Rabu, April 22, 2015

jawabanku untuk Idrus Ramli ke 34

LANJUTAN KEMARIN

Dalam menafsirkan ayat di atas, Al Hafizh Ibnu Katsir (700-774 H), murid-murid Ibnu Taimiyyah, mengutip kisah al Utbi yang berkata, ”Di saat aku sedang duduk di makam Rasulullah, tiba-tiba datang seorang Arabi seraya membaca ayat di atas, kemudian dia berkata, ’Aku datang kepadamu untuk memohon ampunan bagi dosa-dosaku dengan perantaramu, seraya memohon syafaat. ’” Lantas dia melantunkan syair yang berbunyi:
يَا خَيْرَ مَنْ دُفِنَتْ فِي الْتُرْبِ أَعْظُمُهُ  فَطَابَ مِنْ طِيْبِهِنَّ اْلقَاعُ وَ اْلأَكَمُ
نَفْسِي اْلفِدَاءُ لِقَبْرٍ أَنْتَ سَاكِنُهُ   فِيْهِ اْلعَفَافُ وَ فِيْهِ الْجُوْدُ وَ اْلكَرَمُ

Wahai sebaik-baik orang yang jasadnya disemayamkan di tanah ini
Sehingga semerbaklah tanah dan bukit karena bau harum jasadmu
Jiwaku sebagai penebus bagi tanah tempat persemayamanmu
Di sana terdapat kesucian, kemurahan, dan kemuliaan
Setelah itu, A’rabi tersebut pergi dan aku pun terserang kantuk kemudian tertidur. Dalam tidurku, aku bermimpi bertemu dengan Nabi. Beliau bersabda, ”Wahai Utbi, susullah A’rabi tadi dan sampaikan kepadanya bahwa Allah telah mengampuni dosa-dosanya.”
Demikian kisah tersebut, sebagaimana dikutip oleh al Hafizh Ibnu Katsir dalam konteks kebolehan bertawasul dengan orang yang sudah meninggal. Kutipan kiah di atas cukup sebagai dalil bagi kebolehan tawasul dengan orang yang sudah meninggal, karena riwayat tersebut dikutip oleh al Hafizh Ibnu Katsir, yang merupakan salah seorang Ibnu Taimiyyah yang sangat mengagungkan gurunya, bahkan beliau menyebut gurunya dengan sebutan Syaikhul Islam
Komentarku ( Mahrus ali ):.
Shaqr bin Hasan berkata:

سلام عليكم ورحمة الله وبركاته
هَذِهِ اْلِقصَّةُ مَعْرُوْفَةٌ تُسَمَّى قِصَّةَ العُتْبِي.
وَهِي قِصَّةٌ بَاطِلَةٌ مَكْذُوْبَةٌ.
Kisah ini terkenal, dan diberi nama “Kisah Al Utbi”. Ini adalah sebuah cerita yang dusta dan keliru.
قَالَ الْحَافِظُ ابْنُ عَبْدِ الْهَادِي فِي كِتَابِهِ 0 الصَّاِرمُ المُنْكِي فِي الرَّدِّ عَلَى السُّبْكِي ص 252 - 253 ) : « إسْنَادُ هَذِهِ الْحِكَايَةِ مُظْلِمٌ. يَرْوِيْهَا بَعْضُهُمْ بِلاَ إِسْنَادٍ. وَبَعْضُهُمْ يَرْوِيْهَا عَنْ مُحَمَّدٍ بْنِ حَرْبٍ الْهِلاَلِي. وَبَعْضُهُمْ يرَوِيْهَا عَنْ مُحَمَّدٍ بْنِ حَرْبٍ عَنْ أَبِي الْحَسَنِ الزَّعْفَرَانِي. وَقَدْ ذَكَرَهَا اْلبَيْهَقِي فِي كِتَابِ شُعَبِ اْلإِيْمَانِ بِإسْنَادٍ مُظْلِمٍ عَنْ مُحَمَّدٍ بنْ ِرَوْحٍ بْنِ يَزِيْدَ الْبَصْرِي: حَدَّثَنِي أَبُو حَرْبٍ الْهِلاَلِي.. وَقَدْ وَضَعَ لَهَا بَعْضُ الْكَذَّابِيْنَ إِسْنَاداً ِإلَى عَلِيٍّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ ».

Al Hafidh Ibn. Abd. Hadi dalam kitabnya, “Assharim al Manki fir Radd Alas Subki” halaman 252 – 253. Sanad cerita ini gelap, sebagian peraawi meriwayatkan tanpa sanad, dan sebagiannya lagi meriwayatkan dari Muhammad bin Harb al Hilali, sebagian lagi meriwayatkan dari Muhammad bin Harb dari Abul Hasan al Za’farani. Imam Baihaqi menyebutnya dalam kitab “Syuabul Iman dengan sanad lemah, dari Muhamad bin Rauh bin Yazid al Basri, telah bercerita kepada Abu Harb al Hilali.
Sungguh, sebagian pendusta telah membuat sanad sampai kepada Ali bin Abu Thalib.
قاَلَ الْحَافِظُ ابْنُ عَبْدِالْهَادِي : " هَذَا الْخَبَرُ مُنْكَرٌ مَوْضُوْعٌ ، لاَ يَصْلُحُ اْلاِعْتِمَادُ عَلَيْهِ وَلاَ يَحْسُنُ الْمَصِيْرُ إِلَيْهِ ، وَإِسْنَادُهُ ظُلُمَاتٌ بَعْضُهَا فَوْقَ بَعْضٍ. وَالْهَيْثَمُ جَدُّ أَحْمَدَ بْنِ مُحَمَّدٍ بْنِ الْهَيْثَمِ أَظُنُّهُ ابْنَ عَدِى الطَّائِي. فَإِنْ يَكُنْ هُوَ فَهُوَ كَذَّابٌ مَتْرُوْكٌ وَإِلاَّ فَمَجْهُوْلٌ ".
Al Hafidh Ibn. Hadi berkata, “Ini adalah kisah munkar dan palsu, tidak layak dijadikan hujjah atau dibuat rujukan. Sanadnya adalah gelap, sebagiannya  atas sebagian yang lain.( saking  gelapnya ) Al Haitsam, kakek Ahmad bin Muhammad Al Haitsam bin Ady attha’i. Jika memang benar dia, maka dia adalah seorang pendusta dan ditinggalkan oleh para ulama, tetapi jika tidak demikian, maka berarti dia tidak dikenal.
Komentar (Mahrus Ali):
Biasanya, seorang perawi yang pendusta atau tidak dikenal adalah perawi yang ditinggalkan oleh para ulama, maka haditsnya adalah palsu
Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Pesan yang baik, jangan emosional.Bila ingin mengkeritisi, pakailah dalil yang sahih.Dan identitasnya jelas. Komentar emosional, tidak ditayangkan