Kamis, Juni 11, 2015

Sejak sepuluh tahun lalu , saya tidak menjalankan jamaah di masjid berlampu. seri ke 4




  ــ  سعيد بن عبد العزيز بن أبى يحيى التنوخى ، أبو محمد ، و يقال أبو عبد العزيز ، الدمشقى ( فقيه أهل الشام و مفتيهم بدمشق )
Said bin Abd Aziz bin Abu Yahya al tanuhi – Abu Muhammad  , juga di sebut Abu Abd Aziz al Dimasyqi – ulama  syam , mufti mereka di Damaskus.

Mayoritas para  sahabat, tabiin dan atbaut tabiin tidak kenal hadis itu sampai mati. Sebab  ia di masa seratusan tahun hijriyah masih belum dikenal dan hanya satu orang yang tahu yaitu Said bin Abd Aziz. Dan ini termasuk afradus syamiyin yang membikin lemah hadis itu.
- حكم تفرد الراوي بالحديث:
1- كراهية المتقدمين لرواية الغريب:
كان المتقدمون من علماء الحديث يكرهون رواية الغرائب وما تفرد به الرواة، ويعدونه من شَرِّ الحديث، كما قال الإمام مالك رحمه الله: "شَرُّ العلم الغريبُ، وخيرُ العلم الظاهرُ الذي قد رواه الناس" 1،
Hukum hanya seorang perawi yang meriwayatkan  hadis.( tafarrud )
1.    Ulama hadis  dahulu tidak suka atau benci terhadap riwayat  gharib ( nyeleneh )
Ulama hadis dahulu benci  terhadap  terhadap riwayat – riwayat yang gharib ( nyeleneh )  dan  hadis yang  di riwayatkan   oleh seorang  perawi , lalu di anggap   sebagai  hadis yang  terjelek  sebagaimana  di katakan   oleh Imam Malik rahimahullah: Ilmu  terjelek  adalah  yang gharib  dan  ilmu yang  terbaik adalah  yang tampak yang di riwayatkan oleh manusia. ( banyak ). 1
 وقال سليمان الأعمش: »كانوا يكرهون غريبَ الحديث«2،
Sulaiman  al a`masy berkata : Mereka  tidak suka  dengan  hadis yang gharib 2.

عبد الله بوراي


الحديث إلى هنا أغلب رواياته ضعيفة أو منكرة، أما الزيادة فلم أقف لها على أصل والله أعلم.
Sampai disini  kebanyakan riwayat hadis memberi lampu ke Baitul maqdis adalah lemah atau munkar . Untuk tambahan nya ( saat itu negri itu termasuk harbi ………….)   saya  tidak menemukan asalnya ( refrensi kitab hadis  yang menerangkan hal itu ) , wallahu a`lam. Kata  Abdulla Burai.
[حكم الألباني] : ضعيف  سنن أبي داود (1/ 125)

Menurut al bani , hadis tsb lemah.  Sunan Abu Dawud 125/1


Al arnauth  menyatakan:
وضعفه عبد الحق في "الأحكام الوسطى" 1/ 298، وابن القطان في "بيان الوهم والإيهام" 5/ 535، وقال الحافظ في "الإصابة" 130/ 8 عن هذا الحديث: فيه نظر.
وكنا قد صححنا هذا الحديث في "شرح مشكل الآثار"، وضعفناه في "مسند أحمد"، لكننا لم نُشِر إلى ذلك في "المسند"، فيُستدرك من هنا.=
سنن أبي داود ت الأرنؤوط (1/ 343)
Abd Hak dalam kitab al ahkam al wustha 298 / Ibn Qatthan dalam kitab bayan al wahm wal iham 535 . Al hafidh Ibn Hajar  dlm kitab al Ishabah  8/130  hadis tsb masih perlu  dikaji  ulang .
Kami  telah mensahihkan  hadis tsb  dalam syarah Musykil atsar , dan kami lemahkan di Musnad Ahmad > tapi  kami  tidak memberikan isarat ke sana  dlm kitab al Musnad , lalu kami komentar lagi disini.
Sunan  Abu Dawud al arna uth 343/1



Untuk riwayat Ibnu Majah sbb:
حدثنا ‏ ‏إسمعيل بن عبد الله الرقي ‏ ‏حدثنا ‏ ‏عيسى بن يونس ‏ ‏حدثنا ‏ ‏ثور بن يزيد ‏ ‏عن ‏ ‏زياد بن أبي سودة ‏ ‏عن ‏ ‏أخيه ‏ ‏عثمان بن أبي سودة ‏ ‏عن ‏ ‏ميمونة مولاة النبي ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏قالت

