Jumat, Februari 26, 2016

Dialog tentang tuntunan shalat zhuhur dan Asar ke 1


 
Ada hadis sbb:  
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى وَأَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ جَمِيعًا عَنْ هُشَيْمٍ قَالَ يَحْيَى أَخْبَرَنَا هُشَيْمٌ عَنْ مَنْصُورٍ عَنْ الْوَلِيدِ بْنِ مُسْلِمٍ عَنْ أَبِي الصِّدِّيقِ
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ كُنَّا نَحْزِرُ قِيَامَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ فَحَزَرْنَا قِيَامَهُ فِي الرَّكْعَتَيْنِ الْأُولَيَيْنِ مِنْ الظُّهْرِ قَدْرَ قِرَاءَةِ الم تَنْزِيلُ السَّجْدَةِ وَحَزَرْنَا قِيَامَهُ فِي الْأُخْرَيَيْنِ قَدْرَ النِّصْفِ مِنْ ذَلِكَ وَحَزَرْنَا قِيَامَهُ فِي الرَّكْعَتَيْنِ الْأُولَيَيْنِ مِنْ الْعَصْرِ عَلَى قَدْرِ قِيَامِهِ فِي الْأُخْرَيَيْنِ مِنْ الظُّهْرِ وَفِي الْأُخْرَيَيْنِ مِنْ الْعَصْرِ عَلَى النِّصْفِ مِنْ ذَلِكَ
وَلَمْ يَذْكُرْ أَبُو بَكْرٍ فِي رِوَايَتِهِ الم تَنْزِيلُ وَقَالَ قَدْرَ ثَلَاثِينَ آيَةً
1-(MUSLIM - 687) : Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya dan Abu Bakar bin Abi Syaibah semuanya meriwayatkan dari Husyaim berkata Yahya, telah mengabarkan kepada kami Husyaim dari Manshur dari al-Walid bin Muslim dari Abu ash-Shiddiq dari Abu Sa'id al-Khudri dia berkata, "Kami memperkirakan (kadar waktu) berdirinya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dalam shalat zhuhur dan ashar. Maka kami memperkirakannya dalam dua rakaat pertama dari shalat zhuhur sekitar bacaan alim lam mim tanzil (yaitu surat as-Sajdah), dan kami memperkirakan waktu berdirinya beliau pada dua rakaat lainnya sekitar setengah dari hal tersebut. Dan kami memperkirakan berdirinya beliau pada dua rakaat pertama shalat ashar setengah dari hal tersebut dan dua rakaat terahir sekitar setengahnya." Dan Abu Bakar tidak menyebutkan dalam riwayatnya alif lam mim tanzil (yaitu surat as-Sajdah), namun dia mengatakan sekitar tiga puluh ayat.
2.Menurut riwayat Imam Ahmad no 471 sbb :
فَحَزَرْنَا قِيَامَهُ فِي الظُّهْرِ قَدْرَ ثَلَاثِينَ آيَةً قَدْرَ سُورَةِ السَّجْدَةِ فِي الرَّكْعَتَيْنِ الْأُولَيَيْنِ
maka kami menaksir berdirinya beliau saat shalat Zhuhur sekitar tiga puluh ayat, seukuran surat As-Sajdah pada dua raka'at pertama.

Mengumpulkan Ilmu  berkata: Dalam riwayat diatas dibilang ditaksir, hal ini menunjukkan bahwa bacaannya sirr dan tidak diketahui dengan pasti.
Komentarku ( Mahrus ali ):
Hadisnya  sbb:
Abu Sa'id al-Khudri dia berkata, "Kami memperkirakan (kadar waktu) berdirinya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dalam shalat zhuhur dan ashar. Maka kami memperkirakannya dalam dua rakaat pertama dari shalat zhuhur sekitar bacaan alim lam mim tanzil (yaitu surat as-Sajdah),

