Minggu, Maret 06, 2016

Kisah gerakan salafy madkhalis

ahin Bahin
Kultweet
THE ‪#‎MADKHALIS‬ " DURI DALAM DAGING"UMAT ISLAM ). bagian 1
By:@CumiCola
Barang siapa yg bs menyimaknya maka menyimaklah, jika tdk maka biarlah.
Madkhalis menjadi istilah yg selama lbh dari satu dekade ini cukup populer di dunia Arab & sebagian negara2 Barat. Tapi krg dikenal di Asia.
Madkhalis adlh julukan utk para pengikut Rabi' bin Hadi' Umair al-Madkhali. Salah seorang "Syaikh" atau ulama Salafi radikal di Arab Saudi.
Krn itu penggunaan istilah Madkhalis sebetulnya tidaklah buruk dari sisi makna namun kebanyakan pengikut Rabi' al-Madkhali tdk menyukainya.
Padahal dalam masalah juluk menjuluki jama'ah muslim, kelompok Madkhalis adalah jagonya. Namun kalo mrk yg diberi julukan, mrk pasti marah.
Sebagian kalangan yg antipati & kesal dgn sepak terjang Rabi' al-Madkhali & para pengikutnya, mempunyai julukan tersendiri utk Madkhalis
Mrk menjuluki kelompok Salafi radikal ini dgn nama Salafi Maz'um, Murji' atau Neo-Murji' (berasal dari kata Murji'ah), Irja', dll.
Jadi kalo tweeps (para pengguna tweeter)menemukan orang memberi julukan2 yg disebutkan tadi kepada seseorang yg mengaku Salafi, maka yg dimaksud adalah Madkhalis
Ada juga sebagian org yg lbh santun atau mengerti duduk persoalannya menjuluki #Madkhalis (khususnya yg ada di Indonesia) dgn Salafi Yamani.
Ini merujuk pada mendiang Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi'i -ulama terkemuka Salafi yg berasal dari Yaman & juga wafat di sana .
Jika tweeps masih ingat peristiwa berdarah peperangan antara kaum ahlus sunnah melawan kaum Syiah di Dammaj Yaman pada tahun 2011 .
Tepatnya terjadi di Darul Hadits Dammaj Yaman, maka Ma'had ini didirikan oleh Syaikh Muqbil bin Hadi al Wadi'i yg juga seorang Madkhalis.
Beliau penulis buku Iskat al-Kalb al-'Awi Yusuf ibn Abdillah al-Qaradhawi (Menjinakkan Anjing yg Menggonggong Yusuf al-Qaradhawi).
Beliau dikabarkan diusir oleh Kerajaan Arab Saudi dalam keadaan terbelenggu rantai krn memiliki hubungan dgn Juhaiman al-Utaibi .
Juhaiman al-Utaibi diketahui pernah mendengungkan fatwa2 atau pendapat2 Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi'i di Universitas Madinah.
Muqbil bin Hadi al-Wadi'i ini bahu membahu dgn Rabi' al-Madkhali dlm menghantam jamaah Islam yg lain khususnya Ikhwanul Muslimin.
Tapi dalam masalah konflik antara ahlus sunnah dgn Syiah, kita tetap berdiri di pihak ahlus sunnah. Betapapun buruknya sikap para madkhalis.
Pimpinan mujahidin Al-Qa'idah wilayah Yaman pernah menawarkan bantuan utk menolong mrk menghalau serbuan Syiah yg didukung Iran.
Namun mereka menolak tawaran itu, saking bencinya mrk dgn jamaah kaum muslimin yg lain, apalagi para mujahidin Al-Qa'idah.
Tapi walaupun ditolak, al-Qa'idah tetap mengirimkan satu unit pasukan mujahidin guna menghalau pasukan Syiah Rafidhah di Yaman .
Kaum Syiah di Yaman ini dulunya adalah sekte Zaidiyah, golongan Syiah yg plg sedikit kesesatannya & tdk menghalalkan darah suni.
Tapi sejak ulama2 Syiah Iran melancarkan misi penyebaran paham Imamiyah di Yaman mereka berubah menjadi Syiah Rafidhah .
