Kamis, November 12, 2015

Jawabanku untuk Muhammad Syafii

Muhammad Syafii menulis dari malik al-dari(bendahara umar),ia berkata:telah terjadi musim kemarau dimasa umar,kemudian ada seorang laki-laki(bilal bin harits al-muzani)datang ke makam rasulullah ia berkata:ya rasulullah,mintakanlah hujan untuk umatmu sebab mereka akan binasa,kemudian rasulullah datang kepada lelaki tadi dalam mimpinya,beliau berkata:datangilah umar.......
(HR.IBNU ABI SYAIBAN DAN IBNU HAJAR DALAM KITAB FATHUL BARI',III/441,beliau berkata sanad-nya jayyid)

coba antum runtuhkan dalil ini dulu,kalau antum bisa saya kasih dalil lagi!
silahkan...

Komentarku ( Mahrus ali ):
حدثنا أبو معاوية عن الأعمش عن أبي صالح عن مالك الدار قال وكان خازن عمر على الطعام قال أصاب الناس قحط في زمن عمر فجاء رجل إلى قبر النبي صلى الله عليه و سلم فقال يا رسول الله استسق لأمتك فإنهم قد هلكوا فأتي الرجل في المنام فقيل له إئت عمر فأقرئه السلام وأخبره أنكم مسقيون وقل له عليك الكيس عليك الكيس فأتى عمر فأخبره فبكى عمر ثم قال يا رب لا آلو إلا ما عجزت عنه
Telah mengabarkan kami Abu Mu’awiyah dari Al A’masy dari Abu Shalih dari Malik Ad Dar ia berkata –ia dahulu adalah bendahara Umar untuk urusan logistik, ia berkata:
Manusia ditimpa kekeringan pada masa Umar bin Khattab, lalu datanglan seorang lelaki ke kuburan Nabi SAW lalu berdoa: “Wahai Rasulullah, mintalah hujan kepada Allah untuk umatmu, sesungguhnya mereka telah binasa.” Lalu lelaki itu didatangi oleh Rasulullah SAW dalam mimpinya. Beliau bersabda, “Datanglah kepada Umar lalu sampaikan salamku untuknya, dan beritahukan kepadanya bahwa kalian akan diberi hujan. Katakan juga: hendaknya kalian berhati – hati dan bersungguh dlm berusaha.” Lalu lelaki itu mendatangi Umar dan menceritakan apa yang dialaminya tersebut. Umar pun menangis kemudian berkata, “Ya Rabb, aku tidak akan mengabaikan kecuali dari apa yang aku tidak mampu melakukannya.”
Nabi SAW dan melakukan tawassul dalam hadis ini adalah sahabat Bilal bin Al Harits Al Muzani
Jawabannya ada beberapa hal :
Kisah diatas tidak benar, karena perawi bernama Malik addar yang keadilan dan hapalannya tidak dikenal . Inilah dua sarat pokok dalam setiap sanad yang sahih sebagaimana yang tertera dalam kitab ilmu mustholah. Sungguh dia telah di cantumkan oleh Ibnu Abi Hatim dalam kitab al jarh watta`dil. Tiada perawi yang meriwayatkan hadis dari Malik addar kecuali dari jalur ini. Ini sebagai isarat bahwa Malik addar tidak di kenal
Ibnu Abi Hatim sendiri sekalipun sering membaca kitab dan hapalannya luas tidak memberikan nilai kepercayaan padanya . Jadi Malik Addar tetap tidak dikenal. Karena itu , tidak menafikan Al Hafizh Ibnu Hajar menyatakan riwayatnya sampai Abu Saleh Assaman sahih ………………. )
Karena itu, kami berkata : Sesungguhnya pernyataan tsb tidak menyatakan sahih seluruh sanad tapi sampai Abu Saleh saja. Bila tidak demikian , maka beliau tidak memulai sanadnya dari Abu saleh , tapi akan di katakan ……… dari Malik Addar ………. Sanadnya sahih. Beliau sengaja melakukan sedemikian ini untuk memberikan pandangan bahwa disini terdapat sesuatu yang layak di kaji ulang .
