Senin, September 28, 2015

Kota QUM kota bejat


Kerusakan “kota-kota suci” Iran ternyata erat kaitannya
dengan para Mullah (tingkatan ulama Syiah, red). Sebab
hanya para Mullah itulah yang dapat masuk ke pusat-pusat
pendidikan yang dikhususkan untuk gadis-gadis, meski
pada dasarnya mengajar di tempat-tempat tersebut
terlarang bagi laki-laki di kota Qum. Begitu juga dengan
pusa-pusat kesehatan, rumah sakit dan tempat-tempat
wisata yang dikhususkan buat wanita, banyak dijumpai
para Mullah berjalan-jalan dengan bebasnya seakan
mereka adalah kelompok orang yang telah dihalalkan atas
semua wanita yang masuk ke tempat-tempat tersebut.
Bahkan kerusakan di kota Qum jauh melebihi kerusakan
kota Teheran yang merupakan kota yang lebih terbuka di
banding Qum.
Angka bunuh diri di kalangan wanitanya dengan jalan
minum racun sangatlah tinggi, dan hal itu disebabkan oleh
beban mental yang banyak dirasakan oleh para wanita dan
gadis-gadis yang tinggal di kota itu sebagai dampak dari
situasi yang telah memaksa mereka dan juga cara-cara
yang diterapkan oleh “syurthatul akhlaqil hamidah”, yaitu
polisi penegak akhlak terpuji di bawah kekuasaan para
Mullah.
Kondisi kejiwaan inilah yang di saat tertentu dapat memicu
tindak kejahatan dari kaum laki-laki Iran untuk melakukan
penculikan dan pemerkosaan, bahkan tak jarang berakhir
dengan dibunuhnya sang korban karena takut dilaporkan.
Dan sebagian wanita dan gadis korban perkosaan pun tak
jarang yang mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri
karena malu dengan apa yang menimpanya.
Nyatanya, wanita di kota Qum selalu dalam risiko
penghinaan dan pelecehan seksual, khususnya yang
dilakukan oleh kalangan pelajar agama syiah di Hauzah.
Setiap kali mereka melihat wanita atau gadis yang sedang
berada di jalan, maka buru-buru mereka membuka
percakapan dengannya tentang nikah mut’ah, bahkan
sedikit pun mereka tidak membuka ruang tanya jawab
meski si wanita atau gadis tersebut merasa keberatan. Hal
itu disebabkan apa yang mereka inginkan adalah perkara
yang disyari’atkan dan telah ditegaskan oleh pemerintah, di
samping mut’ah dalam keyakinan mereka adalah
perbuatan terpuji dan telah diwasiatkan oleh para Imam
mereka sebagaimana tertulis dalam kitab-kitab Imam
mereka.
Karena itulah wanita-wanita di Qum harus menanggung
penghinaan dan pelecehan seksual ini dari para Mullah,
pemuda dan juga kaum laki-laki. Mereka hanya mempunyai
dua pilihan; tetap tunduk dengan aturan itu atau hidup
dalam situasi kepahitan jiwa.
Sebagian besar kehidupan rumah tangga di kota Qum juga
mengalami kegagalan, karena kebanyakan dari mereka
hidup dengan tetap menjalani kebiasaan dan mengikuti
adat yang menguasai di kota itu. Adat kebiasaan ini kadang
bertentangan dengan tingkat pengetahuan dan sosial
mereka, dan adat inilah yang sering kali mendorong kaum
laki-laki untuk melakukan mut’ah, sebab mereka
meneladani para Mullah. Dan sebaliknya banyak para istri
yang kemudian membalas perbuatan suaminya dengan
menjalin hubungan dengan laki-laki lain. Inilah yang
menyebabkan kehidupan rumah tangga mereka berakhir
dengan kegagalan, lalu dilanjutkan dengan perceraian.
Menurut penelitian tentang keadaan sosial di kota Qum,
ternyata angka perceraian di kota itu menduduki peringkat
terbesar kedua di negara Iran.
Seperti diketahui bahwa pengadilan yang khusus
menangani kasus-kasus perdata di Iran dilaksanakan
dengan perantara hakim-hakim yang selalu memotivasi
para wanita dan gadis untuk melakukan perceraian, dan
segera setelah perceraian itu mereka dipindahkan ke
Yayasan-yayasan sosial dengan dalih menolong mereka
agar cepat mendapatkan pekerjaan. Namun pada
kenyataannya mereka terjebak dalam perangkap para
Mullah untuk dijadikan budak dengan alasan mut’ah.