Menurut riwayat Imam Ahmad no 471 sbb :
فَحَزَرْنَا قِيَامَهُ فِي الظُّهْرِ قَدْرَ ثَلَاثِينَ آيَةً قَدْرَ سُورَةِ السَّجْدَةِ فِي الرَّكْعَتَيْنِ الْأُولَيَيْنِ
maka kami menaksir berdirinya beliau saat shalat Zhuhur sekitar tiga puluh ayat, seukuran surat As-Sajdah pada dua raka'at pertama.
Komentarku ( Mahrus ali ):
Anda menyatakan bahwa hadis tsb menunjukkan bahwa bacaan salat dhuhur  dan Asar  dengan sir ( berbisik ) 
Saya ( Mahrus ali ) berkata:
Mungkin bgt , juga mungkin tidak.
Mungkin  dengan sir ( berbisik ), juga mungkin dengan jaher hingga bisa diperkirakan berapa  ayat yang di baca oleh Rasulullah shallahu alaihi wasallam ketika berdiri  dlm  salat siang itu.
Kita tidak mengetahui berapa  ayat yang di baca  dlm salat  zhuhur orang sekarang . Sebab, bacaannya berbisik. Bila bacaannya  jaher  dengan suara sedang, kita bisa memperkirakan berapa ayat yang di baca.
Bila kita kembali kepada riwayat lain yang sama dari Imam Muslim  di kitab sahihnya bukan  di kitab karya beliau yang lain,  juga dari  sahabat Abu Sa`id al Khudri  bukan orang lain, maka  di sebutkan dengan jelas bacaan salat  zhuhur dan Asar  sbb:
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقْرَأُ فِي صَلَاةِ الظُّهْرِ فِي الرَّكْعَتَيْنِ الْأُولَيَيْنِ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ قَدْرَ ثَلَاثِينَ آيَةً وَفِي الْأُخْرَيَيْنِ قَدْرَ خَمْسَ عَشْرَةَ آيَةً أَوْ قَالَ نِصْفَ ذَلِكَ وَفِي الْعَصْرِ فِي الرَّكْعَتَيْنِ الْأُولَيَيْنِ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ قَدْرَ قِرَاءَةِ خَمْسَ عَشْرَةَ آيَةً وَفِي الْأُخْرَيَيْنِ قَدْرَ نِصْفِ ذَلِكَ
(MUSLIM - 688) Dari Abu Sa'id al-Khudri "Bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dahulu membaca dua rakaat pertama dari shalat zhuhur; pada setiap rakaat sekitar tiga puluh ayat, dan pada dua rakaat berikutnya sekitar lima belas ayat -atau dia mengatakan setengah dari hal tersebut-. Sedangkan dua rakaat pertama dari shalat ashar; maka pada setiap rakaat sekedar bacaan lima belas ayat dan pada dua rakaat lainnya sekedar setengah dari hal tersebut."
Komentarku ( Mahrus ali ):
Dlm  hadis terahir ini dengan jelas tanpa kalimat saya perkirakan  sbb .
 فَحَزَرْنَا قِيَامَهُ فِي الرَّكْعَتَيْنِ الْأُولَيَيْنِ مِنْ الظُّهْرِ قَدْرَ قِرَاءَةِ الم تَنْزِيلُ السَّجْدَةِ
Maka kami memperkirakannya dalam dua rakaat pertama dari shalat zhuhur sekitar bacaan alim lam mim tanzil (yaitu surat as-Sajdah),
    Jadi kalimat” kami perkirakan” tidak ada .
Tapi langsung sbb:
كَانَ يَقْرَأُ فِي صَلَاةِ الظُّهْرِ فِي الرَّكْعَتَيْنِ الْأُولَيَيْنِ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ قَدْرَ ثَلَاثِينَ آيَةً
Bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dahulu membaca dua rakaat pertama dari shalat zhuhur; pada setiap rakaat sekitar tiga puluh ayat.
Dengan demikian, bacaan beliau  dalam salat  zhuhur dan Asar adalah di keraskan / dengan suara sedang bukan berbisik. Tidak seperti kebanyakan kaum Muslimin sekarang.

Kita rujuk lagi ke  kitab sahih Bukhari , di sana ada hadis  sbb:
Shubuh, beliau memanjangkan bacaan pada rakaat pertama dan memendekkakan pada rakaat kedua."

