Sabtu, Mei 07, 2016

Jawabanku untuk Bapak Ubaid yg tinggal di Surabaya – seri ke 1




Ubaid Pemberantas Syirik yg tinggal  di Surabaya menulis :  Beberapa riwayat dibawah ini menunjukkan bahwa Nabi saw dan para sahabatnya tidak selalu sholat ditanah tetapi juga di pasir dan batu.
1. Beralas pasir yaitu:
Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar r.a, bahwa dalam perjalanan umrah dan haji Rasulullah s.a.w pernah singgah di Dzul Hulayfah di bawah pohon Samurah di sekitar tempat shalat yang ada di Dzul Hulayfah. Ketika Rasulullah s.a.w pulang dari peperangan, umrah atau haji, beliau menuruni lembah di jalan itu. Sesudah sampai di lembah itu beliau menghentikan untanya di aliran air di bagian timur lembah, lalu beliau beristirahat di situ sampai pagi. Di tempat itu tidak ada masjid yang dibangun dari batu dan tidak ada pula masjid di atas bukit. Di situ ada sebidang tanah yang menjorok yang di tengahnya ada tumpukan pasir yang ditempati oleh Abdullah bin Umar untuk shalat. Rasulullah s.a.w pernah melakukan shalat di tempat itu, namun tempat yang dipergunakan shalat oleh Abdullah bin Umar itu akhirnya hanyut dan tenggelam karena terkena aliran air.
(Hadits shahih Imam Bukhari, nomor hadits : 484)

Komentarku ( Mahrus ali )
 Kalimat arabnya sedemikian .

صحيح البخاري (1/ 104)
أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ، أَخْبَرَهُ «أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَنْزِلُ بِذِي الحُلَيْفَةِ حِينَ يَعْتَمِرُ، وَفِي حَجَّتِهِ حِينَ حَجَّ تَحْتَ سَمُرَةٍ فِي مَوْضِعِ المَسْجِدِ الَّذِي بِذِي الحُلَيْفَةِ، وَكَانَ إِذَا رَجَعَ مِنْ غَزْوٍ كَانَ فِي تِلْكَ الطَّرِيقِ أَوْ حَجٍّ أَوْ عُمْرَةٍ هَبَطَ مِنْ بَطْنِ وَادٍ، فَإِذَا ظَهَرَ مِنْ بَطْنِ وَادٍ أَنَاخَ بِالْبَطْحَاءِ الَّتِي عَلَى شَفِيرِ الوَادِي الشَّرْقِيَّةِ، فَعَرَّسَ ثَمَّ حَتَّى يُصْبِحَ لَيْسَ عِنْدَ المَسْجِدِ الَّذِي بِحِجَارَةٍ وَلاَ عَلَى الأَكَمَةِ الَّتِي عَلَيْهَا المَسْجِدُ»، كَانَ ثَمَّ خَلِيجٌ يُصَلِّي عَبْدُ اللَّهِ عِنْدَهُ فِي بَطْنِهِ كُثُبٌ، كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَمَّ يُصَلِّي، فَدَحَا السَّيْلُ فِيهِ بِالْبَطْحَاءِ، حَتَّى دَفَنَ ذَلِكَ المَكَانَ، الَّذِي كَانَ عَبْدُ اللَّهِ يُصَلِّي فِيهِ
. Ketika Rasulullah s.a.w pulang dari peperangan, umrah atau haji, (  beliau melewati jalan itu ). Beliau menuruni lembah di jalan itu.
فَإِذَا ظَهَرَ مِنْ بَطْنِ
Sesudah sampai di lembah itu

Mestinya  terjemahannya adalah ketika di akhir lembah.
 أَنَاخَ بِالْبَطْحَاءِ الَّتِي عَلَى شَفِيرِ الوَادِي الشَّرْقِيَّةِ

beliau menghentikan untanya di aliran air di bagian timur lembah,

Terjemahanku ( Mahrus ali ) .
Beliau menghentikan untanya di Bath – ha` di tepi lembah timur.
Komentarku ( Mahrus ali )
صحيح البخاري (1/ 104)
(بالبطحاء) المسيل الواسع المجتمع فيه صغار الحصى من سيل الماء
Bath- ha` adalah selokan air yg luas banyak kerikil  dari aliran air .
فَعَرَّسَ ثَمَّ حَتَّى يُصْبِحَ
lalu beliau beristirahat di situ sampai pagi. ( Salah terjemahan ) .
Terjemahanku ( Mahrus ali ) :
Lalu beliau  tidur  sebentar  di situ  sampai pagi .
Komentarku ( Mahrus ali ) :
Maksud nya  tidur sebentar  spt istirahatnya  seorang musafir.

فتح الباري لابن رجب (2/ 595)
 المراد بالتعريس هنا : نومة حتى يصبح
Maksud Ta`ris  disini  adalah tidur sampai subuh / pagi.



