Sabtu, Juli 11, 2015

Jawabanku untuk Ibnu Taimiyah Bekasi seri ke 5



 

· 
Ibnu Taimiyyah menulis : Yang ada aa lihat ust. Memaksakan diri dengan membuat suatu kaidah pembeda antara sholat wajib n sunnah.. Di mana sholat sunnah boleh pakai tikar sementara sholat wajib haram pakai tikar..
Malah ini melahirkan pertanyaan baru.. Dari sisi ushul fiqh nya, apa dasar pembedanya?
2. Bagaimana mengetahui jenis2 pembedaan hukum yg seperti ini?
3. Maka tentu menjadi wajiblah adanya penegasan nabi atas 2 keadaan ini agar unat tidak salah faham atas masalahnya

Anda menyatakan:

Yang ada aa lihat ust. Memaksakan diri dengan membuat suatu kaidah pembeda antara sholat wajib n sunnah.. Di mana sholat sunnah boleh pakai tikar sementara sholat wajib haram pakai tikar..

Komentarku ( Mahrus ali ):
Siapa yang memaksakan diri ? anda atau saya. Kalau saya  cukup sami`na wa atha`na. Karena Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan para sahabatnya menjalankan shalat  wajib di tanah selama hidup mereka dan tidak pernah walau sekali menjalankan shalat di atas tikar sekalipun tikar saat ada. Maka saya ikut gitu sj, saya tidak menentang , tidak mendebat beliau dengan berbagai argumen. Yang penting bagi saya dalilnya gitu ya sudah , harus di ikuti.  Saya ingat ayat:
ياقوْمِ لَا يَجْرِمَنَّكُمْ شِقَاقِي أَن يُصِيبَكُم مِّثْلُ مَا أَصَابَ قَوْمَ نُوحٍ أَوْ قَوْمَ هُودٍ أَوْ قَوْمَ صَالِحٍ ۚ وَمَا قَوْمُ لُوطٍ مِّنكُم بِبَعِيدٍ
Hai kaumku, janganlah hendaknya pertentangan antara aku (dengan kamu) menyebabkan kamu menjadi jahat hingga kamu ditimpa azab seperti yang menimpa kaum Nuh atau kaum Hud atau kaum Shaleh, sedang kaum Luth tidak (pula) jauh (tempatnya) dari kamu.  89 Hud
Kadang kalimat  Syiqaqi  itu di artikan menyelisihi
أيسر التفاسير للجزائري - (ج 2 / ص 186)
{ لا يجرمنكم شقاقي } : أي لا تكسبنكم مخالفتي أن يحل بكم من العذاب ما حل يقوم نوح والأقوام من بعدهم
Jangan sampai anda menyelisihi aku membikin anda kalian  tertima azab yang pernah di alami  oleh kaum Nuh dan kaum – kaum setelahnya.  Aisarut tafasir 186/2
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam selama hidupnya melakukan jamaah  tanpa tikar. Kita dengan sengaja menyelishi sunnah yg mulia ini dengan terus menerus melakukan jamaah di atas karpet. Dan ini adalah perbuatan yg hina sekali  dan menentang sunah yg mulia.
Bila disuruh sujud di tanah akan marah, marah untuk mengikuti tuntunan dan puas untuk menyalahi tuntunan. Bila di suruh sujud di sajadah dg tegas akan mengatakan: “siap”. Bahkan tanpa ada dalilpun mau. Tanpa di perintahpun dia akan menjalankan. Bila dilarang, akan marah. Hakikatnya sedemikian ini sama dengam marah pada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, sama dengan marah kepada Allah dan menggembirakan setan. Ingatlah firmanNya:
مَنْ يُّطِعِ الرَّسُوْلَ فَقَدْ اَطَاعَ اللهَ وَمَنْ تَوَلَّى فَمَآ اَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيْظًا.

        "Barangsiapa yang mentaati Rasul, sesungguhnya ia telah mentaati Allah.  Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan), maka Kami tidak mengutusmu untuk jadi pemelihara bagi mereka".  An-Nisa', 4:80.


Anda menyatakan lagi:
Yang ada aa lihat ust. Memaksakan diri dengan membuat suatu kaidah pembeda antara sholat wajib n sunnah.. Di mana sholat sunnah boleh pakai tikar sementara sholat wajib haram pakai tikar..

