Selasa, Juni 23, 2015

Sejak sepuluh tahun yang lalu saya tidak menjalankan tarawih, tapi tahajjud saja . Seri ke 4





يَزِيْدُ بْنُ عَبْدِ الْلَّهِ بْنِ خُصَيْفَةَ ( مْ)
يَزِيْدُ بْنُ عَبْدِ الْلَّهِ بْنِ قُسَيْطٍ ( مَ دَ)
يَزِيْدُ بِنُ أَبِىْ يَزِيْدَ الْمَصْرَىً

Yazid bin Abdullah bin _khusaifah
Yazid bin Abdullah bin Kusait
Yazid bin Abi Yazid Al masri.

أَبُوْ بُرْدَةَ بْنُ أُبَىٍّ مُوْسَىْ الْأَشْعَرِىِّ ( مْ) ( وَ هُوَ مِنْ أَقْرَانِهِ)
أَبُوْ بَكْرِ بْنُ حَفْصِ بْنِ عُمَرَ بْنِ سَعْدِ بْنِ أَبِىْ وَقَّاصٍ ( خَ مْ)
أَبُوْ سَلَمَةَ بْنُ عَبِدِ الْرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ ( خَ مْ سَ) ( وَ هُوَ مِنْ أَقْرَانِهِ) .


Abu Burdah bin Abi Musa Ashari (dan merupakan salah satu rekan-rekannya)
Abu Bakar bin Hafsh bin Umar bin Saad bin Abi Waqas
Abu Salamah bin Abd al-Rahman bin Auf (dan merupakan salah satu dari rekan-rekan).

Komentarku (Mahrus ali ): 
Murid ‘Urwah yang  sekitar 64 orang , semuanya tidak mengerti tentang hadits “sebaik-baik bid’ah adalah ini (sholat Tarawih  berjama’ah)”, kecuali Muhammad bin Muslim Al-Zuhri. Jadi dia adalah perawi tunggal dari seluruh perawi di dunia yang meriwayatkan hadits tersebut. Ini suatu keganjilan yang perlu dikaji ulang, bukan sekedar diikuti yang nantinya kita sesat dan oranglain juga sesat. Di kalangan shahabat, hadits itu tidak populer. Istri-istri Rasulullah SAW, Utsman, dan Ali RA sendiri tidak tahu hadits itu, bahkan kebanyakan para shahabat tidak kenal. Ia populer di zaman kita, tidak dikenal di kalangan shahabat.
Jadi bukan Ibn Syihab sj yang  tafarrud, tapi Abd Rahman bin  Abd Qari dan Urwah juga  perawi tunggal dari  guru ke murid.
Murid Abd Rahman al Qari perawi tunggal hadis  sebaik – baik  bid`ah ……….. sebagai berikut:
حُمِيْدُ بْنُ عَبْدِ الْرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ
الْسَّائِبُ بْنُ يَزِيْدَ ( مَ دَ تْ سَ قَ ) ، وَ هُوَ مِنْ أَقْرَانِهِ
عَبْدُ الْرَّحْمَنِ بْنُ هُرْمُزَ الْأَعْرَجِ ( سَ )
عُبَيْدُ الْلَّهِ بْنُ عَبْدِ الْلَّهِ بْنِ عُتْبَةَ ( مَ دَ تْ سَ قَ )
عُرْوَةُ بْنُ الْزُّ بَيْرِ ( خَ مَ دَ تْ سَ )
مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الْرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدٍ الْقَارِىِّ ( ابْنَهُ )
مُحَمَّدُ بْنُ مُسَلَّمْ بْنِ شِهَابٍ الْزُّ هْرِىِّ ( قَ )
يَحْيَى بْنُ جَعْدَةَ بْنِ هُبَيْرَةَ الْمَخْزُومِىُّ .

Humaid bin Abdul Rahman bin Auf
Assaib bin Yazid . dan dia merupakan salah satu dari rekan-rekan
Abd al-Rahman bin Hormuz al a’raj
Ubaidullah bin Abdullah bin Utbah
Urwah bin Zubair
Muhammad ibn Abd al-Rahman bin Abdul-qari (anaknya)
Muhammad bin Muslim bin Shihab al-Zuhri (s)
Yahya bin Ja`dah bin Hubairah alMakhzumi.

Komentarku (Mahrus ali ):
Abdurrahman Al-Qari yang ketika Umar RA wafat masih berumur 13 tahun -Perawi tunggal, tiada pendukungnya yang meriwayatkan hadis “sebaik-baiknya bid’ah adalah ini (sholat Tarawih  berjama’ah)”-.
Untuk perawi tunggal ini, kebanyakan ulama’ menyatakan menolak.


DR Abu Lubabah At-Thahir Shalih Husain kepala bagian dirosah Islamiyah di Emirat menyatakan:

وَإِطْلاَقُ الْحُكْمِ عَلَى التَّفَرُّدِ بِالرَّدِّ وَالنَّكَارَةِ أَوِ الشُّذُوْذِ مَوْجُوْدٌ فِي كَلاَمِ كَثِيْرٍ مِنْ أَهْلِ الْحَدِيْثِ  


“Menghukumi perawi yang secara sendirian meriwayatkan agar riwayatnya tertolak, dikatakan mungkar, syadz memang ada dalam perkataan kebanyakan ahlul hadits”. (Ulumul Hadits 12/1).
Kelemahan perkataan Umar “sebaik-baik bid’ah adalah ini (sholat Tarawih  berjama’ah)” itu bertentangan dengan hadits:

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هٰذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ   
‘Aisyah RA menuturkan: Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang membuat perkara yang baru dalam agama kami tanpa petunjuk dari kamu, maka perkaranya itu ditolak (bid’ah dholalah)!”.
(Hadits Riwayat Bukhari, 53, Kitabush Shulukh, 5, Bab jika berdamai dalam masalah dosa, maka perdamaiannya ditolak).
(Allu`lu` wal marjan 537/1 Al-Albani berkata: “Muttafaq ‘alaih”. Lihatlah di dalam kitab karyanya: Misykatul mashobih, nomor hadits: 140).
Disaat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sendiri menyatakan bahwa bid`ah tertolak, masak Umar bin Khatthab menerima bid`ah lalu menyatakan  “ Sebaik – baik  bid`ah adalah  ini shalat tarawih berjamaah “
Umar bin  Al khattab tidak mau menyelisihi Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, begitu juga para  sahabat yang ikut berjamaah  . Masak mereka setuju juga berbuat kebid`ahan atas saran Umar itu.
Pada hal  sudah di contohkan sebelumnya oleh khalifah Abu bakar yg tidak mengadakan shalat tarawih berjamaah. Para  sahabat  akan  senang ikut Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan sahabat Abu bakar dari pada ikut Umar bin Al Khatthab yang mengadakan kebid`ahan itu.
Ada  juga yang berupaya  untuk mempertahanakan diri dan gensi lalu mentakwil  perkataan Umar itu dengan bid`ah  lughowiyah.
Ketika terdesak , dia menyatakan  itu maksudnya  bid`ah lughowiyah  bukan bid`ah istilahiyah. Menurut sy ini sekadar pembelaan belaka untuk mendukung  hadis  riwayat Bukhari yang mutafarrid  atau  tafarrud – tunggal itu. 


Mau nanya hubungi kami:
088803080803( Smartfren). 081935056529 (XL ) atau  08819386306   ( smartfren)


Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Pesan yang baik, jangan emosional.Bila ingin mengkeritisi, pakailah dalil yang sahih.Dan identitasnya jelas. Komentar emosional, tidak ditayangkan