Senin, Juni 13, 2016

Komentarku pd Syaikh Muhammad Al amin al Kurdi

Komentarku pd Syaikh Muhammad Al amin al Kurdi
Beliau menyatakan :


وَأَمَّا اتِّخَاذُ الْمُرَقِّي فَحَدَثَ بَعْدَ الْصَّدْرِ اْلأَوَّلِ عَلَى أَنَّهُ وَرَد أَنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ مَنْ يَسْتَنْصِتُ لَهُ الْنَّاسَ فِى خُطْبَةِ مِنَى فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ وَهَذَا شَأْنُ الْمُرَقِّي فَلاَ يَدْخُلُ فِى حَدِّ الْبِدْعَةِ أَصْلاً

"Menjadikan seorang muraqqi atau bilal pada shalat jum'at baru
dilakukan pasca abad pertama hijriyah Namun sesungguhnya
Rasulullah SAW pernah menyuruh seseorang untuk meminta
perhatian orang banyak agar menyimak khutbah beliau di Mina
ketika haji Wada. Inilah sebenarnya hakikat dari muraqqi itu
Sehingga pelaksanaannya, sama sekali tidak dapat digolongkan
Sesuatu yang bid`ah. Lihat fikih tradisional 126

Komentarku ( Mahrus ali ) :
      Sepengetahuan saya  tiada yang menyatakan seperti itu kecuali beliau ( Syaikh Muhammad Amin Al Kurdi) . Dan secara realita  tidak benar , Ini suatu lelucun  menurut kalangan awam , apalagi kalangan intelektual . Perlu fakta di lapangan yang membikin kita lebih mantap dan ini tidak bisa di terima karena kekurangan bukti yang outentik .
  BUkti  yg nyata  Rasulullah shallallahu alaihi wasallam   yg bersabda  spt itu  tdk melakukan  jasa Bilal  untuk menyampaikan ansitu …………….
Bgt juga  para sahabat sesudahnya. Mengapa  baru sekarang di lakukan di masjid masjid dg membaca  ansitu  ,,,,,,,,,,,,,,,.  Sblm khutbah.
Ini namanya  tdk mengitu  sahabat dengan baik. Pd hal , kita  dierintahkan  untuk mengikuti muhajirin  dan anshar  sbgmn ayat sbb:
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ(100)
Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar. 100 Tobat
Bila  kita mengikuti pendapat Syaikh Muhammad Amin Al Kurdi itu , mk kita akan bertentangan dengan tuntunan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam   yg tdk memakai jasa Bilal yg membawa tongkat hutbah itu. Dan juga  tdk pakai  ansitu …………., Ikut  Rasulullah shallallahu alaihi wasallam   lebih selamat  dari pd ikut pendapat dia.
Siapakah Muhammad amin  al Kurdi itu :
اْلأَعْلام لِلْزِّرِكْلِي - (ج 6 / ص 43)
(
مُحَمَّد أَمِيْنْ الْكُرْدِي) * (..- 1332 ه =..- 1914 م) مُحَمَّد أَمِيْنٌ بْنُ فَتْحِ الله اْلأَرْبِليْ الْكُرْدِي: وَاعِظٌ، مِن أَهْلِ إِرْبِل.
تَعَلَّمَ بِالاَزْهَرِ وَتُوُفِّيَ بِالْقَاهِرَةِ.
Tokoh – tokoh karya  Zirikli  - (Juz / 6 h. 43)
(Muhammad Amin al Kurdi) * (e =..- ..- 1332 H , 1914 M ) Muhammad Amin Bin Fathallah Alarpley Kurdi penghutbah, dari rakyat Erbil.
Pelajar Azhar dan meninggal di Kairo

لَهُ كُتُبٌ، مِنْهَا (هِدَايَةُ الْطَّالِبِيْنَ ِلاَحْكَامِ الْدِّيْنِ - ط) فِي فِقْهِ الْمَالِكِيَّةِ، وَ (إِرْشَادُ الْمُحْتَاجِ إِلَى حُقُوْقِ اْلأَزْوَاجِ - ط) وَ (تَنْوِيْرُ الْقُلُوْب - ط) تَصَوُّف، وَ (دِيْوَانُ خُطَبٍ - ط) وَ (سَعَادَةُ الْمُبْتَدِئِيْنَ فِي عِلْم الْدِّيْنِ - ط) وَ (فَتْحُ الْمَسَالِكِ فِي إِيْضَاحِ الْمَنَاسِكِ - ط) عَلَى الْمَذَاهِبِ اْلارْبَعَة (2).
Dia punya karya  buku, termasuk (Membimbing siswa ke arah hukum  agama – Telah di cetak ) dalam fiqih Maliki, dan (Memandu orang yang membutuhkan tentang hak-hak suami – Di cetak) dan (Mencerahkan hati - i) mistisisme, dan (Koleksi pidato / hutbah – di cetak) dan ( Kebahagiaan  pemula dalam ilmu agama - i) dan ( Membuka saluran untuk mengklarifikasi  ritual haji  - i)  menurut empat Madzhab (2).

Komentarku ( Mahrus ali )
Nama kitabnya langsung saya terjemahkan , kalau ingin tahu nama aslinya maka lihat  kalimat arabnya.