Ulama melakukan sedemikian ini karena ada beberapa faktor :
Terkadang mereka tidak menjumpai riwayat hidup sebagian perawinya . Mereka tidak sampai hati untuk membuang sanad seluruhnya karena ada kemungkinan sahih , apalagi waktu berdalil dengannya . Bahkan mereka menyampaikan sesuatu yang harus di kaji ulang . Inilah apa yang di lakukan oleh Al Hafizh Ibnu Hajar . Seolah beliau berisarat kepada Abu Saleh Assiman yang secara sendirian meriwayatkannya dari Malik Addar sebagaimana yang dikutip dari Ibnu Abi hatim . Ini lah salah satu cara untuk keharusan mengecek perawi Malik ini atau berisarat bahwa dia adalah tidak dikenal . Wallahu a`lam .
Ini ilmu yang sangat membutuhkan pengkajian , dan tidak akan di ketahui kecuali oleh orang yang sudah terlatih dengannya .
Ada lagi dukungan dari Al hafizh al mundziri yang di cantumkan di kitab Attarghib – yaitu kisah lain dari riwayat Malik Addar dari Umar . HR Thabrani dalam mu`jam kabir . Perawi – perawinya sampai kepada Malik Addar terpercaya dan populer . Dan aku tidak kenal Malik Addar. Begitu juga Al Haitami menyatakan dalam kitab Majma`uz zawa`id .
Pengarang kitab Attawasshul lupa terhadap pengecekan seperti ini , lalu dia terpedaya dengan perkataan Al hafizh dan menyatakan hadis tsb sahih .
2. Kisah tsb jelas bertentangan dengan ketetatapan sariat yang menganjurkan mendirikan salat Istisqa` sebagaimana di terangkan dalam banyak hadis dan mayoritas ulama telah berpegangan kepadanya . Ia juga bertentangan dengan ayat yang menganjurkan doa dan minta ampun yaitu firman Allah dalam surat Nuh :

َقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا
maka aku katakan kepada mereka: “Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, --sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun--,
يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا
niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat
Inilah apa yang di lakukan oleh Umar bin Al khatthab ketika minta hujan dan bertawassul dengan doa Al abbas sebagaimana keterangan lalu .
Begitulah pengadatan kaum salaf yang saleh ketika mendapat pecekil dan musim kemarau panjang . Mereka melakukan salat , dan berdoa . Tiada satupun orang dari mereka yang pergi ke kuburan Nabi dan minta padanya doa dan siraman hujan . seandainya hal itu di sariatkan , mereka akan melakukannya sekali sekali . Bila mereka tidak melakukannya , hal itu menunjukkan keterangan dalam kisah tsb tidak di sariatkan .
Ibnu taimiyah berkata :
وَعُلِمَ أَنَّهُ لَمْ يَكُنْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَلْ وَلَا أَحَدٌ مِنْ الْأَنْبِيَاءِ قَبْلَهُ شَرَعُوا لِلنَّاسِ أَنْ يَدْعُوا الْمَلَائِكَةَ وَالْأَنْبِيَاءَ وَالصَّالِحِينَ وَلَا يَسْتَشْفِعُوا بِهِمْ لَا بَعْدَ مَمَاتِهِمْ وَلَا فِي مَغِيبِهِمْ فَلَا يَقُولُ أَحَدٌ : يَا مَلَائِكَةَ اللَّهِ اشْفَعُوا لِي عِنْدَ اللَّهِ سَلُوا اللَّهَ لَنَا أَنْ يَنْصُرَنَا أَوْ يَرْزُقَنَا أَوْ يَهْدِيَنَا .