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي قَتَادَةَ عَنْ أَبِيهِ
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقْرَأُ فِي الظُّهْرِ فِي الْأُولَيَيْنِ بِأُمِّ الْكِتَابِ وَسُورَتَيْنِ وَفِي الرَّكْعَتَيْنِ الْأُخْرَيَيْنِ بِأُمِّ الْكِتَابِ وَيُسْمِعُنَا الْآيَةَ وَيُطَوِّلُ فِي الرَّكْعَةِ الْأُولَى مَا لَا يُطَوِّلُ فِي الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ وَهَكَذَا فِي الْعَصْرِ وَهَكَذَا فِي الصُّبْحِ
صحيح البخاري (1/ 155)
(BUKHARI - 734) : Dari 'Abdullah bin Abu Qatadah dari Bapaknya, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dalam shalat Zhuhur membaca Al Fathihah dan dua surah pada dua rakaat pertama. Dan pada dua rakaat akhir membaca Al Fatihah, yang terkadang ayat yang beliau baca terdengar. Beliau memanjangkannya pada rakaat pertama, dan pada rakaat keduanya tidak sepanjang pada rakaat pertama. Beliau lakukan seperti ini juga dalam shalat 'Ashar, begitu pula pada shalat Shubuh."
Komentarku ( Mahrus ali ):
Bila di baca  dengan berbisik, maka  bacaan Rasulullah shallahu alaihi wasallam pada fatihah dan dua surat  itu tidak akan terdengar  oleh para  sahabat yang bermakmum padanya.
Para  sahabat mendengar dua surat dan fatihah yang  beliau baca. Bila  di baca dengan berbisik, maka  bacaan Nabi shallahu alaihi wasallam tidak akan di dengar oleh para  sahabat sebagaimana bacaan Imam saat zhuhur sekarang ini.
Para  sahabat mendengar bacaan Rasulullah shallahu alaihi wasallam dlm salat  zhur dan Asar karena di jaherkan.
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ حَكِيمٍ حَدَّثَنَا أَبُو دَاوُدَ الطَّيَالِسِيُّ حَدَّثَنَا الْمَسْعُودِيُّ حَدَّثَنَا زَيْدٌ الْعَمِّيُّ عَنْ أَبِي نَضْرَةَ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ
اجْتَمَعَ ثَلَاثُونَ بَدْرِيًّا مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا تَعَالَوْا حَتَّى نَقِيسَ قِرَاءَةَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيمَا لَمْ يَجْهَرْ فِيهِ مِنْ الصَّلَاةِ فَمَا اخْتَلَفَ مِنْهُمْ رَجُلَانِ فَقَاسُوا قِرَاءَتَهُ فِي الرَّكْعَةِ الْأُولَى مِنْ الظُّهْرِ بِقَدْرِ ثَلَاثِينَ آيَةً وَفِي الرَّكْعَةِ الْأُخْرَى قَدْرَ النِّصْفِ مِنْ ذَلِكَ وَقَاسُوا ذَلِكَ فِي صَلَاةِ الْعَصْرِ عَلَى قَدْرِ النِّصْفِ مِنْ الرَّكْعَتَيْنِ الْأُخْرَيَيْنِ مِنْ الظُّهْرِ
(IBNUMAJAH - 820) : Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Hakim berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Dawud Ath Thayalisi berkata, telah menceritakan kepada kami Al Mas'udi berkata, telah menceritakan kepada kami Zaid Al Ammi dari Abu Nadlrah dari Abu Sa'id Al Khudzri ia berkata, "Tiga puluh orang sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang pernah ikut perang badar berkumpul, mereka berkata; "Kemarilah berkumpul hingga kita bisa diskusi berapa panjang bacaan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dalam shalat yang bacaannya tidak dikeraskan. " Tidak ada dua orang pun dari mereka yang saling berselisih, lalu mereka membandingkan bahwa bacaan beliau di raka'at pertama dari shalat zhuhur sekitar tiga puluh ayat, sedangkan dalam raka'at yang lainnya hanya separuhnya. Kemudian mereka membandingkan dengan shalat ashar, bahwa panjangnya adalah separuh dari bacaan dua raka'at terakhir shalat zhuhur. "
Komentarku ( Mahrus ali ):

