Minggu, Mei 24, 2015

kesalahan ulama ke 17


Bang Roman menulis sbb:

Bekas hitam di dahi ciri kaum khawarij dan tukang ria'
عَنْ مَنْصُورٍ قَالَ قُلْتُ لِمُجَاهِدٍ (سِيمَاهُمْ فِى وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ) أَهُوَ أَثَرُ السُّجُودِ فِى وَجْهِ الإِنْسَانِ؟ فَقَالَ : لاَ إِنَّ أَحَدَهُمْ يَكُونُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ مِثْلُ رُكْبَةِ الْعَنْزِ وَهُوَ كَمَا شَاءَ اللَّهُ يَعْنِى مِنَ الشَّرِّ وَلَكِنَّهُ الْخُشُوعُ.
Dari Manshur, Aku bertanya kepada Mujahid tentang maksud dari firman Allah, ‘tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud’ apakah yang dimaksudkan adalah bekas di wajah? Jawaban beliau, “Bukan, bahkan ada orang yang ‘kapal’ yang ada di antara kedua matanya itu bagaikan ‘kapal’ yang ada pada lutut onta namun dia adalah orang FASIK. Tanda yang dimaksudkan adalah kekhusyu’an” (Riwayat Baihaqi dalam Sunan Kubro no 3702). Bahkan Ahmad ash Showi mengatakan, “Bukanlah yang dimaksudkan oleh ayat adalah sebagaimana perbuatan orang-orang bodoh dan tukang riya’ yaitu tanda hitam yang ada di dahi karena hal itu adalah CIRI2 KHAWARIJ” (Hasyiah ash Shawi 4/134, Dar al Fikr).

Komentarku ( Mahrus ali ):
Maaf saya kutip scr ringkas saja.
Kalimat ini terjemahannya kurang tepat , lihat terjemahannya sbb:
لاَ إِنَّ أَحَدَهُمْ يَكُونُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ مِثْلُ رُكْبَةِ الْعَنْزِ وَهُوَ كَمَا شَاءَ اللَّهُ يَعْنِى مِنَ الشَّرِّ وَلَكِنَّهُ الْخُشُوعُ
“Bukan, bahkan ada orang yang ‘kapal’ yang ada di antara kedua matanya itu bagaikan ‘kapal’ yang ada pada lutut onta namun dia adalah orang FASIK. Tanda yang dimaksudkan adalah kekhusyu’an” (Riwayat Baihaqi dalam Sunan Kubro no 3702).
Terjemahanku ( Mahrus ali ) :
Bukan begitu, sesungguhnya  di antara  kedua mata seseorang di antara mereka seperti lutut kambing > Dan ia termasuk kejelekan sebagaimana  apa yang dikehendaki oleh Allah. Tapi  maksud firman Allah, ‘tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud adalah khusyu`.
Komentarku ( Mahrus ali ):
Pendapat imam Mujahid  itu sekedar pendapat mungkin salah, mungkin benar. Dan ia terkesan akal – akalan  bukan menggunakan dalil, tapi dalil dibuang lalu akal dipakai. Ini kekeliruan yang nyata.
Bila kita ikut pendapat Imam Mujahid itu, kita akan sulit mencari wajah yang ada bekas husyu`nya itu. Kadang orang yang mengikuti  sunnah dengan komitmen saja, sulit diketahui wajah bekas husyu`nya. Kadang dikalangan ahli bid`ah, wajahnya cerah seperti bintang filem. Jadi wajah bekas husyu` di wajah  sulit diketahui. Ada kiyai di kampung saya berwajah cerah, tapi ketika keluar memakai bedak terlebih  dulu. Ini realita bukan meng ada – ada.
Saya  lebih  condong tanda di wajah bekas  sujud itu  itu identik dengan  sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam :
إِنَّ أُمَّتِي يَأْتُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ غُرًّا مُحَجَّلِينَ مِنْ أَثَرِ الْوُضُوءِ فَمَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يُطِيلَ غُرَّتَهُ فَلْيَفْعَلْ

