Selasa, Desember 29, 2015

DAULAH ISLAM BAQIYYAH 'Ala Minhaj Annubuwwah

KEMATIAN ALLOUSH ADALAH KABAR BAIK

komandan-Suriah

BISMILLAH

Penulis : Abdullah Muhammad Mahmud
Lembaga Studi dan Kajian Da’watul Haq

Jauh dari pernyataan-pernyataan kemunafiqan yang diungkapkan oleh sebagian faksi Suriah utuk Zahran Alusy, karena faksi-faksi tersebut yang sebelum menjadi musuhnya adalah sekutu, mereka merasa bahwa ia telah pergi dan mereka merasa lega karena terlepas dari kediktatorannya dan keegoisannya.
Sejarah Singkat yang Dipenuhi Dengan ….
alush
Zahran Alusy, Pemimpin “Jaisyul Islam”, punya sejarah yang dipenuhi dengan paradoks mulai dari sejak ia berada di penjara Shaidanaya milik rezim Asad, bebasnya yang misterius berbarengan dengan bertolaknya revolusi Suriah pada bulan Maret 2011 hingga memegang tampuk kepemimpinan tunggal kelompok militer di Ghoutah Timur. Belum lagi dengan beberapa hal yang menimbulkan puluhan tanda tanya tentang sosoknya.
Zahran Alusy keluar dari penjara tahun 2011, setelah beberapa bulan munculnya Revolusi. Hal dalam konteks rezim Asad membebaskan mayoritas tahanan jihadis yang sebelumnya berada dalam genggamannya seperti Ghassan Aboud yang setelahnya menjadi komandan Ahrar Syam, Ahmad Asy-Syaikh komandan Liwa Shuqur Asy-Syam, dimana setelah itu Zahran Alusy membentuk kelompok militer yang dinamakan Liwaul Islam yang menjadi cikal bakal berdirinya “Jaisyul Islam” yang merangkul 50 kelompok militer oposisi.
Pada konteks yang kontradiksi, sebelumnya ia menganggap orang yang berupaya menegakkan Daulah Islam dan menolak demokrasi, lalu pemimpin Jaisyul Islam itu menampakkan kemunduran ysng besar dalam sikapnya yang ia umumkan sebelumnya pada awal kemunculannya di media dalam wawancaranya bersama harian AS.
Pada wawancaranya dengan Badan AS Th McClathy, Alusy menghindar berbicara tentang ide mendirikan Daulah Islam di Suriah dan mengatakan bahwa saat ini ia mengutamakan orang Suriah lah yang menentukan bentuk negara yang mereka inginkan. “Kami ingin mendirikan negara yang menghormati hak-hak” tuturnya seraya menegaskan bahwa rakyat harus  memilih bentuk negara yang mereka inginkan. Ia pun mencatat kecenderungannya pada pemerintah teknokrat professional.
“Jika kami berhasil melengserkan Rezim, kami akan biarkan rakyat Suriah yang menentukan bentuk Negara yang mereka inginkan. Berkaitan dengan hidup berdampingan bersama minoritas, hal itu terjadi selama ratusan tahun. “Kami tidak memaksanakan kekuasaan kami atas mereka dan tidak menindas mereka” tambahnya.
Zahran Alusy adalah orang, dimana Ghauthah Timur pedesaan Damaskus keluar dalam sebuah demonstrasi untuk menentang perlakuan tentaranya atas tuduhan menangkap, membunuh para pejuang dan melindungi rezim Nushairy dengan pendanaan dari luar. Penduduk kota itu sebelumnya menyamakan penjara Zahran Alusy dengan penjara Rezim Nushairy. Penduduk Dauma menuduh Jaisyul Islam memanfaatkan kondisi dan keperluan orang-orang dengan menaikkan harga bahan pokok sepuluh kali lipat dari harga sebenarnya, menganiaya warga dan mencuri barang milik mereka.
Sebagaimana penduduk Dauma, Ghauthah Timur, menyerbu gudang penyimpanan bahan-bahan makanan yang dikuasai oleh Zahran Alusy dan mengeluarkan sebagian besar isinya.
