Jumat, Mei 01, 2015

Jawabanku untuk Idrus Ramli ke 45


Lanjutan yang lalu
وَقَالَ ابْنُ تَيْمِيَّةَ فِي ( اقْتِضَاءِ الصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيْمِ 2 / 289 - 290 ) : « ذَكَرَهَا طَائِفَةٌ مِنْ مُتَأَخِّرِي الْفُقَهَاءِ ، عَنْ أَعْرَابِيٍ أَنَّهُ أَتَى قَبْرَ النَّبيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَتَلاَ هَذِهِ اْلآيَةَ ، وَأَنْشَدَ بَيْتَيْنِ :
يَا خَيْرَ مَنْ دُفِنَتْ بِاْلقَاعِ أَعْظُمُهُ... فَطَابَ ِمنْ طِيْبِهِنَّ اْلقَاعُ وَاْلأَكَمُ
نَفْسِي اْلفِدَاءُ لِقَبْرٍ أَنْتَ سَاكِنُهُ... فِيْهِ اْلعَفَافُ وَفِيْهِ الْجُوْدُ وَاْلكَرَمُ
وَلِهَذَا اسْتَحَبَّ طَائِفَةٌ مِنْ مُتأخِّرِي اْلفُقَهَاءِ مِنْ أَصْحَابِ الشَّافِعِي وَأَحْمَدَ ، مِثْلُ ذَلِكَ ، وَاحْتَجُّوا بِهَذِهِ الْحِكَايَةِ الَّتِي لاَ يَثْبُتُ بِهَا حُكْمٌ شَرْعِيٌّ ، لاَ سِيَمَا فِي مِثْلِ هَذَا اْلأَمْرِ الَّذِي لَوْ كَانَ مَشْرُوْعًا مَنْدُوْبًا ؛ لَكَانَ الصَّحَابَةُ وَالتَّابِعُوْنَ أَعْلَمَ بِهِ وَأَعْمَلَ بِهِ مِنْ غَيْرِهِمْ ».