Di masa lampau, ketika Ikhwanul Muslimin masih berpengaruh di Yaman, kelompok Zaidiyah ini pernah hendak membunuh Muqbil bin Hadi.
Mereka mengepung lembah Dammaj tempat Darul Hadits berada dgn persenjataan lengkap guna menghabisi Syaikh Muqbil & murid-muridnya.
Guna mencegah hal itu, para pimpinan Ikhwanul Muslimin cabang Yaman datang menemui pimpinan2 kelompok Syiah Zaidiyah di Yaman.
Termasuk diantaranya direktur keamanan Dammaj yg juga seorang Syi'ah. Ikhwanul Muslimin meminta mrk agar mengampuni Syaikh Muqbil .
Kelompok Zaidiyah itu akhirnya mengampuni Muqbil & mengakhiri pengepungan disebabkan menghargai IM wa bil khusus Hasan al-Banna.
Sebagaimana pernah disampaikan dalam kultwit yg lain, al-Banna pernah memprakarsai berdirinya jama'ah ‪#‎Taqrib‬ yg melibatkan Syiah .
Walaupun Madkhalis mendapat byk julukan, utk saat ini saya memilih menamai mrk dgn #Madkhalis. Walaupun sebagian ciri2 Murji'ah ada pada mrk.
Murji'ah adalah julukan utk kaum atau orang2 yg meyakini bahwa seseorang tdk menjadi kafir dikarenakan perbuatan & perkataannya,
selama dalam hatinya masih terdapat iman. Walaupun orang itu telah mengucapkan kalimat kufur atau melakukan perbuatan kufur,
dia dianggap masih belum murtad dari Islam selama masih ada iman dalam hatinya. Murji'ah ini merupakan lawan dari Khawarij.
Sederhananya Khawarij gampang mengkafirkan seorang muslim, sedangkan Murji'ah menganggap remeh perbuatan kufur seorang .
Misalnya orang yg membenci sesuatu yg dibawa oleh Rasulullah kendatipun ia sendiri mengamalkannya, maka ia jatuh pada kekafiran.
Yang demikian adalah pendapat jumhur ulama, termasuk Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Beliau menyebutnya sbg kemunafikan i'tiqad.
Pendapat beliau ini juga diamini oleh salah seorang penerusnya, Syaikh Abdullah Azzam yg menulis hal itu dlm bukunya "Al-Aqidah".
Namun menurut kaum Murji'ah perbuatan yg disebutkan tadi tidak menyebabkan pelakunya kafir selama masih ada iman di hatinya.
Padahal iman itu mencakup membenarkan kerasulan Muhammad yg berarti membenarkan & menerima semua syari'at yg dibawanya.
Murji'ah & Khawarij trmsk di antara kelompok2 sesat yg menyimpang dari ajaran Islam & mrk dihukumi sesuai kadar penyimpangannya.
Dalam suratnya kepada penduduk Qashim yg menanyakan tentang aqidahnya, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah mengatakan:
Dlm hal menilai sifat2 Allah, posisi firqah an-Najiah (golongan yg selamat) itu di tengah2 antara golongan Qadariyah & Jabariyah.
Dalam hal menilai ancaman, posisi mereka (golongan an-Najiah, red) berada di tengah2 antara golongan Murji'ah & Wa'idiyah.
Dalam hal iman & agama, posisi mereka berada di tengah2 antara golongan Haruriyah & Mu'tazilah; atau antara Murji'ah & Jahmiyah.
Sedangkan dalam memperlakukan para sahabat Rasulullah, posisi mrk berada di tengah2 antara golongan (Syiah) Rafidhah & Khawarij )
Komentar Chef Cumi : posisi golongan an-Najiah itu berada di tengah2 dan dalam banyak hal di tengah2 antara ‪#‎Khawarij‬ & Murji'ah .
Dgn demikian kita tdk gampang mengkafirkan seorang muslim sebelum terbukti melakukan salah satu perbuatan kufur & ia dinasehati.
Dan kita tdk meremehkan apalagi membela perbuatan kufur yg dilakukan seseorang yg mengaku muslim tanpa melakukan koreksi padanya.
Istilah firqah an-Najiah sendiri berkaitan dgn hadits tentang Iftiraqul Ummah yaitu terpecahnya umat Muhammad menjadi 73 golongan .
