Kamis, November 03, 2011

Hadis sawadul a`dhom yaitu mayoritas yang harus diikuti

Hadis tentang sawadul a`dhom  yaitu mayoritas  yang harus diikuti  dan jangan  ikut minoritas adalah lemah , hadisnya  sbb:

اِتَّبِعُوا السَّوَادَ اْلأَعْظَمَ فَإِنَّهُ مَنْ شَذَّ شَذَّ فِي النَّارِ " . رَوَاهُ ابْنُ مَاجَه مِنْ حَدِيْثِ أَنَسٍ

Ikutilah sawadul a`dhom ya`ni kebanyakan orang . sesungguhnya barang siapa yang terpencil , maka  terpencil dalam neraka . HR Ibnu Majah dari hadis Anas , lemah kata al albani . [1] lemah
Ia  bertentangan dengan hadis :

بَدَأَ الْإِسْلاَمُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ *
Islam mulai dalam keadaan terasing ( terpencil  dan   jarang pengikutnya ) . Dan akan kembali dalam keadaan terasing. Beruntunglah  orang orang yang terpencil . Hadis sahih ,[2]

Ada hadis lagi :
اِفْتَرَقَتْ بَنُو إِسْرَاِئيْلَ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً أَوْ قَالَ اثْنَتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَتَزِيْدُ هَذِهِ اْلأُمَّةُ فِرْقَةً وَاحِدَةً كُلُّهَا فِي النَّارِ إِلاَّ السَّوَادَ اْلأَعْظَمَ لَهُ رَجُلٌ ياَ أَبَا أُمَامَةَ مِنْ رَأْيِكَ أَوْ سَمِعْتَهُ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ  إِنِّي إِذًا لَجَرِيئٌ بَلْ سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَيْرَ مَرَّةٍ وَلاَ مَرَّتَيْنِ وَلاَ ثَلاَثَةً

Banu Israil berpecah menjadi 71 golongan atau  beliau bersabda : 72 golongan . Dan umat ini berpecah lebih darin itu , yaitu tambah satu lagi  menjadi 73 golongan . seluruhnya  di neraka kecuali golongan mayoritas .
Seorang lelaki berkata : Wahai Abu Umamah , dari pendapatmu  ataukah kamu dengar dari Rasulullah  .
Dia menjawab : Sesungguhnya aku termasuk orang yang berani , bahkan aku dengar dari beliau  dua atau tiga kali  bahkan lebih . [3] lemah  ,kata al albani

بَاب السَّوَادِ الْأَعْظَمِ  ( ابن ماجه)
قُلْ أَطِيعُوا اللهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا عَلَيْهِ مَا حُمِّلَ وَعَلَيْكُمْ مَا حُمِّلْتُمْ وَإِنْ تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا وَمَا عَلَى الرَّسُولِ إِلاَ الْبَلاَغُ الْمُبِينُ(54)
Katakanlah: "Ta`atlah kepada Allah dan ta`atlah kepada rasul; dan jika kamu berpaling maka sesungguhnya kewajiban rasul itu adalah apa yang dibebankan kepadanya, dan kewajiban kamu sekalian adalah semata-mata apa yang dibebankan kepadamu. Dan jika kamu ta`at kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. Dan tidak lain kewajiban rasul itu melainkan menyampaikan (amanat Allah) dengan terang."[4]

Nu`man bin Basyir berkata : Rasulullah   bersabda:
مَنْ لَمْ يَشْكُرْ الْقَلِيلَ لَمْ يَشْكُرْ الْكَثِيرَ وَمَنْ لَمْ يَشْكُرْ النَّاسَ لَمْ يَشْكُرْ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ وَالتَّحَدُّثُ بِنِعْمَةِ اللهِ شُكْرٌ وَتَرْكُهَا كُفْرٌ وَالْجَمَاعَةُ رَحْمَةٌ وَالْفُرْقَةُ عَذَابٌ
Barang siapa tidak bersukur kepada barang sedikit , tidak akan bersukur barang banyak . Bararang siapa yang tidak bersukur kepada manusia , sama dengan tidak bersukur kepada Allah azza wajal . Berbicara nikmat Allah sama dengan bersukur kepadanya.  Mengabaikan nikmat sama dengan kufur kepadanya> Jamaah adalah  rahmat dan perpecahan adalah siksaan