لَيْسَ عِنْدَ المَسْجِدِ الَّذِي بِحِجَارَةٍ وَلاَ عَلَى الأَكَمَةِ الَّتِي عَلَيْهَا المَسْجِدُ»،
Di tempat itu tidak ada masjid yang dibangun dari batu dan tidak ada pula masjid di atas bukit. ( terjemahan keliru )
Terjemahanku ( Mahrus ali )
Bukan di sisi masjid yg di atas batu   juga bukan  pada undukan tanah yg ada masjidnya.



 كَانَ ثَمَّ خَلِيجٌ يُصَلِّي عَبْدُ اللَّهِ عِنْدَهُ فِي بَطْنِهِ كُثُبٌ، كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَمَّ يُصَلِّي،

Di situ ada sebidang tanah yang menjorok yang di tengahnya ada tumpukan pasir yang ditempati oleh Abdullah bin Umar untuk shalat. ( salah terjemahan )

Terjemahanku ( Mahrus  ali ) :
Di sana ada teluk , Abdullah  menjalankan shalat di sisinya , di tengahnya  ada bukit pasir, Abdullah menjalankan shalat disisi  teluk.

فَدَحَا السَّيْلُ فِيهِ بِالْبَطْحَاءِ، حَتَّى دَفَنَ ذَلِكَ المَكَانَ، الَّذِي كَانَ عَبْدُ اللَّهِ يُصَلِّي فِيهِ

, namun tempat yang dipergunakan shalat oleh Abdullah bin Umar itu akhirnya hanyut dan tenggelam karena terkena aliran air.
Terjemahanku :

Namun  terjadi  banjir di Bath- ha lalu tananya terbawa  air  dan menutupi selokan tadi lalu membenamkan tempat yg di gunakan shalat oleh  Abdullah .


(Hadits shahih Imam Bukhari, nomor hadits : 484)
Komentarku ( Mahrus ali )
Ternyata banyak terjemahannya  yg salah, menyesatkan bukan  terjemahan yg benar yg mengarahkan kpd kebenaran pula. Terjemahan yg membayakan dan tdk menyelamatkan.
Lalu dengan  terjemahan yg salah itu dibuat landasan  untuk memperkenankan shalat wajib di sajadah, tambah salah .  Sudah salah di tambah kesalahan, mestinya kesalahan dikurangi atau di hindari.
Saya  tdk mengerti apakah Bapak Ubaid yg tinggal di Surabaya ini meng kopi pasthe atau  menterjemahkan sendiri. Saya  masih menghurmatinya , tdk meremehkannya . Sy suka  dengan orang yg beda pendapat  dengan sy dg alasan ilmiyah . Sy benci  dg orang yg beda dengan sy dengan argumentasi asbun , tidak ilmiyah tp emosional .
Pernah saya Tanya tentang  hal semacam ini  - terjemahan tanpa arabnya . Bapak Ubaid bilang dari  copasan belaka.
Ya, bgt lah bahaya mengambil  ajaran agama  dari terjemahan.  Dan manfaat ngerti ahasa arab hingga bias membedakan antara terjemahan yg salah fatal  dengan terjemahan yg benar.
 Ternyata  terjemahan yg di buat pegangan oleh bapak Ubaid keliru dan menyesatkan. Ingin  selamat , hrs di lihat kwalitas terjemahan dan jam terbang si penerjemah dlm dunia terjemahan dari arab ke Indonesia atau dari Indonesia ke arab.
Walaupun demikian , dlm hadis tsb tdk  bisa di buat pegangan untuk memperbolehkan  shalat wajib di sajadah. Tiada keterangan  untuk itu. Bahkan saat Rasulullah shallahu alaihi wasallam menjalankan  shalat di padang pasir tanpa sajadah. Dan shalat wajib di pasir hrs diperbolehkan, bukan dilarang . Ia adalah masih sunnah Rasulullah shallahu alaihi wasallam. Dan memang tanah  arab waktu itu  dan  sampai sekarang adalah padang pasir bukan padang rmput. Sudh tentu , saat berpergian para sahabat  melakukan shalat wajib tanpa  sajadah tapi di tanah itu.
Bagi orang yg melarang shalat wajib di padang pasir , ya menyalahi tuntunan sbgmn  shalat wajib di atas  sajadah , hrs di katakana menyalahi  tuntunan tidk boleh  dikatakan cocok dengan tuntunan.