Ibnu. Taimiyyah berkata dalam kitab “Iqtdha’us Shirat al Mustaqim”, “Sebagian kalangan dari pakar fikih akhir-akhir ini menyebutkan kisah tersebut dari seorang Arab Badui yang datang ke kuburan Nabi, kemudian membca ayat tersebut seraya melagukan dua bait:
يَا خَيْرَ مَنْ دُفِنَتْ فِي الْتُرْبِ أَعْظُمُهُ  فَطَابَ مِنْ طِيْبِهِنَّ اْلقَاعُ وَ اْلأَكَمُ
نَفْسِي اْلفِدَاءُ لِقَبْرٍ أَنْتَ سَاكِنُهُ   فِيْهِ اْلعَفَافُ وَ فِيْهِ الْجُوْدُ وَ اْلكَرَمُ
Wahai orang yang terbaik yang tulang–tulangnya terpendam di bumi,
Lantas, lembah dan tanah undukan menjadi harum.
Diriku tebusan untuk kuburan yang engkau berdiam padanya
Di dalamnya kesucian, kedermawanan, dan kemuliaan
.[1]
وَلِهَذَا اسْتَحَبَّ طَائِفَةٌ مِنْ مُتأخِّرِي اْلفُقَهَاءِ مِنْ أَصْحَابِ الشَّافِعِي وَأَحْمَدَ ، مِثْلُ ذَلِكَ ، وَاحْتَجُّوا بِهَذِهِ الْحِكَايَةِ الَّتِي لاَ يَثْبُتُ بِهَا حُكْمٌ شَرْعِيٌّ ، لاَ سِيَمَا فِي مِثْلِ هَذَا اْلأَمْرِ الَّذِي لَوْ كَانَ مَشْرُوْعًا مَنْدُوْبًا ؛ لَكَانَ الصَّحَابَةُ وَالتَّابِعُوْنَ أَعْلَمَ بِهِ وَأَعْمَلَ بِهِ مِنْ غَيْرِهِمْ ».  ».
Maka dari itu, segolongan dari ahlli fikih pada masa terakhir dari kalangan pendukung Imam Syafi’i dan Imam Ahmad menyunnahkan demikian. Dan, mereka ber-hujjah dengan kisah yang tidak bisa dijadikan landasan hukum syara’. Apalagi dalam masalah seperti ini –yang seandainya telah diyariatkan atau disunnahkan-, maka para sahabat dan tabi’in terlebih dahulu mengetahui dan terlebih dahulu mengamalkan daripada yang lainnya.[2]
DR. Sholahuddin mengatakan bahwa hadits tersebut dijadikan dalil oleh kaum Syi’ah untuk membolehkan tawasul kepada mayat.[3]
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani berkata, ”Ini adalah sanad yang lemah dan gelap, aku tidak mengetahui tentang Ayyub Al Hilali atau perawi yang sebelumnya.”
Abu Zaid Aaroqosyi dicantumkan oleh Adz Dzahabi dalam kitab Al Muqtana fii Sardil Kuna 155/2, tetapi tidak disebukan namanya, dan beliau menyatakan, ”Dia tidak dikenal. Kisah tersebut munkar dan sangat buruk. Cukuplah, orang Badui tersebut tidak diketahui identitasnya.” Sayangnya, Ibnu Katsir menyebutnya kemudian disambut baik oleh orang-orang yang mementingkan diri sendiri, ahli bid’ah, dan mementingkan hawa nafsu. Imam Shobuni juga menyebutnya dalam kitab Mukhtashor 410/1
Kisah yang terdapat dalam Tafsir Ibnu Katsir tersebut tidak disandarkan kepada salah satu hadts yang terkenal, tetapi hanya disandarkan kepada Al Atbi yang tidak dikenal dan tidak ada yang menyebutnya dalam hikayat ini.
وَهِيَ حِكَايَةٌ مُسْتَنْكَرَةٌ ، بَلْ بَاطِلَةٌ ، ِلمُخَالَفَتِهَا اْلكِتَابَ وَالسُّنَّةَ ، وَ لِذَلِكَ يَلْهَجُ بِهَا اْلمُبْتَدِعَةُ ، ِلأَنَّهَا تُجِيْزُ اْلاِسْتِغَاثَةَ بِالنَّبِي صَلَّىاللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَطَلَبَ الشَّفَاعَةَ مِنْهُ بَعْدَ وَفَاتِهِ ، وَهَذَا مِنْ أَبْطَلِ اْلبَاطِلِ ، كَمَا هُوَ مَعْلُوْمٌ ، وَقَدْ تَوَلَّى بَيَانَ ذَلِكَ شَيْخُ اِْلإسْلاَمِ ابْنُ تَيْمِيَّةَ فِي كُتُبِهِ وَ بِخَاصَّةٍ فِي " التَّوَسُّلِ وَاْلوَسِيْلَةِ " ، وَ قَدْ تَعَرَّضَ لِحِكَايَةِ الْعَتْبِي هَذِهِ بِاْلإِنْكَارِ ، فَلْيُرَاجِعْهُ مَنْ شَاءَ الْمَزِيْدَ مِنَ اْلمَعْرِفَةِ وَاْلعِلْمِ
Kisah ini adalah hikayat yang munkar bahkan keliru, karena bertentangan dengan Al Quran dan hadits, karena itu ahli bid’ah sanat senang dengan adanya hadits tersebut, sebab di dalam hadits ini menerangkan bolehnya meminta tolong kepada Nabi Muhammad, meminta manfaat kepadanya setelah beliau wafat. Ini adalah hal yang amat keliru sebagaimana yang telah kita ketahui. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam kitab-kitabnya, di antaranya dalam kitab Tawassul wal Wasilah telah menjelaskan tentang hal tersebut, dan beliau mengingkari kisah Al Utbi ini.


[1] “Syuabul Iman” 82/1,  Assilsilatus Sahihah427/6

[2] http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=250654
[3] Kitab “Mihwariyah – Haditsus Tsaqalain fil Aqidati wal Ahkam, karya DR Sholahuddin, hlm.33
Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Pesan yang baik, jangan emosional.Bila ingin mengkeritisi, pakailah dalil yang sahih.Dan identitasnya jelas. Komentar emosional, tidak ditayangkan