Sabtu, Januari 23, 2016

Shalat lohor yang salah



Dasar dan landasan shalat zuhur dan Asar sebagai  shalat jahriyah ( yang bacaan  qurannya di suarakan ) , bukan shalat sirriyah ( yang  bacaan qurannya  seperti berbisik – bisik )  adalah hadis – hadis sbb: 
قَالَ ابْنُ الصَّبَّاحِ حَدَّثَنَا هُشَيْمٌ أَخْبَرَنَا أَبُو بِشْرٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ فِي قَوْلِهِ عَزَّ وَجَلَّ
{ وَلَا تَجْهَرْ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتْ بِهَا }  قَالَ نَزَلَتْ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُتَوَارٍ بِمَكَّةَ فَكَانَ إِذَا صَلَّى بِأَصْحَابِهِ رَفَعَ صَوْتَهُ بِالْقُرْآنِ فَإِذَا سَمِعَ ذَلِكَ الْمُشْرِكُونَ سَبُّوا الْقُرْآنَ وَمَنْ أَنْزَلَهُ وَمَنْ جَاءَ بِهِ فَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى لِنَبِيِّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  { وَلَا تَجْهَرْ بِصَلَاتِكَ } فَيَسْمَعَ الْمُشْرِكُونَ قِرَاءَتَكَ
{ وَلَا تُخَافِتْ بِهَا } عَنْ أَصْحَابِكَ أَسْمِعْهُمْ الْقُرْآنَ وَلَا تَجْهَرْ ذَلِكَ الْجَهْرَ
{ وَابْتَغِ بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلًا }يَقُولُ بَيْنَ الْجَهْرِ وَالْمُخَافَتَةِ
(MUSLIM - 677) : Berkata Ibnu ash-Shabbah, telah menceritakan kepada kami Husyaim telah mengabarkan kepada kami Abu Bisyr dari Sa'id bin Jubair dari Ibnu Abbas tentang firmanNya, "Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu, dan janganlah pula merendahkannya." Dia berkata, "Ayat ini turun ketika Rasululah shallallahu 'alaihi wasallam berdakwah secara sembunyi-sembunyi di Makkah. Beliau apabila shalat mengimami para sahabatnya maka beliau mengangkat suaranya dengan bacaan al-Qur'an. Sedangkan kaum musyrikin apabila mendengar hal tersebut maka mereka mencela al-Qur'an, dan yang menurunkannya (Allah dan Jibril), dan yang membawanya (Muhammad). Maka Allah berfirman kepada nabiNya Shallallahu'alaihiwasallam, 'Janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu sehingga orang-orang musyrik mendengar bacaanmu dan janganlah kamu merendahkannya dari para sahabatmu. Perdengarkanlah al-Qur'an kepada mereka, dan janganlah kamu mengeraskannya sekeras-kerasnya, dan usahakanlah jalan pertengahan antara hal tersebut.' Dia berkata, 'Antara keras dan pelan'."
سنن البيهقى - دار الباز (2/ 195)
رواه البخاري في الصحيح عن حجاج بن منهال ورواه مسلم عن محمد بن الصباح
Intinya hadis tsb muttafaq alaih. Tidak diperkenankan dalam shalat membaca al quran dengan berbisik , tapi harus di suarakan hingga di dengar oleh makmum.
Bila dibaca dengan berbisik , maka melanggar ayat sbb.