 فَقَالَ أَبُو أُمَامَةَ الْبَاهِلِيُّ عَلَيْكُمْ بِالسَّوَادِ الْأَعْظَمِ قَالَ فَقَالَ رَجُلٌ مَا السَّوَادُ الْأَعْظَمُ فَنَادَى أَبُو أُمَامَةَ هَذِهِ الْآيَةَ الَّتِي فِي سُورَةِ النُّورِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا عَلَيْهِ مَا حُمِّلَ وَعَلَيْكُمْ مَا حُمِّلْتُمْ

Abu Umamah al Bahili berkata : Ikutilah mayoritas ( as sawasul a`dhom ) .
Perawi berkata : Ada seorang lelaki bertanya : Apakah maksud as sawadul a`dhom .
Abu Umamah membacakan ayat ini di surat An nur :

فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا عَلَيْهِ مَا حُمِّلَ وَعَلَيْكُمْ مَا حُمِّلْتُمْ

dan jika kamu berpaling maka sesungguhnya kewajiban rasul itu adalah apa yang dibebankan kepadanya, dan kewajiban kamu sekalian adalah semata-mata apa yang dibebankan kepadamu.
HR Ahmad 27684 dan hanya Imam Ahmad yang meriwayatkannya  dari kalangan penyusun kutubut tis`ah . Sanadnya terdapat perawi bernama Abu waki` yang terkadang keliru dalam meriwayatkan hadis .
Ibnu Abi Hatim berkata :

رَوَى عَنْهُ أَبُو وَكِيْعٍ وَلاَ يُتَابَعُ فِي هَذَا

Abu Waki` meriwayatkan hadis tsb dan tiada hadis lain yang mendukungnya, kata
Imam Bukhari . [5]
Dan Abu waki` sendiri kadang keliru dalam meriwayatkan hadis di hawatirkan riwayat ini termasuk kekeliruannya. Jadi hadis tsb belum di buat landasan.

أَنَسُ بْنَ مَالِكٍ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ أُمَّتِي لاَ تَجْتَمِعُ عَلَى ضَلاَلَةٍ فَإِذَا رَأَيْتُمْ اخْتِلاَفًا فَعَلَيْكُمْ بِالسَّوَادِ الْأَعْظَمِ

Anas bin Malik ra berkata : Aku mendengar Rasulullah   bersabda : Sesungguhnya umatku tidak akan berkumpul untuk kesesatan . Bila kamu melihat perbedaan pendapat maka ikutilah mayoritas  terbanyak jumlahnya.
HR Ibnu Majah , lemah karena ada perawi bernama Abu Kholaf al a`ma  perawi yang di tinggalkan  oleh ulama , Mu`an bin Rifa`ah yang  lemah . Al abbas bin Usman Addimasyqi yang suka berkata benar , tapi juga keliru .

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدُ اللهِ مَعَ الْجَمَاعَةِ وَهَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ لاَ نَعْرِفُهُ مِنْ حَدِيثِ ابْنِ عَبَّاسٍ إِلاَّ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ

Dari Ibnu Abbas ra berkata : Rasulullah   bersabda :Tangan bersama jamaah . ( Allah selalu membela kumlulan atau jamaah kaum muslim ) .
HR Tirmidzi 2166 , Imam Tirmidzi berkata : Hadis nyeleneh dan aku tidak mengetahui  kecuali dari jalur periwayatan tsb.

عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللهَ لاَ يَجْمَعُ أُمَّتِي أَوْ قَالَ أُمَّةَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى ضَلاَلَةٍ وَيَدُ اللهِ مَعَ الْجَمَاعَةِ وَمَنْ شَذَّ شَذَّ إِلَى النَّارِ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ

Dari Ibnu Umar ra ,sesungguhnya Rasulullah   bersabda : Sesungguhnya Allah tidak akan mengumpulkan umatku atau beliau bersabda : Umat Muhammad , atas kesesatan . Dan tangan Allah bersamaah jamaah ( kaum muslim ) .
HR Tirmidzi 2168 , lemah karena perawi bernama   Sulaiman al madani . Abu Isa  - Imam Tirmidzi sendiri menyatakan  nyeleneh.
Dan beliau berkata lagi :

سَأَلْتُ مُحَمَّدًا عَنْ هَذَا الْحَدِيْثِ فَقَالَ سُلَيْمَانُ الْمَدَنِي هَذَا مُنْكَرُ الْحَدِيْثِ ،
Saya bertanya kepada Muhammad ( Imam Bukhari ) tentang hadis itu , lalu beliau bilang : Sulaiman al madani ( salah satu perawinya ) adalah mungkar mungkar hadisnya. [6]

As syaukani berkata :

