil pdhl msh bs difahami sbg ijtihad shahabat atw bahkan tabi’in
    c.Dlm kitab ‘Al Ighthibath biman rumiya minarruwat bil ikhthilath” dinyatakan bhw Simak itu hanya “low” diakhir hayatnya (saat sdh tua). Tentu ini lumrah. Ibnu hajar mengkritik pendapat yg mendhoifkan Simak scr mutlak. Yg benar kata beliau; beliau mudh thorib di akhir hayat. Termasuk riwayat beliau dari ikrimah lebih layak difahami dg sebab ini.
    Lalu dg alasan apa riwayat Simak dr Ikrimah didhoifkan scr mutlak? Dr mana penulis bs membuktikan bhw rwyt tentang rukyatul hilal ini diriwayatkan Simak diakhir hayat?
    sekali lagi perlu diingat ulama sekaliber Ad-dhahabi telah menshahihkan, pdhl beliau sangat faham dg biografi perawi dan ahwalnya (tampak dlm kitab beliau; tarikhul Islam dan siyaru a’lamin nubala). Ibnu Khuzaimah yg lbh dekat dr zaman Ruwatul hadits juga menshahihkannya.
    Jadi sy masih condong untuk mengikuti pendapat yang menshahihkannya dan mengkritik pendapat yang melemahkannya

    BalasHapus
  18. Tunjukkan sanad al hakim ,dan Ibnu Hibban akan saya tunjukkan kelemahan perawinya .

    BalasHapus
  19. Untuk jagona , tunjukkan tulisan saya yang menyatakan syahra saya artikan bulan sabit . Bacalah dengan teliti , tanyalah kepada ahlinya atau ulama yang mengerti quran dan hadis , bukalah hati dan pikiranmu untuk menerima keterangan dari orang lain.

    BalasHapus
  20. Lho..... pak Kyai jangan mengikuti saya, yang harus pa Kyai ikuti adalah Alquran, sesuai dengan fungsinya sebagai 'hudal lil muttaqiin', Insya ALLAH tidak akan menyelisihi Rasul, para sahabat, maupun para Ulama.
    Kemudian sudahkah dipahami arti dari 'syahra' setelah ditampilkan beberapa ayat yang mengandung istilah syahra.
    Terima kasih

    BalasHapus
  21. riwayat addarimy’
    سنن الدارمي - مكنز (5/ 196، بترقيم الشاملة آليا)
    حَدَّثَنِى عِصْمَةُ بْنُ الْفَضْلِ حَدَّثَنَا حُسَيْنٌ الْجُعْفِىُّ عَنْ زَائِدَةَ عَنْ سِمَاكٍ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ : جَاءَ أَعْرَابِىٌّ إِلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ : إِنِّى رَأَيْتُ الْهِلاَلَ فَقَالَ :« أَتَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنِّى رَسُولُ اللَّهِ؟ ». قَالَ : نَعَمْ. قَالَ :« يَا بِلاَلُ نَادِ فِى النَّاسِ فَلْيَصُومُوا غَداً »


    riwayat al baihaqy
    السنن الكبرى للبيهقي وفي ذيله الجوهر النقي (4/ 211)
    أَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الْحَافِظُ حَدَّثَنَا أَبُو الْعَبَّاسِ : مُحَمَّدُ بْنُ يَعْقُوبَ حَدَّثَنَا أَبُو الْبَخْتَرِىِّ : عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ شَاكِرٍ حَدَّثَنَا الْحُسَيْنُ بْنُ عَلِىٍّ الْجُعْفِىُّ حَدَّثَنَا زَائِدَةُ عَنْ سِمَاكِ بْنِ حَرْبٍ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ : جَاءَ أَعْرَابِىٌّ إِلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ : إِنِّى رَأَيْتُ الْهِلاَلَ يَعْنِى هِلاَلَ رَمَضَانَ فَقَالَ :« أَتَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ». قَالَ : نَعَمْ قَالَ :« أَتَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ». قَالَ : نَعَمْ قَالَ :« يَا بِلاَلُ أَذِّنْ فِى النَّاسِ أَنْ يَصُومُوا غَدًا ».
    riwayat an-nasa-i
    سنن النسائي (7/ 266)
    أَخْبَرَنَا مُوسَى بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ قَالَ حَدَّثَنَا حُسَيْنٌ عَنْ زَائِدَةَ عَنْ سِمَاكٍ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ
    جَاءَ أَعْرَابِيٌّ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَبْصَرْتُ الْهِلَالَ اللَّيْلَةَ قَالَ أَتَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ قَالَ نَعَمْ قَالَ يَا بِلَالُ أَذِّنْ فِي النَّاسِ فَلْيَصُومُوا غَدًا

    riwayat attirmidzi
    سنن الترمذى - مكنز (3/ 177، بترقيم الشاملة آليا)
    حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الصَّبَّاحِ حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ بْنُ أَبِى ثَوْرٍ عَنْ سِمَاكٍ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ جَاءَ أَعْرَابِىٌّ إِلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ إِنِّى رَأَيْتُ الْهِلاَلَ. قَالَ « أَتَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ أَتَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ». قَالَ نَعَمْ. قَالَ « يَا بِلاَلُ أَذِّنْ فِى النَّاسِ أَنْ يَصُومُوا غَدًا ».