وَلَاتَجْهَرْ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِ بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلًا
dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya (seperti orang berbisik )  dan carilah jalan tengah di antara kedua itu"[1]

Jadi bacaan Al quran di pelankan dalam salat jelas di larang oleh Allah dalam ayat tsb, bukan diperintahkan.  Saya tidak mengetahui apakah sah salat semacam itu ? karena  tidak sesuai dengan aturan Allah  , cocok  dengan kehendak nafsu orang banyak. Bacaan al quran dalam salat  lohor dan Asar di keraskan karena ada hadis sbb :
Abu Qatadah  ra berkata :
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى الله عليه وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي الرَّكْعَتَيْنِ الْأُولَيَيْنِ مِنْ صَلَاةِ الظُّهْرِ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَسُورَتَيْنِ يُطَوِّلُ فِي الْأُولَى وَيُقَصِّرُ فِي الثَّانِيَةِ وَيُسْمِعُ الْآيَةَ أَحْيَانًا وَكَانَ يَقْرَأُ فِي الْعَصْرِ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَسُورَتَيْنِ وَكَانَ يُطَوِّلُ فِي الْأُولَى وَكَانَ يُطَوِّلُ فِي الرَّكْعَةِ الْأُولَى مِنْ صَلَاةِ الصُّبْحِ وَيُقَصِّرُ فِي الثَّانِيَةِ
Nabi saw,  membaca  dalam  dua rakaat pertama salat lohor dengan  surat Fatihah dan dua surat . Beliau memanjangkan  rakaat pertama  dan yang kedua lebih pendek, terkadang  kita mendengar ayatnya. Beliau juga membaca dalam  salat Asar dengan fatihah dan dua surat. Rakaat pertama beliau panjang dan  beliau juga memanjangkan rakaat pertama salat Subuh dan rakaat keduanya agak pendek [2]
Menurut riwayat Bukhori yang  lain tanpa terkadang Nabi saw membaca dengan keras ,terkadang tidak ………………..  tapi  di pastikan bacaan Nabi saw dengan keras agar makmum terdengar . Dan bagaimanakah bisa di ketahui oleh kita ( para sahabat )bahwa Rasulullah saw membaca dua surat dan fatehah  bila  beliau membacanya dengan samar .
وَيُسْمِعُنَا الْآيَةَ وَيُطَوِّلُ فِي الرَّكْعَةِ الْأُولَى مَا لَا يُطَوِّلُ فِي الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ وَهَكَذَا فِي الْعَصْرِ وَهَكَذَا فِي الصُّبْحِ *
Rasulullah saw membaca ayat ( bukan berbisik ) , dan rakaat pertama  di panjangkan  tidak sebagaimana  dirakaat kedua . Demikian pula apa yang beliau lakukan  waktu Subuh. [3]
Dan masih banyak hadis muttafaq alaih yang menyatakan bahwa Nabi saw membaca surat dalam salat lohor dan Asar dengan suara keras ( maksudnya  sedang , bukan berbisik seperti orang sekarang ).

وَرُوِي عَنْ عُمَرَ أَنَّهُ كَتَبَ إِلَى أَبِي مُوسَى أَنِ اقْرَأْ فِي الظُّهْرِ بِأَوْسَاطِ الْمُفَصَّلِ وَرَأَى بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ أَنَّ الْقِرَاءَةَ فِي صَلَاةِ الْعَصْرِ كَنَحْوِ الْقِرَاءَةِ فِي صَلَاةِ الْمَغْرِبِ يَقْرَأُ بِقِصَارِ الْمُفَصَّلِ
Di riwayatkan dari Umar ra bahwa beliau kirim surat kepada Abu Musa agar membaca surat Al Mufasshol yang pertengahan dalam  shalat lohor  . Sebagian ahlil ilmi berpendapat bahwa bacaan dalam salat Asar  sebagaimana   bacaan dalam salat Maghrib ya`ni membaca  al mufasshol yang pendek – pendek [4]
Imam Bukhori membikin bab :
بَاب الْقِرَاءَةِ فِي الظُّهْرِ *
Bab : Bacaan  waktu lohor
بَاب الْقِرَاءَةِ فِي الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ *
Bab Bacaan waktu lohor dan Asar
Jabir  bin Samurah ra  berkata :
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي الظُّهْرِ بِاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَى وَفِي الْعَصْرِ نَحْوَ ذَلِكَ وَفِي الصُّبْحِ أَطْوَلَ مِنْ ذَلِكَ
 Waktu salat Dhohor , Nabi saw,   membaca  :  Wallaili idza  Yaghsya  , salat Asar  membaca surat yang mirip dengannya  . Waktu salat Subuh , beliau membaca  surat  yang lebih panjang lagi [5]
Bagaimanakah orang mengetahui bahwa Rasulullah saw membaca surat tsb bila di pelankan atau dibaca sebagaimana  orang berbisik.  Jabir bin Samurah ra berkata :
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقْرَأُ فِي الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ بِالسَّمَاءِ ذَاتِ الْبُرُوجِ وَالسَّمَاءِ وَالطَّارِقِ وَشِبْهِهِمَا
Sesungguhnya    Rasulullah  saw,   dim salat  Dhohor membaca   ِالسَّمَاءِ ذَاتِ الْبُرُوجِ وَالسَّمَاءِ وَالطَّارِقِdan sesamanya.[6] Hadis hasan sahih,kata lmam Tirmizi.