Komentarku ( Mahrus ali ):
Itu bukan kaidah, tapi sy bicara realita. Bila shalat wajib, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melakukannya tanpa tikar, langsung ke tanah.  Ustadz Manshur al Buraidi mengatakan:
أجمع العلماء أنه لا يجوز أن يصلي أحد فريضةً على الدابة من غير عذر ، وأنه لا يجوز له ترك القبلة إلا فى شدة الخوف8، لحديث عَامِرِ بْنِ رَبِيعَةَ ، قَالَ : رَأَيْتُ النَّبِيّ وَهُوَ عَلَى الرَّاحِلَةِ يُسَبِّحُ ، يُومِئُ بِرَأْسِهِ قِبَلَ أَىِّ وَجْهٍ تَوَجَّهَ ، وَلَمْ يَكُنْ رَسُولُ اللَّهِ يَصْنَعُ ذَلِكَ فِي الصَّلاةِ الْمَكْتُوبَةِ .رواه البخاري ومسلم . وروى ابن عُمَرَ وَجَابِر مثله ، وَقَالَ جَابِر : فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يُصَلِّىَ الْمَكْتُوبَةَ نَزَلَ ، فَاسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ
Ulama telah ijma` tidak diperkenankan menjalankan shalat wajib di atas binatang ( unta atau lainnya ) tanpa ada uzur. Tidak diperkenankan meninggalkan menghadap kiblat kecuali dalam keada an sangat takut karena ada  hadis Amir bin Rabi`ah  yang berkata: Aku melihat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam  menjalankan shalat  sunat di atas kendaraannya   dengan berisarat dengan kepalanya  dan menghadap kemana saja. Namun hal itu tidak di lakukan oleh beliau dalam shalat wajib. HR Bukhari dan Muslim.
Ibnu Umar dan Jabir juga meriwayatkan hadis yang sama denganya.
Jabir sendiri berkata: Bila berkehendak untuk menjalankan shalat wajib, maka beliau turun dan menghadap kiblat.
http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=215277

Komentarku ( Mahrus ali ):
Ternyata Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ketika menjalankan shalat sunat di kendaraan tapi ketika melakukan shalat wajib beliau turun untuk sujud ke tanah tanpa sajadah. Disini malah Jabir sendiri yang meriwayatkannya.
Kalau disamakan antara tuntunan shalat wajib dan shalat sunnah maka shalat wajib boleh dikarpet, boleh di atas kendaraan. Ia  jelas akan menentang hadis riwayat Bukhari dan Muslim itu.
Bila menyamakan antara shalat wajib dan sunah , maka anda harus memperbolehkan shalat wajib dikendaraan dan anda akan menyelisihi tuntunan shalat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, sama dengan kehendakmu. Jadi penyamaan tuntunan shalat sunat dan wajib itu bukan atas dasar hadis sahih tapi dasar  dari pikiranmu  sendiri yang benturan dengan hadis sahih tadi.  Jadi harus di bedakan antara keduanya , tidak boleh disamakan. Bila disamakan, anda  tdk akan punya dalil, anda menyatakan  spt itu hanya  bermodal perkiraan bukan dalil. Saya ingat ayat ini:

إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلاَّ الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى اْلأَنْفُسُ وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مِنْ رَبِّهِمُ الْهُدَى
Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka, dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka. ( 23 / Annajm ).

