Jumat, Mei 29, 2015

Kesalahan ulama ke 19




Tanggapan untuk Bang Roman
Saya tulis dengan ringkas saja  sbb:
tanggapan dari saya (Bang Roman ) :
sebelumnya saya ucapkan terimakasih atas kritikan mahrus ali tapi yang mengherankan bahwa anda tidak menemukan atau tidak tahu tentang riwayat dlm kitab Asshawi menyatakan tanda hitam di dahi adalah ciri khawarij !!
ini kutipan lengkapnya ...

حاشية الصاوي على الجلالين ج 4 ص 89
{
قوله سِيمَاهُمْ فِى وُجُوهِهِم مِّنْ أَثَرِ السُّجُودِ } اختلف في تلك السيما فقيل ان مواضع سجودهم يوم القيامة ترى كالقمر ليلة البدر وقيل هو صفرة الوجوه من سهر الليل وقيل الخشوع الذي يظهر على الاعضاء حتى يتراءى انهم مرضى ةليسوا بمرضى وليس المراد به ما بصنعه بعض الجهلة المرائين من العلامة في الجبهة فانه من فعل الخوارج وفي الحديث اني لابغض الرجل واكرهه اذا رايت بين عينيه اثر السجود
Komentarku ( Mahrus ali ):
Ya, terima kasih saya  ucapkan pada Bang Roman yang telah menemukan keterangan tsb di kitab Hasyiyatus shawi dan memang saya  tidak punya kitab itu dengan bentuk digitalnya.  Dan tidak perlu heran bila  saya belum menjumpainya. Sebab, saya sekedar manusia yang  tidak mungkin bisa menguasai  ilmu secara keseluruhan. Bahkan banyak ilmu yang belum saya ketahui  dan insya allah akan  saya ketahui nantinya.  Apa yang saya alami juga akan di alami oleh orang lain tentang hal tsb adalah biasa, bukan sesuatu yang mengherankan.
Namun saya tetap tidak setuju terhadap perkataan syaikh  Ahmad bin Muhammad al khalwati ( pengamal  thariqat khalwatiyah ) al shawi  bermadzhab Maliki  ( 1175 – 1241) .Beliau menyatakanbahwa  tanda hitam di dahi adalah perbuatan khawarij . Lalu beliau menyampaikan hadis :
اني لابغض الرجل واكرهه اذا رايت بين عينيه اثر السجود
Saya  dapatkan atsar  itu dalam kitab
الفردوس بمأثور الخطاب (1/ 61)
174 أنس بن مالك إني لأبغض الرجل وأكرهه إذا رأيت بين عينيه أثر السجود ليتجافى أحدكم في سجوده
Komentarku ( Mahrus ali ):
 Itu bukan hadis Nabi shallallahu 'alaihi wasallam , tapi perkataan Anas bin Malik ra . “Sesungguhnya aku benci kepada seorang lelaki , aku  tudak suka padanya bila aku melihat di antara  dua matanya ada bekas sujud . Hendaklah seseorang di antaramu merenggangkan dalam sujudnya ( tidak di tekan ke tanah atau tempat sujudnya ).
Perkataan  dari Anas  kali ini di muat dalam kitab “al firdaus bima`tsuril khithab “ Setahu  saya  kitab itu mencantumkan riwayat – riwayat  yang nyeleneh, lemah, palsu dan bathil. Jarang sekali yang sahih  atau Hasan.
Kali ini, perkataan Anas itu di dalam kitab tsb tanpa sanad. Dan saya sendiri mencari sanadnya tidak ketemu. Dan  sulit sekali dikatakan  akurat, sahih atau hasan  gampang sekali dikatakan batil, lemah atau palsu.  Sudah tentu perkataan Anas  ini tidak bisa di buat hujjah untuk menyatakan tanda hitam di dahi adalah perbuatan Khawarij, apalagi ciri khawarij. Bila dibuat hujjah, akan menyesatkan banyak orang setelah mereka mendapat kebenaran.
Realitanya banyak kalangan ulama  dan orang – orang saleh yang berjidat hitam dan bukan khawarij, malah anti khawarij.  Malah sebagian mereka yang tidak berjidat hitam memerangi pemerintah Islam – sudah tentu  tidak mendukungnya dan ini termasuk khawarij yang asli dan ahlus sunnah yang palsu.Tapi tidak semuanya begitu.
Atsar  dari Anas bin Malik itu  seandainya  sahih sekedar perkataan Anas bin Malik yang tidak boleh dibuat hujjah, apalagi tidak bersanad dan boleh dikatakan lemah.
Dalam kitab al baiquniyah di katakan :