عَنْ أَبِي مَعْمَرٍ قَالَ قُلْنَا لِخَبَّابٍ أَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه  عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ قَالَ نَعَمْ قُلْنَا بِمَ كُنْتُمْ تَعْرِفُونَ ذَاكَ قَالَ بِاضْطِرَابِ لِحْيَتِهِ *
Dari Abu Ma`mar  berkata : kami bertanya kepada Khobbab  ,apakah Rasulullah saw membaca surat dalam salat lohor dan Asar ?
Beliau menjawab :” Ya “.
Kami bertanya  :” Dengan apa kamu mengetahui hal itu ? “.
Beliau menjawab : Dengan geraknya jenggot “. [7]
Ahmad bin Amar bin Abd Kholiq Al Bazzar  ,lahir 215 , wafat 292 berkata :
وهذا الحديث لا نعلم له طريقاً عن خباب إلا هذا الطريق ولا نعلم روى أبو معمر عن خباب إلا هذا الحديث
Kami tidak mengethui jalur hadis tsb dari Khobbab  kecuali jalur itu . dan kami tidak mengetahui Abu Ma`mar meriwayatkan  hadis dari Khobbab kecuali hadis itu [8]
Aku ( penulis ) berkata : Hadis tersebut nyeleneh dan bertentangan  dengan hadis muttafaq alaih yang menyatakan  Rasulullah saw membaca surat waktu lohor sebagaimana di jelaskan tadi.
Bahkan termasuk hadis munkar :
Abdul hay al luknowi berkata:
فكثيراً ما يطلقون النكارة على مجرَّد التَّفرُّد،
Sering kali mereka menyatakan  hadis munkar disebabkan tafarrud saja . ( satu perawi yang meriwayatkan bukan dua atau tiga ).
- كراهية المتقدمين لرواية الغريب:
كان المتقدمون من علماء الحديث يكرهون رواية الغرائب وما تفرد به الرواة، ويعدونه من شَرِّ الحديث، كما قال الإمام مالك رحمه الله: "شَرُّ العلم الغريبُ، وخيرُ العلم الظاهرُ الذي قد رواه الناس" 1،
Hukum hanya seorang perawi yang meriwayatkan  hadis.( tafarrud )
1.     Ulama hadis  dahulu tidak suka atau benci terhadap riwayat  gharib ( nyeleneh )
Ulama hadis dahulu benci  terhadap  terhadap riwayat – riwayat yang gharib ( nyeleneh )  dan  hadis yang  di riwayatkan   oleh seorang  perawi , lalu di anggap   sebagai  hadis yang  terjelek  sebagaimana  di katakan   oleh Imam Malik rahimahullah: Ilmu  terjelek  adalah  yang gharib  dan  ilmu yang  terbaik adalah  yang tampak yang di riwayatkan oleh manusia. ( banyak ).


Imam Thohawi berkata : Membaca disitu masih mungkin membaca tasbih , doa atau dzikir hingga jenggot  Rasulullah saw bergerak . 
قال عمر بن الخطاب أشبه صلاة الليل صلاة الهجير
Salat malam mirip dengan salat lohor  , kata Umar bin Al Khotthob [9]
Membaca al Quran dalam salat malam harus tartil sebagaimana ayat :
يَاأَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ(1)قُمِ اللَّيْلَ إِلَّا قَلِيلًا(2)نِصْفَهُ أَوِ انْقُصْ مِنْهُ قَلِيلًا(3)أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْءَانَ تَرْتِيلًا
Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah ( qiyamullail  ) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Qur'an itu dengan perlahan-lahan.[10]
Bacaan tartil harus bersuara sedang ,tidak boleh seperti orang berbisik .
قال الحافظ ابن حجر رحمه الله :
" أول المفصل من ق إلى آخر القرآن على الصحيح ، وسمي مفصلا لكثرة الفصل بين سوره بالبسملة على الصحيح " انتهى ، باختصار يسير من "فتح الباري" (2/259) ، وينظر أيضا : "فتح الباري" (9/43) .
