Minggu, Agustus 16, 2015

Jawabanku untuk Kautsar amrullah ke 7







Anda menyatakan :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “إِنَّ الدِّينَ يُسْر، وَلَنْ يَشادَّ الدينَ أَحَدٌ إِلَّا غَلَبَهُ، فسَدِّدوا وَقَارِبُوا وَأَبْشِرُوا، وَاسْتَعِينُوا بالغُدْوة وَالرَّوْحَةِ، وَشَيْءٍ مِنَ الدُّلَجة” (رواه البخاريُّ وَفِي لَفْظٍ لِلْبُخَارِيِّ “وَالْقَصْدَ الْقَصْدَ تَبْلُغُوْا”)


Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya agama (Islam) mudah, tidak ada seorang pun yang hendak menyusahkan agama (Islam) kecuali ia akan kalah. Maka bersikap luruslah, mendekatlah, berbahagialah dan manfaatkanlah waktu pagi, sore dan ketika sebagian malam tiba” (HR. Bukhari)

Komentarku ( Mahrus ali ):
Terjemahan itu ada yg salah. Yg benar sbb:
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya agama (Islam) mudah, tidak ada seorang pun yang hendak memberatkan agama (Islam) kecuali ia akan kalah. Maka bersikap luruslah, bersikaplah sederhana , berilah kabar gembira dan manfaatkanlah waktu pagi, sore dan ketika sebagian malam tiba” (HR. Bukhari


وَقَارِبُوا وَأَبْشِرُوا،
Anda terjemahkan :
mendekatlah, berbahagialah

Yg benar adalah : bersikaplah sederhana , berilah kabar gembira



Anda menyatakan:

Berbeda dengan realita sosial pada zaman kita. Yang mana dimana-mana masjid dan bangunan itu telah ditegel, dikeramik, atau dikarpet. Maka akan memberatkan bagi kita jika harus mencari masjid yang dibangun dengan berlantai tanah. Jikapun ada, maka tidak setiap tempat ada, sedangkan waktu sholat itu terbatas.

Komentarku ( Mahrus ali ):
Ini malah membingungkan.Untuk apa cari masjid yg berlantai tanah. Kita bisa menjalankan shalat dimana – mana. Sy dan jamaah sy bila mendatangi undangan pengajian di tempat yg jauh, maka  sy dan mereka  cukup berwudhu di masjid dan mencari tanah  yg bisa digunakan untuk shalat dg mudah sekali.
Ingatlah dalil ini:
حَيْثُمَا أَدْرَكَتْكَ الصَّلَاةُ فَصَلِّ وَالْأَرْضُ لَكَ مَسْجِدٌ
 Dimana saja  kamu menjumpai waktu salat telah tiba , salatlah dan bumi adalah tempat sujudmu [2]
Anda menyatakan lagi:

Maka dari itu janganlah sesuatu yang luas itu kita persempit. Sesungguhnya agama ini mudah....

Komentarku ( Mahrus ali ):
 Sy ini menjalankan  sesuatu yg cocok dg tuntunan, lalu anda katakan mempersempit.
Sy menjalankan  yg mudah  dan cocok dengan tuntunan, lalu anda katakan mempersulit. Ini namanya  tidak paham dengan tuntunan. Pahamnya pd ilmu kebid`ahan.
Bia jalan kebid`ahan  anda katakan  luas , tdk mempersempit.


Anda menyatakan lagi :
Adapun untuk sholat wajib, khusus untuk hujjah bagi kyai harus kita berikan dengan hadits :
1. Rasulullah sholat wajib di atas mimbar kayu.
2. Para shahabat yang kepanasan ketika sholat berjamaah hingga melepaskan bajunya untuk alas sholat.
3. Shahabat Ka'ab bin Malik yang melakukan sholat wajib sendirian di atas loteng rumah, karena dia sedang di hajr (diboikot) oleh rasulullah dan para shahabat karena tidak ikut perang tabuk tanpa udzur.