       Sesungguhnya umatku di hari kiamat  akan datang dengan  cemerlang  wajah , tangan dan kaki mereka  di hari kiamat karena wudu yang sempurna.Barang siapa diantaramu mampu hendaklah memanjangkan cemerlangnya”.[1]
Juga cocok  dengan ayat:
يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ
Pada hari wajah – wajah sama cemerlang dan  wajah – wajah sama  menghitam.( hari kiamat )
 قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ وَغَيْرُهُ : تَبْيَضُّ وُجُوهُ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ , وَتَسْوَدُّ وُجُوهُ أَهْلِ الْبِدْعَةِ وَالْفُرْقَةِ
  Ibnu Abbas dan lainnya  berkata  : “Wajah ahlus sunnah waljamaah  yang akan cemerlang dan ahli bid`ah dan  pemecah akan  menghitam “. [2]

وَأَمَّا الَّذِينَ ابْيَضَّتْ وُجُوهُهُمْ فَفِي رَحْمَةِ اللَّهِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
Adapun orang-orang yang mukanya putih berseri berada dalam rahmat Allah (surga); mereka kekal di dalamnya.[3]
لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ وَلَا يَرْهَقُ وُجُوهَهُمْ قَتَرٌ وَلَا ذِلَّةٌ أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya. Dan muka mereka tidak berdebu hitam dan tidak terhina. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya.[4]

Anda menyatakan:
namun dia adalah orang FASIK

Komentarku ( Mahrus ali ):
Itu terjemahan yang emosional, bukan harfiyah atau apa adanya tapi meng ada – ada.
Terjemahan aslinya  sbb:
Dan ia termasuk kejelekan sebagaimana  apa yang dikehendaki oleh Allah”.


Lantas anda menyatakan lagi:
). Bahkan Ahmad ash Showi mengatakan, “Bukanlah yang dimaksudkan oleh ayat adalah sebagaimana perbuatan orang-orang bodoh dan tukang riya’ yaitu tanda hitam yang ada di dahi karena hal itu adalah CIRI2 KHAWARIJ” (Hasyiah ash Shawi 4/134, Dar al Fikr).
Komentarku ( Mahrus ali ):
Saya  tidak menjumpai keterangan  dari kitab – kitab Asshawi  yang menyatakan tanda  hitam di dahi adalah ciri khawarij . Saya  malah menjumpai perkataan beliau  dalam hasyiah  shawi sbb:
وسيماهم في وجوههم من أثر السجود : الخشوع والخضوع
Tanda  di wajah mereka   dari bekas sujud adalah husyu`  dan tunduk.


الكتاب : حاشية الصاوي على الشرح الصغير
مصدر الكتاب : موقع الإسلام
http://www.al-islam.com
[ الكتاب مشكول ومرقم آليا غير موافق للمطبوع
http://islamport.com/d/2/mlk/1/15/491.html

Lalu dari mana  anda menyatakan bahwa Imam Shawi menyatakan seperti itu, ya`ni  hitam di dahi adalah ciri  khawarij.
Realitanya, saya melihat banyak  orang yang tampak shaleh yang dahinya hitam dan mereka bukan khawarij di Saudi arabia atau di Indonesia. Bila benar imam Sawi menyatakan  seperti itu , kita  juga perlu dalil dari beliau dan beliau  dalam hal ini tidak punya dalil.
Imam Ali bin Husain bin Ali  assajjad  juga di juluki  dengan  kalimat :
ذِي الثَّفِنَاتْ
Orang yang punya banyak  kulit yang keras ( ngapal ) karena sebab sering sujud atau lainnya. Maksudnya dahi , kedua tapak tangan dan lutut beliau berkulit keras ( ngapal ). Dan beliau  juga bukan khawarij. Jadi tidak benar orang yang bilang  hal itu sebagai ciri khawarij.  









[1] HR Muslim 246

[2] Majmuk fatawa libni Taimiyah/3/278. Tafsir Al Qurthubi 164/4. Ibnu  Katsir /391/1. Zadul masir /436/1.

[3] Aliimran 107

[4]  Yunus 26
Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Pesan yang baik, jangan emosional.Bila ingin mengkeritisi, pakailah dalil yang sahih.Dan identitasnya jelas. Komentar emosional, tidak ditayangkan