Selasa, Oktober 27, 2015

Jangan baca kasidah ini



يَارَبِّ باِلْمُصْطَفَى بَلِّغْ مَقَاصِدَناَ    وَاغْفِرْلَناَ مَامَضَى ياَوَاسِعَ الكَرَمِ
Wahai Tuhanku dengan  Rasul  yang terpilih , jadikanlah tujuan – tujuan kami tercapai dan ampunilah dosa – dosa kami yang telah lampau  wahai Tuhan yang luas kemurahanNya  ( Minta pengampunan dan tercapai tujuan dengan kehurmatan Nabi saw, syair tsb juga sirik sekali  ).

Ada beberapa kemungkinan arti syair tsb.
1.     Wahai Tuhanku  tujuan – tujuanku  bikinlah tercapai sebab Muhammad yang  terpilih……………………….
Arti sedemikian ini arti lahiriah , harfiah , tanpa di takwil. Ia arti leterlek dan apa adanya tanpa meng ada – ada. Ia arti  textual  bukan kontekstual.
Arti sedemikian ini rentan terhadap akidah, tidak membangun akidah yang  baik tapi merusak akidah yang  baik menjadi jelek.  Akidah  yang  lurus bertauhid menjadi  bengkong yang   syirik.
   Doa itu mohon pada Allah agar tujuan tercapai sebab Muhammad saja bukan dengan sebab rahmatMu atau anugrahMu atau KemurahanMu.
  Doa  sedemikian ini doa yang  terlarang karena ada ayat:
وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ ِللهِ فَلاَ تَدْعُوا مَعَ اللهِ أَحَدًا
Dan sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu berdoa kepada  seseorangpun di dalamnya di samping berdoa kepada Allah.[1]
Bila  berdoa kepada Allah , jangan menyebut nama  seseorang baik nabi atau lainnya. Tapi berdoalah langsung pada Allah  sebagaimana ayat:
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

Dan Tuhanmu berfirman: "Berdo`alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina".[2]
2.     Wahai Tuhanku  tujuan – tujuanku  bikinlah tercapai sebab cintaku kepada  Muhammad yang  terpilih………………..

Biasanya ahli bid`ah agar terhindar  dari kesyirikan mentakwil  syair tsb dengan  kalimat seperti itu  ya`ni “sebab cintaku kepada  Muhammad yang  terpilih………………..”

  Ini takwilan bukan arti sebenarnya. Apa benar maksud penyair seperti itu  atau bukan , wallahu a`lam.  Hal itu seperti ada  kalimat  seperti ini :
Wahai Tuhanku  tujuan – tujuanku  bikinlah tercapai sebab berhala lata.
Lalu agar terhindar dari kesyirikan lalu di takwil “ sebab benci dengan berhala lata “.

Atau orang bilang : Aku meyembah berhala Lata”
Agar tidak syirik , lalu di takwil  maksudnya  : Aku menyembah Allah yang  menciptakan orang yang  membuat behala Lata “.
Paling tepat , tidak usah bc doa  seperti syair  itu , tapi berdoalah dengan kalimat  yang  ma`tsur  - yang  jelas ada  tuntunannya , jangan tuntunan yang masih  kabur , belum jelas sahihnya.   
Kita ikut Rasulullah shallahu alaihi wasallam dalam  menjalankan shalat, puasa berdoa  dll. Tidak boleh  mengikuti Rasulullah shallahu alaihi wasallam dalam shalat saja lalu dalam berdoa  menyelisihinya. Kita ikut ayat:
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.[3]
Para  Nabi , sahabat , imam madzhab empat  dan seluruh  ulama‘ saleh tidak mengajarkan doa dengan  perantara  kehurmatan dan derajat orang mati. Kita tidak punya  pegangan dari Al Quran atau hadis yang membolehkan  doa semacam itu. Kita ikuti saja ajaran  Allah dan tuntunan Nabi SAW dalam berdoa.
Karena itu , tiada  hadis yang mengajarkan doa seperti itu
Komisi fatwa dan irsyad kerajaan Saudi menyatakan:

أَنْ يَسْأَلَ الله بِجَاهِ أَنْبِيَائِهِ أَوْ وَلِيٍّ مِنْ َأوْلِيَائِهِ بِأَنْ يَقُوْلَ: (الَّلهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِجَاهِ نَبِيِّكَ أَوْ بِجَاهِ الْحُسَيْنِ) مَثَلاً فَهَذاَ لاَ يَجُوْزُ؛ لِأَنَّ جَاهَ أَوْلِيَاِء الله وَإِنْ كَانَ عَظِيْمًا عِنْدَ الله وَخَاصَّةً حَبِيْبُنَا مُحَمَّدٌ صلى الله عليه وسلم غَيْرَ أَنَّهُ لَيْسَ سَبَبًا شَرْعِيًّا وَلاَ عَادِيًّا لِاسْتِجَابَةِ الدُّعَاءِ؛ وَلِهَذاَ عَدَلَ الصَّحَابَةُ حِيْنَماَ أَجْدَبُوا عَنِ التَّوَسُّلِ بِجَاهِهِ صلى الله عليه وسلم فيِ دُعَاءِ اْلاِسْتِسْقَاءِ إِلَى التَّوَسُّلِ بِدُعَاءِ عَمِّهِ اْلعَبَّاسِ مَعَ أَنَّ جَاهَهُ عليه الصلاة والسلام فَوْقَ كُلِّ جَاهٍ، وَلمَ ْيُعْرَفْ عَنِ الصَّحَابَةِ رضي الله عنهم أَنَّهُمْ تَوَسَّلوُا بِهِ صلى الله عليه وسلم بَعْدَ وَفَاتِهِ وَهُمْ خَيْرُ اْلقُرُوْنِ وَأَعْرَفُ النَّاسِ بِحَقِّهِ وِأَحَبُّهُمْ لَهُ.
Seseorang minta pada Allah dengan pangkat nabi – nabiNya atau wali – waliNya. Dia berkata : Ya Allah ! Sesungguhnya aku mohon kepadaMu  dengan pangkat NabiMu atau pangkat Husain …….. ini tidak boleh. Sebab pangkat wali – wali Allah sekalipun agung disisi Allah , lebih – lebih kekasih kita Muhammad SAW, tapi tidak merupakan sebab syar`i atau tradisi  untuk  doa yang di kabulkan. Karena itu , para sahabat ketika musim peceklek  tidak bertawassul kepada Nabi waktu doa istisqa` tapi minta doa kepada pamannya Al abbas  pada hal pangkat Nabi di atas seluruh pangkat. Dan tidak dikenal di kalangan sahabat bahwa mereka bertawassul kepada Nabi SAW setelah wafatnya . Pada hal mereka hidup dimasa terbaik dan manusia yang lebih mengerti tentang hak Nabi SAW  dan paling senang kepadanya. [4]


[1] Jin 18
[2]  Ghofir 60
[3] Ali Imran  31
[4] Komisi fatwa dan irsyad kerajaan Saudi 4217

Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Pesan yang baik, jangan emosional.Bila ingin mengkeritisi, pakailah dalil yang sahih.Dan identitasnya jelas. Komentar emosional, tidak ditayangkan