Komentarku ( Mahrus ali ):
Untuk point satu dan tiga sdh di jawab di atas, maka tdk perlu di terangkan lagi. Untuk menjawab point ke dua :” Para shahabat yang kepanasan ketika sholat berjamaah hingga melepaskan bajunya untuk alas sholat.”.

Dari perkataan anda sdh tampak kekeliruan. Anda menyatakan para sahabat yg melepaskan bajunya  untuk alas shalat ini jelas meng ada – ada, bukan memberikan keterangan apa adanya.
Sebab waktu itu hanya satu orang sj karena panas tanah yg di buat sujud Dan ini jawaban sy yg lampau sbb:

- حَدِيْثُ  أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ، قَالَ: كُنَّا نُصَلِّي مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ  فِي شِدَّةِ الْحَرِّ، فَإِذَا لَمْ يَسْتَطِعْ أَحَدُنَا أَنْ يُمَكِّنَ وَجْهَهُ مِنَ الأَرْضِ بَسَطَ ثَوْبَهُ فَسَجَدَ عَلَيْهِ

360.Anas ibnu Malik menuturkan: “Kami pernah shalat bersama Nabi saw pada hari yang sangat panas. Jika seorang di antara kami tidak dapat meletakkan wajahnya di tanah karena panas, maka ia menggelar kainnya di atas tanah dan ia dapat bersujud di atasnya.” (Bukhari, 21, kitabul ‘amal fish shalati, 9, bab menggelar kain ketika shalat untuk sujud).
Komentarku ( Mahrus  ali ):
Keadaan tanah yang sangat panas, bukan dingin seperti di masjid yang berkarpet. Panasnya adalah panas padang pasir bukan panasnya kota Malang Jawa timur. Para  sahabat dan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam tetap  menjalankan salat berjamaah di tanah yang sangat panas itu tanpa tikar, hanya  salah seorang di antara mereka yang menggelar pakaiannya untuk bersujud karena tidak tahan. Sebab, biasanya  dia menjalankan salat seperti sahabat yang lain tanpa  kain yang dihamparkan dimukanya.

Perbuatan satu orang yang menghamparkan bajunya untuk sujud ini karena tanahnya sangat panas tidak bisa di buat landasan  untuk memperbolehkan menggelar karpet di masjid yang udaranya sederhana , kadang dingin, kadang sangat dingin.
Entah Rasulullah Shallallaihi wa sallam  tahu  atau tidak. Buktinya tidak ada keterangan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam  mengetahuinya.
Bila kita berpegangan hadis itu untuk memperbolehkan karpet di masjid maka sangat keliru. Keadaan di masjid dengan padang pasir yang sangat panas  itu berbeda.
Dalam keadaan  yang udaranya  tidak terlalu panas, tiada satupun sahabat yang berjamaah dengan beliau menggunakan kain untuk sajadah, sedang kita tiap hari menggunakan karpet untuk shalat.
Bacalah hadis ini untuk renungan lagi:
Khobbab bin Al arat  berkata :
شَكَوْنَا إلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم شِدَّةَ حَرِّ الرَّمْضَاءِ فِي جِبَاهِنَا . وَأَكُفَّنَا فَلَمْ يَشْكُنَا
Kami mengadu kepada Rasulullah  S.A.W.    panas yang sangat di dahi dan tapak tangan  kami ,lalu beliau diam saja [1]

 
Anda menyatakan lagi :
Itu masih bisa diperdebatkan kyai Mahrus Ali (baca : debat-able).

Rasulullah itu bukan manusia biasa, beliau mempunyai mu'jizat tahu apa yg terjadi di belakang beliau.


حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ قَالَ حَدَّثَنِي مَالِكٌ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ هَلْ تَرَوْنَ قِبْلَتِي هَا هُنَا وَاللَّهِ مَا يَخْفَى عَلَيَّ رُكُوعُكُمْ وَلَا خُشُوعُكُمْ وَإِنِّي لأَرَاكُمْ وَرَاءَ ظَهْرِي


Telah menceritakan kepada kami Isma’il, dia berkata: Telah menceritakan kepadaku Malik, dari Abu al-Zinad, dari al-A’raj, dari Abu Hurairah RA bahwa sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda : “kalian lihatkah arahku? Demi Allah sekalipun kalian ada di belakangku, tidak ada yang kelihatan. Rukuk kalian kulihat, khusyu’ kalian pun kulihat. Karena aku dapat melihat apa yang ada di belakangku.” (Hadis ini di riwayatkan juga oleh Muslim, hadis no. 643: Ahmad, hadis no. 6901, 7031, 7681, 7907, 8416, 8522, 8571, 9420 dan 10161: Malik, hadis no. 361.)

Komentarku ( Mahrus ali ):
-         


Hadis  tsb perlu dikaji karena ada kejanggalan sbb.
Hadis  dengan redaksi  tsb hanya diriwayatkan oleh perawi tunggal .
-        أخرجه مالك ((الموطأ)) ]] 121. و ((الحُمَيدي)) ]] 961 قال: حدَّثنا سفيان. و ((أحمد)) ]] 2/244 (7329) قال: قُرئ على سفيان. وفي 2/303 (8011) قال: قرأتُ على عبد الرحمن: مالك. وفي 2/365 (8756) قال: حدَّثنا حسين، قال: حدَّثنا سفيان، يعني ابن عيينة. وفي 2/375 (8864) قال: حدَّثنا إسحاق بن عيسى، حدَّثنا مالك. و ((البُخاري)) ]] 418 قال: حدَّثنا عبد الله ين يوسف، قال: أَخْبَرنا مالك. وفي (741) قال: حدَّثنا إسماعيل، قال: حدثني مالك. و ((مسلم)) ]] 889 قال: حدَّثنا قتيبة بن سعيد، عن مالك بن أنس. و ((أبو يَعْلَى)) ]] 6335 قال: حدَّثنا داود بن عمرو الضبي، حدثنا ابن أبي الزناد. و ((ابن حِبَّان)) ]] 6337 قال: أَخْبَرنا عمر بن سعيد بن سنان، قال: أَخْبَرنا أحمد بن أبي بكر، عن مالك.
-        ثلاثتهم (مالك، وسفيان بن عيينة، وابن أبي الزناد) عن أبي الزناد، عن الإعرج، فذكره.

Intinya  hadis dg redaksi seperti itu hanya dari Abu Hurairah ra  dari al a`raj dari Abuz Zinad . Dia adalah tingkat ke lima dari Yunior Tabiin , wafat  pd tahun 130 H. [2]
Jadi hadis  Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengetahui sahabatnya  dari belakang punggung nya waktu rukuk itu di kalangan sahabat tdk di kenal, ganjil sekali, tidak populer. Bahkan  mereka tidak ada yg tahu hadis itu sampai mati mines Abu Hurairah . Bahkan dimasa tabin , hadis itu masih ganjil, tidak diketahui, nyeleneh sekali . Mereka  tidak paham hadis itu mines al a`raj.
Hadis yg sedemikian ini dikatakan lemah karena tafarrud, Ya`ni hanya satu orang sj di kalangan yunior tabiin setelah seratusan tahun hijriyah.Bila dikuti , kita  ikut satu orang , bukan dua atau tiga. Kita ikut sahabat yg banyak yg tdk paham hadis itu sj lebih baik dari  pd ikut satu orang. Ber arti Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tdk mengerti dan tdak tahu orang  di belakangnya sebagaimana  nabi – nabi  yg lain. 