 . صحيح وضعيف سنن ابن ماجة - (ج 2 / ص 400)
تحقيق الألباني :
ضعيف - لكن المرفوع منه له طريق آخر عند مسلم ( 2 / 38 ) دون لفظة القياس –
Hadis  tsb menurut al albani lemah, dan yang marfu` punya jalur lain  di sahih Muslim 38/2  tanpa  kalimat qiyas.
Jadi hadis itu tidak bisa di buat pegangan, lepaskan saja. Jangan di amalkan karena ia lemah.
Ada kalimat :
Tiga puluh orang sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang pernah ikut perang badar berkumpul, mereka berkata; "Kemarilah berkumpul hingga kita bisa diskusi berapa panjang bacaan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dalam shalat yang bacaannya tidak dikeraskan.
Komentarku ( Mahrus ali ):
Dengan landasan hadis lemah ini, orang membagi salat menjadi jahriyah dan sirriyah sebagaimana ajaran saya yang saya terima dari guru – guru saya di tanah air atau di luar negri.

ولذلك ثبت عنه صلى الله عليه وسلم – كما عند مسلم  :
( أنه كان يقرأ بـ { وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَى{1}في صلاة الظهر )
وثبت عنه صلى الله عليه وسلم أنه قرأ فيها ( بـ سبح والغاشية )
وثبت أنه قرأ فيها ({وَالسَّمَاء ذَاتِ الْبُرُوجِ }البروج1)
Intinya : Menurut hadis  sahih riwayat Muslim Rasulullah shallahu alaihi wasallam membaca wallaili  idza yaghsya   dlm salat  zhuhur , sabbihis  dan ghosyiyah , terkadang membaca  wassama I dzatil buruj.
Komentarku ( Mahrus ali ):
Ternyata menurut hadis muslim itu  salat zhuhur  menurut Rasulullah shallahu alaihi wasallam adalah jahriyah bukan sirriyah – atau suratnya  di baca dengan suara sedang bukan berbisik. Untuk  salat zhuhur surat qurannya di baca  dengan berbisik tiada dalilnya yang tepat dan telah saya bahas dulu.
Anda menyatakan :
Jika kyai berpendapat hal ini bertentangan dgn surat al-Isra 110, maka surat ini justru menentang pendapat kyai untuk membaca secara jaher. Sebelumnya ana udah bilang bahwa ayat ini hukumnya dinasakh berdasarkan riwayat adh-dhahhak dari Ibn Abbas menurut Ibnu Katsir dalam tafsirnya.
Komentarku ( Mahrus ali ):

Itulah salah pahammu terhadap ayat 110 al isra`. Lihat ayatnya sbb:
وَلَاتَجْهَرْ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِ بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلًا
dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya (seperti orang berbisik )  dan carilah jalan tengah di antara kedua itu"[1]
وَلَا تُخَافِتْ بِهَا
dan janganlah pula merendahkannya (seperti orang berbisik )
kalimat  ini larangan dari Allah untuk hambanya  berbisik  - bisik dalam membaca ayat dalam shalat,  tidak boleh membaca ayat  quran  dalam shalat dengan berbisik. Tapi  harus di baca  dengan suara sedang , tidak boleh di keraskan , apalagi dengan speaker.
Anda menyatakan:
Jika kyai berpendapat hal ini bertentangan dgn surat al-Isra 110, maka surat ini justru menentang pendapat kyai untuk membaca secara jaher.

Komentarku ( Mahrus ali ):
Bila ikut anda, maka ayat tersebut memerintah untuk baca al quran dalam salat dengan berbisik  Dan ini salah paham,gagal  paham bukan pemahaman yang benar tapi pemahaman yang menyesatkan, tidak mengarahkan kepada kebenaran.Ia pemahaman terbalik bukan pemahaman yang lurus Ayat itu – 110 al isra` memerintahkan  untuk baca  dengan suara sedang dlm salat , bukan berbisik. Dan berbisik juga  dilarang atau di haramkan  dlm salat.