Dlm hadits itu disebutkan bahwa ke 73 golongan itu msk neraka kecuali satu, yaitu yg disebut dgn an-Najiah (golongan yg selamat).
Hadits ini sangat populer di kalangan Salafi khususnya Madkhalis terutama utk membenarkan kelompok mrk & menyalahkan kelompok Islam yg lain.
Hadits yg oleh kelompok Salafi diyakini dishahihkan oleh para ulama besar sepanjang masa itu sbnrnya tmsk hadits yg diperdebatkan.
Sebagian perawi hadits justru tidak menyebutkan adanya tambahan kalimat: "seluruhnya (golongan itu) di neraka kecuali satu, dst."
Ibnu Hazm & Ibnul Wazir menganggap bahwa hadits tsb maudhu' (palsu), sedangkan at-Tirmidzi menganggapnya hasan gharib.
Imam at-Tirmidzi berkata: "Ini adalah hadits hasan gharib mufassar. Kami tdk mengetahui hadits yg spt ini kecuali dari sisi ini."
At-Tirmidzi suka menyebutkan hadits shahih sbg hasan shahih, al-Qaradhawi bhkn mengatakan beliau terlalu mdh menshahihkan hadits.
Jadi bilamana beliau menyebut suatu hadits sebagai hasan gharib, maka tentu hadits tsb bukan hadits shahih.
Tapi Tirmidzi menshahihkan hadits senada dari Abu Hurairah, yg mana tdk ada tambahan: "seluruhnya akan msk neraka kecuali satu."
Ibnu Hazm berpendapat bahwa tambahan pada hadits tsb sebagaimana yg telah disebutkan di atas adalah maudhu' (palsu).
Ibnul Wazir, seorang mujtahid pembela Sunnah dari Yaman mengatakan bahwa hadits itu dlm sanadnya terdapat orang Nashibi yg lemah.
Nashibi (bentuk jamaknya Nawashib) adalah julukan utk org yg membenci Ali & menyalahkan keputusannya memerangi 'Aisyah & Muawiyah.
Nashibi atau Nawashib punya kebiasaan menjelek-jelekkan Ali bin Abi Thalib & tidak mengakui berbagai keutamaannya.
Org2 Syiah senang menjuluki kaum Sunni sbg Nashibi atau Nawashib, padahal kenyataannya kaum Sunni lebih menghormati Ali drpd mrk.
Ibnu Hajar berkomentar ttg salah satu perawi hadits td yaitu Muhammad bin Amru bin Alqamah al-Laitsi: "Jujur tapi penuh keraguan"
Asy-Syaukani berpendapat: Tambahan "seluruhnya akan msk neraka kecuali satu golongan saja" telah dilemahkan oleh para ahli hadits .
Tapi bila antum katakan soal kelemahan hadits ini pada Madkhalis maka mrk akan membantahnya & mengatakan Syaikh al-Albani menshahihkannya!
Syaikh al-Albani adalah seorang muhaddits kontemporer terkemuka, namun kita dilarang utk mengkultuskan individu & jumud.
Beliau tdk ma'shum, sehingga fatwanya utk hijrah dari Palestina menghindari Israel & menunda jihad, tdk disetujui seluruh ulama.
Kita ambil semua yg baik dari beliau tanpa menutup mata dari pendapat ulama2 yg lain. Jk fatwanya salah beliau tetap dapat pahala.
Para pengagum Syaikh al-Albani rahimahullah hendaklah tdk gampang marah ketika pendapat atau fatwa beliau dikoreksi orang.
Padahal Syaikh al-Albani ini sering mengoreksi karya2 Ibnu Taimiyah, tapi tdk ada ulama yg marah. Begitu juga seharusnya kita.
Kembali ke soal hadits tentang golongan yg selamat tadi. Berangkat dari sejumlah kelemahan atau kejanggalan yg mengikutinya.
Maka menurut Yusuf al-Qaradhawi itulah sebabnya hadits tsb tdk disebut dlm shahih Bukhari & Muslim, padahal temanya sgt penting.
Sedangkan Imam Bukhari & Muslim tidak pernah meninggalkan satu pun bab penting dlm masalah ilmu pengetahuan meskipun satu hadits.
