Jumat, April 15, 2016

Ulil: 90 Persen Alquran itu Pendapat Para Pengarang

Ulil: 90 Persen Alquran itu Pendapat Para Pengarang





Ulil Abshar Abdalla mengatakan bahwa 90 persen Alquran memakai pendapatnya pengarang. (republika.co.id)

dakwatuna.com – Jakarta. �Dedengkot Jaringan Islam Liberal (JIL) Ulil Abshar Abdalla kembali mengeluarkan pendapat yang memancing perdebatan. Kali ini ia menafsirkan ajaran Alquran dengan sesukanya.
Lewat dialog dengan salah satu followernya di akun twitter, ketika dinilai sesukanya dalam menafsirkan ajaran Alquran, dengan enteng ia menjawab bahwa Alquran itu isinya hasil pendapat para pengarang.
“90% Quran yg ada dlm sejarah Islam memamakai pendapatnya pengarang. Kalau ngga pake pendapat, ya ndak bisa.” Jawabnya.
Dialog ini terkait dengan pendapat ulil ketika membandingkan Islam Nusantara dengan salah satu ajaran didalam agama kristen, yaitu ajaran Katolik.
“Jadi perbandingannya: Islam Nusantara paralel dg Katolik. Islam liberal dg Protestan liberal. Islam “Jonru” dg Protestan fundamentalis,” ujarnya melalui akun�Twitter@ulil.
Ulil bahkan menggunakan istilah islam �Jonru� yang ditujukan kepada Jonru Ginting, pemilik akun @jonru yang kerap menjadi sasaran kritik Ulil.


Sumber: http://www.dakwatuna.com/2015/08/25/73682/ulil-90-persen-alquran-itu-pendapat-para-pengarang/#ixzz45uxezi5h 
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook

Komentarku ( Mahrus ali ): 
Bila maksud ulil abshar ini isi al quran dari pendapat para pengarang, maka  sangat membahayakan  akidah. Ulil menyatakan bahwa 90 % al quran itu dari pendapat pengarang bukan dari Allah. Ini kekufuran yang nyata dan menentang dalil :
وَإِن كُنتُمْ فِي رَيْبٍ مِّمَّا نَزَّلْنَا عَلَىٰ عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِّن مِّثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُم مِّن دُونِ اللَّهِ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ
Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. Baqarah 23.
Orang yang menyatakan spt itu bisa kafir sekalipun rajin salat, ber ahlak baik dan berjuang  dengan sungguh.
Tapi bila maksud Ulil abshar ini tafsir al quran yang beredar di dunia ini, maka masih bisa di toleransi. Walaupun mentafsiri ayat al Quran dengan retorika, pendapat  adalah dilarang.


Khalifah Umar bin Al Khatthab pernah berkata:
اِتَّقُوا الرَّأْيَ فِي دِيْنِكُمْ
Berhati – hatilah terhadap pendapat  dlm masalah agama mu
( Madkhol ils sunnan al kubra karya al baihaqi 190, 192 . Atsar no 217.
Komentarku ( Mahrus ali ): 
Maksudnya dlm beragama  carilah dalil yang sahih, valid buat pegangan, bukan pendapat manusia , kadang benar dan kadang keliru.
Bila anda menggunakan pendapat orang bukan dalil, maka pendapat orang itu banyak, kadang bertentangan , lalu anda akan kesulitan  sendiri  dlm memilih mana yang benar yang harus di pegangi dan mana yang salah yang harus dilepaskan.
Sahabat Umar juga pernah berkata:
إِيَّاكُم وَأَصْحَابَ الرَّأْيِ؛ فَإِنَّهُمْ أَعْدَاءُ السُّنَنِ. أَعْيَتْهُمُ اْلأَحَادِيْثُ أَنْ يَحْفَظُوْهَا، فَقَالُوا بِرَأْيِهِمْ، فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا
Berhati – hatilah kalian  terhadap orang – orang yang suka berpendapat ( dlm masalah agama ) . Sesungguhnya mereka anti sunnah. Mereka  sulit menghapalkan hadis  - hadis , lalu  berkata  dengan pendapat mereka. Mereka sesat dan menyesatkan.

( Al madkhal ilas sunan kubra  191. Masruq juga berkata spt itu  dlm kitab Jami` bayanil ilmi  168/2.
Kita berusaha mentafsiri ayat al Quran dengan ayat lain . Ayat  satu kadang  maksudnya di jelaskan dalam ayat lain, kadang  juga di jelaskan dalam hadis sahih. Kadang juga dijelaskan dengan perbuatan Rasulullah shallahu alaihi wasallam.
Kita berusaha menghindari  tafsir ayat al quran dengan pendapat kita tanpa dalil, kadang bertentangan dengan dalil  kadang tidak.
Berbicara  tentang tafsir ayat  dengan pendapat kita  sama dengan mengarahkan maksud ayat  sesuai dengan kehendak kita bukan kehendak Allah . Pegangilah ayat  sbb:
  وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولاً

               Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mengetahui dalilnya . Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. 
Bila maksud ayat al quran ini di arahkan kepada pendapat pengarang tafsir dan jumlah pengarang tafsir sangat banyak, maka akan terjadi berbagai macam pentafsiran yang bertentangan atau mungkin  sama  tapi tdk cocok  dengan maksud ayat. Bila  cocok maka  boleh kita buat pegangan . Bila  tidak, maka  kita lemparkan saja.
 Dan kemurnian ajaran agama ini akan ternoda bila  ayat al quran di tafsiri menurut kehendak pengarang tafsir tanpa dalil.
Imam Malik ra berkata:
مَا مِنَّا إِلاَّ رَادٌّ وَمَرْدُوْدٌ عَلَيْهِ إِلاَّ صَاحِبُ هَذَا الْقَبْرِ
Pendapat kita ini ada yang ditolak juga ada yang diterima kecuali penghuni kuburan ini .
Lantas Imam Malik berisarat kepada kuburan Rasulullah SAW.

Imam Syafii juga berkata:
إِذَا قُلْتُ قَوْلاً وَجَاءَ الْحَدِيْثُ عَنْ رَسُوْلِ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِخِلَافِهِ، فَاضْرِبُوا بِقَوْلِي الْحَائِطَ
Bila aku berkata suatu perkataan lalu ada hadis dari Rasulullah SAW  yang bertentangan dengannya, maka lemparkan perkataanku ini ke dinding. 

  
Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Pesan yang baik, jangan emosional.Bila ingin mengkeritisi, pakailah dalil yang sahih.Dan identitasnya jelas. Komentar emosional, tidak ditayangkan