Minggu, Januari 03, 2016

Jawabanku untuk Ustadz Muhammad Ma`ruf Khazin ( Pengarang buku “menjawab tuduhan sebagai penyembah kuburan” )




Pendapat Syaikh Al Bujairimi

Ustadz Muhammad Ma`ruf Khazin menulis :
Begitu pula Syaikh al-Bujairimi:


حاشية البجيرمي على الخطيب - (ج 6 / ص 156)
اسْتَثْنَى بَعْضُهُمْ قُبُورَ الْأَنْبِيَاءِ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَنَحْوَهُمْ ، بِرْمَاوِيٌّ وَعِبَارَةُ الرَّحْمَانِيِّ : نَعَمْ قُبُورُ الصَّالِحِينَ يَجُوزُ بِنَاؤُهَا وَلَوْ بِقُبَّةٍ الْأَحْيَاءِ لِلزِّيَارَةِ وَالتَّبَرُّكِ ، قَالَ الْحَلَبِيُّ : وَلَوْ فِي مُسْبَلَةٍ ، وَأَفْتَى بِهِ ، وَقَالَ : أَمَرَ بِهِ الشَّيْخُ الزِّيَادِيُّ مَعَ وِلَايَتِهِ وَكُلُّ ذَلِكَ لَمْ يَرْتَضِهِ شَيْخُنَا الشَّوْبَرِيُّ ، وَقَالَ : الْحَقُّ خِلَافُهُ وَقَدْ أَفْتَى الْعِزُّ بْنُ عَبْدِ السَّلَامِ بِهَدْمِ مَا فِي الْقَرَافَةِ ، وَيُسْتَثْنَى قُبَّةُ الْإِمَامِ لِكَوْنِهَا فِي دَارِ ابْنِ عَبْدِ الْحَكَمِ ا هـ
Sebagian ulama mengecualikan makam para Nabi, syuhada', orang-
orang shaleh dan sebagainya. Dikutip dari Barmawi Redaksi ar-

Sebagian ulama mengecualikan makam para Nabi, syuhada', orang-
orang shaleh dan sebagainya. Dikutip dari Barmawi Redaksi ar-
Rahmani mengatakan: Ya, makam-makam orang shaleh boleh
dibangun meskipun dengan kubah, untuk menghidupkan ziarah
dan tabarruk. al-Halabi berkata: "Meskipun di tanah khusus
pemakaman" dan ia memfatwakannya. Ia berkata: "Hal tersebut
diperintahkan oleh Syaikh az-Zayyadi dengan kekuasaannya."
Kesemuanya itu tidak disetujui oleh guru kami, asy-Syaubari.
la berkata: 'Yang benar adalah sebaliknya." Dan sungguh Izzuddin
bin Abdissalam berfatwa untuk merobohkan kubah makam yang
ada di Qarafa. Kecuali kubahnya Imam asy-Syafi'i sebab kubah
tersebut berada di rumah Ibnu Abdil Hakam (Hasyiah Bujairimi
ala al-Khathib. 6/156).

Komentarku ( Mahrus ali ):
Membolehkan membangun kuburan ini perlu dalil, dan disini tidak diketengahkan. Ia hanya pendapat sebagian ulama, bukan dalil. Dan pendapat ulama tidak bisa di buat dalil. Ia ditentang oleh ulama lain. Sudah tentu ikutilah pendapat ulama yang cocok dengan dalil. Dan abaikan saja pendapat mereka yang bersebrangan dengan dalil. Bila anda ikuti pendapat ulama yang keliru, maka anda akan berada di jalan setan bukan jalan Allah. Ini konsep kita dalam beragama untuk tinggalkan kekufuran. Mengikuti pendapat ulama yang bertentangan dengan dalil adalah konsep kesyirikan dan kekufuran. Ingatlah ayat :
اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ(31)
Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Tobat 31


Bila kita ikut pendapat ulama meninggalkan dalil , maka kita ini seolah membuang hadis untuk mengambil pendapat manusia yang bukan Rasulullah SAW
Pendapat ulama tanpa dalil itu termasuk mendahului Allah dan rasulNya.
Allah Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasulnya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Hujurat:1)

Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Pesan yang baik, jangan emosional.Bila ingin mengkeritisi, pakailah dalil yang sahih.Dan identitasnya jelas. Komentar emosional, tidak ditayangkan