Sehingga bila hadits tsb dianggap shahih oleh sebagian muhaddits, maka pen-shahihannya tidak memenuhi syarat Bukhari & Muslim.
Kita tdk akan membahas lebih jauh atau memperdebatkan soal derajat hadits tsb. Sekarang kita kembali laptop (lapak topik) yaitu Madkhalis.
Syaikh Rabi' al-Madkhali, dianggap sbg sosok pencetus atau pelopor gerakan #Madkhalis (walaupun kelompok ini tdk diakui ada oleh Madkhalis)
Beliau lahir pada tahun 1351 H / 1931 M di desa Jaradiyah dekat kota Shamitah yg berada di wilayah selatan Kerajaan Arab Saudi.
Ayahnya meninggal saat beliau berumur satu tahun & sejak itu ia dibesarkan oleh ibunya yg dibantu oleh pamannya (dari pihak ayah)
Singkat cerita, pada tahun 1961 beliau masuk ke Universitas Syari'ah di Riyadh, lalu pindah ke Universitas Madinah yg baru dibuka
Semasa mudanya atau sblm era 80-an beliau diketahui menjadi anggota Ikhwanul Muslimin sekaligus loyalis asy-Syahid Sayyid Quthb.
Dlm edisi pertama buku yg ditulis semasa dia mjd pendukung Quthb, Rabi' al-Madkhali menulis: "Smg Allah menyayangi Sayyid Quthb,
Dia telah mncapai kebenaran sejati dlm penelitiannya. Adlh tugas gerakan2 Islam utk mengambil faedah dari kesimpulan Sayyid Quthb.
kesimpulan yg berbasis pengetahuan, yg dicapai Sayyid Quthb di akhir masa hidupnya setelah melakukan penelitian yg panjang & dalam.
Dalam kesimpulannya, ia (Sayyid Quthb) amat menekankan Manhaj para Nabi -semoga shalawat & salam tercurah atas mereka."
Rabi' al-Madkhali jg menulis: "Adapun Quthb, maka ia menghasilkan sebuah studi komprehensif dmn ia mencapai kesimpulan yg tepat.
Dia menawarkan nasihat yg tepat kepada umat (Islam) & para pemudanya bahwa umat ini haruslah dibina dgn aqidah yg benar.
dan mereka harus memulai perjalanannya dari titik ini (aqidah, red) dan seterusnya smile emotikon baru dilanjutkan dgn masalah yg lain, red)"
Masih terdapat pujian2 lain dari Rabi' al-Madkhali terhadap Sayyid Quthb dalam buku tsb yg terlalu panjang jika harus dituliskan.
Buku yg dimaksud berjudul "Manhaj al-Anbiya fi al-Da’wa ila Allah" (Metodologi Para Nabi dalam Dakwah menuju Allah).
Edisi pertama diberi pengantar oleh Syaikh Abdur-Rahman Abdul-Khaliq, bekas teman kuliah & sahabat yg di kemudian hari dicelanya.
Beliau dicela & dimusuhi Rabi' al-Madkhali karena melakukan koreksi atas pendapatnya yg tdk henti-hentinya menyerang Sayyid Quthb.
Sehingga Syaikh Bin Baz harus mengeluarkan fatwa no. 1928 tahun 1416 H utk membela kehormatan Syaikh Abdur-Rahman Abdul-Khaliq.
Selain dikenal sbg pendukung Sayyid Quthb, Rabi' al-Madkhali dulunya juga dianggap sbg salah seorang pendukung Juhaiman al-Utaibi .
Juhaiman al-Utaibi, bekas tentara berpangkat Kopral di kesatuan Garda Nasional (pasukan elit KSA) berasal dr suku terkemuka Arab.
Juhaiman & kelompoknya menentang kebijakan Raja Khalid bin Abdul Aziz yg berkuasa sejak thn 1975 setelah terbunuhnya Raja Faishal.
Raja Faishal sendiri dikenal sbg raja yg shaleh, adil & pemberani. Byk yg meyakini dialah pendiri sebenarnya negara Saudi Modern.