Yayasan Az-Zahra termasuk Yayasan paling terkenal yang
menjadi tempat tinggal para janda dan tempat bersenang-
senangnya para Mullah dan para pelajar agama di Hauzah
yang sangat menginginkan berbuat mesum atas nama
mut’ah.
Sampai ada hal yang sangat sulit dipercaya, dikatakan ada
data yang tidak resmi menegaskan bahwa kota Qum telah
mencatat angka tertinggi dalam masalah aborsi dengan
cara yang tidak diatur oleh undang-undang, sehingga amat
mustahil bila dalam sehari tidak ditemukan janin-janin
yang telah dibuang di tempat-tempat sampah atau selokan
air.
Kerusakan kota Qum tidak hanya itu. Kerusakan-serusakan
lain juga telah mencatat angka yang sangat tinggi seperti
pertikaian dan perkelahian antar kelompok dan perorangan
yang menyebabkan menumpuknya korban luka-luka di
rumah sakit Nakui di Qum setiap harinya. Salah satu
kawasan yang sering jadi tempat terjadinya perkelahian
adalah di jalan Bajik.
Kota Qum juga mencatat angka tertinggi kedua penderita
AIDS. Demikian juga dengan angka pecandu kokain jenis
“crack”, tercatat bahwa satu dari tiga orang di kota Qum
adalah pecandu opium.
Kota Qum juga tercatat sebagai kota yang paling banyak
menggunakan minuman keras oplosan. Ini jenis miras yang
mengandung bahan kimia yang dapat menyebabkan
kematian atau hilangnya penglihatan, sebagaimana pernah
terjadi dalam peristiwa peringatan “Iedun Nairuz”.
Sedang kondisi mata pencaharian masyarakat dan tingkat
kemiskinan di kota Qum juga sangat memprihatinkan.
Angka kemiskinan dan kelaparan di kota ini sukar bisa
dipercaya. Tapi nyatanya banyak masyarakat di kota ini
yang sulit bahkan sekadar melindungi diri mereka dari
cuaca dingin yang ekstrem atau musim panas yang
menyengat. Makanan mereka sehari-hari adalah roti dan
air, dan agak lebih baik sedikit adalah makaroni. Sering kali
orang tua mereka menyaksikan kematian anak-anaknya di
depan mata mereka karena ketidakmampuan berobat,
bahkan mereka juga tidak memiliki kartu jaminan
kesehatan.
Di antara keluarga-keluarga miskin di kota Qum juga
sangat banyak yang mempekerjakan anak-anak kecil
mereka di pabrik pembuatan batu bata dari malam hingga
siang hari untuk sekadar bertahan hidup.
Pemandangan seperti ini berlangsung di tengah banyaknya
Mullah yang hidup dalam kondisi serba mewah yang
dihasilkan dari kekuasaan mereka atas proyek-proyek
ekonomi dan kepemilikan saham pada banyak perusahaan-
perusahaan besar. Mereka dapatkan bagian itu dari apa
yang dinamakan harta “humus”, yaitu berhak atas 5% dari
harta yang diambil dari para pengikutnya. Harta humus ini
bisa mencapai milyaran Tuman dalam setahunnya
sehingga memungkinkan para Mullah memiliki bangunan-
bangunan istana di kawasan elit seperti Salarie, Amin
Boulvare dan lain-lain, di samping kepemilikan mereka atas
rumah-rumah mewah di kawasan Niavaran, utara Teheran.
Na’udzubillahi min dzalik. Tentu sebagai Muslim kita tidak
rela jika sepetak bumi Pariaman dinodai kebejatan serupa
yang terjadi di kota Qum Iran. Oleh karena itu, kaum
Muslimin, mari kita sadari hakikat kesesatan syiah ini dan
jagalah orang-orang terkasih di sekitar kita agar berkuat-
kuat aqidah, sehingga tidak terjamah setan bernama syiah
laknatullah . Semoga Allah subhanahu wata’ala
membalikkan hati pihak Pemerintah Daerah Kota Pariaman
agar bulat keberpihakan kepada Ahlus Sunnah wal jama’ah
dan menolak rencana program kota kembar tersebut.