وَبَقِيَ الْهَدْيُ النَّبَوِيُّ الْفِرْقَةُ الَّتِي لاَ تَزَالُ ظَاهِرَةً عَلَى الْحَقِّ ، فَهِيَ الْمُرَادَةُ بِلَفْظِ النَّاسِ فِي الْحَدِيثِ وَهِيَ السَّوَادُ الْأَعْظَمُ وَلَوْ كَانَتْ قَلِيلَةَ الْعَدَدِ

Tinggal tuntunan Nabi   yaitu golongan yang selalu exis dalam membela kebenaran . Itulah yang di maksud dalam hadis dengan as sawadul a`zham , sekalipun jumlahnya sedikit. [7]
Komentarku ; Maksud sawadul a`zham adalah golongan terbanyak , maka  tidak layak di gunakan untuk minoritas. Mungkin beliau mengikuti ulama yang menyatakan sawadul a`zham tidak  boleh terdiri dari ahli bid`ah sekalipun mayoritas . Sebab di kalangan mereka itu penuh dengan kesyirikan , kebid`ahan  yang bila di ikuti , akan membikin lebih parah dan lebih ternoda baik dari segi akidah atau lainnya. Bahkan banyak hadis yang menyatakan amaliah mereka tertolak .
Sekarang paling penting bagi kita belum menjumpai hadis sahih yang menganjurkan untuk mengikuti golongan mayoritas kecuali hadis yang lemah.

Dalam encyplopedi fikih Islam terdapat keterangan sbb:

اِتِّبَاعُ السَّوَادِ اْلأَعْظَمِ:
قَالَ اْلغَزَالِى: مُتَبِعُ السَّوَادِ اْلأعْظَمِ لَيْسَ بِمُقَلِّدٍ بَلْ عَلِمَ بِقَوْلِ الرَّسُوْلِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وُجُوْبَ اتِّبَاعِهِ لِقَوْلِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "عَلَيْكُمْ بِالسَّوَادِ اْلأَعْظَمِ ".

Mengikuti golongan mayoritas atau yang terbanyak.
Al Ghozali berkata : Pengikut golongan mayoritas bukan ber arti taklid , tapi mengetahui Rasulullah  bersabda : Ikutilah  golongan mayoritas , dan itu adalah wajib di ikuti . [8]

" وَمَنْ سَرَّهُ أَنْ يَسْكُنَ بُحْبُوْحَةَ، الْجَنَّةِ فَلْيَلْزَمِ الْجَمَاعَةِ "، وَ 0" وَالشَّيْطَانُ مَعَ اْلوَاحِدِ وَهُوَ مِنَ اْلاِثْنَيْنِ أَبْعَدُ "، وَذَلِكَ قَبُوْلُ قَوْلٍ بِحُجَّةٍ

Barang siapa yang senang bertempat di tengah surga , maka ikutilah jamaah ( golongan orang banyak atau komunitas kaum muslimin )  dan setan  selalu bersama dengan  satu orang . Ia lebih jauh dengan dua orang .
Itu adalah menerima pendapat dengan landasan hujjah / dalil . [9]


Komentarku :
وَقَالَ ابْنُ حَزْمٍ الظَّاهِرِى: عَلَيْكُمْ بِالسَّوَادِ اْلأَعْظَمِ، رِوَايَةٌ لاَ تَصِحُّ وَخَبَرٌ لَمْ يُخْرِجْهُ أَحَدٌ مِمَّنْ اشْتَرَطَ الصَّحِيْحَ

Ibnu Hazem azh zhahiri berkata : Hadis ikutilah golongan mayoritas adalah  riwayat yang lemah , tiada orang ayng mensaratkan sahih yang meriwayatkannya . [10]