Al-Mujahid Abdul Majid Al-Utaiby menggambarkan kondisi orang-orang saat itu, “Demi Allah, saya melihat orang-orang dengan mata kepala saya sendiri ketika menyerbu gudang penyimpanan bantuan! Saya melihat perempuan tua  memikul sekarung lentil di atas bahunya yang ia ambil dari gudang itu! Cukuplah Allah membalasmu wahai Zahran” ujarnya.
Zahran Alusy berhubungan dengan si yahudi AS, Daniel Rubinstein, yang merupakan penghubung bagi faksi-faksi yang berhubungan dengan luar. Zahran Alusy sendiri mengakui berkomunikasi dengannya dan menjalankan instruksi-instruksinya untuk menghentikan bombardir pihak aparat Rezim Asad di Damaskus.
Pada saat penduduk Ghautah Timur mati karena kelaparan selama blokade yang dilakukan rezim, Zahran dan tentaranya malah dengan cara model rezim Arab melakukan parade militer besar pasukan infantri dan tank yang berjarak beberapa kilometer dari istana Bashar Al-Asad di Damaskus. Zahran duduk di podium dan tentaranya lewat tanpa rasa takut akan Rezim dan pesawat-pesawat serta bombardir birmil.
Tanda tanya juga mencuat tentang bagaimana Alusy keluar dari Ghauthah yang dikepung oleh Rezim dan ia bisa sapai di Turki untuk bertemu intelijen-intelijen asing untuk memerangi Daulah Islamiyah. Namun, sumber-sumber Saudi mengatakan kepada Radio Voice of Beirut International bahwa Alusy keluar dari Ghauthah Timur setelah kepastian dan keyakinan keluarnya aman tanpa dicederai oleh operasi sengit rezim Asad.
Dari dorongan intelijen Saudi, Alusy mengobarkan perang melawan tentara Daulah Islamiyah di daerah-daerah Ghauthah dan Qalamun setelah menciptakan tuduhan “Khawarij” untuk menghalalkan darahnya. Begitu juga dengan faksi-faksi yang lain tidak selamat dari kejahatannya. Hampir setiap faksi mendapat tekanan, penangkapan dan pembunuhand dari Zahran Alusy.
Zahran Alusy juga mengeluarkan pernyataan akan memerangi dan menghalalkan darah faksi baru di Ghauthah Timur hingga tak ada seorang pun yang dapat menyainginya.
Adalah salah seorang koamdan Jaisyul Islam mengakui bahwa Zahran memblokade Ghauthah dan mundur dari front-front untuk kepentingan rezim Asad dan menikam Daulah Islamiyah dari belakang saat berhadapan dengan rezim Nushairy.
Front selatan di FSA pernah mengeluarkan pernyataan tentang kelakuan Jaisyul Islam. Mereka menuduhnya bersekongkol menyerahkan Ghauthah dan Jobar kepada rezim Suriah. Front Selatan juga mebeberkan kalau Zahran Alusy memerangi Jaisyul Ummah dengan senjata dan tank yang belum pernah digunakan melawan rezim Nushairy.
Alusy juga melancarkan operasi pembunuhan sejumlah pesaingnya di Jaisyul Ummah di daerah Dauma yang menewaskan banyak dari mereka. Sekretaris Dewan Militer, Salim Hijazi, mengeluarkan pernyataan yang mengungkap hubungan Alusy dengan seseorang rezim Nushairy, Muhammad Hamsho. Sementara, Aliansi Oposisi di Ghauthah membocorkan apa yang dikatakan oleh Alusy selama konferensi bersama petinggi faksi-faksi, dimana ia mengajak untuk mengambil solusi politik dengan rezim Suriah dan memerangi Daulah Islamiyah yang mengakibatkan ia menuai kritik pedas oleh pejuang di Ghauthah.
Ia juga menjadi delegasi dari para pemuka Dauma, yang dianggap kota terbesar Ghauthah Timur dan markasnya Jaisyul Islam yang dipimpinnya sendiri, mengunjungi ibukota Suriah, Damaskus, dan bertemu dengan delegasi dari pemerintah Suriah untuk membahas rekonsiliasi di Ghauthah Timur yang tidak dapat dilakukan tanpa persetujuan Zahran Alusy.