وَكَذَلِكَ لَا يَقُولُ لِمَنْ مَاتَ مِنْ الْأَنْبِيَاءِ وَالصَّالِحِينَ : يَا نَبِيَّ اللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ اُدْعُ اللَّهَ لِي سَلْ اللَّهَ لِي اسْتَغْفِرْ اللَّهَ لِي سَلْ اللَّهَ لِي أَنْ يَغْفِرَ لِي أَوْ يَهْدِيَنِي أَوْ يَنْصُرَنِي أَوْ يُعَافِيَنِي وَلَا يَقُولُ : أَشْكُو إلَيْك ذُنُوبِي أَوْ نَقْصَ رِزْقِي أَوْ تَسَلُّطَ الْعَدُوِّ عَلَيَّ أَوْ أَشْكُو إلَيْك فُلَانًا الَّذِي ظَلَمَنِي وَلَا يَقُولُ : أَنَا نَزِيلُك أَنَا ضَيْفُك أَنَا جَارُك أَوْ أَنْتَ تُجِيرُ مَنْ يَسْتَجِيرُ أَوْ أَنْتَ خَيْرُ مُعَاذٍ يُسْتَعَاذُ بِهِ . وَلَا يَكْتُبُ أَحَدٌ وَرَقَةً وَيُعَلِّقُهَا عِنْدَ الْقُبُورِ وَلَا يَكْتُبُ أَحَدٌ مَحْضَرًا أَنَّهُ اسْتَجَارَ بِفُلَانِ وَيَذْهَبُ بِالْمَحْضَرِ إلَى مَنْ يَعْمَلُ بِذَلِكَ الْمَحْضَرِ وَنَحْوِ ذَلِكَ مِمَّا يَفْعَلُهُ أَهْلُ الْبِدَعِ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُسْلِمِينَ كَمَا يَفْعَلُهُ النَّصَارَى فِي كَنَائِسِهِمْ وَكَمَا يَفْعَلُهُ الْمُبْتَدِعُونَ مِنْ الْمُسْلِمِينَ عِنْدَ قُبُورِ الْأَنْبِيَاءِ وَالصَّالِحِينَ أَوْ فِي مَغِيبِهِمْ فَهَذَا مِمَّا عُلِمَ بِالِاضْطِرَارِ مِنْ دِينِ الْإِسْلَامِ وَبِالنَّقْلِ الْمُتَوَاتِرِ وَبِإِجْمَاعِ الْمُسْلِمِينَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَشْرَعْ هَذَا لِأُمَّتِهِ . وَكَذَلِكَ الْأَنْبِيَاءُ قَبْلَهُ لَمْ يَشْرَعُوا شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ بَلْ أَهْلُ الْكِتَابِ لَيْسَ عِنْدَهُمْ عَنْ الْأَنْبِيَاءِ نَقْلٌ بِذَلِكَ كَمَا أَنَّ الْمُسْلِمِينَ لَيْسَ عِنْدَهُمْ عَنْ نَبِيِّهِمْ نَقْلٌ بِذَلِكَ وَلَا فَعَلَ هَذَا أَحَدٌ مِنْ أَصْحَابِ نَبِيِّهِمْ وَالتَّابِعِينَ لَهُمْ بِإِحْسَانِ وَلَا اسْتَحَبَّ ذَلِكَ أَحَدٌ مِنْ أَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ لَا الْأَئِمَّةُ الْأَرْبَعَةُ وَلَا غَيْرُهُمْ وَلَا ذَكَرَ أَحَدٌ مِنْ الْأَئِمَّةِ لَا فِي مَنَاسِكِ الْحَجِّ وَلَا غَيْرِهَا أَنَّهُ يُسْتَحَبُّ لِأَحَدِ أَنْ يَسْأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدَ قَبْرِهِ أَنْ يَشْفَعَ لَهُ أَوْ يَدْعُوَ لِأُمَّتِهِ أَوْ يَشْكُوَ إلَيْهِ مَا نَزَلَ بِأُمَّتِهِ مِنْ مَصَائِبِ الدُّنْيَا وَالدِّينِ . وَكَانَ أَصْحَابُهُ يُبْتَلَوْنَ بِأَنْوَاعِ مِنْ الْبَلَاءِ بَعْدَ مَوْتِهِ فَتَارَةً بِالْجَدْبِ وَتَارَةً بِنَقْصِ الرِّزْقِ وَتَارَةً بِالْخَوْفِ وَقُوَّةِ الْعَدُوِّ وَتَارَةً بِالذُّنُوبِ وَالْمَعَاصِي وَلَمْ يَكُنْ أَحَدٌ مِنْهُمْ يَأْتِي إلَى قَبْرِ الرَّسُولِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَا قَبْرِ الْخَلِيلِ وَلَا قَبْرِ أَحَدٍ مِنْ الْأَنْبِيَاءِ فَيَقُولُ : نَشْكُو إلَيْك جَدْبَ الزَّمَانِ أَوْ قُوَّةَ الْعَدُوِّ أَوْ كَثْرَةَ الذُّنُوبِ وَلَا يَقُولُ : سَلْ اللَّهَ لَنَا أَوْ لِأُمَّتِك أَنْ يَرْزُقَهُمْ أَوْ يَنْصُرَهُمْ أَوْ يَغْفِرَ لَهُمْ ؛ بَلْ هَذَا وَمَا يُشْبِهُهُ مِنْ الْبِدَعِ الْمُحْدَثَةِ الَّتِي لَمْ يَسْتَحِبَّهَا أَحَدٌ مِنْ أَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ فَلَيْسَتْ وَاجِبَةً وَلَا مُسْتَحَبَّةً بِاتِّفَاقِ أَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ .
وَكُلُّ بِدْعَةٍ لَيْسَتْ وَاجِبَةً وَلَا مُسْتَحَبَّةً فَهِيَ بِدْعَةٌ سَيِّئَةٌ وَهِيَ ضَلَالَةٌ بِاتِّفَاقِ الْمُسْلِمِينَ وَمَنْ قَالَ فِي بَعْضِ الْبِدَعِ إنَّهَا بِدْعَةٌ حَسَنَةٌ فَإِنَّمَا ذَلِكَ إذَا قَامَ دَلِيلٌ شَرْعِيٌّ أَنَّهَا مُسْتَحَبَّةٌ فَأَمَّا مَا لَيْسَ بِمُسْتَحَبِّ وَلَا وَاجِبٍ فَلَا يَقُولُ أَحَدٌ مِنْ الْمُسْلِمِينَ إنَّهَا مِنْ الْحَسَنَاتِ الَّتِي يُتَقَرَّبُ بِهَا إلَى اللَّهِ . وَمَنْ تَقَرَّبَ إلَى اللَّهِ بِمَا لَيْسَ مِنْ الْحَسَنَاتِ الْمَأْمُورِ بِهَا أَمْرَ إيجَابٍ وَلَا اسْتِحْبَابٍ فَهُوَ ضَالٌّ مُتَّبِعٌ لِلشَّيْطَانِ وَسَبِيلُهُ مِنْ سَبِيلِ الشَّيْطَانِ كَمَا { قَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْعُودٍ : خَطَّ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطًّا وَخَطَّ خُطُوطًا عَنْ يَمِينِهِ وَشِمَالِهِ ثُمَّ قَالَ : هَذَا سَبِيلُ اللَّهِ وَهَذِهِ سُبُلٌ عَلَى كُلِّ سَبِيلٍ مِنْهَا شَيْطَانٌ يَدْعُو إلَيْهِ ثُمَّ قَرَأَ : { وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ

Telah di ketahui bahwa Nabi atau salah satu nabi yang lain tidak pernah menganjurkan kepada manusia agar berdoa kepada malaikat , para nabi , orang – orang saleh . Juga tidak meminta syafaat kepada mereka setelah mereka mati atau waktu kepergian mereka . Seseorang tidak akan berkata:
Wahai para malaikat , berilah syafaat kepada kami di sisi Allah , mintalah kepada Allah untuk kami - untuk menolong kami , atau agar Allah memberikan rizeki kepada kami atau memberikan hidayah kepada kami .
Seseorang juga tidak akan berkata kepada para nabi atau orang saleh yang meninggal dunia : Wahai nabi , wahai Rasulullah berdoalah untukku , mintakan ampun kepada Allah untukku
Mintalah kepada Allah agar mengampun aku , memberikan hidayah kepadaku , membela aku , memberikan kesejahteraan kepadaku .
Seseorang tidak akan berkata : Aku mengadukan kepadamu dosa – dosaku , rizekiku yang sedikit , musuh – musuh telah menguasai aku , aku mengadukan kepada mu ( nabi atau wali ) terhadap fulan yang menganiaya diriku .
Dia tidak akan mengatakan : Aku orang yang tinggal bersamamu , aku tamumu , aku tetanggamu atau kamu akan bisa menyelamatkan orang yang minta selamat kepadamu , atau kamu orang yang layak dimintai perlindungan .