    BalasHapus
  22. riwayat ibnu al-jarud
    المنتقى من السنن المسندة لابن الجارود (ص: 103)
    حدثنا علي بن الحسن الذهلي عن الحسين بن علي عن زائدة عن سماك عن عكرمة عن بن عباس رضي الله عنه قال : جاء أعرابي إلى النبي صلى الله عليه و سلم فقال إني رأيت الهلال فقال أتشهد أن لا إله إلا الله وأني رسول الله قال نعم قال يا بلال ناد في الناس فليصوموا غدا

    riwayat at-thabarani
    المعجم الكبير (11/ 295)
    حدثنا يعقوب بن إسحاق المخرمي ثنا مسلم بن إبراهيم ثنا حازم بن إبراهيم عن سماك بن حرب عن عكرمة عن ابن عباس قال : تمارى الناس في الهلال على عهد رسول الله صلى الله عليه و سلم فجاء أعرابي فشهد أنه رآه فقال النبي صلى الله عليه و سلم : تشهد أن لا إله إلا الله وأني رسول الله ؟ قال : نعم فأمر النبي صلى الله عليه و سلم بلالا فنادى إن الصوم غدا

    riwayat abu ya’la
    مسند أبي يعلى (4/ 407)
    حدثنا أبو بكر حدثنا حسين بن علي عن زائدة عن سماك بن حرب عن عكرمة : عن ابن عباس قال : جاء إلى النبي صلى الله عليه و سلم أعرابي فقال : أبصرت الهلال الليلة قال : تشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا عبده ورسوله ؟ قال : نعم قال : قم يا بلال فناد في الناس فليصوموا غدا

    riwayat ibnu abi syaibah
    مصنف ابن أبي شيبة (3/ 68)
    حَدَّثَنَا حُسَيْنُ بْنُ عَلِيٍّ ، عَنْ زَائِدَةَ ، عَنْ سِمَاكٍ ، عَنْ عِكْرِمَةَ ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ ، قَالَ : جَاءَ أَعْرَابِيٌّ إلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم ، فَقَالَ : يَا رَسُولَ اللهِ ، إنِّي رَأَيْتُ الْهِلاَلَ اللَّيْلَةَ ، قَالَ : تَشْهَدُ أَنْ لاَ إلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عبْدُهُ وَرَسُولُهُ ؟ قَالَ : نَعَمْ ، قَالَ : يَا بِلاَلُ ، نَادِ فِي النَّاسِ ، فَليَصُومُوا غَدًا.

    riwayat ibnu majah
    سنن ابن ماجه - مكنز (5/ 229، بترقيم الشاملة آليا)
    حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الأَوْدِىُّ وَمُحَمَّدُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ قَالاَ حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ حَدَّثَنَا زَائِدَةُ بْنُ قُدَامَةَ حَدَّثَنَا سِمَاكُ بْنُ حَرْبٍ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ جَاءَ أَعْرَابِىٌّ إِلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ أَبْصَرْتُ الْهِلاَلَ اللَّيْلَةَ. فَقَالَ « أَتَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ». قَالَ نَعَمْ.
    قَالَ « قُمْ يَا بِلاَلُ فَأَذِّنْ فِى النَّاسِ أَنْ يَصُومُوا غَدًا ».

    BalasHapus
  23. Kayaknya sudah saya jawab . Belajarlah bahasa arab dengan sungguh ,agar pengertian dan pemahamanmu bisa lurus

    BalasHapus
  24. Untuk Mbak lail Seluruhnhya akan saya tunjukkan kelemahan pendapat anda , namun untuk lebih cepatnya saya minta kalimat di bawah ini di carikan data arabnya dengan refrensinya sekalian .

    sekali lagi perlu diingat ulama sekaliber Ad-dhahabi telah menshahihkan, pdhl beliau sangat faham dg biografi perawi dan ahwalnya (tampak dlm kitab beliau; tarikhul Islam dan siyaru a’lamin nubala).
    Ibnu hajar mengkritik pendapat yg mendhoifkan Simak scr mutlak. Yg benar kata beliau; beliau mudh thorib di akhir hayat. Termasuk riwayat beliau dari ikrimah lebih layak difahami dg sebab ini.

    b.kasus Idhthirob sanad itu hanya mencederai kedhobitan, yaitu hanya dikhawatirkan memarfu’kan hadis mauquf, memauqufkan hadis marfu’, membalik urutan kejadian , krng teliti menderet poin2 dalam hadis dll..

    .Simak adl perawi yang Jujur, bahkan salah seorang ulama Kufah yg disebut Ibnu Adi sbg Kibaru Tabi’iy. perawi yang jujur dimustahilkan berdusta. Apalagi berdusta atas nama Rasulullah SAW.

    Ibnu Khuzaimah yg setahu sy terkenal ketat menyeleksi hadis shahih, ternyata memasukkan hadis tersebut dlm shahihnya.

