Senin, Desember 21, 2015

STOP Memberi Nama Ibnu Sina! Ini Penjelasannya

Penulis Yousuf Ibrahem
 

Info penting bagi orang-orang yang masih mengagumi Ibnu Sina dan memberi nama:
– Sekolah “Ibnu Sina”
– Apotek “Ibnu Sina”
– Rumah Sakit “Ibnu Sina”
– Masjid “Ibnu Sina”
– Laboratorium “Ibnu Sina”

(Pijar.net) Siapa diantara kita yang tidak mengenal Ibnu Sina? Saya yakin semua pasti mengenal karena dalam buku pelajaran sekolah dahulu namanya dicatutkan kedalam daftar tokoh-tokoh besar islam. Seorang saintis timur tengah yang menjadi kebanggaan kebanyakan kaum muslimin saat ini. Bagaimana tidak, penguasaannya di bidang pengetahuan dan keahliannya di bidang iptek tidak lagi menjadi perdebatan. Pengaruhnya yang luar biasa besar diakui hingga ke dunia Barat. Sampai-sampai buku karangannya dijadikan buku teks kedokteran dan pengetahuan lain di Eropa hingga berabad-abad lamanya.
Ibnu Sina memang luar biasa, namun tahukah siapa sebenarnya ia? Ibnu Sina bukanlah seorang ulama Islam melainkan hanya saintis yang membawa aqidah rusak dan berbahaya.

Mari Menelisik Hakikat Ibnu Sina

Ibnu Sina – semoga Allah tidak meridhoinya- memiliki nama Al Husein bin Abdillah. Dia sangat terkenal di bidang kedokteran sehingga banyak orang memujinya dan mengabadikan namanya di bidang kesehatan, bahkan menisbahkannya dengan Islam. Padahal dia memiliki kesesatan yang Islam berlepas darinya.

Pendapat Ulama Mengenai Ibnu Sina

Al-Ghazali mengkafirkan Ibnu Sina dan Al Farabi dalam bukunya, Al Munqidz min Adh Dhalal. Dalam bukunya yang lain, At Tahafut Al Falasifah, beliau membantah Ibnu Sina dalam dua puluh majelisnya. Ada tiga poin yang ia sebut sebagai kekeliruan dan kesesatan para filsuf yang mengaku Islam, Yang pertama, Alam ini dahulu Yang kedua, tidak ada tempat kembali bagi jasmani Yang ketiga, sesungguhnya Allah tidak mengetahui hal-hal yang sifatnya juziyyah (partikel kecil)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Dalam kitabnya Al Istiqamah, menyebutkan bahwa Ibnu Sina adalah shabiah (penyembah bintang) yang mencampuradukkan agama dengan filsafat. Beliau juga berkata dalam kitabnya yang lain, “Ibnu Sina itu seorang Syiah Rafidhah dari sekte Qaramithah. Dia mencela dan merendahkan kehormatan para shahabat radhiyallahu anhum.”
Ibnul Qayyim Al Jauziyyah rahimahullah berkata dalam Ighasatul Lahafaan 2/267 : “Imamnya orang-orang yang menyimpang itu adalah Ibnu Sina.”
Ibnu Sholah rahimahullah dalam Fatawa Ibnu Sholah 1/209 berkata: “Ibnu Shina itu termasuk salah satu setan dari kalangan setan manusia.”
Adz Dzahabi rahimahullah berkata dalam Mizanul I’tidal: “Aku tidak mendapati riwayat ilmu sedikitpun dari Ibnu Sina. Kalaupun ada ilmu darinya, tidak boleh mengambilnya. Hal itu karena dia seorang ahli filsafat, plagiat, dan sesat.”
Ibnu Hajar Al Asqolani rahimahullah mengomentari ucapan Adz Dzahabi di atas dalam kitab Al Lisan, mengatakan: “Semoga Allah tidak meridhoi Ibnu Sina.”
Asy Syaikh bin Baaz rahimahullah berkata: “Tidak layak bagi kaum muslimin menamai suatu tempat dengan nama Ibnu Sina atau Al Farabi, semoga Allah menjelekkannya.” ( Al Fawaid Al Jaliyyah karya Az Zahrany hal 37)
Asy Syaikh Shalih Al Fauzan ketika ditanya, “Syaikh yang mulia, semoga Allah memberi kebaikan kepadamu. Apa pendapatmu kepada orang yang memuji Ibnu Sina dan menjadikan dia termasuk salah satu ulama kaum muslimin, semoga Allah membalas kebaikan kepadamu”
Beliau menjawab:
Orang yang mengatakan hal tersebut berada diantara dua kemungkinan.
1. Kemungkinan pertama dia adalah orang jahil dan tidak mengetahui keadaan Ibnu Sina, maka orang yang demikian tidak pantas untuk berbicara tentang Ibnu Sina, yang menjadi kewajibannya adalah diam.
2. Kemungkinan kedua, dia mengetahui keadaan asli Ibnu Sina, tahu kekafirannya, menetapkan hal tersebut, maka hukumnya sebagaimana Ibnu Sina dihukumi. Kita berlindung kepada Allah dari hal yang demikian. Karena dia mengetahui dan menetapkan kekafiran Ibnu Sina namun dia malah memberikan pujian kepadanya. Sungguh ini perkara yang berbahaya. Akan tetapi, sebagian orang yang memberikan pujian kepada Ibnu Sina, karena penghormatan bahwa dia seorang dokter saja. Ini merupakan perkara dunia. Dia (Ibnu Sina) seorang dokter dan diantara orang kafir ada dokter yang lebih ahli dari pada Ibnu Sina, maka mengapa hanya mengkhususkan pujian kepada Ibnu Sina?

Mereka katakan: “Karena Ibnu Sina itu menyandarkan dirinya kepada Islam, sehingga ini merupakan kebanggaan untuk Islam.”
Maka kita katakan: “Islam berlepas diri darinya dan Islam tidak membutuhkannya.”

Kesimpulannya, Ibnu Sina tidak layak untuk dipuji dan diberi rekomendasi, karena dia seorang penganut Syiah Bathiniyyah , ahli filsafat, atheis dan menyatakan bahwa alam ini ada dengan sendirinya.” (At Ta’liiq Al Mukhtashar ‘alal Qasiidah An Nuuniyah 3/ 1328)


Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Pesan yang baik, jangan emosional.Bila ingin mengkeritisi, pakailah dalil yang sahih.Dan identitasnya jelas. Komentar emosional, tidak ditayangkan