Dari segi redaksi hadis juga terjadi kejanggalan, redaksinya kacau  sbb:

-        المسند الجامع (16/ 725)
-         (أَتَرَوْنَ قِبْلَتِي هَاهُنَا؟ فَوَاللهِ مَا يَخْفَى عَلَىَّ خُشُوعُكُمْ وَلاَ رُكُوعُكُمْ، إِنِّي لأَرَاكُمْ مِنْ وَرَاءِ ظَهْرِي.) "
-         
-         1.Adakah kalian melihat  kiblatku disini . Khusyu` dan rukukmu tidak samar bagiku ( jelas sekali ) . Sesungguhnya aku melihatmu dari belakang punggungku  HR Bukhari 408 dan Muslim  424 .
-        وفي رواية: " (تَرَوْنَ قِبْلَتِي هَذِهِ؟ فَمَا يَخْفَى عَلَيَّ رُكُوعُكُمْ وَلاَ خُشُوعُكُمْ، أَوْ رُكُوعُكُمْ وَلاَ سُجُودُكُمْ.)
-         2. Kalian melihat kiblatku disini. Rukuk dan khusyu`mu atau rukuk dan sujudmu  tidak samar bagiku.  Musnad al Humaidi sahih
-         Komentarku ( Mahrus ali ):
-         Dalam  redaksi kedua ini tidak menggunakan  pertanyaan ( adakah ) , juga tidak pakai sumpah ( maka  demi Allah ) ada  tambahan sujudmu tdk samar bagiku . Lantas kalimat” Sesungguhnya aku melihatmu dari belakang punggungku” tidak ada.
-         Dari satu perawi redaksinya  kok beda banget. Bukan beda sedikit.
-          
-         ".
-        وفي رواية: " (إِنِّي لأَرَى خُشُوعَكُمْ.) ".
-         Menurut salah satu riwayat : Sesungguhnya aku tahu  khusyu`mu “.
-        مسند أحمد بن حنبل - غير مشكول (2/ 244)
-        إسناده صحيح على شرط الشيخين
-         Sanadnya sahih menurut sarat perawi Bukhari  dan Muslim dlm dua kitab sahihnya.


وفي رواية: " (هَلْ تَرَوْنَ قِبْلَتِي هَا هُنَا، فَوَاللهِ مَا يَخْفَى عَلَيَّ رُكُوعُكُمْ وَلاَ سُجُودُكُمْ، إِنِّي لأَرَاكُمْ وَرَاءَ ظَهْرِي.) "
Adakah kalian melihat  kiblatku disini .  rukukmu dan sujudmu tidak samar bagiku ( jelas sekali ) . Sesungguhnya aku melihatmu dari belakang punggungku.  HR Bukhari

Komentarku ( Mahrus ali ):
Tiada kata  khusyu`mu sebagaimana di riwayat  lain.
Disini  menggunakan kalimat tanya ( هل dan kalimat itu tdk ada  di riwayat lain. Ia tambahan atau  gantian.
 Hadis Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengetahui orang dibelakangnya  tdak bisa dibuat pegangan, tidak  usah dipercaya, dustakan sj. Anggaplah ia  kedustaan . Bila di sahihkan, maka  redaksinya kacau. Satu riwayat  degan yg lain kacau sekali, tdk saling mendukung bahkan saling menyalahkan. Kita kembali kpd pakem dlm ilmu musthalah
وَذُو اخْتِلاَفِ سَنَدٍ أَوْ مَتْنٍ    مُضْطَرِبٌ عِنْدَ أُهَيْلِ اْلفَنِ
      Kekacauan sanad atau redaksi termasuk mudhtharib menurut ahli mustholah hadis.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tahu  hati para sahabat, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tahu mereka husyu` atau tidak. Pada  hal isi hati itu bukan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang tahu tp Allah. Bila Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengerti  kekhusyu` an para sahabat dlm shalat dari belakang punggung  beliau, apalagi dari depan  atau ketika para  sahabat berada di muka beliau. Maka akan lebih tahu , lebih paham hati mereka . Hal  sedemikian ini bila dipercaya, kita akan bertentangan dengan al quran – ayat sbb:
وَمِمَّنْ حَوْلَكُمْ مِنَ اْلأَعْرَابِ مُنَافِقُونَ وَمِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ مَرَدُوا عَلَى النِّفَاقِ لاَ تَعْلَمُهُمْ نَحْنُ نَعْلَمُهُمْ سَنُعَذِّبُهُمْ مَرَّتَيْنِ ثُمَّ يُرَدُّونَ إِلَى عَذَابٍ عَظِيمٍ(101) وَمِمَّنْ حَوْلَكُمْ مِنَ اْلأَعْرَابِ مُنَافِقُونَ وَمِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ مَرَدُوا عَلَى النِّفَاقِ لاَ تَعْلَمُهُمْ نَحْنُ نَعْلَمُهُمْ سَنُعَذِّبُهُمْ مَرَّتَيْنِ ثُمَّ يُرَدُّونَ إِلَى عَذَابٍ عَظِيمٍ

