Kamis, November 05, 2015

Jawabanku untuk Idrus Ramli ke 52



Anda menyatakan lagi:

 Tim LBM Jember menduga bahwa dengan memasukkannya Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qayyim akan hadits ini ke dalam kitabnya, cukup sebagai bantahan untuk membantah pernyataan Mahrus Ali dan bisa mcmbuat dia sadar akan kesalahan yang telah dia perbuat. Namun dugaan tersebut ternyata salah total dan kenyataannya berbalik 180 derajat, bukannya sadar dan mengakui kisalahannya, Mahrus Ali malah menyalahkan Ibnu Taimiyah yang notabene panutan utama kaum Wahabi.

Komentar (Mahrus Ali):

Saya, Mahrus Ali bukanlah orang yang ikut-ikutan pubic figure, figur suku, ajaran, golongan, ajaran leluhur yang Islami atau Kufri. Saya juga tidak anti pati kepada pendapat mereka bila  benar., saya akan menjunjungnya.  Dan  saya juga  tidak anti pati pada lawan mereka.
Saya mengikuti dalil dari Al Quran atau hadits yang sahih , bukan hadits  lemah. Apalagi pendapat ulama  yang  salah, bukan yang  benar. Bukan  hadis  saja tanpa al quran atau al quran saja  tanpa  hadis.
Jika Anda membawakan dalil  sahih, saya akan mengikuti anda, karena saya sangat menghormati dalil dan tidak mengejeknya atau menyepelekannya.
Namun, Anda tidak membawakan dalil, tetapi hanya akal-akalan, bukan dalil, bermain retorika, bukan kejujuran ,  dengan teori falsafah bukan quran dan  hadis, dengan mantik yang salah bukan mantik  yang  benar. Anda  berdasarkan pendapat leluhur  tanpa dalil, maka saya  menolaknya. Saya akan tetap konsisten pada dalil sekalipun manusia melepaskannya. Saya, sama pendapat  Ibnu Taimiyyah, Imam Syafi’i, atau Imam Asy’ari bersikap adil, tidak berpihak dengan  kebodohan, juga  bukan karena ketokohan mereka, tetapi karena mereka mengikuti dalil  sahih.
 Apabila mereka tidak memiliki dalil yang sahih, maka saya pun akan berseberangan dan tidak akan mengikuti mereka.
Imam Syafi’i menyatakan:

إذَا صَحَّ الْحَدِيثُ فَاضْرِبُوا بِقَوْلِي الْحَائِطَ وَإِذَا رَأَيْت الْحُجَّةَ مَوْضُوعَةً عَلَى الطَّرِيقِ فَهِيَ قَوْلِي.

Apabila ada hadits yang sahih, maka lemparkanlah perkataanku ke tembok. Apabila kamu melihat hujjah telah berada di jalan, maka itulah perkataanku.

لاَ تُقَلِّدْ دِينَك الرِّجَالَ فَإِنَّهُمْ لَنْ يَسْلَمُوا مِنْ أَنْ يَغْلَطُوا.
Dalam masalah agama, jangan ikut-ikutan orang, sebab mereka juga mungkin salah.

Imam Malik berkata:

إنَّمَا أَنَا بَشَرٌ أُصِيبُ وَأُخْطِئُ فَاعْرِضُوا قَوْلِي عَلَى الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ

Aku hanyalah manusia, terkadang pendapatku benar, tetapi di lain waktu terkadang salah. Oleh karena itu, cocokkanlah perkataanku dengan Kitabullah dan hadits Rasulullah.
Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Pesan yang baik, jangan emosional.Bila ingin mengkeritisi, pakailah dalil yang sahih.Dan identitasnya jelas. Komentar emosional, tidak ditayangkan