Lalu anda bilang lagi:
Sebelumnya ana udah bilang bahwa ayat ini hukumnya dinasakh berdasarkan riwayat adh-dhahhak dari Ibn Abbas menurut Ibnu Katsir dalam tafsirnya.
Komentarku ( Mahrus ali ):
Sayang anda  tidak membawakan hadisnya atau kalimat arabnya.  Saya jumpai di Tafsir Ibnu Katsir kalimat sbb:

تفسير ابن كثير - (ج 9 / ص 103)
وَكَذَا رَوَاهُ الضَّحَّاك عَنْ اِبْن عَبَّاس وَزَادَ فَلَمَّا هَاجَرَ إِلَى الْمَدِينَة سَقَطَ ذَلِكَ يَفْعَل أَيّ ذَلِكَ شَاءَ
Demikian juga di riwayatkan oleh al dhohhak  dari Ibnu Abbas ………. Dan dia memberikan tambahan : Ketika berhijrah ke Medinah, hal itu  gugur ( bacaan dengan suara  sedang  dalam shalat telah gugur ) . Beliau mejalankan sekehendaknya ( Kadang jaher , kadang sirr ).

Komentarku ( Mahrus ali ):
Sayang dengan kalimat seperti itu anda  sudah berani menyatakan ayat tsb mansukh. Kalimat  tsb adalah tambahan perawi hadis – kalimat yang  menyatakan Nabi shallahu alaihi wasallam membaca surat dalam  salat seenaknya , kadang di suarakan sedang  kadang  dengan berbisik. Lalu pengertian ayat  110 al Isra` itu tidak lagi di pakai, karena sudah di mansukh menurut anda. Pada hal kalo kita lihat hadis aslinya sbb:
قَالَ ابْنُ الصَّبَّاحِ حَدَّثَنَا هُشَيْمٌ أَخْبَرَنَا أَبُو بِشْرٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ فِي قَوْلِهِ عَزَّ وَجَلَّ  { وَلَا تَجْهَرْ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتْ بِهَا }  قَالَ نَزَلَتْ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُتَوَارٍ بِمَكَّةَ فَكَانَ إِذَا صَلَّى بِأَصْحَابِهِ رَفَعَ صَوْتَهُ بِالْقُرْآنِ فَإِذَا سَمِعَ ذَلِكَ الْمُشْرِكُونَ سَبُّوا الْقُرْآنَ وَمَنْ أَنْزَلَهُ وَمَنْ جَاءَ بِهِ فَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى لِنَبِيِّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  { وَلَا تَجْهَرْ بِصَلَاتِكَ } فَيَسْمَعَ الْمُشْرِكُونَ قِرَاءَتَكَ
{ وَلَا تُخَافِتْ بِهَا } عَنْ أَصْحَابِكَ أَسْمِعْهُمْ الْقُرْآنَ وَلَا تَجْهَرْ ذَلِكَ الْجَهْرَ
{ وَابْتَغِ بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلًا }يَقُولُ بَيْنَ الْجَهْرِ وَالْمُخَافَتَةِ
Intinya : Rasulullah shallahu alaihi wasallam di suruh membaca  surat  dlm shalat  dengan suara sedang.
مسند الصحابة في الكتب التسعة - (ج 29 / ص 239)
قال الشيخ شعيب الأرناؤوط : إسناده صحيح على شرط الشيخين
Syaikh  Syuaib al arna uth berkata: Hadis tsb  sahih menurut persaratan perawi sahih Bukhari dan Muslim.  ( musnadus shahabah 239/29 )
Dalam hadis aslinya tidak ada keterangan bahwa ayat 110 al Isra` itu di mansukh.  Anda menyatakan hadis riwayat Ibnu Abbas riwayat dhahhak ada tambahan yang menyatakan  ayat 110 al isra`  di mansukh.
Komentarku ( Mahrus ali ): Ia tambahan perawi . Dan kesahihannya masih blm di jelaskan. Jadi masih mungkin lemah, hasan atau palsu. Lalu bagaimana  anda bisa berpegangan dengan hadis spt ini.
Bila  kita ikut anda , maka kita ini menyatakan bahwa  ayat 110 (  yang memerintahkan  bacaan al quran dlm shalat di suarakan sedang dan larangan dibaca berbisik) mansukh ( tidak di fungsikan artinya )  karena ada riwayat Ibnu Abbas  yang masih blm jelas kesahihannya, mungkin lemah atau palsu. Kita akan bertentangan dengan hadis Ibn Abbas yang lain yaitu  hadis aslinya tadi yang memerintahkan  suara sedang dlm membaca ayat dlm shalat.
Kita akan bertentangan dengan  perkataan Ibnu Abbas sbb:
وقال ابن عباس وغير واحد أيضاً هي قراءة القرآن في الصلاة، والمعنى: لا تجهر بقراءة صلاتك ولا تخافت بها.
Ibnu Abbas  dan lainnya ( bukan hanya satu orang ) juag berkata : Ayat 110 itu untuk baca al quran dalam shalat . Maksudnya  bacalah dengan suara sedang , jangan terlalu keras juga jangan dengan berbisik.
http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=36983
Komentarku ( Mahrus ali ):
Pernyataan Ibn Abbas dan ulama lainnya  menunjukkan bahwa ayat 110 al Isra` itu untuk shalat . Sedang  isi kandungannya adalah memerintah  bersuara sedang dalam shalat  dan haram dengan berbisik di dalamnya  seperti kebanyakan orang  yang  menjalankan shalat  zhuhur.
قالَ غُلاَمُ ثَعْلَبٍ مُحَمَّدُ بنُ عَبْدِ الوَاحِدِ البَغْدَادِيُّ (ت:345 هـ) : ( {ولا تجهر بصلاتك ولا تخافت بها} معناه: ولا تجهر بقراءة صلاتك. ولا تخافت بقراءة صلاتك.
وهو من المختصر). [ياقوتة الصراط: 316]
GHulam Tsa`lab – Muhammad bin Abd Wahid al Baghdadi  wafat 345 menyatakan :
ولا تجهر بصلاتك ولا تخافت بها}
Jangan baca  keras  dlm salatmu  , juga jangan baca berbisik .