Al albani berkata :  HR Tirmidzi 25/2 , Al Hakim 114/1 , Al baihaqi  91/1 dari jalur Muhammad bin Sauqah dari Abdullah bin Dinar dari dia ….
Tirmidzi berkata : Hadis hasan sahih nyeleneh .
Al Hakim berkata : Sahih menurut persaratan syaikhain ( Bukhari dan Muslim )
Imam Dzahbi menyatakan oke .
Al albani juga menyatakan  cocok . [11]
Ibnu Abi Hatim berkata :
- وَسَأَلْتُ أَبِي ، وَأَبَا زُرْعَةَ ، عَنْ حَدِيثٍ رَوَاهُ مُحَمَّدُ بْنُ سُوقَةَ ، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ دِينَارٍ ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ عَنْ عُمَرَ ، أَنَّهُ خَطَبَ بِالْجَابِيَةِ ، فَقَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم مَنْ سَرَّهُ بَحْبُوحَةَ الْجَنَّةِ فَلْيَلْزَمِ الْجَمَاعَةَ ، وَمَنْ سَاءَتْهُ سَيِّئَتُهُ وَسَرَّتْهُ حَسَنَتُهُ فَهُوَ مُؤْمِنٌ الْحَدِيثُ مَا عِلَّتُهُ
فَقَالا هَذَا خَطَأٌ ، رَوَاهُ ابْنُ الْهَادِ ، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ دِينَارٍ ، عَنِ الزُّهْرِيِّ ، عَنِ السَّائِبِ بْنِ يَزِيدَ ، أَنَّ عُمَرَ أَخَذَ مِنَ الْخَيْلِ الزَّكَاةَ

Saya bertanya kepada ayahku dan Abu Zur`ah  tentang hadis riwayat Muhammad bin Suqah  dari Abdullah bin Dinar  dari Ibnu Umar dari Umar , sesungguhnya  dia  berhutbah di Jabiyah, lalu berkata : Rasulullah   bersabda : Barang siapa yang senang  untuk bertempat di tengah surga , maka ikutilah jamaah .  Barang siapa yang senang bertempat di tengah surga , maka ikutilah jamaah ( golongan orang banyak atau komunitas kaum muslimin )  .Dan barang siapa yang kejelekannya tidak membikin hatinya sakit dan kebaikannya membikinnya bergembira , maka  termasuk mukmin , apakah illatnya ( aibnya ).
Keduanya menjawab: Ini adalah keliru . Ia diriwayatkan oleh Ibnu al hadi  dari Abdullah bin Dinar dari Al zuhri  dari Al sa`ib bin Yazid , sesungguhnya Umar mengambil zakat kuda ………………….[12]
Komentarku lagi :
Untuk mengikuti jamaah , maksud nya di anjurkan bersatu di kalangan kaum muslimin dan tidak boleh berkelompok – kelompok dan banyak landasannya terutama dari al Quran sbb :
شَرَعَ لَكُمْ مِنَ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلاَ تَتَفَرَّقُوا فِيهِ كَبُرَ عَلَى الْمُشْرِكِينَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ اللهُ يَجْتَبِي إِلَيْهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَنْ يُنِيبُ(13)
Dia telah mensyari`atkan kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama) -Nya orang yang kembali (kepada-Nya).[13]
Ayat tsb memerintah menegakkan ajaran agama dan jangan sampai bercerai berai.
Di ayat lain , Allah berfirman :

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللهُ لَكُمْ ءَايَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan ni`mat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena ni`mat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.  [14]
Orang yang berpecah belah akan mendapat siksaan yang pedih.

وَلاَ تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat,  [15]
Karena itu, bila terjadi persengketaan, maka di perintahkan untuk berdamai sebagaimana ayat :
وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا فَإِنْ بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَى فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّى تَفِيءَ إِلَى أَمْرِ اللهِ فَإِنْ فَاءَتْ فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَأَقْسِطُوا إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mu'min berperang maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah; jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.[16]
 Sudah tentu di anjurkan untuk bersatu , dan ia akan membikin kaum musrikin takut dan mereka selalu berusaha untuk memecah belah kaum muslim in dengan memberikan dana segar kepada  tokoh – tokohnya   yang sanggup membikin kaum muslimin sangat toleransi dan bersenang  - senang dengan lawan dan musuh – musuh Allah.






[1] Misykatul mashobih 381
[2] Muslim/Iman /145. Ibnu Majah /Fitan /3986. Ahmad /Baqi musnad muktsirin/8812.
[3] Dhilalul jannah  28/1
[4] An nur 45
[5] Al jarh watta`dil 403/9
[6] Ilalut tirmidzi 262/2
[7] Nailul authar 500/1
[8]  Al mustasfa  387/2
[9] Encyplopedi fikih Islam 45/1
[10] Al ihkam fii ushulil ihkam  76/6
[11] Irwa`ul gholil 215/6
[12] Ilal hadis karya Ibnu Abi Hatim 1978/1
[13]  Syura 13
[14] Ali Imran    102  .
[15] Ali Imran    105
[16]  Al Hujurat  9
Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pesan yang baik, jangan emosional.Bila ingin mengkeritisi, pakailah dalil yang sahih.Dan identitasnya jelas. Komentar emosional, tidak ditayangkan