Selasa, Oktober 06, 2015

LAGI-LAGI RIBUT MASALAH SYAIKH ALI HASAN AL-HALABI.


Oleh: Maaher At-Thuwailibi.
Akhi, masalah Syaikh Ali Hasan Al-Halabi adalah masalah yang rumit. Ini terjadi sejak dulu. Dikalangan aktivis manhaj Salaf terjadi pro dan kontra menyikapi beliau. Sebagian kalangan ada yang mendukung, sebagian lagi ada yang antipati. sementara sebagian lagi ada yang masih memilih sikap tawaqquf (diam dan tidak dukung sana-sini). Namih perdebatan pun terus terjadi.
Jujur, miris hati ini menyaksikan realita pahit yang terjadi, disaat ummat di intai dan di incar oleh musuh-musuh islam dari berbagai penjuru. Negeri kita di ancam oleh berbagai marabahaya yang telah di ambang pintu; PKI, Syi'ah, dan Liberal. Mereka bersatu menghantam islam. Namun ummat masih saja ribut tentang satu sosok dari Yordan ini.
Sebenarnya begini kronologisnya.. semoga Allah menjaga kita semua (termasuk Syaikh Ali Hasan). Begini kronologisnya...
- Syaikh Ali Hasan Al-Halabi menulis dua buah kitab (yakni buku dalam bahasa arab).
Pertama, judulnya At-Tahdziiru Min Fitnati Takfir.
Kedua, judulnya Shaihatun Nazhir.
Thoyyib..
- Kedua kitab ini diperiksa, di teliti, dan di telaah oleh dewan Ulama Lajnah Da'imah (Lembaga Fatwa Resmi Arab Saudi), tentu bukan speed reading, bukan hanya sekedar buka daftar isi dan indeks, atau baca asal baca.., tidak.. tapi di teliti dan di telaah secara mendalam. ternyata ada point-point yang menunjukkan fahmul irja' (pemahaman murji'ah) dan tahrif (penyelewengan) dalam penukilan sang penulis. Ini menurut Lajnah Da'imah. Sekali lagi, ini hasil penelitian Dewan Ulama Saudi itu (Lajnah Da'imah).
artinya, ada 2 masalah pokok: CACAT AQIDAH dan CACAT AKHLAQ. Sehingga Lajnah Da'imah meminta sang penulis (yakni Syaikh Ali Hasan Al-Halabi) untuk rujuk dan bertaubat.
- Kurang lebih tiga yang lalu, saat saya telfon dan saya mintai pendapatnya, Ustadz Ja'far Umar Thalib pun masih berpegang teguh dengan fatwa Lajnah Da'imah Lil Buhuts 'Ilmiyyati Wal Ifta' Kerajaan Saudi Arabia. Yakni bahwasanya Syaikh Ali Hasan Al-Halabi membawa pemikiran irja' (murji'ah). Sekali lagi, ini pendapat yang di pegang Ustadz Ja'far Umar Thalib (Tokoh utama Gerakan Salafiyyah di indonesia). Anda jangan kebakaran "kumis" dulu.
- Lalu, pendukung Syaikh Ali Hasan Al-Halabi tidak terima kenyataan ini.
- Akhirnya dibuatlah berbagai manuver: katanya, Syaikh Al-'Utsaimin menyayangkan fatwa itu. katanya, Lajnah Da'imah telah rujuk. Dan lebih parah lagi, seorang da'i pecinta Syaikh Ali Hasan Al-Halabi, dalam rekamannya yang beredar, ia menyatakan bahwa Syaikh Shalih Fauzan tidak baca buku itu. Secara etika, ini sungguh merupakan sikap su'ul adab (kurang ajar) terhadap para Ulama kibar. Tidak sepantasnya seorang da'i yang mengaku Ahlus Sunnah dan memiliki banyak pengikut merendahkan seorang Kibar Ulama seperti Syaikh Shalih Fauzan. Andai ia ingin membela Syaikh Ali Hasan Al-Halabi ya silahkan, itu hak dia. Tetapi jangan merendahkan seorang Ulama kibar yang telah di rasakan ummat sumbangsih ilmunya terhadap islam dan muslimin.
Lalu ia mengatakan bahwa yang mentahdzir Syaikh Ali Hasan Al-Halabi adalah orang-orang takfiri. Astaghfirullah .... laa ilaaha illallah... ini benar-benar pelecehan luar biasa dahsyat terhadap para ulama. Bagaimana mungkin yang mentahdzir Ali Hasan Al-Halabi adalah orang-orang takfiri. Lah wong jelas-jelas tahdzir itu datang dari Ha'iah Kibaaril 'Ulama, dari para mufti besar Salafiyyun. Apakah anda menganggap para Ulama itu sebagai Takfiri !!?? sepertinya ini statemen yang konyol.
