Kamis, April 14, 2016

Pembunuh Khalifah Ali bin Abi Thalib

Saya terima kiriman wats app  dari Bpk Faishal bos penerbit Hikmah perdana sbb:

MEWASPADAI GENERASI IBNU MULJAM
Ali bin ABi Thalib gugur sebagai syahid pada waktu subuh tanggal 7 Ramadhan akibat tebasan pedang salah seorang anggota sekte Khawarij yang bernama Abdurrahman bin Muljam Al Murodi. Uniknya sang pembunuh ini melakukan aksinya sambil berkata,

“Hukum itu milik Allah, wahai Ali. Bukan milikmu dan para sahabatmu.”

Tidak berhenti sampai di situ, saat melakukan aksi bejadnya ini Ibnu Muljam juga tidak berhenti mulutnya mengulang-ulang ayat 207 surat Al Baqarah yang artinya,

“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.”

Tatkala khalifah Ali bin Abi Thalib akhirnya gugur, Ibnu Muljam pun dieksekusi mati dengan cara diqishas. Proses qishasnya pun bisa membuat kita tercengang karena saat tubuhnya telah diikat untuk dipenggal kepalanya, ia masih sempat berpesan kepada algojo yang mendapat tugas melakukan eksekusi,

“Jangan penggal kepalaku sekaligus. Tapi potonglah anggota tubuhku sedikit demi sedikit hingga aku bisa menyaksikan anggota tubuhku disiksa di jalan Allah.”

Demikianlah keyakinan Ibnu Muljam yang berpendapat bahwa membunuh Ali bin Abi Thalib yang nota bene salah satu sahabat yang dijamin masuk surga, menantu (suami Sayyidah Fathimah) dan saudara sepupu Rasulullah dan ayah dari Hasan dan Husein, dua pemimpin pemuda ahli surga, sebagai tindakan ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Aksi yang dilakukan oleh Ibnu Muljam ini adalah realitas pahit yang kita lihat pada kehidupan ummat Islam sekarang dimana diantara para pemuda kita terdapat kelompok yang giat melakukan provokasi untuk membunuh kaum muslimin yang tidak berdosa. Kelompok ini menggunakan intimidasi dan aksi kekerasan sebagai strategi perjuangan mereka. Merekalah yang pada raut wajahnya memancarkan hidayah dan mereka juga senantiasa membaca Al Qur’an di waktu siang dan malam. Namun sesungguhnya mereka adalah kelompok yang merugi sebab karakteristik mereka tepat sebagaimana sinyalemen yang disampaikan Rasulullah dalam sebuah hadits yang artinya,

“iasg para lelaki yang membaca Al Qur’an tanpa melampaui tulang selangka mereka. Mereka telah keluar dari agama laksana keluarnya anak panah dari busur.”

Kebodohan mengakibatkan mereka merasa berjuang membela kepentingan agama Islam padahal hakikatnya mereka sedang memerangi Islam dan kaum muslimin.

Ibnu Muljam sejatinya adalah iasg lelaki yang shalih, zahid dan bertaqwa. Bukan lelaki iasg yang buta sama sekali terhadap ilmu agama. Di wajahnya terlihat dengan nyata jejak sujud. Ia juga hapal Al Qur’an dan sekaligus sebagai guru yang berusaha mendorong orang lain untuk menghapalkannya. ‘Umar bin Khatthab pernah menugaskannya ke Mesir demi mengabulkan permohonan ‘Amr bin ‘Ash yang memohon kepada beliau untuk mengirim ke Mesir iasg yang hafal Al Qur’an untuk mengajarkannya kepada penduduk Mesir. Tatkala ‘Amr bin ‘Ash meminta,

“Wahai amirulmukminin, kirimkanlah kepadaku lelaki yang hafal Al Qur’an untuk mengajari penduduk Mesir, “

‘Umar menjawab, “Saya mengirimkan untukmu seorang lelaki bernama Abdurrahman bin Muljam, salah seorang ahli Al Qur’an yang aku prioritaskan untukmu dari pada untuk diriku sendiri. Jika ia telah iasg kepadamu maka siapkan rumah untuknya untuk mengajarkan Al Qur’an kepada kaum muslimin dan muliakanlah ia…!.”

Meskipun Ibnu Muljam hafal Al Qur’an, bertaqwa dan rajin beribadah namun semua itu tidak bermanfaat baginya. Ia mati dalam kondisi su’ul khatimah, tidak membawa iman dan Islam akibat kedangkalan ilmu agama yang dimilikinya dan berafiliasi dengan sekte Khawarij yang telah meracuni para pemuda muslim sehingga melakukan aksi-aksi yang bertentangan dengan nilai-nilai luhur agama Islam namun justru mengklaim semua itu dalam rangka membela ajaran Allah dan Rasulullah.