Aammiin yaa Robbal ‘aalamiin

Kerusakan “kota-kota suci” Iran ternyata erat kaitannya
dengan para Mullah (tingkatan ulama Syiah, red). Sebab
hanya para Mullah itulah yang dapat masuk ke pusat-pusat
pendidikan yang dikhususkan untuk gadis-gadis, meski
pada dasarnya mengajar di tempat-tempat tersebut
terlarang bagi laki-laki di kota Qum. Begitu juga dengan
pusa-pusat kesehatan, rumah sakit dan tempat-tempat
wisata yang dikhususkan buat wanita, banyak dijumpai
para Mullah berjalan-jalan dengan bebasnya seakan
mereka adalah kelompok orang yang telah dihalalkan atas
semua wanita yang masuk ke tempat-tempat tersebut.
Bahkan kerusakan di kota Qum jauh melebihi kerusakan
kota Teheran yang merupakan kota yang lebih terbuka di
banding Qum.
Angka bunuh diri di kalangan wanitanya dengan jalan
minum racun sangatlah tinggi, dan hal itu disebabkan oleh
beban mental yang banyak dirasakan oleh para wanita dan
gadis-gadis yang tinggal di kota itu sebagai dampak dari
situasi yang telah memaksa mereka dan juga cara-cara
yang diterapkan oleh “syurthatul akhlaqil hamidah”, yaitu
polisi penegak akhlak terpuji di bawah kekuasaan para
Mullah.
Kondisi kejiwaan inilah yang di saat tertentu dapat memicu
tindak kejahatan dari kaum laki-laki Iran untuk melakukan
penculikan dan pemerkosaan, bahkan tak jarang berakhir
dengan dibunuhnya sang korban karena takut dilaporkan.
Dan sebagian wanita dan gadis korban perkosaan pun tak
jarang yang mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri
karena malu dengan apa yang menimpanya.
Nyatanya, wanita di kota Qum selalu dalam risiko
penghinaan dan pelecehan seksual, khususnya yang
dilakukan oleh kalangan pelajar agama syiah di Hauzah.
Setiap kali mereka melihat wanita atau gadis yang sedang
berada di jalan, maka buru-buru mereka membuka
percakapan dengannya tentang nikah mut’ah, bahkan
sedikit pun mereka tidak membuka ruang tanya jawab
meski si wanita atau gadis tersebut merasa keberatan. Hal
itu disebabkan apa yang mereka inginkan adalah perkara
yang disyari’atkan dan telah ditegaskan oleh pemerintah, di
samping mut’ah dalam keyakinan mereka adalah
perbuatan terpuji dan telah diwasiatkan oleh para Imam
mereka sebagaimana tertulis dalam kitab-kitab Imam
mereka.
Karena itulah wanita-wanita di Qum harus menanggung
penghinaan dan pelecehan seksual ini dari para Mullah,
pemuda dan juga kaum laki-laki. Mereka hanya mempunyai
dua pilihan; tetap tunduk dengan aturan itu atau hidup
dalam situasi kepahitan jiwa.
Sebagian besar kehidupan rumah tangga di kota Qum juga
mengalami kegagalan, karena kebanyakan dari mereka
hidup dengan tetap menjalani kebiasaan dan mengikuti
adat yang menguasai di kota itu. Adat kebiasaan ini kadang
bertentangan dengan tingkat pengetahuan dan sosial
mereka, dan adat inilah yang sering kali mendorong kaum
laki-laki untuk melakukan mut’ah, sebab mereka
meneladani para Mullah. Dan sebaliknya banyak para istri
yang kemudian membalas perbuatan suaminya dengan
menjalin hubungan dengan laki-laki lain. Inilah yang
menyebabkan kehidupan rumah tangga mereka berakhir
dengan kegagalan, lalu dilanjutkan dengan perceraian.
Menurut penelitian tentang keadaan sosial di kota Qum,
ternyata angka perceraian di kota itu menduduki peringkat
terbesar kedua di negara Iran.
Seperti diketahui bahwa pengadilan yang khusus
menangani kasus-kasus perdata di Iran dilaksanakan
dengan perantara hakim-hakim yang selalu memotivasi
para wanita dan gadis untuk melakukan perceraian, dan
segera setelah perceraian itu mereka dipindahkan ke
Yayasan-yayasan sosial dengan dalih menolong mereka
agar cepat mendapatkan pekerjaan. Namun pada
kenyataannya mereka terjebak dalam perangkap para
Mullah untuk dijadikan budak dengan alasan mut’ah.