Al Hafudh Ibnu Hajar berkata: Permulaan  surat al mufasshal   mulai  dari Qaf  sampai ahir quran menurut pendapat yang  sahih. Di beri nama Mufasshal  karena banyak   dipisah dengan bismillah menurut pendapat yang  sahih.    Fathul bari 43/9. 
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مَنِيعٍ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ أَخْبَرَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ سِمَاكِ بْنِ حَرْبٍ عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقْرَأُ فِي الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ بِالسَّمَاءِ ذَاتِ الْبُرُوجِ وَالسَّمَاءِ وَالطَّارِقِ وَشِبْهِهِمَا
قَالَ وَفِي الْبَاب عَنْ خَبَّابٍ وَأَبِي سَعِيدٍ وَأَبِي قَتَادَةَ وَزَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ وَالْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَقَدْ رُوِيَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَرَأَ فِي الظُّهْرِ قَدْرَ تَنْزِيلِ السَّجْدَةِ وَرُوِيَ عَنْهُ أَنَّهُ كَانَ يَقْرَأُ فِي الرَّكْعَةِ الْأُولَى مِنْ الظُّهْرِ قَدْرَ ثَلَاثِينَ آيَةً وَفِي الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ خَمْسَ عَشْرَةَ آيَةً وَرُوِي عَنْ عُمَرَ أَنَّهُ كَتَبَ إِلَى أَبِي مُوسَى أَنْ اقْرَأْ فِي الظُّهْرِ بِأَوْسَاطِ الْمُفَصَّلِ وَرَأَى بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ أَنَّ الْقِرَاءَةَ فِي صَلَاةِ الْعَصْرِ كَنَحْوِ الْقِرَاءَةِ فِي صَلَاةِ الْمَغْرِبِ يَقْرَأُ بِقِصَارِ الْمُفَصَّلِ وَرُوِي عَنْ إِبْرَاهِيمَ النَّخَعِيِّ أَنَّهُ قَالَ تَعْدِلُ صَلَاةُ الْعَصْرِ بِصَلَاةِ الْمَغْرِبِ فِي الْقِرَاءَةِ و قَالَ إِبْرَاهِيمُ تُضَاعَفُ صَلَاةُ الظُّهْرِ عَلَى صَلَاةِ الْعَصْرِ فِي الْقِرَاءَةِ أَرْبَعَ مِرَارٍ
(TIRMIDZI - 282) : telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Mani' berkata; telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun berkata; telah mengabarkan kepada kami Hammad bin Salamah dari Simak bin Harb dari Jabir bin Samrah berkata; "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dalam shalat zhuhur dan asar membaca WAS SAMA`I DZATUL BURUJ dan WAS SAMA`I WATH THARIQ dan yang serupa dengan keduanya." Ia berkata; "Dalam bab ini juga ada riwayat dari Khabbab, Abu Sa'id, Abu Qatadah, Zaid bin Tsabit dan Al Bara` bin 'Azib." Abu Isa berkata; "Hadits Jabir bin Samrah ini derajatnya hasan shahih.
Telah diriwayatkan dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bahwa beliau pada shalat zhuhur membaca surat yang sebanding dengan surat Tanzil (As Sajadah). Dan diriwayatkan pula darinya bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam di rakaat pertama pada shalat zhuhur membaca sekadar tiga puluh ayat. Sedangkan pada rakaat kedua sekadar lima belas ayat. Dan diriwayatkan dari Umar, bahwa ia pernah surat kepada Abu Musa agar membaca ia membaca surat-surat yang sedang pada shalat zhuhur. Sedangkan sebagian ahli ilmu berpendapat, bahwa bacaan pada shalat asar seperti bacaan pada shalat maghrib, yakni membaca dengan surat-surat pendek. Telah diriwayatkan dari Ibrahim An Nakha'I bahwa ia berkata; "Bacaan pada shalat asar dan maghrib sebanding." Ibrahim berkata lagi, "Bacaan pada shalat zhuhur panjangnya empat kali dari shalat asar."