  Jadi pernyataan Syaikh Muhammad Amin itu masih sekitar 1914 M.
Dalil yang di gunakan ternyata  tidak tepat . Hadisnya sbb :
44- حَدِيْثُ  جَريرٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّىاللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ‏ قَالَ لَهُ في حَجَّةِ الْوَداعِ: اسْتَنْصِتِ النَّاسَ، فَقَالَ: لاَ تَرْجِعُوْا بَعْدي كُفَّارًا يَضْرِبُ بَعْضُكُمْ رِقَابَ بَعْضٍ
أَخْرَجَهُ الْبُخَارِيْ فِى : 3 كِتَابُ اْلعِلْمِ : 43 بَابُ اْلإِنْصَاتِ لِلْعُلَمَاءِ

11.                        Jarir ra menuturkan bahwa Nabi saw berkata kepadanya pada hari haji Wada’: “Suruhlah orang - orang  diam.”  Kemudian beliau saw bersabda: “Janganlah kalian kembali menjadi kafir sepeninggalku, sehingga kalian saling membunuh  di antara  kalian.”[2] (Bukhari, 2, kitab ilmu, 43, bab diam dan mendengar ucapan ulama).
Al bani menyatakan sahih , lihat dalam sahih Ibn Majah  350/2 , Arraudh 997  ( sahih ) takhrij Iman karya Ibn Salam 75. Ahmad 358/4 , Darimi 1927  , Muslim 58/1 Nasai 127/7  Ibnu Majah 3942 , Nasai 3236


Setahu saya , dalam riwayat penyusun kutubut tis`ah tidak menggunakan kata hutbah Mina , tapi langsung saja  sebagaimana hadis di atas .
Rasulullah SAW tidak pernah bilang kepada seseorang untuk mendiamkan orang banyak . Adanya perintah mendiamkan  bukan ketika akan berhutbah jumat , ketika beliau ingin memberi peringatan kepada umatnya dengan kalimat yang sedikit saja.

 Syaikh Muhammad Amin Al Kurdi berkata :
وَكَان الْنَّبِي صَلَّي اللهُ     عَلَيْه وَسَلَّم يَقُوْل هَذَا الْخَبَر عَلَى الْمِنْبَر فِى خُطْبَتِه فَالْحَدِيْث الْمَذْكُوْر صَحِيْح
Nabi saw mengatakan hadis tsb  di podium dalam ceramahnya ,disebutkan hadis tsb adalah sahih . [3]
Komentarku ( Mahrus ali )
Mana hadis yang menyatakan saat itu , Rasulullah SAW berdiri di atas podiom , apalagi saat itu , Rasulullah SAW berada di Mina , sudah tentu  tidak mengenakannya . Boleh di lihat kembali hadis Bukhari di atas . Ini salah satu kedustaan yang paling mengacaukan pemahaman  dan membikin orang lain sulit menemukan kebenaran . Ini tidak layak di lakukan oleh thalibul ilmi apalagi  ustadz dan ulama nya .
KH Muhyiddin berkata lagi :

Sesuai dengan perkataan Syaikh Muhammad Amin al-
Kurdi ini, maka yang dianjurkan untuk dibaca oleh seorang
bilal adalah hadits yang berkaitan peringatan itu. Misalnya
- عن أبي هريرةَ أنَّ رسولَ الله - صلى الله عليه وسلم - قالَ:
"إِذا قلتَ لِصاحِبِكَ يومَ الجمعةِ: أَنصِتْ؛ والإمامُ يَخطبُ؛ فقد لَغوْتَ"
Dari Abu HUrairah ra bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam   bersabda: Bila kamu  katakana kpd temanmu pada hari jmu`at” Diamlah “ sedang Imam lagi hutbah , maka sungguhnya  hilanglah jumatmu . Sahih  Bukhari  882

Komentarku ( Mahrus ali )
Bila perkataan Syaikh Muhammad Amin benar boleh di ambil , tapi bila salah , apakah kita masih layak memakainya dan tidak membuangnya . Mengapa kita tidak ikut kebenaran , malah kita mendukung kesalahan . Ini sebetulnya kekeliruan yang sangat . Mana dalilmu bila benar ,. Allah berfirman :
قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
Katakanlah: "Unjukkanlah bukti kebenaranmu, jika kamu memang orang-orang yang benar".[4]
Lalu kapan para sahabat membaca hadis itu sebelum Rasulullah SAW hutbah. Mengapa malas mengikuti tuntunan , lalu gemar sekali meninggalkannya  . Ber ittibaa`lah karena firman Allah :
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
     Bila kita ingin dicintai oleh Allah, kita harus ikut RasullullahSAW   dalam segala hal . Allah berfirman lagi :
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
Sesungguhnya  Rasul lullah saw, ullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan  hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.  [5]




[1] Lihat Fiqih tradisional 126
[2] Allu`lu` wal marjan 22/1 . Al albani berkata :  Muttafaq alaih , Assilsilatus sahihah 51/6 , Misyaktul  mashobih  100/2. Al iman libni Taimiyah  141/1

[3]  Lihat Fiqih tradisional 127
[4] Namel 64
[5] 21 Al ahzab
Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Pesan yang baik, jangan emosional.Bila ingin mengkeritisi, pakailah dalil yang sahih.Dan identitasnya jelas. Komentar emosional, tidak ditayangkan