Kamis, Mei 05, 2016

Gereja-gereja di Jerman semakin kehilangan jemaatnya, Islam siap menjadi 'tren' baru Fath




 Gereja-gereja di Jerman semakin kehilangan jemaatnya, Islam siap menjadi 'tren' baru

David Stang, dulunya merupakan penganut Katolik yang taat dan aktif di gereja, kini ia memilih untuk memeluk Islam dan kini ia merasa telah menemukan dirinya sendiri. (Foto: DW / K. Dahmann)
Laporkan iklan tak layak
BERLIN (Arrahmah.com) – Dua organisasi gereja terbesar di Jerman, Katolik dan Protestan, semakin kehilangan jemaatnya. Bahkan jurusan teologi di berbagai universitas Jerman mengalami penurunan peminat.
Gereja Katolik Jerman kehilangan hampir 180.000 jemaatnya tahun lalu, itu artinya 50% lebih banyak dari tahun sebelumnya.
Sementara, Gereja Protestan Jerman juga semakin berkurang jemaatnya, walaupun penurunannya tidak sedrastis Katolik.
Dengan berkurangnya jumlah anggota, organisasi gereja semakin berkurang pemasukannya. Karena di Jerman, orang yang jadi anggota gereja, juga membayar pajak gereja. Bagi orang berpenghasilan menengah, jumlah yang harus dibayar adalah sampai beberapa ratus Euro per tahun.
Dalam beberapa tahun terakhir, banyak orang keluar dari anggota gereja akibat sejumlah besar kasus pelecahan seksual oleh imam dan pekerja organisasi gereja yang terkuak. Gereja Katolik didera skandal berjumlah sangat besar dan paling jadi sasaran kritik.
Jumlah orang yang keluar dari gereja Katolik kembali memuncak pertengahan 2013. Biaya pembangunan rumah baru uskup di daerah Limburg jadi berita hangat. Awalnya hanya empat juta Euro, kemudian naik jadi lebih dari 30 juta. Ketika tekanan makin besar, Uskup Franz-Peter Tebartz-van Elst ajukan pengunduran diri kepada Paus. Tapi banyak anggota tidak percaya lagi pada gereja Katolik Jerman.
Dua organisasi gereja terbesar di Jerman alami dilema yang sama. Jumlah mahasiswa jurusan teologi berkurang. Yang ingin menjadi imam Katolik juga semakin sedikit. Misalnya gereja Katolik, jumlah imamnya sekarang berkurang seperempat dibanding 1995. Tetapi jumlah pekerja pelayanan iman yang tidak memiliki ijazah resmi bertambah.
Semakin banyak komunitas gereja yang hadapi kesulitan untuk terus eksis. Kedua organisasi gereja terbesar masih memiliki 45.000 gereja. Sejumlah besar komunitas terpaksa disatukan dalam beberapa tahun terakhir. Anggota gereja Katolik Sankt Gertrud di Köln misalnya, sudah disatukan dengan tiga gereja lainnya. Banyak gedung gereja sudah tidak digunakan lagi untuk beribadat.
Mengurus bangunan gereja perlu biaya besar, terutama jika harus diperbaiki. Pakar memperkirakan, hampir 10% bangunan gereja harus dijual. Gereja Martini di Bielefeld misalnya, sejak 2005 jadi restoran. Balkon di dalam gereja yang menjadi tempat organ jadi ruang untuk tamu spesial.
Banyak orang yang tidak merasa memperoleh apapun dari gereja mulai mencari agama lain. Misalnya David Stang. Ia dulunya penganut Katolik, bahkan dulu ia aktif dan jadi putra altar. Kini, ia memeluk Islam dan merasa menemukan dirinya sendiri. (fath/dw/arrahmah.com)
Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Pesan yang baik, jangan emosional.Bila ingin mengkeritisi, pakailah dalil yang sahih.Dan identitasnya jelas. Komentar emosional, tidak ditayangkan