Bukan hanya Lajnah Da'imah sebagai lembaga fatwa resmi yang mentahdzir sosok Syaikh Ali Hasan Al-Halabi terkait dua kitabnya itu. bahkan para Ulama-ulama besar Salafiyyun selain Lajnah pun mentahdzirnya, diantaranya Syaikh Muhammad bin Umar Bazmul, Syaikh DR.Abdullah Al-Bukhari, Syaikh Muhammad Bin Hadi Al-Madkhali, Syaikh Muhammad Al-Imam, Syaikh Abdurrahman Al-Mar'ie, dll. Apakah anda anggap Ulama-ulama ini "Takfiri" semua ??
- Tidak cukup di situ, pendukung Syaikh Ali Hasan Al-Halabi menggalang kekuatan dengan meminta tazkiyah (rekomendasi & pujian) dari ulama yang memang pro dengan Syaikh Ali Hasan Al-Halabi untuk melawan fatwa Ulama kibar. lalu tazkiyah itu disebar luaskan; termasuk tazkiyah-tazkiyah jadul (jaman dulu) dari para masyayikh yang sudah meninggal dunia dan tentu tidak tahu keadaan Syaikh Ali Hasan Al-Halabi dikemudian hari.
- Belakangan diketahui, ternyata bahwa kabar Syaikh Utsaimin menyayangkan fatwa Lajnah Da'imah dan membela Syaikh Ali Hasan Al-Halabi itu berita bohong saja...sebagaimana konfirmasi Syaikh Ihsan Al-'Utaibi.
Syaikh Ihsan Al-Utaibi dalam tulisan beliau di saaid.net yang berjudul “At-Ta’liqu 'ala Kidzbah Jadidah Lil-Halabi” beliau berkata, ”Saya memiliki saksi dan bukti yang cukup untuk menjelaskan kedustaan Ali Hasan Al-Halabi. Syaikh Utsaimin pernah ditanya terkait perkataan Ali Hasan Al-Halabi ini. Beliau mendustakan perkataan Ali Al-Halabi sembari berkata, “Bahkan bila engkau tidak melihat tulisan dan stempelku merekomendasikan hal seperti itu, janganlah kau percaya!” Kata-kata Syaikh Utsaimin di atas merupakan bentuk pengingkaran beliau terhadap perkataan Syaikh Ali Al-Halabi.
- Syaikh Shalih Fauzan pun membantah bahwa Lajnah Da'imah yang di isukan rujuk dari fatwanya, justru beliau (yakni Syaikh Shalih Fauzan) meminta Syaikh Ali Al-Halabi yang mesti rujuk.
- Di sisi Syaikh Ali Hasan Al-Halabi, Beliau pun membuat bantahan untuk Lajnah Daimah, ... bahkan Beliau juga membuat kitab khusus untuk membantah Syaikh Shalih Fauzan, ini sikap berani beliau yang membuat marah sebgian masyayikh karena sikapnya yang su'ul adab (jelek adab). buku tersebut dibantah lagi oleh pendukung Lajnah Da'imah (yakni Syaikh Ad-Dausary), lalu dibantah lagi oleh Syaikh Ali Hasan Al-Halabi.
- Akhirnya, orang-orang dan Ulama-ulama yang dulu memujinya, sekarang justru mentahdzirnya; mencela dan mencekalnya, seperti Syaikh Bazmul bersaudara, Syaikh Rabi' menyebutnya mubtadi' (ahli bid'ah), begitu pula para ulama murid-muridnya Syaikh Muqbil.
- Yang masih bersama Syaikh Ali Hasan Al-Halabi adalah Markaz Imam Al-Albani di Yordan. dan yang sepemikiran dengannya di negera lain, termasuk di Indonesia.
- Lalu masalah ini dibawa ke indonesia dan sampai hari ini masih berlangsung. Di indonesia, pendukung Syaikh Ali Hasan Al-Halabi berkumpul di STAI Ali Bin Thalib Surabaya, STDI Imam Syafi'i Jember, Ma'had Imam Bukhori dengan majalah As-Sunnah nya di Solo, Al-Furqon di gresik, Abu Ihsan Al-Atsary CS di medan, dan Radio Rodja di Bogor.
- Yang anti terhadap Syaikh Ali Hasan Al-Halabi ada di Laskar Jihad yang di pelopori Ustadz Ja'far Umar Thalib dan pecahannya, yaitu:
An-Nashihah, salafy.or.id, murid-muridnya Muhammad Umar As-Sewed, Luqman Ba'abduh, Dzulqarnain Muhammad ggg Al-Makassari, Usamah Faisal Mahri, Askari Bin Jamal Al-Bugisi, Muhammad Ali Ishmah Al-Medani, Wildan batam, Muhammad Afifuddin, Abu Munzir Dzul Akmal, dll.