فتح الباري لابن رجب - (ج 3 / ص 150)
الْمُرَادُ مِنْ هَذَا اْلحَدِيْثِ هَاهُنَا : أَنَّ النَّبِيَّ - صلى الله عليه وسلم - لَمْ يَكُنْ يُصَلِّي اْلمَكْتُوْبَةَ إِلاَّ عَلَى اْلأَرْضِ مُسْتَقْبِلَ اْلقِبْلَةِ ، فَأَمَّا صَلاَةُ الْفَرِيْضَةِ عَلَى اْلأَرْضِ فَوَاجِبٌ لاَ يَسْقُطُ إِلاَّ فِي صَلاَةِ شِدَّةِ اْلخَوْفِ ، كما قال تعالى: { فَإِنْ خِفْتُمْ فَرِجَالاً أَوْ رُكْبَاناً } [البقرة :239] .
Ibnu Rajab berkata dalam kitab Fathul bari 150/3 sbb:
Maksud hadis tsb ( hadis Nabi turun dari kendaraan ketika menjalankan salat wajib ) adalah sesungguhnya Nabi SAW tidak akan menjalankan salat wajib kecuali di tanah dengan menghadap kiblat. Untuk menjalankan salat fardhu di atas tanah ( langsung bukan di sajadah atau keramik ) adalah wajib kecuali dalam salat waktu peperangan atau keadaan yang menakutkan sebagaimana firman Allah taala sbb:
Jika kamu dalam keadaan takut (bahaya), maka shalatlah sambil berjalan atau berkendaraan.
Komentarku ( Mahrus ali ):
Ternyata Ibnu Rajab juga tidak menyamakan  tuntunan shalat wajib dan sunah. Bila antara keduanya di samakan maka hadis tsb di buang dulu, di cancel, di non aktifkan dulu, hadis  itu di anggap tidak ada. Lalu di ganti dengan pemahaman keliru anda yang menyamakan antara tuntunan shalat sunah dan wajib, tidak boleh beda. Boleh mengerjakan shalat wajib di kendaraan , boleh di karpet, lalu anda mengatakan  shalat di tanah ghuluw. Shalat di sajadah dan keramik paling benar. Itulah pendapat yg menyimpang, jangan diikuti, buang saja, ittiba`lah dan ikutilah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam   yg selalu menjalankan shalat wajib di tanah.
Begitulah nasibnya agama bila di pegang oleh ahlul ahwa` bukan ahlul hadis, suka dalil akal – akalan bukan hadis sahih atau ayat.


حَيْثُمَا أَدْرَكَتْكَ الصَّلَاةُ فَصَلِّ وَالْأَرْضُ لَكَ مَسْجِدٌ *
 Dimana saja  kamu menjumpai waktu salat telah tiba , salatlah dan bumi adalah tempat sujudmu. Bukhori 3172
Menurut riwayat Muslim  sbb:
صحيح مسلم - (ج 3 / ص 106)
ثُمَّ الْأَرْضُ لَكَ مَسْجِدٌ فَحَيْثُمَا أَدْرَكَتْكَ الصَّلَاةُ فَصَلِّ
Lantas bumilah sebagai tempat sujudmu ( bukan karpet ) , dimana saja kamu menjumpai  waktu salat, salatlah.

Kalimat fa sholli adalah fi`il amar – perintah, harus di taati , jangan sampai menyelisihinya dengan melakukan shalat  di sajadah ,  tikar atau marmer. Dan marmer saat  itu sdh ada, tp Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tidak pernah menjalankan shalat di marmer.
Dalam Ushulul fiqh di jelaskan:


اْلأَمْرُ بِالشَّيْءِ نَهْيٌ عَنْ ضِدِّهِ
Perintah sesuatu adalah larangan untuk mengerjakan lawannya .
Bila kita diperintahkan untuk melakukan salat di tanah langsung , maka sudah tentu kita harus taat dan menjalankannnya  dan kita tidak boleh melakukan salat di atas karpet , koran , tegel atau marmer, apalagi ranjang . Menurut kaidah itu adalah haram shalat dikarpet dan ranjang dan wajib shalat di tanah karena taat pada perintah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.
Jadi jelas, kewajiban shalat wajib di tanah juga cocok dengan kaidah ushul fiqih.  Hadis  tsb juga menunjukkan shalat wajib karena beliau bersabda : Dimana saja kamu menjumpai waktu shalat tiba “ Kalimat ini ter arah pd shalat wajib, bukan shalat sunat. Lalu dikasih sarat  yaitu tanah lah sebagai tempat sujudmu, bukan sajadah, keramik, marmer, kain , tikar dll.
Bila bersujud di marmer, kramik atau tikar, jelas menyalahi hadis tsb sebagai landasan tertulis dan menyalahi peraktek Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan sahabatnya yg selalu menjalankan shalat tanpa tikar  


Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Pesan yang baik, jangan emosional.Bila ingin mengkeritisi, pakailah dalil yang sahih.Dan identitasnya jelas. Komentar emosional, tidak ditayangkan