Dan dalam sebuah kejahatan mengerikan yang mengguncang bumi Ghauthah, tentara Alusy mengeksekusi mati mujahidin yang mendukung Daulah Islamiyah dengan cara yang sadis.
Kejahatan-kejahatan Alusy berimbas pada orang-orang yang dekat dengannya, setelah berselisih dengannya, ia pun membantai petinggi dan tentara Jaisyul Islam.
Zahran Alusy juga terkenal menyerahkan daerah kepada rezim Nushairy sebagaimana laporan mujahidin di Daulah Islamiyah bahwa Rezim mempersilahkan tank-tank Alusy melewati samping mereka untuk memerangi Daulah Islamiyah di Qalamun Timur. Salah seorang tentara Alusy mengakui bahwa Alusy memfatwakan mereka bahwa memerangi Daulah Islamiyah lebih baik dan baginya pahala dua orang syahid. Sebagaimana ia berbuka puasa untuk menambah kekuatan memerangi Daulah Islamiyah.
Situs-situs oposisi Suriah menganggap jatuhnya beberapa daerah seperti Al-Malihah, Utaibah, Adh-Dhamir, ‘Adra, Hatitah Al-Jarasy, Babbila, Nabak, Qarah, Qabun, Khanashir, Assafirah dan Sabinah sbebabnya adalah Zahran ALusy tidak mengirimkan bantuan apa pun berupa senjata dan tank ke daerah-daerah tersebut. Sementara personelnya melarikan diri dari medan-medan pertempuran di Jobar tanpa ada koordinasi dengan kelompok lain.
Sebagaimana Harokah Ahrar Syam, salah satu jamaah di Jabhah Islamiyah, menuduh Jaisyul Islam memfitnah dan menangkap mujahidin dan saling berperang untuk memperebutkan jabatan. Pernyataan Ahrar Syam di Ghauthah Damaskus menuntut karena beberapa orang-orang yang ribath menghadapi rezim Nushairy di ‘Adra ditangkap oleh Jaisyul Islam. Fitnah itu terjadi setelah Jaisyul Islam menolak membebaskan mereka selama 3 hari. Ahrar Syam juga sudah mengajak mereka untuk berhukum dengan Syari’at. Ahrar juga mengajak untuk menghentikan saling berperang untuk memperebutkan jabatan.
Beberapa jamaah di Ghauthah Damaskus telah menyatakan bahwa Jaisyul Islam yang dipimpin oleh Zahran Alusy menolak untuk berhukum dengan syari’at Islam dan melakukan kejahatan di Ghauthah.
Sementara, di beberpa situs telah tersebar dokumentasi video bekas penyiksaan yang mengerikan yang dialami aktivis, jurnalis dan mujahidin di penjara tentara Zahran Alusy di Ghauthah.
Zahran Alusy mengumumkan kesiapannya pada konferensi pers, berdurasi lebih dari sejam di ruangan mewah di Damaskus, untuk mengirim tentaranya bergabung dengan Partai Kurdi dan Peshmerga dalam rangka memerangi Daulah Islamiyah di Kobane.
Zahran mengumumkan perang yang ia beri nama Perang Menyapu Daulah Islamiyah di Ghauthah Damaskus. Deklarasi dari Alusy ini datang bersamaan dengan pengumuman Menteri Luar Negeri AS, John Kerry, saat kunjungannya ke Saudi untuk memberikan 500 juta dollar untuk pejuang oposisi moderat untuk memerangi Daulah Islamiyah.
Kadang banyak dai orang Suriah, Arab, mujahidin Syam pada hari ini yang tidak tahu bahwa keluarga Alusy yang tentara tunduk kepadanya di bawah nama Islam di Ghauthah Timur sebelum di bawah nama Al-Asad (Jaisyul Asad).
Pada tahun 1985 Abdullah Alusy, ayah Zahran ALusy, mendirikan Ma’hadul Asad untuk menghafal Al-Qur’an. Ya Ma’had Al-Al-Asad, nama presiden rezim Nushairy Alawi Hafezh Al-Asad dipakai untuk Ma’had Al-Qur’an.
