Kamis, April 23, 2015

Kesalahan pendapat ulama ke 6


Lajnah Daaimah pernah berfatwa:
تجزئ البدنة والبقرة عن سبعة ، سواء كانوا من أهل بيت واحد أو من بيوت متفرقين ، وسواء كان بينهم قرابة أو لا ؛ لأن النبي صلى الله عليه وسلم أذن للصحابة في الاشتراك في البدنة والبقرة كل سبعة في واحدة ، ولم يفصل ذلك
“Diperbolehkan berkurban onta dan sapi dari tujuh orang. Sama saja apakah mereka itu berasal dari satu keluarga atau berasal dari lain keluarga. Sama saja, apakah di antara mereka terdapat ikatan kekerabatan ataupun tidak. Hal itu dikarenakan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa slalam mengjinkan para shahabatnya untuk berserikat atas onta dan sapi, masing-masing tujuh orang untuk seekornya. Dan beliau tidak memerinci lebih lanjut akan hal itu” [Fataawaa Al-Lajnah Ad-Daaimah, 11/401].
Komentarku ( Mahrus ali ):
Itu ternyata sekedar kesepakatan komite fatwa Saudi . Tida dalilnya.
Ternyata korban  dengan unta atau sapi  tidak memiliki dalil yang sahih, tapi sekedar qiyas.Pada hal qiyas bukan suatu landasan atau dalil. Dan ajaran agama ini berlandaskan al quran atau sunnah sahihah.  Berdalil dengan qiyas untuk menentukan suatu hukum bisa menyesatkan dan perlu dalil  juga bahwa  qiyas  di perbolehkan sebagai landasan hukum. Dan agama ini akan rusak karena dalil  tidak dipakai lalu  qiyas di jadikan hujjah bagi kita hingga  ahir zaman. Ibn Rusydi berkata:
فَقَاسَ الشَّافِعِيُّ وَأَبُو حَنِيْفَةَ الضَّحَايَا فِي ذَلِكَ عَلَى الْهَدَايَا
Imam Syafii dan Abu Hanifah mengkiyaskan  korban dalam hal tsb  atas hadyu yang di hadiyahkan kepada Ka`bah ( atau dam ). Bidayatul mujtahid  349/1
Ibnu Abdis salam  berkata:
وَهَذَا فِي الْهَدْيِ وَيُقَاسُ عَلَيْهِ الْأُضْحِيَّةُ بَلْ قَدْ وَرَدَ فِيهَا نَصٌّ فَأَخْرَجَ التِّرْمِذِيُّ وَالنَّسَائِيُّ مِنْ حَدِيثِ ابْنِ عَبَّاسٍ
Ini dlm masalah hadyu, bukan kurban. Bila untuk kurban, maka  sekedar qiyas kepadanya. Bahkan menurut beliau lebih dari itu, yaitu ada nas. Imam Tirmidzi dan Nasa`I meriwayatkan  hadis Ibnu Abbas. Subulus salam 324/6.

Komentarku ( Mahrus ali )
Maksud nas riwayat Tirmidzi dan Nasa`I adalah hadis Ibnu Abbas dari jalur Al Fadhel yang telah kita bahas tadi.

وَقَالَ قُدِّسَ سِرُّهُ أَيْضاً ((وَقَدْ كَانَ السَّلَفُ الصَّالِحُ مِنَ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ يَقْدِرُوْنَ عَلَى اْلقِيَاسِ وَلَكِنَّهُمْ تَرَكُوا ذَلِكَ أدباً مَعَ رَسُوْلِ اللهِ
Al arif billah Assya` rani  semoga Allah mensucikan sirrinya   berkata: Sungguh  salafus sholeh dari kalangan sahabat dan tabi`in  enggan berkiyas sekalipun mereka mampu untuk melakukannya karena  berakhlak terhadap Rasulullah SAW
Imam Bukhori membikin bab:
بَاب مَا كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُسْأَلُ مِمَّا لَمْ يُنْزَلْ عَلَيْهِ الْوَحْيُ فَيَقُولُ لَا أَدْرِي أَوْ لَمْ يُجِبْ حَتَّى يُنْزَلَ عَلَيْهِ الْوَحْيُ وَلَمْ يَقُلْ بِرَأْيٍ وَلَا بِقِيَاسٍ لِقَوْلِهِ تَعَالَى ( بِمَا أَرَاكَ اللَّهُ )

Nabi SAW ditanya tentang sesuatu yang tiada dalilnya dalam al Quran  lalu beliau berkata :” Tidak tahu “  atau tidak menjawab hingga wahyu diturunkan. Beliau tidak berpendapat atau menggunakan  qiyas
Jadi kita harus kembali bagaimana tata cara para sahabat dlm berkurban yaitu dengan kambing bukan sapi  sebagaimana  hadis:
Atho` bin Yasar berkata: “ Aku bertanya kepada  Abu Ayyub Al anshori : “Bagaimanakah korban diwaktu Rasulullah SAW , beliau menjawab:
كَانَ الرَّجُلُ يُضَحِّي بِالشَّاةِ عَنْهُ وَعَنْ أَهْلِ بَيْتِهِ فَيَأْكُلُونَ وَيُطْعِمُونَ حَتَّى تَبَاهَى النَّاسُ فَصَارَتْ كَمَا تَرَى
Seorang lelaki  befrkorban kambing untuk dia dan keluarganya,lalu  mereka makan dan di berikan kepada orang lain  hingga  orang – orang berbangga – banggan  sebagaimana kamu lihat.
http://library.islamweb.net/newlibrary/display_book.php?flag=1&bk_no=56&ID=2811

Imam  Tirmidzi menyatakan hadis tsb hasan sahih.Imam Ahmad dan Ishak mengharuskan korban kambing.Pendapat kambing untuk satu orang hanyalah pendapat Abdullah bin Al Mubarak.  Korban kambing menurut hadis tsb boleh untuk satu keluarga.

Mereka  boleh makan, juga  boleh di sedekahkan.
لَا تَذْبَحُوا إِلَّا مُسِنَّةً إِلَّا أَنْ يَعْسُرَ عَلَيْكُمْ فَتَذْبَحُوا جَذَعَةً مِنَ الضَّأْنِ رواه مسلم (1963) *
Jangan menyembelih  kecuali kambing yang sudah berumur setahun( menginjak awal tahun kedua / dua tahun menurut syafiiyah) , kecuali bila sulit di peroleh, kamu boleh menyembelih  kambing  domba yang berumur enam  bulan keatas( setahun menurut Syafiiyah )  
Paling mudah dan bisa dikatakan referensi terpercaya adalah domba korban yang di turunkan oleh Allah untuk Nabi Ibrahim. Bila kita memotong sapi untuk korban maka mana  dalilnya ?.
Dan masih banyak modal saya untuk menjelaskan masalah ini, namun saya cukupi sekian dulu.  Dan nanti pada suatu saat bisa saya lanjutkan lagi
Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Pesan yang baik, jangan emosional.Bila ingin mengkeritisi, pakailah dalil yang sahih.Dan identitasnya jelas. Komentar emosional, tidak ditayangkan