Selasa, Desember 22, 2015

Paranoid Aswaja Indon Menghadapi Wahabi》

Aswaja Indon bukanlah sebutan untuk Aswaja yang banyak ditulis dalam sejarah perjalanan perkembangan paham paham Islam dari masa ke masa.
Aswaja Indon lebih tepat sebuah muara pemikiran Islam Kejawaan, atau sentralisasi kiblat beragama berdasarkan retorika berpikir Jawa. Terutama gagasan gagasan Walisongo, menjadi kiblat utama mereka menafsirkan Islam, sehingga tidak memerlukan legalitas agama dari Islam asalnya.
Sebab terlalu banyak potensi kejawaan di dalamnya yang dikemas dengan kata ”Ulama Pewaris Nabi”, meskipun kenyataannya bukanlah warisan nabi yang menjadi standar keagamaannya.
Kata ”Aswaja” menjadi kependekan dari Ahlus-Sunah wal-Jamaah, justru tidak ada relevansinya dengan metode “Ahlus-Sunnah“yang terdapat dalam kitab kitab klasik. Nama “Aswaja” bisa disebut sekedar legalisasi kelompok tradisional guna meluluskan banyak ide-ide cemarlangnya dalam memasarkan paham-paham kejawaan yang dikemas dengan nilai amaliyah Islam.
Sama halnya dengan seorang yang pakai nama Nabi: ”Muhammad”, nama tersebut bisa dipakai semua orang, tetapi tidak berarti bahwa nama ”Muhammad” merupakan kepribadian orangnya.
Aswaja Indon lebih tepat disebut jelmaan aliran-aliran ‘aqliyah, yang menempatkan akal manusia jauh diatas dasar dasar naqliyah. Sehingga lebih menyerupai sebuah alibi menguasai massa, bukan pada target agama yang monumental kenabian.
Itulah sebabnya Aswaja yang korelasi dengan kombinatif Jawa Islam sulit menerima paham-paham produk orang lain yang mengusik ketenangannya.
Aswaja yang dibesarkan dan banyak diasuh oleh militansi lingkungan Syi’ah menjadi benteng utama perlindungan Syi’ah dalam membendung arus pemikiran Wahabi, kendati statement ‘wahabi’ menjadi lebih trendy di kalangan Syi’ah.
Aswaja cukup menjadi jembatan tol penyebarangan Syi’ah menuju wilayah orang-orang yang masih primitif dalam beragama. Maksudnya dalam mempertahankan ajaran-ajaran adat lewat jendela agama. Sebagai bukti dalam percaturan agama Islam, hanya Aswaja Indon dan Syi’ah yang memaksa umat agar menolak Wahabi, sekalipun dengan sekedar aksen kebohongan yang mereka buat.
Perpaduan Aswaja Indon dan Syi’ah sangat luar biasa, bahkan tak ada perbedaan dalam menangkis dakwah-dakwah Wahabi. Kedua kelompok ini dengan taqiyahnya selalu mengecilkan kata “wahabi” bukan dengan nalar ilmiah, tetapi apologetik yang disebut Taqiyah.
Misalnya perkataan perkataan Aswaja Indon tentang Al-Bany, seorang Ulama hadist abad moderen, bagaimana adab adab yang diajarkan di pesantren menjadi redup seketika, ketika kyai-kyai mereka berteriak lantang dengan menyebut ”wahabi” sebagai ajaran sesat. Muncul serentetan kebencian yang di luar akal sehat : ”Albani desibut ngalbany, Utsaimin disebut ”Ngusaimin , Bin Baz, disebut si buta ngabas”. terhadap Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qayyim al Jauzi sebagai bapak yang melahirkan ‘ Muhammad bin Abdul Wahab pun disebut juga dengan kata kata yang tidak beradab.
Syi’ah paling berhasil dan memetik buahnya dengan kekeruhan berfikir Aswaja, yang membuat aswaja Paranoid dengan Wahabi.
Tidak ada lagi sopan santun pesantren yang konon mengajarkan akhlaqul karimah; yang ada pembelaan membabi buta mereka dalam mempertahankan warisan adat (maaf bukan warisan Islam). lewat aksi aksi kebencian dengan berbagai modus dan tipe anti kebencian yang mereka lontarkan.