[حكم الالبانى] : حسن صحيح، صفة الصلاة // 94 //، صحيح أبي داود (767)
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى وَأَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ جَمِيعًا عَنْ هُشَيْمٍ قَالَ يَحْيَى أَخْبَرَنَا هُشَيْمٌ عَنْ مَنْصُورٍ عَنْ الْوَلِيدِ بْنِ مُسْلِمٍ عَنْ أَبِي الصِّدِّيقِ
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ كُنَّا نَحْزِرُ قِيَامَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ فَحَزَرْنَا قِيَامَهُ فِي الرَّكْعَتَيْنِ الْأُولَيَيْنِ مِنْ الظُّهْرِ قَدْرَ قِرَاءَةِ الم تَنْزِيلُ السَّجْدَةِ وَحَزَرْنَا قِيَامَهُ فِي الْأُخْرَيَيْنِ قَدْرَ النِّصْفِ مِنْ ذَلِكَ وَحَزَرْنَا قِيَامَهُ فِي الرَّكْعَتَيْنِ الْأُولَيَيْنِ مِنْ الْعَصْرِ عَلَى قَدْرِ قِيَامِهِ فِي الْأُخْرَيَيْنِ مِنْ الظُّهْرِ وَفِي الْأُخْرَيَيْنِ مِنْ الْعَصْرِ عَلَى النِّصْفِ مِنْ ذَلِكَ وَلَمْ يَذْكُرْ أَبُو بَكْرٍ فِي رِوَايَتِهِ الم تَنْزِيلُ وَقَالَ قَدْرَ ثَلَاثِينَ آيَةً
(MUSLIM - 687) : Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya dan Abu Bakar bin Abi Syaibah semuanya meriwayatkan dari Husyaim berkata Yahya, telah mengabarkan kepada kami Husyaim dari Manshur dari al-Walid bin Muslim dari Abu ash-Shiddiq dari Abu Sa'id al-Khudri dia berkata, "Kami memperkirakan (kadar waktu) berdirinya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dalam shalat zhuhur dan ashar. Maka kami memperkirakannya dalam dua rakaat pertama dari shalat zhuhur sekitar bacaan alim lam mim tanzil (yaitu surat as-Sajdah), dan kami memperkirakan waktu berdirinya beliau pada dua rakaat lainnya sekitar setengah dari hal tersebut. Dan kami memperkirakan berdirinya beliau pada dua rakaat pertama shalat ashar setengah dari hal tersebut." Dan Abu Bakar tidak menyebutkan dalam riwayatnya alif lam mim tanzil (yaitu surat as-Sajdah), namun dia mengatakan sekitar tiga puluh ayat.
Bila surat – surat tsb di baca  oleh Rasulullah shallahu alaihi wasallam dalam shalat  lohor dan Asar dengan berbisik  sebagaimana  orang sekarang, maka para sahabat  tidak bisa bercerita seperti itu. Di beri  tahu  surat yang  di baca  oleh Rasulullah shallahu alaihi wasallam  dalam shalat  lohor dan Asar menunjukkan  bahwa surat tsb di baca dengan bersuara dan para makmum mendengar. Kalau dibaca dengan berbisik, maka para  sahabat  tidak akan bisa menunjukkan nama suratnya.
Bila kita membaca surat al quran di waktu shalat lohor dan Asar dengan berbisik , kita akan bertentangan  dengan  hadis  - hadis  sahih di atas. Kita akan termasuk menjalankan  kebid`ahan dalam  shalat. Kita akan bertentangan dengan ayat al isra`  110
وَلَاتَجْهَرْ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِ بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلًا
dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya (seperti orang berbisik )  dan carilah jalan tengah di antara kedua itu"[11]




[1] Al isra` 110
[2]  Muttafaq  alaih , Bukhori 717,737
[3] HR Bukhori 776
[4] Sunan Tirmidzi  307
[5] HR Muslim  459
[6] HR  Tirmidzi  307
[7] HR Bukhori 746

[8] MusnadAl Bazzar 74/6
[9] Mushonnaf AbdRozzaq 2684
[10] Al Muzammil 1-4
[11] Al isra` 110
Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Pesan yang baik, jangan emosional.Bila ingin mengkeritisi, pakailah dalil yang sahih.Dan identitasnya jelas. Komentar emosional, tidak ditayangkan