- Musuh Syaikh Ali Hasan Al-Halabi bertambah ketika beliau sering dipakai oleh BNPT untuk deradikalisasi. termasuk didalamnya mufti majalah Qiblati seperti Syaikh Mamduh Farhan Al-Buhairi dan para pengajar STAI Aly As-Sunnah medan semisal Syaikh 'Utsman Shalih, pengajar STAI Muhammad Natsir semisal Ust.Anung Al-Hammat,Lc.M.Ag, dll. akhirnya dengan kalangan Salafi Jihadi dengan beragam wadahnya pun dia dimusuhi. mereka yang memusuhi Syaikh Ali Hasan Al-Halabi diberi cap oleh pendukung setia Syaikh Ali Hasan sebagai: khawarij, takfiri, atau yang satu lagi mutasyaddid/ahlu tahdzir.
- sampai saat ini Syaikh Ali Hasan tidak mengakui kesalahannya atas bukunya itu, tetapi hanya revisi saja.
- sampai saat ini Lajnah Da'imah pun tidak pernah mencabut fatwanya, semua anggota Lajnah Da'imah tetap memberlakukan fatwa itu dan mereka semua -walhamdulillah- masih hidup:
1. Syaikh Abdul 'Aziz Alu Syaikh (mufti besar Arab Saudi),
2. Syaikh Shalih Fauzan Bin Abdillah Al-Fauzan,
3. Syaikh DR.Abdurrahman Al-Ghudyan,
4. Syaikh DR.Shalih Al-Luhaidan.
5. Syaikh Bakr Bin Abdillah Abu Zaid.
sekali lagi, semuanya masih hidup kecuali Syaikh Bakr Abu Zaid dan Syaikh Abdurrahman Al-Ghudyan Rahimahumallah.
- FAKTA UNIK -
Pertama:
Ketika yang di jarh (di kritik) adalah Syaikh kesayangannya, maka pembelaan dilayangkan. Namun ketika yang di jarh (di kritik) adalah Ulama yang bukan "sesembahannya" (seperti Syaikh DR.Safar Al-Hawali, Syaikh DR.Aidh Al-Qarni, Syaikh DR.Salman Al-'Audah, Syaikh DR.Muhammad Al-'Arifi, Syaikh DR.Yusuf Al-Qaradhawi, Syaikh DR.Muhammad Hassan, Syaikh DR.Abu Ishaq Al-Huwaini, Syaikh Abu Muhammad Al-Maqdisi, dll) maka justru yang di pakai adalah kaidah: "Jarh (kritik) didahulukan di banding Ta'dil (pujian)".
Padahal dihadapan kita ada ayat: "wailul lil muthaffifin, alladziina idzaktaalu 'alan naasi yastawfuun.... dst"
Yang artinya:
" Celakalah orang yang curang dalam timbangan, yaitu orang-orang yang jika menakar buat dirinya dilebih-lebihkan tapi buat orang lain dikurang-kurangkan ".
Kedua: Para pendukung Syaikh Ali Hasan membela nya mati-matian karena melihat foto Syaikh Ali Hasan Al-Halabi bersama ulama lain (Syaikh Sa'ad Asy-Syatsri, penasehat Raja Saudi). Padahal, tahdzir yang dilakukan Lajnah Da'imah adalah diatas ilmu, setelah melakukan penilitian, bukan seperti sebagian 'pejabat kelurahan' yang asal tanda tangan tanpa meneliti dahulu sebagaimana yang dituduhkan beberapa ustadz di Indonesia.
Maka kita lihat perbedaan paham antara Syaikh Ali Hasan dengan Lajnah Daimah. Adapun masalah siapa yang benar diantara mereka tentunya ditimbang lagi secara ilmiah.
Seharusnya tidak perlu ada lagi pengkaburan dan pendustaan yang seakan-akan masalah Syaikh Ali Hasan dan Lajnah Daimah ini salah paham belaka. Seakan-akan sebenarnya mereka sepakat dalam masalah takfir dan iman.
Coba perhatikan :
1. Jika Syaikh Sholeh al Fawzan memahami bahwa setiap Thoghut adalah kafir tidak ada keraguan sama sekali silahkan merujuk
وكل طاغوت فهو كافر بلا شك
http://www.alfawzan.af.org.sa/node/10323
2. Sementara Syaikh Ali Hasan Al Halaby justru menyatakan sebaliknya tidak semua Thoghut Kafir
https://youtu.be/xS8tU9urSR4
Ingat, perbedaan ini masalah MENDASAR, kita semua berhak untuk tahu, berhak untuk mendapat kebenaran. Tidak tersamarkan, seakan akan sebenarnya tidak ada masalah selama ini.
Allahul Musta'an.
Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Pesan yang baik, jangan emosional.Bila ingin mengkeritisi, pakailah dalil yang sahih.Dan identitasnya jelas. Komentar emosional, tidak ditayangkan