Di antara sikapnya yg membuat umat Islam di dunia bangga adalah keputusannya utk terjun dlm perang melawan Israel pada tahun 1973
Dgn kekayaan Kerajaan Arab Saudi yg sgt byk itu dia memberikan dukungan persenjataan & logistik tdk terbatas kpd Mesir & Suriah.
Dia juga memberi sarana & prasarana bagi para mujahidin termasuk Ikhwanul Muslimin yg bersama dgn tentara Arab memerangi Israel.
Krn itu hubungan Kerajaan Arab Saudi & Ikhwanul Muslimin saat itu sangatlah harmonis. AS, Inggris & Israel sgt resah dgn hal ini.
Surat permohonan pembatalan hukuman mati terhadap Sayyid Quthb kepada Presiden Mesir Jamal Abdul Nashir dari Syaikh Bin Baz.
Juga terjadi di masa pemerintahan Raja Faishal, besar kemungkinan beliau terlibat mendorong Syaikh Bin Baz membantu Sayyid Quthb.
Raja Faishal juga terkenal suka mengemukakan ide penggabungan wilayah Islam & kesatuan umat Islam. Ide yg mengarah pada khilafah.
Tentu saja Zionis yg dimotori AS, Inggris & Israel tdk ridha dgn usaha & cita2 Raja Faishal yg terus membahayakan kepentingan mrk .
Maka pada thn 1975, melalui kaki tgnnya di kerajaan yakni Faishal bin Musaid (anak saudara Raja Faisal) Zionis membunuh sang Raja.
Lalu beliau digantikan oleh saudaranya Khalid bin Abdul Aziz yg sebelumnya wakil Raja. Sementara Khalid dikenal dekat dgn Barat.
Maka sejak dipimpin Raja Khalid, arah kebijakan Kerajaan Arab Saudi sedikit demi sedikit bergeser menjadi pendukung Barat.
Selain melunak thdp Israel, Raja Khalid membuka pintu westernisasi di Arab Saudi trmsk mengangkat perwira2 Barat sbg penasehatnya.
Sehingga pada 20 November 1979, Juhaiman brsama 500-an pengikutnya mengambil alih Masjidil Haram di Makkah .http://t.co/Loi1UYx2oq
Juhaiman memprotes kebijakan Raja Khalid yg dituduhnya korup, glamor & menghancurkan budaya Arab secara agresif dgn westernisasi.
Ada 8 tuntutan yg diajukan kelompok Juhaiman al-Utaibi di antaranya penghapusan sistim monarki dinasti yg tdk sesuai ajaran Islam.
Menurut Juhaiman, Islam tdk mengajarkan monarki. Kepemimpinan hrs dipilih oleh org2 mukmin bukan diwariskan secara turun temurun.
Raja Khalid sangat shock dgn aksi kelompok Juhaiman apalagi sejumlah pengikutnya adlh bekas anggota kesatuan elit Garda Nasional.
Hanya orang2 dari suku Arab yg loyal kepada dinasti al-Sa'ud saja yg dapat bergabung menjadi anggota pasukan elit Garda Nasional.
Saat peristiwa itu mendiang Fahd msh menjabat sbg pelaksana harian tugas Raja & Abdullah menjabat Panglima tentara Garda Nasional
Aksi kelompok Juhaiman al-Utaibi ini tdk mampu diatasi oleh tentara Garda Nasional Saudi sehingga mrk meminta bantuan pihak asing.
Satu unit pasukan komando dari Perancis & Pakistan didatangkan ke Makkah utk merebut kmbali Masjidil Haram http://t.co/cK6mBM2Vbj
Keterlibatan tentara Perancis yg notabene non-muslim & haram hukumnya memasuki Masjidil Haram dirahasiakan .http://t.co/LbBfTawrJB
Ada yg menyatakan bahwa mereka diminta berpindah ke agama Islam secara instan untuk keperluan merebut kembali Masjidil Haram itu.
Sementara Amerika diam2 memberi bantuan dgn meminjamkan pilot2 veterannya utk menerbangkan helikopter militer Kerajaan Arab Saudi .
Di darat, sejumlah agen CIA bekerja bersama penasehat2 militer Perancis dalam menyusun strategi utk melumpuhkan kelompok Juhaiman.