Porsi terbesar di tentukan oleh KH. Said Aqil Siroj, seorang ketua Umum PB NU, mengaburkan wahabi dengan sebutan cikal bakal terorisme, meskipun tindakan Kang Said banyak yang menentangnya dari kalangan NU. Ucapan ucapan Said Aqil Siraj-pun melewati batas, dengan menggambarkan bom bom yang meledak di Indonesia dan negara negara Asing sebagai bagian dari sepak terjangan wahabi. Said Aqil Siroj paling lantang dan paling cerdas dalam membangun opini anti wahabi, dengan menyebut wahabi sebagai sebuah kelompok yang berbeda dengan Islam. Pengkafiran Said Aqil banyak ditiru santri-santri dari masyarakat muslim yang tergabung di NU, bahwa sumber terorisme adalah wahabi.
Hingga dalam berbagai wawancara KH. Said Aqil Siroj dalam berbagai media mengumandangkan anti wahabi, sebagai musuh agama. Sebuah rencana Syi’ah yang luar biasa, terlalu banyak ulama ulama yang masuk perangkap Syi’ah dan menjadi pembela kebatilan.
Taqiyah taqiyah Aswaja yang ditebarkan di berbagai media selalu menyebut Wahabi sebagai islam radikalisme, tanpa memperhatikan sikap-sikap arogansi warga NU, banser, Anshor yang membabi buta mengobarkan permusuhan dengan cara merusak pengajian pengajian MTA, misalnya.
Dalam hal ini NU berdiri yang paling Islam, ketika memporak-porandakan pengajian orang lain dengan sekedar asumsi : ”itu si MTA ngatain NU syirik dan bid’ah segala”. Ketersinggungan NU ini bisa dilihat di situs resminya, bagaimana gaya NU menulis berita dan artikel anti wahabi. Dominan disebut provokasi NU terhadap kelompok-kelompok Islam. Terkadang menyuarakan Aswaja NU Indon sebagai kelompok pluralis sejati, walaupun pada intinya sangat standar ganda. Diantaranya mencela dan merusak kegiatan dan kelompok lain.
Densus 99 produk pemikiran Aswaja Indon, lebih memenuhi kriteria mata-mata NU dalam melacak kegiatan kegiatan Wahabi dalam berbagai arena. Bahkan dengan kekuatan otot Aswaja Indon bisa mengerahkan massa untuk memberangus paham lain yang tidak sejalan dengan Aswaja Indon, dengan alasan mengganggu kelompok mereka.
Contoh lain dari taqiyah NU, “wah wahabi keji, tidak mau membantu rakyat Palestin”, bahkan meminta rakyat Palestina meninggalkan negerinya. Padahal sejak perjuangan pembebasan rakyat Palestina tidak pernah terlepas dari Dana Arab Saudi.
Juga pernah menyebut wahabi mencabut nama “Israel” dari buku hitam musuh musuh Islam. Padahal kalau mau bercermin muka, Wahid Institute itu apa? dari mana dananya.
Termasuk dana dana dari Israel atas Yayasan Simon Peres itu dari mana. Terlalu banyak gaya dan taqiyah aswaja yang lebih dominan kalau disebut ”anak anak syiah wilayah jawa (aswaja) yang mengambil bagian menciptaka paranoid dalam kehidupan Aswaja dalam berdampingan dengan paham lain.
[selesai – dikutip dari : kompasiana dengan sedikit perbaikan kata].
*******
Saya berkata : Artikel di atas menarik, hanya saja pemakaian kata ‘taqiyyah’ kurang tepat. Makna taqiyyah adalah : Menyembunyikan keimanan karena tidak mampu menampakkannya ditengah-tengah orang kafir dalam rangka menjaga jiwa, kehormatan dan hartanya dari kejahatan mereka. Mungkin kata yang tepat yang menggantikan kata ‘taqiyyah’ dalam artikel di atas adalah ‘tuduhan’ atau ‘propaganda’ atau sejenisnya.
Abu Al-Jauzaa’ : di 08.26
(nahimunkar.com)
Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Pesan yang baik, jangan emosional.Bila ingin mengkeritisi, pakailah dalil yang sahih.Dan identitasnya jelas. Komentar emosional, tidak ditayangkan