Seseorang juga tidak diperkenankan menulis surat lalu di gantungkan di atas kuburan juga tidak seorang menulis catatan , bahwa dia minta selamat kepada fulan lalu membawa kepada tukang bikin laporan sebagaimana yang di lakukan oleh ahli bid`ah dari ahli kitab atau kaum muslimin sebagaimana di lakukan oleh kaum nasrani di gereja – gereja mereka dan sebagaimana yang di lakukan oleh ahli bid`ah dari kalangan kaum muslimin di kuburan para nabi , orang – orang saleh atau waktu kepergian mereka . Hal ini sudah jelas dalam agama Islam , landasannya juga hadis – hadis yang mutawatir , dan ijma` kaum muslimin sesungguhnya Nabi SAW tidak menganjurkan kepada umatnya untuk melakukan seperti itu .
Begitu juga para nabi sebelumnya tidak mengajarkan kepada umatnya seperti itu , bahkan ahli kitabpun tidak punya landasan dari perilaku para nabinya , sebagaimana kaum muslimin juga tidak mempunyai landasan hadis dari nabinya. Tiada satupun sahabat , tabi`in yang baik bahkan tiada yang menusunnahkan dari kalangan tokoh – tokoh kaum muslimin atau para imam empat . Mereka tidak menyebutkan hal itu dalam manasik haji atau lainnya bahwa seseorang hendaknya minta kepada nabi di kuburannya agar memberikan safaat , atau berdoa untuk umatnya atau mengadukan kepadanya musibah yang di alami oleh umatnya dari masalah agama atau keduniaan .
Para sahabat juga mengalami berbagai musibah sepeninggal beliau , terkadang peceklik , rizeki kurang , krisis ekonomi , takut , musuh yang perkasa , dosa atau kemungkaran merajalela . Tiada seorangpun dari mereka yang mendatangi kuburan Rasulullah SAW , kuburan Ibrahim al kholil atau salah satu kuburan para nabi , lalu berkata :
Aku mengadukan kepadamu musim kemarau ini , musuh yang perkasa , banyak dosa .
Dan tidak berkata : Mintakan kepada Allah untuk kami atau umatmu agar mereka di beri rizeki , ditolong , di ampun dosanya
Tapi hal sedemikian ini atau sesamanya tidak di sunahkan oleh seorangpun dari kalangan tokoh kaum muslimin, tidak wajib , juga tidak sunah dengan kesepakatan kaum muslimin . Setiap bid`ah yang tidak wajib atau di sunahkan , maka bid`ah yang jelek - bid`ah sesat dengan kesepakatan kaum muslimin .
Barang siapa yang berkata tentang sebagian bid`ah - sebagai bid`ah hasanah adalah bila ada dalilnya yang menyatakan ia disunahkan . Bila tidak di sunahkan atau di wajibkan maka tiada seorang pun dari kaum muslimin yang menyatakan bahwa bid`ah tersebut termasuk hasanat yang bisa di buat mendekat kepada Allah .
Barang siapa yang mendekat kepada Allah dengan perkara yang bukan kebaikan yang diperintahkan dengan perintah wajib atau sunat maka dia sesat yang mengikuti jalan setan dan jalannya sama dengan jalan setan sebagaimana di katakan oleh Abdullah bin Mas`ud ;
: خَطَّ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطًّا وَخَطَّ خُطُوطًا عَنْ يَمِينِهِ وَشِمَالِهِ ثُمَّ قَالَ : هَذَا سَبِيلُ اللَّهِ وَهَذِهِ سُبُلٌ عَلَى كُلِّ سَبِيلٍ مِنْهَا شَيْطَانٌ يَدْعُو إلَيْهِ ثُمَّ قَرَأَ : { وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ
Rasulullah SAW membuat garis , lalu membuat beberapa garis di kanan kirinya , lalu bersabda : Ini jalan Allah . Dan ini beberapa jalan . Di setiap jalan ada setan yang memanggilnya , lalu membaca :
وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), kamu akan berpisah dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa.
Dalil badui minta hujan di kuburan Rasulullah SAW yang di buat pegangan oleh Tim Penulis LBM NU cabang Jember itu ternyata di buat pegangan oleh Syi`ah dalam memperkenankan tawassul

Komentarku ( Mahrus ali ):
Itulah jawabanku yang lalu untuk kasus yang sama.
Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Pesan yang baik, jangan emosional.Bila ingin mengkeritisi, pakailah dalil yang sahih.Dan identitasnya jelas. Komentar emosional, tidak ditayangkan