Zahran Alusy dan beberapa dari keluarganya dengan dana dari Saudi memimpin kelompok bersenjata dengan nama Jaisyul Islam di pedesaan Damaskus yang memiliki penjara khusus dan gudang persenjataan yang menyimpan senjata berat dan tank jika saja dimiliki orang lain niscaya akan terealisasi penaklukkan Damaskus.
Ketika mujahidin berdatangan untuk berjihad di Syam melawan rezim Nushairy di bawah nama Jabhah Nushrah, yang dikirim oleh Daulah Islam Irak untuk berperang di Syam, tentara ALusy membikin propaganda mejelekkan citranya dengan penyebutan Khawarij.
Ketika Daulah Islamiyah Irak dan Syam mengumumkan hakekat pembentukan Jabhah Nushrah, yang kemudian mayoritas mujahidinnya kembali ke pangkauan Daulah Islamiyah, Zahran Alusy bersekutu dengan orang-orang yang menyempal yang dipimpin oleh Abu Muhammad Al-Jaulani.
Alusy telah memposisikan tujuan utamanya untuk memerangi Daulah Islamiyah Irak dan Syam, ia pun melancarkan propaganda menjelekkan citranya melalui siaran televisi dan situs internet dengan menuduhnya takfiri, khawarij dan sebaginya untuk menghalalkan darah mujahidin Daulah Islam Irak dan Syam.
Secara terbuka Alusy mengumumkan halalnya menumpahkan darah mujahidin Daulah Islamiyah. Ia pun mengeksekusi beberapa mujahidin IS setelah ia bersama beberapa temannya mendirikan Jabhah Islamiyah, Jabhah yang didukung dan didanai oleh Saudi dan negara-negara teluk lainnya yang dikenal loyalitas mereka kepada Amerika.
Orang-orang Suriah pun tahu peran busuk yang dimainkan oleh tentara keluarga Alusy yang menyebabkan kerugian banyak pada revolusi Suriah dan terlepasnya banyak daerah-daerah yang dikuasai oleh oposisi yang kemudian jatuh ke tangan tentara Al-Asad. Sebagaimana tentara Alusy juga dikenal dengan memperdagangkan penderitaan penduduk Ghauthah dan menguasai dana sumbangan dan bantuan atas nama warga dan menyimpannya di gudangnya. Beberapa keluhan datang dari pejuang di Nabak, Qalamun dan reef Damaskus menjelaskan peran yang berbahaya yang dimainkan oleh Alusy.
Yang terbaru dalam konspirasi Alusy adalah persimpangan dengan perang yang diumumkan oleh AS dan syiah melawan Daulah Islamiyah di Irak dan Syam, setelah kemenangannya berkesinambungan di Irak, membebaskan kota-kota Irak satu per satu, ia pun mengumumkan perang terhadap Daulah Islamiyah di Ghauthah Damaskus untuk mengusirnya. Dengan itu, ia menjaga kelangsungan rezim Nushairy untuk mencegah sampainya pasukan Daulah Islamiyah ke Damaskus untuk membebaskannya. Begitu juga pada saat yang sama, ia melayani Syiah Irak dengan mengurangi tekanan kepada mereka setelah menyibukkan Daulah Islamiyah yang mereka tikam dari belakang.
Perlu dicatat, pernyataan-pernyataan AS melalui Menteri Luar Negerinya, John Kerry, selama kunjungannya ke Saudi bahwa ia bersedia memberikan bantuan kepada oposisi Suriah yang moderat untuk memerangi Daulah Islamiyah di Irak dan Syam yang ingin mengembalikan Khilafah! Dan itu adalah isyarat yang nampak bahwa Alusy telah memungut bantuan itu, ia pun bergegas mengumumkan perang terhadap Daulah Islamiyah.
Adalah Daulah Islamiyah telah menyerukan Tanzim Jaisyul Islam untuk menghentikan perang yang dideklarasikan Zahran Alusy dan meredam pertekaian kedua belah pihak dengan membentuk pengadilan bersama untuk menghindari pertumpahan darah serta merealisasikan penghentian perang itu yang mana rezim Nushairy lah yang mendapat keuntungan besar dari perang itu. Namun ia menolak.
Perang yang pertama kali dilancarkan oleh Alusy terhadap Daulah Islamiyah adalah dengan membunuh seorang muhajirin senior di Syam, Abdul Majid Al-‘Utaiby, yang menjuluki dirinya di twitter dengan “Qarinul Klash” (Sahabat Kalashinkov).
