Kamis, Desember 08, 2011

Ahmad Syafii Maarif dekat kepada Yahudi atau Islam


ADANG | SURYA Online - Situasi kontemporer di dunia Arab yang dewasa ini penuh gejolak tidak terlepas dari benturan antara kebudayaan pangeran melawan revolusi pemulihan harga diri. Gejolak yang dimulai di Tunisia sejak Desember 2010 itu terkait dengan kebudayaan Islam pangeran yang ditandai kekuasaan oleh raja, presiden, amir, sultan, dengan gagasan pembungkaman hak menyatakan pendapat yang dibiayai uang minyak Saudi Arabia.
Demikian pendapat mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Ahmad Syafii Maarif dalam seminar internasional bertema Konstelasi Politik Islam dan Era Kontemporer Timur Tengah; Antara Gerakan Demokrasi dan Islam, Kamis (8/12), di Kota Padang. Seminar itu digelar program pascasarjana IAIN Imam Bonjol, Padang, Sumatera Barat.
Dalam makalahnya, Syafii mengutip pendapat seorang sosiolog Maroko Fatima Mernissi yang menyebut fundamentalisme di Saudi sebagai Petro-Wahabisme dengan perempuan-perempuan bercadar sebagai pilarnya. Ungkapan itu dikutip Mernissi dari karya D Nur Abdallah yang berjudul Al-Petrole wa al-Akhlaaq.
Kebudayaan Islam pangeran yang dimaksud adalah rezim yang mengambil legitimasi dari anggapan bahwa seseorang tidak bisa menjadi Muslim dan menganut demokrasi pada saat bersamaan. Label kafir dengan legitimasi agama menjadi alasan mengapa rezim represif itu bertahan demikian lama di dunia Arab.

Benturan Kebudayan Arab


Komentarku ( Mahrus ali ):
 Suara terbanyak dari rakyat sekalipun salah bukan suara minoritas sekalipun benar dalam demokrasi sebagai rujukan adalah kekufuran bukan Islami, penyesatan bukan kebenaran, tidak mendidik kebaikan, bahkan mengarah kepada kerusakan, budaya kafir bukan budaya muslim, boleh di lihat dalam ayat 116 al an`am sbb:
 وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي اْلأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلاَّ الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلاَّ يَخَْرُصُون
Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).

Penyamun sepuluh orang, satu ustadz, maka pendapat penyamun di menangkan dan pendapat satu ustadz di kalahkan. Jadi rujukannya bukan kebenaran tapi jumlah suara pemilih  sekalipun kufur, tidak Islami, salah tidak benar, membahayakan, tidak bermanfaat.
Mana dalilmu memperkenankan demokrasi?. Kamu tidak akan menjumpainya kecuali dari refrensi Yahudi  bukan refrensi Islam.  Lihat lagi ayat ini:
وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُمْ بِاللّهِ إِلاَّ وَهُم مُّشْرِكُونَ   
12.106. Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain).
Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pesan yang baik, jangan emosional.Bila ingin mengkeritisi, pakailah dalil yang sahih.Dan identitasnya jelas. Komentar emosional, tidak ditayangkan