CIA juga memasok granat gas air mata & prlengkapan anti serangan senjata kimia pada militer Kerajaan Saudi .http://t.co/uCJmvRjfkL
Kelompok Juhaiman menguasai Masjidil Haram & menyandera jamaah haji selama 2 mnggu sblm akhirnya dikalahkn http://t.co/skPoK8qw6a
Pasukan komando Perancis dibantu pasukan komando Pakistan & Garda Nasional Saudi membanjiri Masjidil Haram dgn air & menyetrumnya
Ada yg mengatakan mrk menembakkan gas saraf ke dalam Masjid yg selain berisi anggota kelompok Juhaiman juga terdapat jamaah2 haji
Akibatnya 250 orang tewas & 600 orang lainnya terluka termasuk sejumlah jamaah haji dalam peristiwa menegangkan itu.
Juhaiman & saudara iparnya Muhammad Abdullah yg dia klaim sebagai Imam Mahdi terbunuh dalam kejadian itu.
Semua pengikutnya termasuk wanita ditangkap, 2 minggu kemudian kepala mrk dipenggal di alun2 empat kota berbeda & disiarkan di TV .
Kerajaan menutup rapat2 informasi ttg keterlibatan pasukan asing dlm peristiwa ini khususnya isu org kafir msk ke Masjidil Haram.
Setelah peristiwa pengepungan Masjidil Haram itu aparat kerajaan melakukan pembersihan besar2an thdp kelompok Juhaiman al-Utaibi .
Polisi menangkapi pengikut & simpatisan Juhaiman al-Utaibi di berbagai kota trmsk di antaranya Rabi' bin Hadi' Umair al-Madkhali.
Krn kemurahan hatinya Syaikh Bin Baz yg menjadi mufti umum kerajaan saat itu meminta kpd Raja agar membebaskn Rabi' al-Madkhali.
Raja Khalid brsedia memenuhi permintaan itu dgn syarat Rabi' al-Madkhali merubah cara pandangnya yg ekstrim thdp dinasti al-Sa'ud.
Rabi' al-Madkhali menerima syarat itu & dia dibebaskan maka sejak itu ia berubah 180 derajat mjd pembela fanatik dinasti al-Sa'ud.
Sejalan dgn itu ia berbalik menentang & menghujat Ikhwanul Muslimin berikut tokoh2nya serta menjuluki mrk dgn julukan2 yg buruk.
Maka berjatuhanlah korban fitnah Rabi' mulai dari tokoh2 IM spt Hasan al-Banna & Sayyid Quthb, hingga ulama2 yg mendukung mereka.
Karya tulisnya yg pernah memuji Sayyid Quthb direvisi, lalu dia menulis beberapa buku lain utk mendiskreditkan Sayyid Quthb & IM.
Walaupun eksistensi & otoritas Rabi' al-Madkhali dalam struktur kelembagaan keagamaan resmi Kerajaan Arab Saudi tidak signifikan.
Namun pengaruhnya di kalangan kelompok Salafi radikal sgt menonjol. Karya2 tulisnya selalu menjadi rujukan Madkhalis dlm menghantam lawannya.
Jabatan tinggi bergengsi yg pernah dipegangnya hanyalah Ketua Jurusan Ilmu Hadits di Universitas Madinah dari tahun 1980 s/d 1990
Saat dia memegang jabatan itu, org2 yg tdk setuju dgn pemikiran & tindakannya menghindar msk ke jurusan Ilmu Hadits Univ. Madinah.
Celaan & fitnahan Rabi' al-Madkhali & #Madkhalis terhadap Sayyid Quthb tdk jauh2 dari soal Wihdatul Wujud, kemakhlukan Qur'an & al Hakimiyah
Yang semua fitnah itu tdk bisa dibantah Quthb krn ia telah syahid, tapi justru dibantah oleh ulama2 besar Salafi di tanah Arab.
Lalu fitnah itu dikembangkan oleh Madkhalis dgn menuduh Ikhwanul Muslimin, tokoh2nya & orang2 yg sepaham atau simpati dgn mrk sbg Khawarij
Tdk cukup sampai di situ, semua jamaah/ kelompok di luar Madkhalis dicap sbg kelompok sesat, hizbiyyun, pembenci ulama ahlus sunnah, dsb.