Yayasan Az-Zahra termasuk Yayasan paling terkenal yang
menjadi tempat tinggal para janda dan tempat bersenang-
senangnya para Mullah dan para pelajar agama di Hauzah
yang sangat menginginkan berbuat mesum atas nama
mut’ah.
Sampai ada hal yang sangat sulit dipercaya, dikatakan ada
data yang tidak resmi menegaskan bahwa kota Qum telah
mencatat angka tertinggi dalam masalah aborsi dengan
cara yang tidak diatur oleh undang-undang, sehingga amat
mustahil bila dalam sehari tidak ditemukan janin-janin
yang telah dibuang di tempat-tempat sampah atau selokan
air.
Kerusakan kota Qum tidak hanya itu. Kerusakan-serusakan
lain juga telah mencatat angka yang sangat tinggi seperti
pertikaian dan perkelahian antar kelompok dan perorangan
yang menyebabkan menumpuknya korban luka-luka di
rumah sakit Nakui di Qum setiap harinya. Salah satu
kawasan yang sering jadi tempat terjadinya perkelahian
adalah di jalan Bajik.
Kota Qum juga mencatat angka tertinggi kedua penderita
AIDS. Demikian juga dengan angka pecandu kokain jenis
“crack”, tercatat bahwa satu dari tiga orang di kota Qum
adalah pecandu opium.
Kota Qum juga tercatat sebagai kota yang paling banyak
menggunakan minuman keras oplosan. Ini jenis miras yang
mengandung bahan kimia yang dapat menyebabkan
kematian atau hilangnya penglihatan, sebagaimana pernah
terjadi dalam peristiwa peringatan “Iedun Nairuz”.
Sedang kondisi mata pencaharian masyarakat dan tingkat
kemiskinan di kota Qum juga sangat memprihatinkan.
Angka kemiskinan dan kelaparan di kota ini sukar bisa
dipercaya. Tapi nyatanya banyak masyarakat di kota ini
yang sulit bahkan sekadar melindungi diri mereka dari
cuaca dingin yang ekstrem atau musim panas yang
menyengat. Makanan mereka sehari-hari adalah roti dan
air, dan agak lebih baik sedikit adalah makaroni. Sering kali
orang tua mereka menyaksikan kematian anak-anaknya di
depan mata mereka karena ketidakmampuan berobat,
bahkan mereka juga tidak memiliki kartu jaminan
kesehatan.
Di antara keluarga-keluarga miskin di kota Qum juga
sangat banyak yang mempekerjakan anak-anak kecil
mereka di pabrik pembuatan batu bata dari malam hingga
siang hari untuk sekadar bertahan hidup.
Pemandangan seperti ini berlangsung di tengah banyaknya
Mullah yang hidup dalam kondisi serba mewah yang
dihasilkan dari kekuasaan mereka atas proyek-proyek
ekonomi dan kepemilikan saham pada banyak perusahaan-
perusahaan besar. Mereka dapatkan bagian itu dari apa
yang dinamakan harta “humus”, yaitu berhak atas 5% dari
harta yang diambil dari para pengikutnya. Harta humus ini
bisa mencapai milyaran Tuman dalam setahunnya
sehingga memungkinkan para Mullah memiliki bangunan-
bangunan istana di kawasan elit seperti Salarie, Amin
Boulvare dan lain-lain, di samping kepemilikan mereka atas
rumah-rumah mewah di kawasan Niavaran, utara Teheran.
Na’udzubillahi min dzalik. Tentu sebagai Muslim kita tidak
rela jika sepetak bumi Pariaman dinodai kebejatan serupa
yang terjadi di kota Qum Iran. Oleh karena itu, kaum
Muslimin, mari kita sadari hakikat kesesatan syiah ini dan
jagalah orang-orang terkasih di sekitar kita agar berkuat-
kuat aqidah, sehingga tidak terjamah setan bernama syiah
laknatullah . Semoga Allah subhanahu wata’ala
membalikkan hati pihak Pemerintah Daerah Kota Pariaman
agar bulat keberpihakan kepada Ahlus Sunnah wal jama’ah
dan menolak rencana program kota kembar tersebut.
Aammiin yaa Robbal ‘aalamiin
Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Pesan yang baik, jangan emosional.Bila ingin mengkeritisi, pakailah dalil yang sahih.Dan identitasnya jelas. Komentar emosional, tidak ditayangkan