Hadis  tsb di riwayatkan di kitab ini :
التوضيح لشرح الجامع الصحيح (6/ 21)
1532، 1533، 1767، 1575، 1576، 1799 – مسلم: 1257 – فتح: 1/ 567]
Keterangan dlm kitab  Faidhul bari :
فيض الباري على صحيح البخاري (2/ 103)
484 - قوله: (وليس عند المسجد) ... الخ. وهذا يَدُلُّ على محوِ تلك الآثار في زمانِه فكيف بها اليوم.
Intinya : Bukan disisi masjid ……………….  Hal ini menunjukkan  bahwa napak tilas itu telah lenyap pd zamannya , apalagi sekarang.
فتح الباري لابن رجب (3/ 435)
هذه البطحاء المذكورة في هذا الحديث هي المعروفة عند أهل المدينة وغيرهم بالمعرس.
Bath- ha` yg tercantum dlm hadis itu populer dikalangan penduduk Medina dan lainnya dengan nama “al Muarras”
فتح الباري لابن رجب (2/ 594)
قد روي أنه صلى في المسجد ، ولعل المراد في بقعته وأرضه ، قبل أن يجعل مسجدا ، حتى يجمع بذلك بين الحديثين
Sungguh telah di riwayatkan bahwa Rasulullah shallahu alaihi wasallam melakukan shalat di masjid. Barang  kali maksudnya di tanah itu sblm di bangun  masjid di atasnya. Hingga  dengan demikian  bisa di kompromikan antara  dua hadis itu.
.
المسند الجامع (10/ 295)
ورواية مُسْلِم (3021) ، والنسائي مختصره على الفقرة الثامنة.
- وروايته (3022) مختصرة على الفقرة التاسعة.
أخرجه أحمد 2/87 (5594 و5596 و5597 و5598 و5599 و5600 و5601) قال: قرأت على أبي قرة موسى بن طارق. و"البُخَارِي" 1/130 (484) و1/131 (485 و486 و487 و488 و489) و1/132 (490 و491 و492) قال: حدثنا إبراهيم بن المنذر. قال: حدثنا أنس بن عياض. و"مسلم" 4/62 (3021) و4/63 (3022) قال: حدثنا مُحَمَّد بن إسحاق الُمسَيَّبي، حدثني أنس، يعني ابن عياض. و"النَّسائي" 5/199، وفي "الكبرى" 3831 قال: أخبرنا عبدة بن عبد الله، قال: أنبأنا سُويد، قال: حدثنا زهير.
ثلاثتهم (موسى بن طارق، وأنس بن عياض، وزهير بن معاوية) عن موسى بن عقبة، عن نافع، فذكره.
Intinya  hadis  tsb dari Musa bin  Uqbah seorang , tiada orang lain.


  ــ  موسى بن عقبة بن أبى عياش القرشى الأسدى المطرفى ، أبو محمد المدنى ، مولى آل الزبير بن العوام ( و يقال مولى أم خالد )

الطبقة : 5  : من صغار التابعين
الوفاة : 141 هـ و قيل بعد ذلك

Intinya  Musa bin Uqbah termasuk tingkat ke lima dari Yunior tabiin , wafatnya  pada  141 Hijriyah , lihat  di kitab mausuah ruwati hadis  6992.

Tiada orang yg paham perilaku Rasulullah shallahu alaihi wasallam  tentang shalat di sisi teluk  itu kecuali Abdullah bin Umar . Pada  hal saat itu waktu Umrah atau Haji. Mestinya banyak yg tahu. Bukan hanya satu orang yg paham shalat subuh  Rasulullah shallahu alaihi wasallam yg berjamaah dengan para sahabatnya saat berpergian  Umrah atau haji ini. Ini kejanggalan yg hrs di pikirkan. Dan ini hadis namanya  hadis tafarrud yg oleh ulama dulu di katakana lemah dan kadang di sahihkan oleh ulama sekarang.
- كراهية المتقدمين لرواية الغريب:
كان المتقدمون من علماء الحديث يكرهون رواية الغرائب وما تفرد به الرواة، ويعدونه من شَرِّ الحديث، كما قال الإمام مالك رحمه الله: "شَرُّ العلم الغريبُ، وخيرُ العلم الظاهرُ الذي قد رواه الناس" 1،
Hukum hanya seorang perawi yang meriwayatkan  hadis.( tafarrud )
Ulama hadis  dahulu tidak suka atau benci terhadap riwayat  gharib ( nyeleneh )
Ulama hadis dahulu benci  terhadap  terhadap riwayat – riwayat yang gharib ( nyeleneh )  dan  hadis yang  di riwayatkan   oleh seorang  perawi , lalu di anggap   sebagai  hadis yang  terjelek  sebagaimana  di katakan   oleh Imam Malik rahimahullah: Ilmu  terjelek  adalah  yang gharib  dan  ilmu yang  terbaik adalah  yang tampak yang di riwayatkan oleh manusia. ( banyak ).
Abdul hay al luknowi berkata:
فكثيراً ما يطلقون النكارة على مجرَّد التَّفرُّد،
Sering kali mereka menyatakan  hadis munkar disebabkan tafarrud saja . ( satu perawi yang meriwayatkan bukan dua atau tiga ).
Bahkan  sampai tahun seratusan setelah  Rasulullah shallahu alaihi wasallam wafat , hadis itu masih tidk diketahui  oleh para tabiin  kecuali  satu orang yaitu Musa bin Uqbah.
Bersambung ………………………



Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Pesan yang baik, jangan emosional.Bila ingin mengkeritisi, pakailah dalil yang sahih.Dan identitasnya jelas. Komentar emosional, tidak ditayangkan