Asy-Syahid Abdul Majid Al-‘Utaiby dari negeri dua kota suci. Ia berangkat menyambut seruan jihad di Syam pada awal revolusi bersenjata melawan rezim Suriah. Ia pun bergabung ke barisan Jabhah Nushrah yang dikirim oleh Amir Daulah Islam Irak untuk berperang di Suriah. Setelah dideklarasikan Daulah Islam Irak dan Syam, ia pun bergabung sebagaimana mayoritas mujahidin Jabhah Nushrah ke Daulah Islamiyah.
Nama Al-‘Utaiby mencuat karena kultwitnya di twitter melalui akun yang bernama Qarinul Klash. Ia mengobarkan jihad di Suriah melalui jejaring sosial itu. Ia pun membeberkan banyak sisi kehidupan mujahidin di Syam dan tabeat perang di sana.
Al-‘Utaiby pun menonjol dengan peran kemanusiaannya di samping peran jihadnya. Ia meluncurkan kampanye menyumbang dan membantu penduduk Ghauthah yang diblokade. Ia pun menjadi sumber yang dipercaya oleh orang-orang yang mengikuti perkembangan Suriah, khususnya di Ghauthah, reef Damaskus.
Twit yang terakhir yang ia tulis beberapa jam sebelum dibunuh adalah “Hari kematianku adalah hari kemenanganku.. wahai musuh-musuhku, jika kalian membunuhku, maka kalian telah merealisasikan harapanku. Jika aku tetap hidup, aku akan membuat hidup kalian tidak tenang. Semoga Rabbku menghinakan kalian dan membahagiakanku” tuturnya. Doa yang terakhir yang ia panjatkan adalah “Ya Rabb berikanlah kesyahidan”.
Beberapa saat sebelum kesyahidannya, Al-‘Utaiby juga mengungkap Jabhah Alusy yang menangkap dua mujahidin Daulah Islamiyah di Ghauthah untuk mengobarkan perang terhadap Daulah Islamiyah, yang mendorong Daulah Islamiyah membalasnya dengan menangkap beberapa tentara Alusy yang diperlakukan dengan baik dan dibebaskan setelah dua mujahid Daulah Islamiyah dilepaskan.
Al-‘Utaiby sebelum kesyahidannya memperingatkan faksi-faksi di Ghauthah untuk tidak terperangkap dalam upaya tentara Alusy memerangi Daulah Islamiyah. “Sesungguhnya wakil thoghut-thoghut Teluk di Ghauthah tidak mampu untuk berhadapan sendiri (melawan Daulah Islamiyah.red). maka, hati-hatilah wahai faksi-faksi Ghauthah, jangan sampai kalian diseret ke dalam perang yang kalian tidak memiliki unta (peralatan cukup dan kapabilitas) di dalamnya” ujarnya. Ia pun menambahkan, “siapa yang mencoba pengalaman yang sudah dilewati maka ia bodoh. Orang yang bahagia adalah orang yang mengambil pelajaran dari orang lain. Siapa yang menahan diri dari memerangi kami, kami pun akan menahan diri atas perintah Amirul Mu’minin” tegasnya.
Seorang aktivis Suriah dari Homs yang bernama Abu Ja’far Al-Mugharbal telah menuduh Zahran Alusy dan Adnan ‘Ar’ur telah mengkhianati Homs dengan fokus penuh memerangi Daulah Islamiyah. “Zahran Alusy menghabiskan waktu 24 jam di twitter dengan berteriak : ISIS…. Daulah…. Khawarij… gerombolan Al-Baghdadi… orang-orang ghuluww….. ekstrimis” tuturnya.
“Syaikh Zahran Alusy komandan Jaisyul Islam tidak punya kerjaan selain men-share dari twitter ke facebook serta mengikuti berita-berita memojokkan Daulah Islamiyah Irak dan Syam. Tapi apakah ia mendengar seruan-seruan dan permintaan di Homs? Ia menyumbat kupingnya dengan kapas. Jika saja Homs diblokade Daulah Islam Irak dan Syam, maka Zahran Alusy akan mengumpulkan pasukannya untuk memerangi Daulah Islam Irak dan Syam. Tapi sekarang kita lihat ia menyaksikan Homs diserbu lalu dia hanya mengangkat tangan berdoa saja” ujar Abu Ja’far. “Jangan lupa, jumlah Jaisyul Islam yang dipimpin oleh Zahran Alusy mencapai 15.000 orang” tambahnya.