Maka jgn kaget jika baru2 ini mufti Mesir, Ali Jum'ah -seorang Madkhalis, mengeluarkan fatwa boleh membunuh org2 yg menentang militer mesir.
Ali Jum'ah telah mjd mufti sejak pemerintahan Mubarak. Ketika kelompok liberal didukung Kristen & Syiah mendemo Presiden Mursi.
Tidak keluar ocehannya soal boleh membunuh demonstran anti Presiden Mursi. Tapi ketika orang2 menentang pemerintahan hasil kudeta .
Ali Jum'ah justru mndorong rezim ilegal pimpinan si penjagal Fatteh al-Sisi utk membunuh lbh banyak muslim yg menentang kudetanya.
Maka semua ini berangkat dari kebencian Ali Jum'ah terhadap Ikhwanul Muslimin khususnya & kaum muslimin di luar kelompok Madkhalis umumnya
Dan tdk percuma Husni Mubarak mengangkat seorang Madkhalis sbg mufti, sayangnya Presiden Mursi membiarkan orang itu tetap memegang jabatan.
Lebih rinci ttg paham & fitnah kelompok Madkhalis ini nanti akan kita urai satu per satu agar tweeps dapat menilai siapa mrk sesungguhnya.
Syaikh Bakr Abdullah Abu Zaid -anggota Hay'ah Kibar al-Ulama Saudi Arabia, pernah mengomentari buku karya Rabi' al-Madkhali.
Yang berjudul Adhwa' Islamiyyah 'Ala 'Aqidati Sayyid Quthb wa Fikrih yg berisi tuduhan bahwa Sayyid Quthb penganut Wihdatul Wujud.
dan penganut paham Khalqul Qur'an (bahwa Qur'an itu makhluk), dsb. Beliau (Syaikh Bakr Abdullah Abu Zaid hafizhahullah) berkata:
"Sesungguhnya dalam buku Sayyid Quthb rahimahullah yg berjulul Muqawwimat at-Tashawwur al-Islamiy terdapat bantahan yg tegas,
thdp org2 yg mengatakan Wihdatul Wujud. Utk itu kami katakan: smg Allah mengampuni Sayyid Quthb atas perkataan mutasyabih (samar)
yg beliau utarakan dgn suatu uslub dimana terdapat ibarat yg luas didlmnya. Dan, perkataan yg samar dari Sayyid Quthb semacam ini.
harus dikalahkan dgn perkataan lain dari Sayyid Quthb yg tegas." Lalu Syaikh Bakr Abdullah Abu Zaid menasehati Rabi' al-Madkhali,
"Di antara daftar isi (bukumu) tertulis perkataan Sayyid Quthb ttg Khalqul Qur'an & bahwa Kalam Allah adlh Ibarat Suatu ...........
Tetapi ketika saya membaca halaman2 yg disebutkan, saya tdk mendapatkan satu hurufpun yg menunjukkan Sayyid Quthb mengatakan itu
(maka) Kenapa begitu mudahnya anda (Rabi' al-Madkhali) melemparkan tuduhan takfir seperti ini (kepada Sayyid Quthb)?"
Sebenarnya komentar Syaikh Bakr itu adlh respon atas desakan Rabi' al-Madkhali kpd beliau utk memberi kata pengantar utk bukunya
Namun yg didapatkan Rabi' al-Madkhali bukannya pujian melainkan nasehat yg tegas & Syaikh Bakr meminta Rabi' mencabut bukunya itu
Komentar Syaik Bakr Abdullah Abu Zaid tentang buku Rabi' al-Madkhali tsb lengkapnya dapat dibaca di sini http://t.co/iaud4fvszn
Syaikh Abdullah al-Jibrin rahimahullah -seorang ulama ahlus sunnah terkemuka di Arab, berkata ttg Hasan al-Banna & Sayyid Quthb:
"Saya katakan, sesungguhnya Sayyid Quthb & Hasan al-Banna adalah termasuk ulama kaum muslimin & termasuk ahli dakwah.
Sesungguhnya Allah Ta'ala telah memberikan manfaat & petunjuk melalui mereka berdua dgn dakwahnya kepada banyak orang.