 
‏قلت يا رسول الله أفتنا في ‏ ‏بيت المقدس ‏ ‏قال ‏ ‏أرض المحشر والمنشر ائتوه فصلوا فيه فإن صلاة فيه كألف صلاة في غيره قلت أرأيت إن لم أستطع أن أتحمل إليه قال ‏ ‏فتهدي له زيتا يسرج فيه فمن فعل ذلك فهو كمن أتاه.
……………., Maimunah berkata: Aku bertanya : Wahai Rasulullah berilah fatwakan kami  tentang baitul maqdis. Beliau  berkata: Ia adalah tanah Mahsyar dan tempat manusia di bangkitkan dari kuburan. Datangilah , lalu lakukanlah  shalat disitu. Sesungguhnya  shalat  di situ  sama dengan seribu kali shalat di tempat lain.
Aku  berkata: Bagaimana  bila  aku tidak bisa pergi ke sana ?
Beliau menyatakan: Kamu bisa memberikan minyak untuk lampunya . Barang  siapa yang menjalankan  sedemikian sama dengan orang yang datang kepadanya.
قال عنه الشيخ الألباني في ضعيف سنن ابن ماجة : منكر.

Syaikh  al albani menyatakan : Hadis  tsb munkar   dalam dhaif sunan Ibn Majah.

Seorang pengawas dalam shaut islami menyatakan:

وقال عنه الإمام الذهبي: خبر منكر، وضعفه الألباني في "ضعيف الجامع".
Imam Dzahabi menyatakan : Ia khabar yang munkar , dilemahkan  oleh al bani  dalam kitab Dhaif jami`.

Komentarku ( Mahrus ali ):
Begitulah keterangan para ulama tentang hadis memberi minyak untuk masjidil aqsha . Banyak kalangan mereka yang melemahkan.
Untuk kejanggalan dari segi  redaksi  hadis  adalah perintah  untuk mengirimkan minyak ke baitul maqdis  yang kala itu masih di kuasai oleh Romawi. Belum dikuasai  oleh pemerintahan Islam. Bahkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam   dan  Khalifah Abu bakar meninggal dunia, baitul maqdis masih dalam cengkeraman  kafirin bukan muslimin,  masjid tsb masih di buat ritual kesyirikan  oleh kalangan kristen. Tidak digunakan untuk shalat wajib lima kali . Ia  di buat  untuk kesyirikan bukan tauhid. Kalau  saat itu ada perintah untk mengirimkan minyak untuk lampu disana,  ber arti untuk memberi penerangan kepada pelaku  kesyirikan. Pada  hal , orang – orang  yang  melakukan shalat di masjid Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di Medina  saja gelap gulita tanpa lampu sampai Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, bahkan sampai khulafaur Rasyidin meninggal dunia.
Pengiriman minyak ke Baitul maqdis itu  seolah memperbolehkan kesyirikan dan layak diberi bantuan agar kesyirikan itu ditegakkan dalam masjid tsb. Hal ini ber arti membantu kpd kemungkaran bukan menghilangkannya  atau menghalanginya. Ia bertantangan dengan firman Allah:
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَ تَعَاوَنُوا عَلَى اْلإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ شَدِيدُ الْعِقَاب
Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. [1]


Karena saya tidak menjumpai refrensi yang akurat dan valid untuk melakukan shalat jamaah  dengan lampu yang terang benderang,  dan  saya  telah menemukan refrensi bahwa masjid  Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dlm keadaan gelap di waktu malam bukan waktu siang  sebagaimana  keterangan  di atas, maka  saya  dan jamaah saya sejak sepuluh tahun yang lalu berjamaah  di masjid tanpa lampu. Jadi gelap gulita bukan terang benderang.
Kata teman – teman  dari jamaah saya pikiran lebih fokus, lebih husyu` dan lebih mantap di banding ketika kita shalat dengan lampu yang terang benderang. Kita melihat banyak hal ketika lampu masjid terang seperti orang yang lewat, gambar baju teman, lampu masjid yang indah, wajah  wanita di masjid dll.




Mau nanya hubungi kami:
088803080803( Smartfren). 081935056529 (XL )  https://www.facebook.com/mahrusali.ali.50







[1] Al Maidah 2.
Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Pesan yang baik, jangan emosional.Bila ingin mengkeritisi, pakailah dalil yang sahih.Dan identitasnya jelas. Komentar emosional, tidak ditayangkan