Situs Wikileaks Sururiyah mengungkapkan tentang informasi komunikasi antara Zahran dan Intelijen Saudi dan memintanya untuk mendapatkan fatwa ulama-ulama Saudi untuk memerangi Daulah Islamiyah Irak dan Syam pada awal-awal.
Situs tersebut mengutip [kunjungan Zahran Alusy ke masyayekh Sururiyah dan meminta mereka mengeluarkan fatwa memerangi Daulah Islamiyah], tujuan utama kunjungan Zahran Alusy ke Saudi adalah mendapatkan fatwa masyayekh di Saudi membolehkan memerangi Daulah Islamiyah.
Dalam kunjungan ini, ia bertemu dengan beberapa masyayekh pada musim haji tiga bulan sebelum pecahnya perang melawan Daulah Islamiyah, yang berarti sudah diniatkan untuk memerangi Daulah dan masyayekh tersebut mengetahui niat ini, bahkan sampai pada level tekad. Perkataan ini dinafikan beberapa Sururiyah seperti Al-Farraj dan lainnya. Banyak orang pun yang demo di hadapan media untuk menghentikan fatwa itu.
Situs Wikileaks Sururiyah mengutip dari Syaikh Abdul Aziz Al-Julayyil bahwa Zahran Alusy mengunjunginya pada bulan Dzul Hijjah dan menceritakan niatnya untuk memulai memerangi Daulah Islamiyah. Ia menuturkan pentingnya mengeluarkan fatwa untuk memerangi Daulah Islamiyah atas dasar alasan apa saja yang mana mereka merupakan bahaya bagi revolusi Suriah. Namun Syaikh Abdul Aziz kaget dan mengingkari Zahran. Lalu beliau pun pergi ke Syaikh Al-‘Ulwan dan menasehatinya dari ide yang berbahaya ini.
Masuknya Alusy ke Syaikh Al-‘Ulwan tidak lain dengan pintu Syaikh AlJulayyil karena ia mengetahui bahwa Syaikh Al-‘Ulwan akan mencegahnya.
Syaikh Al-Julayyil menambahkan, Zahran Alusy duduk dengannya dan memberitahukannya pergi menghadiri  pertemuan dengan intelijen Saudi. Hal ini yang mengundang keanehan Syaikh Al-Julayyi terhadap masyayekh yang menaruh kepercayaan pada Alusy meskipun mereka tahu hubungannya dengan intelijen Suriah.
Amal terakhir Alusy sebelum tewas  adalah berpartisipasi dalam Muktamar Riyadh yang ditandatangani oleh kelompok-kelompok oposisi, di antaranya Jaisyul Islam untuk mensekulerkan Negara Suriah mempertahankan lembaga pemerintahannya, sekte-sekte, minoritas dan menolak para pejuang asing di seluruh bumi Suriah.
Dari Abu Qatadah bin Rib’iy Al-Anshary bahwasanya ia menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melewati jenazah lalu bersabda : “Mustarih dan Mustarah minhu”. Sahabat bertanya : “Wahai Rasulullah, apa itu mustarih dan mustarah minhu”. Beliau bersabda : “Seorang hamba yang mukmin beristirahat dari hingar-bingar dunia dan kejelekannya menuju rahmat Allah, sedangkan hamba yang fajir, maka manusia, negeri, pohon dan hewan-hewan merasa lega atas kematiannya”. Diriwayatkan oleh Al-Bukhori, Muslim, Malik, Ahmad, An-Nasa’i dan Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubra dan Syu’abul Iman.
———
Alih Bahasa : Abu Bakar Al-Qahthany
Muraja’ah: Abu Sulaiman Al Arkhabiliy
Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Pesan yang baik, jangan emosional.Bila ingin mengkeritisi, pakailah dalil yang sahih.Dan identitasnya jelas. Komentar emosional, tidak ditayangkan