Karena hal inilah Syaikh Bin Baz memberikan syafaatnya utk Sayyid Quthb ketika pengadilan memutuskan hukuman mati terhadap beliau.
Namun permohonan beliau ditolak Presiden Jamal Abdul Nashir, semoga Allah memberi balasan yg setimpal pd Jamal atas perbuatannya.
Kemudian para ulama menyambut baik buku-buku karya mereka berdua, dan Allah Ta'ala telah memberi manfaat dalam buku2 tsb.
Dan, tidak ada yg seorangpun yg menjelek-jelekkan mereka berdua sejak lebih dari dua puluh tahun."
Maka yg dimaksud Syaikh Abdullah al-Jibrin adalah selama 20 tahun sejak Sayyid Quthb syahid tahun 1966, atau hingga tahun 1986,
Tdk seorangpun ulama yg menjelek-jelekkan al-Banna & Sayyid Quthb. Komparasi dgn perubahan Rabi' al-Madkhali & munculnya kelompok.
Lebih spesifik, paska perang teluk I (tahun 1991) muncul sebuah buku fitnah yg ditulis oleh seseorang yg memakai nama samaran.
Buku itu berjudul "Al-Quthbiyyah Hiya al-Fitnah Fa'rifuha", ditulis oleh Abu Ibrahim bin Sulthan al-Adnani, tanpa kata pengantar.
Padahal lazimnya di kalangan ulama Saudi & selainnya, mrk memberikan/meminta kata pengantar satu sama lain bilamana menulis buku.
Buku ini terbit sangat mgkn muncul berkaitan dgn penolakan sebagian kaum muslimin atas dukungan Saudi pada AS dlm perang teluk.
Yang mana ketika itu Raja Fahd memberi dukungan kepada pemimpin negara2 kafir khususnya AS utk menyerang Irak atau Saddam Husein.
Termasuk mengizinkan Amerika membangun pangkalan militernya di Arab Saudi. Sehingga menimbulkan ikhtilaf di kalangan para ulama.
Para ulama yg mendukung kebijakan ini beralasan bahwa izin ini hanya sementara, utk menumbangkan Saddam Husein yg dianggap kafir.
Tapi faktanya pangkalan militer itu msh ada hingga hari ini. Bahkan laporan terbaru dari BBC bulan Februari yg lalu mengungkapkan.
AS mengoperasikan skuadron pesawat tanpa awak (drone) dr wilayah Arab Saudi utk membunuhi mujahidin Yaman http://t.co/IPBjz6zlcg .
Bbp wartawan bahkan bulan Juli lalu mengabarkan apa yg mrk sebut pangkalan drone AS di wilayah Arab Saudi http://t.co/ovlSMtrFjS .
Maka serangan2 terhadap Ikhwanul Muslimin, terlebih lagi tokoh2nya seperti Sayyid Quthb & Hasan al-Banna mulai gencar setelah itu.
Terutama disebabkan Ikhwanul Muslimin mendukung Saddam Husein memerangi invasi Amerika ke Irak yg kebetulan didukung Arab Saudi.
Terutama disebabkan Ikhwanul Muslimin mendukung Saddam Husein memerangi invasi Amerika ke Irak yg kebetulan didukung Arab Saudi.
IM sendiri sejatinya tdk mendukung pemerintahan Saddam, namun melihat kemudharatan yg lebih besar yg bakal timbul dari invasi AS.
Maka mrk berdemonstrasi menolak invasi Amerika ke Irak yg tidak lain bertujuan utk menduduki tanah Arab & membunuh kaum muslimin.
Ikhwanul Muslimin saat itu sama sekali tidak mencela Arab Saudi apalagi memusuhinya walaupun Rajanya membantu AS menyerang Irak.
Namun Madkhalis kemudian memanfaatkan momen itu utk mengobarkan kebencian pada Ikhwanul Muslimin, tokoh2nya & siapa saja yg simpati dgn mrk.
Sumber:
http://chirpstory.com/li/139099?page=7
bersambung in sya Allah..
Twitter / ?
TWITTER.COM
Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Pesan yang baik, jangan emosional.Bila ingin mengkeritisi, pakailah dalil yang sahih.Dan identitasnya jelas. Komentar emosional, tidak ditayangkan