Bercermin dari iasg Ibnu Muljam tentu kita tidak perlu merasa aneh jika sekarang muncul kelompok-kelompok ekstrim yang mudah memvonis kafir terhadap iasg muslim yang berbeda pandangan melakukan tindakan yang sama persis dilakukan oleh Ibnu Muljam. Mereka mengklaim berjuang menegakkan agama Allah namun faktanya justru menebar ketakutan kepada ummat Islam dan menciptakan konflik internal berdarah-darah yang membuat mustahil membangun persatuan iasg kaum muslimin.

Oleh karena itu menjadi tugas bersama para ulama dan umaro’ untuk membentengi kaum muslimin di Indonesia dari ide-ide keagamaan destruktif yang dikembangkan oleh generasi pewaris Abdurrahman bin Muljam dan untuk berusaha keras menghalangi siapapun yang ingin menjadikan Indonesia sebagai iasg subur bagi tumbuhnya kelompok-kelompok khawarij modern yang iasg namun miskin ilmu.

Wallahu A’lam.

Komentarku ( Mahrus ali ): 
Komentar dari Abu Ja`far  Abdullah al Khulaifi seorang peneliti tentang  sejarah Umar bin Al Khatthab menyatakan :


أبو جعفر عبد الله الخليفي  أبو جعفر عبد الله الخليفي غير متواجد حالياً
عضو
وقيل: إن عمر كتب إلى عمرو: أن قرّب دار «عبد الرحمن بن ملجم» من المسجد؛ ليعلّم الناس القرآن والفقه. فوسّع له مكان داره، وكانت إلى جانب دار «عبد الرحمن بن عديس» البلوى (يعنى: أحد من أعان على قتل عثمان)"

وها أنت ترى أنه يقول ( قيل ) وهذه صيغة تمريضية ولم يسند الخبر في ذلك
Intinya , kamu akan melihat bahwa berita pujaan Umar bin Khattab itu menggunakan redaksi yang ber illat , tidak vali ,  yaitu menggunakan kalimat Qiila  - artiknya di katakan . Kita tidak tahu   siapa yang mengatakan  spt itu. Tiada  sanad  yang valid tentang berita itu

ونقل هذا عن ابن يونس الذهبي في سير أعلام النبلاء (2/ 539) ، وكذا الحافظ ابن حجر في لسان الميزان

وأما الصيغة المشهورة عند المعاصرين وهي قول عمر :" إني مرسل إليك رجلاً آثرتك به على نفسي هو عبد الرحمن بن ملجَم فإذا أتاك بكتابي هذا فاتخذ له داراً يقريء الناس فيها القرآن"
Intinya : Redaksi yang iasg menurut ulama  kontemporer tentang perkataan Umar : Sesungguhnya sy  mengutus untuk mu seorang yang saya lebih mendahukukan dia dari pada diri sy   yaitu Abd Rahman bin Muljam . Bila dia datang dengan membawa  surat sy ini , maka bikinkan rumah untuk dia agar dia bisa mengajari manusia membaca al quran.

فهذه الصيغة لم أجدها في كتب المتقدمين، وإنما وجدت أن الشيخ صالح آل الشيخ ذكرها وتابعه غيره ، ولا يمكن إثبات أثر عن عمر بن الخطاب بقول ابن يونس ( قيل ) فإن هذا إعضال شديد ، على الأقل بهذه الصيغة ، ولا أدري إن كان ورد الخبر بصيغةٍ أخرى ، وإن كنت راجعت مظان الخبر فلم أجد

فأرجو من الإخوة الإفادة
Intinya : Redaksi  tersebut tidak saya jumpai  di kitab – kitab ulama dulu. Saya hanya menjumpai  Syaikh Shalih Aalus syaikh menyebutnya  , begitu juga ulama lain. Tapi juga sulit sekali di katakana valid . Ibn Yunus sendiri juga menyatakan  dengan kalimat Qiila  . Ini masih sulit sekali ( kabar tsb sulit sekali dikatakan benar .
( Maaf terjemahan ringkas sj ).

Di kiriman wats app dikatakan:
Oleh karena itu menjadi tugas bersama para ulama dan umaro’ untuk membentengi kaum muslimin di Indonesia dari ide-ide keagamaan destruktif yang dikembangkan oleh generasi pewaris Abdurrahman bin Muljam dan untuk berusaha keras menghalangi siapapun yang ingin menjadikan Indonesia sebagai ladang subur bagi tumbuhnya kelompok-kelompok khawarij modern yang militan namun miskin ilmu.

Komentarku ( Mahrus ali ): 
Kayaknya dia ini mengajak  ulama  agar bersatu dengan para thaghut negara sekuler yang disamakan dengan khilafah Islam di masa khalifah Ali bin Abi Thalib. Beda sekali, tidak sama
Khilafah  saat itu menggunakan hokum al quran dan Negara sekuler menginjak al quran dan menjunjung hokum thaghut. 

Mau nanya hubungi kami:
088803080803( Smartfren). 081935056529 (XL )
 https://www.facebook.com/mahrus ali MKnu
wastsApp 088803080803

BBM invite 5E6821C9
Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Pesan yang baik, jangan emosional.Bila ingin mengkeritisi, pakailah dalil yang sahih.Dan identitasnya jelas. Komentar emosional, tidak ditayangkan