Jumat, September 11, 2015

Hukum orang tuli bisu yang tidak paham ajaran agama




 حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا مُعَاذُ بْنُ هِشَامٍ قَالَ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ قَتَادَةَ عَنِ الْأَحْنَفِ بْنِ قَيْسٍ عَنِ الْأَسْوَدِ بْنِ سَرِيعٍ
أَنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَرْبَعَةٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ رَجُلٌ أَصَمُّ لَا يَسْمَعُ شَيْئًا وَرَجُلٌ أَحْمَقُ وَرَجُلٌ هَرَمٌ وَرَجُلٌ مَاتَ فِي فَتْرَةٍ فَأَمَّا الْأَصَمُّ فَيَقُولُ رَبِّ لَقَدْ جَاءَ الْإِسْلَامُ وَمَا أَسْمَعُ شَيْئًا وَأَمَّا الْأَحْمَقُ فَيَقُولُ رَبِّ لَقَدْ جَاءَ الْإِسْلَامُ وَالصِّبْيَانُ يَحْذِفُونِي بِالْبَعْرِ وَأَمَّا الْهَرَمُ فَيَقُولُ رَبِّي لَقَدْ جَاءَ الْإِسْلَامُ وَمَا أَعْقِلُ شَيْئًا وَأَمَّا الَّذِي مَاتَ فِي الْفَتْرَةِ فَيَقُولُ رَبِّ مَا أَتَانِي لَكَ رَسُولٌ فَيَأْخُذُ مَوَاثِيقَهُمْ لَيُطِيعُنَّهُ فَيُرْسِلُ إِلَيْهِمْ أَنْ ادْخُلُوا النَّارَ قَالَ فَوَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَوْ دَخَلُوهَا لَكَانَتْ عَلَيْهِمْ بَرْدًا وَسَلَامًا
قَالَ حَدَّثَنَا عَلِيٌّ حَدَّثَنَا مُعَاذُ بْنُ هِشَامٍ قَالَ حَدَّثَنِي أَبِي عَنِ الْحَسَنِ عَنْ أَبِي رَافِعٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ مِثْلَ هَذَا غَيْرَ أَنَّهُ قَالَ فِي آخِرِهِ فَمَنْ دَخَلَهَا كَانَتْ عَلَيْهِ بَرْدًا وَسَلَامًا وَمَنْ لَمْ يَدْخُلْهَا يُسْحَبُ إِلَيْهَا
(Ahmad bin Hanbal) berkata, telah menceritakan kepada kami 'Ali bin Abdullah telah menceritakan kepada kami Mu'adz bin Hisyam berkata, telah menceritakan kepadaku bapakku dari Qatadah dari Ahnaf bin Qais dari Aswad bin Sari' Sesungguhnya Nabiyullah Shallallahu'alaihiwasallam bersabda: "Ada empat jenis orang di hari kiamat nanti: Seorang laki-laki tuli yang tidak mendengar apapun, seorang laki-laki bodoh, seorang laki-laki yang pikun, dan seorang laki-laki yang mati dalam masa-masa kevakuman (ajaran agama atau risalah kenabian tidak sempat menjumpai dirinya).
Orang tuli tersebut menyampaikan alasannya, 'Wahai Rabku, telah datang Islam hanya aku tidak mendengar apapun tentang hal itu'. Adapun orang yang bodoh beralasan, 'Wahai Rabku, Islam telah datang, hanya anak-anak melempariku dengan kotoran unta'. Adapun yang pikun berkata, 'Wahai Rabku, telah datang Islam hanya aku tidak bisa berfikir sama sekali'. Adapun orang yang mati dalam masa-masa kevakuman berkata, 'Wahai Rabku, para utusan-Mu tidak mendatangiku dan mengambil janji orang-orang untuk taat kepadanya. Lantas Allah mengutus para malaikatnya untuk mengatakan 'Masuklah kalian ke dalam neraka'.Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, kalaulah mereka memasuki api tersebut, api itu akan menjadi dingin dan menyelamatkan mereka". (Ahmad bin Hanbal) berkata, telah menceritakan kepada kami 'Ali telah menceritakan kepada kami Mu'adz bin Hisyam berkata, telah menceritakan kepadaku bapaku dari Al Hasan dari Abu Rafi' dari Abu Hurairah seperti di atas, kecuali dalam perkataan yang terakhirnya, 'Barangsiapa memasuki api tersebut, api tersebut akan menjadi dingin dan menyelamatkan, dan barangsiapa tidak memasukinya, ia justru diseret untuk memasukinya." hr.ahmad