أَوَّلُهَا( الْصَّحِيْحُ) وَهُوَ مَااتَّصَل    إِسْنَادُهُ وَلَمْ يُشَذَّ أَوْيُعَلْ
Permulaan pembagian hadis adalah sahih – yaitu hadis yang sanadnya bersambung , tidak syadz , juga tidak ada illatnya . Al Baiquniyah karya Ibn Utsaimin.
  قَالَ أَبُو مُحَمَّدٍ لاَ حُجَّةَ فِي أَحَدٍ دُوْنَ رَسُوْلِ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Abu Muhammad berkata :  Hujjah kami adalah Rasulullah saw, bukan perorangan . Al muhalla  205/2

Seorang yang berjidat hitam  itu belum tentu kafir, dia mungkin mukmin, lalu mengapa sahabat Anas benci kepadanya. Perkataan yang di sandarkan  kepada Anas  bertentangan  dengan hadis :
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
  Seseorang diantaramu tidak beriman hingga mencintai saudaranya  yang muslim sebagaimana mencintai dirinya ,”sabda Rasul[1]
Juga bertentangan dengan ayat:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
Sesungguhnya orang-orang mu'min adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.[2]
anda juga mengatakan  lagi
Pendapat imam Mujahid itu sekedar pendapat mungkin salah, mungkin benar.
tanggapan dari saya (Bang Roman ) :penilain anda tentang pendapat ulama' terlalu menfonis dan terkesan menolak . seperti halnya banyak dari orang orang syiah yang berargumen bahwa sahabat nabi yang meriwayatkan hadits bisa salah juga bisa benar padahal intinya mereka menolak ..

Komentarku ( Mahrus ali ):
Lihat komen saya:
“Pendapat imam Mujahid itu sekedar pendapat mungkin salah, mungkin benar” .
Kalimat ini sering dikatakan oleh ulama kibar spt Imam Malik sediri menyatakan:
إنَّمَا أَنَا بَشَرٌ أُصِيبُ وَأُخْطِئُ فَاعْرِضُوا قَوْلِي عَلَى الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ
        Aku hanyalah manusia , terkadang pendapatku benar , di lain waktu kadang salah . Karena itu , cocokkan perkataanku ini dengan kitabullah dan hadis Rasulullah .

Imam Syafii yang menyatakan :
إذَا صَحَّ الْحَدِيثُ فَاضْرِبُوا بِقَوْلِي الْحَائِطَ وَإِذَا رَأَيْت الْحُجَّةَ مَوْضُوعَةً عَلَى الطَّرِيقِ فَهِيَ قَوْلِي .
Bila ada hadis sahih , maka  lemparkan perkataanku ke tembok . Bila kamu lihat hujjah telah berada di jalan , maka  itulah perkataan ku 
 لاَ تُقَلِّدْ دِينَك الرِّجَالَ فَإِنَّهُمْ لَنْ يَسْلَمُوا مِنْ أَنْ يَغْلَطُوا .
Dalam masalah agama,jangan ikut orang , sebab  mereka mungkin juga salah .
Lantas pendapat Imam Mujahid yang tidak berdalil itu, bahkan bertentangan dengan dalil itu diterima dengan baik, tidak boleh dikomentari seperti itu. Ini akan menyesatkan kalangan awam. Jadi kebenaran ulama harus didukung dan kesalahan mereka harus di komentari agar umat tercerah dengan kebenaran  dan tidak digelapkan dengan kesalahan.
Anda menyatakan lagi:
saya sepakat dengan anda kalo atsar sujud itu tidak bisa di nilai dari hitamnya dahi dan bersih(putih) wajah seseorang . saya hanya heran dengan fenomena banyaknya salfiyin yang berlomba lomba menghitamkan dahi mereka . seperti kejadian di musholla tempat saya bekerja banyak teman teman salafi jika sujud dalam sholatnya lama sekali dan ada unsur di tekan dan mereka biasanya enggan memakai sajadah mereka lebih memilih langsung sholat di karper, jadi tidak butuh waktu lama dahi mereka sudah hitam semua. .. ini juga realita yang saya alami smile emotikon
Komentarku ( Mahrus ali ):
Kalau masalah waktu sujud di tekan itu ada landasannya hadis sbb:
إِذَا سَجَدْتَ فَمَكِّنْ لِسُجُودِكَ فَإِذَا رَفَعْتَ فَاقْعُدْ عَلَى فَخِذِكَ الْيُسْرَى
.Bila kamu melakukan sujud ,maka tekanlah untuk sujudmu . Bila bangun , duduklah di atas pahamu yang kiri  HR Ahmad.



[1] HR Bukhori / Iman /13. Muslim/Iman/45. Tirmizi/ sifatul qiyamah /2515. Nasai/Iman /5016,5017 Ibnu majah / Muqaddimah /66. Ahmad / Baqi musnad muksirin/11591
[2] Al Hujurat 10
Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Pesan yang baik, jangan emosional.Bila ingin mengkeritisi, pakailah dalil yang sahih.Dan identitasnya jelas. Komentar emosional, tidak ditayangkan