    Ad-dzahabi yg terkenal sbg kritikus hadis menyetujui penshahihan Al-hakim.

    BalasHapus
  25. berikut data yang diminta penulis:
    penshahihann addzahabi
    المستدرك على الصحيحين للحاكم مع تعليقات الذهبي في التلخيص (1/ 437)
    حدثنا أبو بكر محمد بن أحمد بن بالويه ثنا محمد بن أحمد بن النضر الأزدي ثنا معاوية بن عمرو ثنا زائدة عن سماك بن حرب عن عكرمة عن ابن عباس قال : جاء أعرابي إلى النبي صلى الله عليه و سلم فقال : أبصرت الهلال الليلة فقال : أتشهد أن لا إله إلا الله و أن محمدا عبده و رسوله ؟ فقال : نعم قال : قم يا بلال فأذن في الناس فليصوموا
    قد احتج البخاري بعكرمة و احتج مسلم بسماك و هذا حديث صحيح الإسناد متداول بين الفقهاء و لم يخرجاه
    تعليق الذهبي قي التلخيص : صحيح


    Ibnu hajar mengkritik pendapat yg mendhoifkan Simak scr mutlak

    تهذيب التهذيب (4/ 205)
    ومن سمع منه قديما مثل شعبة وسفيان فحديثهم عنه صحيح مستقيم والذي قاله ابن المبارك إنما نرى أنه فيمن سمع منه بآخره

    Statemen pengarang nihayatul Ightibath
    قلت: وسماك بن حرب أبو المغيرة الكوفي صدوق صالح من أوعية العلم وروايته عن عكرمة خاصة مضطربة ساء حفظه وتغير بآخره حتى صار يلقن فيتلقن ولكن لا ينسب إلى الضعف المطلق، فما قاله ابن المبارك من أنه ضعيف في الحديث تعقبه ابن حجر قال: والذي قاله ابن المبارك إنما نرى أنه فيمن سمع منه بآخره.أهـ. وعليه يحمل كلام من أشار إلى تضعيفه إلى هذا التغير الذي وقع له في آخر عمره، وكذا إلى اضطرابه في رواية عكرمة. وممن روى عنه قديماً شعبة وسفيان وقد احتج به أبو داود والنسائي والترمذي وابن ماجة كما احتج به مسلم وروايته عن جابر بن سمرة والنعمان بن بشير وجماعة.

    kasus Idhthirob sanad itu hanya mencederai kedhobitan, yaitu hanya dikhawatirkan memarfu’kan hadis mauquf, memauqufkan hadis marfu’, membalik urutan kejadian , krng teliti menderet poin2 dalam hadis dll..

    ibnu taimiyyah berkata dlm syarhul umdah ketika membahas zaid bin jabiroh yg dikritik buruk hafalannya lalu dianggap dhoif scr mutlak pdhl tdk demikian

    شرح العمدة (ص: 432)
    أن رواته عدول مرضيون وإنما يخاف على بعضهم من سوء حفظه وذلك إنما يؤثر في رفع موقوف أو وصل مقطوع أو اسناد مرسل أو زيادة كلمة أو نقضصاخرى أو اختلاط حديث بحديث وشبه ذلك مما يؤتى الإنسان فيه من جهة تغير حفظه


    Simak adl perawi yang Jujur, bahkan salah seorang ulama Kufah yg disebut Ibnu Adi sbg Kibaru Tabi’iy

    الكاشف في معرفة من له رواية في الكتب الستة (1/ 465)
    سماك بن حرب أبو المغيرة الذهلي أحد علماء الكوفة


    تهذيب التهذيب (4/ 205)
    وقال ابن عدي ولسماك حديث كثير مستقيم إن شاء الله وهو من كبار تابعي أهل الكوفة وأحاديثه حسان وهو صدوق لا بأس به.


    Ibnu Khuzaimah yg setahu sy terkenal ketat menyeleksi hadis shahih

    تدريب الراوي (1/ 109)
    صحيح ابن خزيمة أعلى مرتبة من صحيح ابن حبان لشدة تحريه حتى أنه يتوقف في التصحيح لأدنى كلام في الإسناد فيقول إن صح الخبر أو إن ثبت كذا ونحو ذلك

    BalasHapus
  26. Al hamdulillah ada arabnya sehingga lebih mudah untuk menjawabnya , tapi tunggu antriannya .

    BalasHapus
  27. salam kenal buat mbak lain.
    aku salut nih,aku sudah sering kesini tapi malah yg membuat terkesan adalah pndapat mbak lail.
    lengkap dan tidak berat sebelah

    BalasHapus
  28. Kebenaran bukan karena berpihak kepada suatu golongan atau netralnya, tapi kajiannya dan refsensi yang rasional juga. Jangan salah pilih, tapi hati - hatilah dalam memilih sebelum kesalahan yang akan anda terima bukan kebenaran.

    BalasHapus

Pesan yang baik, jangan emosional.Bila ingin mengkeritisi, pakailah dalil yang sahih.Dan identitasnya jelas. Komentar emosional, tidak ditayangkan