Selasa, Juli 21, 2015

Jawabanku untuk Idrus Ramli ke 47



Serial Akidah: Jawaban Terhadap Kebohongan Buku-buku Mahrus Ali 
عَنِ ابْنِ عُمَرَرَضِيَ اللهُ عَنْهُ اَنَّهُ خَدِرَتْ رِجْلُهُ فَقِيْلَ لَهُ: اُذْكُرْ اَحَبَّ النَّاسِ اِِلَيْكَ، فَقَالَ: يَا مُحَمَّد، فَكَاَنَّمَا نَشِطَ مِنْ عِقَالٍ
“Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar RA bahwa suatu ketika kaki beliau terkena mati rasa, maka salah seorang yang hadir mengatakan kepada beliau: “Sebutkanlah orang yangpaling Anda cintai!”. Lalu Ibnu Umar berkata: “Ya Muhammad”. Maka seketika itu kaki beliau sembuh

Anda menyatakan:

Kalau kita mau jujur dengan merujuk pada literatur-literatur hadits maka kita akan menemukan penjelasan yang berbeda 180 derajat dengan yang dikatakan Mahrus. Hadits tersebut diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad (hal. 324), al-Hafizh Ibrahim al-Harbi dalam Gharibul-Hadits (II/673-674), al-Hafizh Ibnu al-Sunni dalam ‘Amalul-Yaum wal- Lailah (hal. 72-73), bahkan Ibnu Taimiyah —ideolog pertama aliran Wahabi— dalam kitabnya al-Kalim al-Thayyib (hal. 88), menganjurkan untuk mengamalkan isi hadits ini.

Komentar (Mahrus Ali):

Katanya mau jujur, tetapi kok malah berdusta? Apakah yang berbeda 180 derajat itu? Mengapa anda tidak memberikan penilaian untuk hadits Bukhari yang terdapat dalam kitab Al Adabul Mufrad, apakah hadits tersebut lemah, hasan, atau sahih. Padahal dalam buku “Membongkar ,,,” karya LBM NU Jember sebelumnya –yang anda termasuk tim penulis- , pada buku tersebut ditambahkan dengan keterangan “Hadits Sahih, Riwayat Bukhari dalam Al Adabul Mufrad”.

Setelah saya mengatakan lemah,  mengapa sekarang anda sebagai tim penulis buku “Membongkar …” tidak berani memberikan penilaian sahih lagi. Apakah dahulu anda keliru dan sekarang perlu meralat. Jangan-jangan apa yang kamu tulis sekarang pun keliru lagi, tidak benar lagi, dan diubah lagi, lalu ditetapkan lagi. Lihat dalam buku Sesat Tanpa Sadar halaman 191.

Pada buku “Membongkar…” karya LBM NU Jember dikatakan bahwa hadits tersebut disebutkan oleh Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya Al Kalimut Thayyib halaman 88.

Sekarang, apakah anda akan mengatakan jujur lalu berdusta lagi. Anda mengatakan bahwa Ibnu Taimiyyah adalah pencetus ideologi pertama aliran Wahabi dan dalam kitab beliau Al Kalimut Thayyib (halaman 88), menganjurkan untuk mengamalkan isi hadits ini.

Jangan-jangan anda yang menganjurkan sementara Ibnu Taimiyyah tidak demikian. Tunjukkanlah dalam bahasa Arabnya jika memang Ibnu Taimiyyah menganjurkan demikian, jangan hanya disimpan sendiri, nanti para pembaca menjadi ragu dan tidak yakin lagi. Apakah benar Ibnu Taimiyyah menganjurkan,  Apakah anda tidak salah mengutip atau sekedar inspirasi anda dan bukan perkataan Ibnu Taimiyyah?

Saya telah melihat di kitab aslinya, ternyata tidak ditemukan kalimat bahwa Ibnu Taimiyyah menganjurkan, apalagi di kitab fatwa beliau dengan tegas itu bukan perkataan Ibnu Taimiyyah, tetapi itu adalah kedustaan yang anda buat sendiri. Silakan lihat di sini:

Anda menyatakan lagi:

Sufyan al-Tsauri dari Abi Ishaq al-Sabi’i dari Abdurrahman bin Sa’ad, seperti yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam al-Adab al Mufrad.

Komentar (Mahrus Ali):

Tulisan Arabnya adalah seperti berikut:
يَرْوِيْهِ سُفْيَانُ الثَّوْرِي عَنِ ابْنِ اِسْحَاقَ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ سَعْدٍ.
Sufyan Tsauri meriwayatkan dari Ibnu Ishaq Abdul Rahman bin Sa’d.
Komentar (Mahrus Ali):

رَوَاهُ اْلبُخَارِي فِي اْلاَدَبِ الْمُفْرَدِ (1 / 335 بِرَقْمِ 964 طَبْعَةُ دَارِ الْبَشَائِرِ اْلإِسْلاَمِيَّة بَيْرُوت الطَّبْعَة الثَّالِثَة ، 1409 – 1989 ، بِتَحْقِيْقِ مُحَمَّد فُؤَاد عَبْدِ اْلبَاقِي) فِي بَابِ مَا يَقُوْلُ الرَّجُلُ إِذَا خَدِرَتْ رِجْلُهُ : (
HR. Bukhari dalam Al Adabul Mufrad (1/335/No. 964/ Darul Basya’ir al Islamiyah – Beirut/ Edisi ketiga 1409 – 1989/tahkik Muhammad Fuad Abdul Baqi/ Bab: Apa yang Dikatakan Seorang Lelaki Apabila Kakinya Kesemutan).

    قاَلَ الْحَافِظُ الْمِزِّي : (رَوَى َلهُ الْبُخَارِي فِي كِتَابِ اْلأَدَبِ حَدِيْثًا وَاحِدًا مَوْقُوْفًا)..
Al Hafidh Al Mizzi berkata, “Imam Bukhari dalam kitab Al Adabul Mufrad, satu hadits maukuf dari Abu Ishaq.

Berarti, menurut Al Hafidh tadi, ahdits tersebut lemah dong?  Bukan sahih sebagaimana yang anda katakan dalam buku “Membongkar …” karya LBM NU Jember. Lantas, dari referensi yang mana anda bisa menyatakan hadits tersebut sahih. Hadits lemah tidak bisa dijadikan hujjah, tetapi hanya hadits sahih lah yang dapat dijadikan hujjah.

Pada saat debat di Pascasarjana, LBM NU Jember dimenangkan dan tidak dikatakan salah. Ini sangat aneh dan unik, tetapi masih bisa dianggap wajar, kemudian disebarkan secara luas bahwa Muammal Hamidi –kalah-, dan pemenangnya adalah LBM NU Jember. Kemenangan diperoleh dengan cara menipu.
Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Pesan yang baik, jangan emosional.Bila ingin mengkeritisi, pakailah dalil yang sahih.Dan identitasnya jelas. Komentar emosional, tidak ditayangkan