"Dan antara orang-orang Arab yang di sekeliling kamu, mereka adalah orang-orang munafik; dan sebahagian daripada penduduk Kota menjadi berani dalam kemunafikan. Kamu tidak mengetahui mereka, tetapi Kami mengetahui mereka, dan Kami akan mengazab mereka dua kali, kemudian mereka dikembalikan kepada azab yang besar." (9:101)  - Tobat 101.
Ternyata  dlm ayat tsb di jelaskan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tdk mengerti orang – orang munafik disekitar beliau, apalagi mengetahui isi hati mereka.

زهرة التفاسير (7/ 3430)
بعض من حولكم من الأعراب منافقون أتقنوا النفاق وأجادوه، حتى إنهم ليحسنون إخفاء ما في بطونهم، فلا تعرفهم في لحن القول،
Sebagian kaum arab di sekitarmu adalah munafik – munafik yg lehai  dlm memendam kemunafikannya , mereka pandai sekali, hingga mereka bisa menyimpan apa yg terdapat dlm perut mereka ( hati mereka ) . Karena itu , kamu tidak mengetahui  isi perkataan mereka ( daeleknya ).  Zahratut tafasir 3430/7
 Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tdk mengerti isi hati kaum munafikin menurut keterangan ayat tobat 101 itu. Pada hal hadis dari Abu Hurairah tadi menyatakan bahwa beliau mengetahui husu dan tidak nya hati para sahabat yg menjalankan shalat di belakang beliau. Ini kontradiksi yang sangat, tidak bisa dipersatukan.
Bila hadis itu dikatakan sahih, maka ayat ini harus dibuang dan membuang ayat berat sekali, bisa jadi kufur tdk muslim lagi.
 Syaik As suba`I telah merumuskan tanda kelemahan hadis  sampai  tujuh belas point.
Yang nomer sembilan sbb:
9ـ ألا يخالف القرآن
“Hadis itu harus tdk bertentangan  dengan al quran” .

Bila hadis tsb mash disahihkan , maka mana yg kita ambil , al qurannya atau hadisnya. Mengetahui  isi hati  itu termasuk salah satu sifat Allah bukan manusia. Dlm suatu ayat Allah menyatakan:
يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ
Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati. Ghafir 19.

Menurut  hadis tsb, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melakukan sujud tahu para sahabat bersujud. Ini tambah aneh.
Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berdiri tahu sahabat di belakangnya aneh, tapi tambah aneh lagi ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sujud menghadap ke tanah, lalu tahu para  sahabat sujud seolah pantat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam punya dua mata yg tdk tampak.
Anehnya lagi  hadis tsb malah dibuat pegangan bolehnya sujud di tikar, kain, karpet atau keramik. Pada hal, ia hadis lemah yg bertentangan dengan isi al quran. 


Mau nanya hubungi kami:
088803080803( Smartfren). 081935056529 (XL )  https://www.facebook.com/mahrusali.ali.50
 




[1] Muslim 619
[2] Mausuah ruwatil hadis. 3302
Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Pesan yang baik, jangan emosional.Bila ingin mengkeritisi, pakailah dalil yang sahih.Dan identitasnya jelas. Komentar emosional, tidak ditayangkan