Komentarku ( Mahrus ali ):
Hadis tsb di cantumkan dalam kitab:
ابن حنبل في مسنده ج 4/  ص 24 حديث رقم: 16344
المسند الجامع - (ج 1 / ص 299) مجمع الزوائد - (ج 7 / ص 216)
Hadis tsb lemah dari segi  sanad atau matan ( redaksi hadis ).
Dari segi sanad, hadis tsb di riwayatkan oleh Qatadah  dari al Ahnaf bin Qais. Pada hal  Qatadah lahir pada tahun  60 atau 61H.  dan wafat al Ahnaf bin Qais  67 H  / 72 H. Ber arti usia Qatadah saat hidupnya al ahnaf yang meriwayatkan  hadis tsb sekitar tujuh tahun. Ini ada kemungkinan Qatadah tidak mendengar dari al Ahnaf tapi  dari  orang lain yang tdak di sebutkan namanya yang biasanya lemah sekali.  Bila  di sebutkan , maka hadis itu tampak lemah dan tidak dikatakan  sahih lagi. Boleh jadi hadis tsb mursal atau  sanad terputus bukan bersambung . Sudah tentu lemah bukan hadis sahih lagi.
Qatadah di kalangan  muhadditsin  termasuk mudallis  ( suka menyelinapkan perawi  lemah agar di anggap riwayatnya sahih ).
وقد تشدد الحافظ ابن عبد البر في رد حديث قتادة لمجرد أنه لم يقل سمعت أو حدثنا ! فقال : (( قتادة إذا لم يقل : ( سمعت أو حدثنا ) فلا حجة في نقله ))
http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=313727
Ust Khalid al jazmi menyatakan :”Sungguh al hafidh Ibn Abd Bar  dalam menolak hadis Qatadah hanya karena beliau tidak menyatakan   sami`tu atau haddasanaa ……. “ Qatadah bila  tidak menyatakan  sami`tu atau haddasana , maka   hadisnya  tidak boleh dibuat hujjah”.
Doktor Adil al Zurqi pernah menyatakan :  
مَنْ أَرَادَ التَّدَيُّنَ بِاْلحَدِيْثِ فَلاَ يَأْخُذْ عَنْ قَتَادَةَ إِلاَّ مَا قَالَ: فِيْهِ سَمِعْنَا وَأَخْبَرَنَا!
“Barang siapa hendak beragama  dengan landasan dalil hadis, maka jangan sampai mengambil hadis Qatadah  kecuali yang beliau sendiri menyatakan sami`na  atau Akbarana ………….”.
http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showpost.php?p=1847441&postcount=5
Pada hal hadis tentang  empat orang yang akan  di masukkan ke dalam Neraka dingin itu dari riwayat Qatadah – dari tadlisnya  dan beliau tidak pernah menyatakan  mendengar hadis itu. Maka  sudah tentu hadis tsb lemah bukan hadis sahih lagi.
Al bani sendiri kadang menolak  riwayat tadlisnya Qatadah , kadang menerima , kadang masih tawaqquf – yakni tidak bisa memutuskan untuk menerima atau menolak hadis nya.
Komentarku ( Mahrus ali ): 
Bila  hadis riwayat Qatadah di atas diterima  atau di sahihkan maka Qatadah dalam hal ini tafarrud . Tiada perawi lain yang  meriwayatkannya . Beliau  termasuk generasi setelah pertengahan tabiin. Hidup di masa 60 – 100 H. Di era  tsb hadis itu masih  belum ada perawi yang  meriwayatkannya hanya beliau seorang.  Hadis sedemikian ini menurut pakar hadis  yang  lalu adalah munkar, bukan hadis sahih, hadis yang  gharib bukan hadis mashur .
- كراهية المتقدمين لرواية الغريب:
كان المتقدمون من علماء الحديث يكرهون رواية الغرائب وما تفرد به الرواة، ويعدونه من شَرِّ الحديث، كما قال الإمام مالك رحمه الله: "شَرُّ العلم الغريبُ، وخيرُ العلم الظاهرُ الذي قد رواه الناس" 1،
Hukum hanya seorang perawi yang meriwayatkan  hadis.( tafarrud )
1.    Ulama hadis  dahulu tidak suka atau benci terhadap riwayat  gharib ( nyeleneh )
Ulama hadis dahulu benci  terhadap  terhadap riwayat – riwayat yang gharib ( nyeleneh )  dan  hadis yang  di riwayatkan   oleh seorang  perawi , lalu di anggap   sebagai  hadis yang  terjelek  sebagaimana  di katakan   oleh Imam Malik rahimahullah: Ilmu  terjelek  adalah  yang gharib  dan  ilmu yang  terbaik adalah  yang tampak yang di riwayatkan oleh manusia. ( banyak ).
Abdul hay al luknowi berkata:
فكثيراً ما يطلقون النكارة على مجرَّد التَّفرُّد،
Sering kali mereka menyatakan  hadis munkar disebabkan tafarrud saja . ( satu perawi yang meriwayatkan bukan dua atau tiga ).
Dalam kitab majma` zawaid di jelaskan :
مجمع الزوائد ومنبع الفوائد - (ج 3 / ص 277)
هذا لفظ أحمد ورجاله في طريق الأسود بن سريع وأبي هريرة رجال الصحيح وكذلك رجال البزار فيهما
Ini redaksi hadis riwayat Imam Ahmad . Perawi – perawinya   menurut riwayat Al aswad al sari` dan Abu Hurairah  adalah  perawi sahih Bukhari. Begitu juga perawi – perawi al Bazzar .
Komentarku ( Mahrus ali ):
Perawi –perawinya memang benar perawi sahih Bukhari. Illatnya disini adalah tadlis Qatadah dan tafarrudnya , disamping redaksi hadis yang  bermasalah.
سيد حسن السقاف
ابن عبد البر في (( التمهيد ))[3] عن هذا الحديث وما في معناه : [ ليست هذه الأحاديث من أحاديث الأئمة ، وإنما هي أحاديث الشيوخ .

Mau nanya hubungi kami:
088803080803( Smartfren). 081935056529 (XL )  https://www.facebook.com/mahrusali.ali.50
 




Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Pesan yang baik, jangan emosional.Bila ingin mengkeritisi, pakailah dalil yang sahih.Dan identitasnya jelas. Komentar emosional, tidak ditayangkan