وهو من المختصر). [ياقوتة الصراط: 316]
Dari al Mukhtashar   yaqutatu sirat  316.

سنن البيهقى - دار الباز (2/ 195)
رواه البخاري في الصحيح عن حجاج بن منهال ورواه مسلم عن محمد بن الصباح
Intinya hadis tsb ( hadis ibnu Abbas yang menyatakan  suara sedang dlm membaca surat dalam  shalat ) muttafaq alaih. Tidak diperkenankan dalam shalat membaca al quran dengan berbisik , tapi harus di suarakan hingga di dengar oleh makmum.
Bila dibaca dengan berbisik , maka melanggar ayat sbb.
وَلَاتَجْهَرْ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِ بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلًا
dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya (seperti orang berbisik )  dan carilah jalan tengah di antara kedua itu"[2]


التفسير الميسر - (ج 5 / ص 104)
ولا تجهر بالقراءة في صلاتك، فيسمعك المشركون، ولا تُسِرَّ بها فلا يسمعك أصحابك، وكن وسطًا بين الجهر والهمس.
Intnya : Perintah baca  dengan suara sedang  dalam membaca al quran dalam shalat . Tafsir al muyassar  104 / 5
أيسر التفاسير للجزائري - (ج 2 / ص 371)
 وابتغ ذلك سبيلاً } : أي اطلب بين السر والجهر طريقاً وسطاً .
Intinya : Intnya : Baca dengan suara sedang  dalam membaca al quran dalam shalat   lihat kitab  aisarut tafasir  371/2

Bersambung ………………………..



Mau nanya hubungi kami:
088803080803( Smartfren). 081935056529 (XL )  https://www.facebook.com/mahrusMKnu




















[1] Al isra` 110
[2] Al isra` 110

Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Pesan yang baik, jangan emosional.Bila ingin mengkeritisi, pakailah dalil yang sahih.Dan identitasnya jelas. Komentar emosional, tidak ditayangkan