Sabtu, Juni 11, 2016

Sepi Jemaat, Keuskupan Katolik Roma New York akan Tutup 33 Gereja


Sepi Jemaat, Keuskupan Katolik Roma New York akan Tutup 33 Gereja


Hidayatullah.com–Keuskupan Katolik Roma New York berencana menggabungkan 112 paroki menjadi 55 paroki baru tahun ini, yang berakibat pada penutupan tidak kurang dari 33 gereja.

Hal itu diumumkan Kardinal Timothy Dolan, uskup agung New York, pada hari Ahad (1/11/2014) dalam perayaan Hari Semua Orang Kudus.

Penggabungan paroki itu merupakan bagian dari rencana pastoral keuskupan yang dikenal sebagai program “Making All Things New” yang dimulai pada tahun 2010.

Kabar penutupan gereja itu menimbulkan perasaan berat pada diri jemaat yang gerejanya ditutup, lansir Christian Post mengutip laporan wartawan New York Times (4/11/2014).

Ada isak dan tangis di Holy Rosary Church di East Harlem. Di Sacred Heart di Mount Vernon jemaat berpelukan dalam kesedihan.”

Jemaat Our Lady of Peace di daerah East Side berjanji akan memperjuangkan gereja mereka yang terancam ditutup. Sementara jemaat dari daerah Staten Island hingga Catskills nampak lega karena gerejanya tidak termasuk yang akan ditutup.

Merger dan penutupan puluhan gereja itu, yang dipicu oleh menurunnya jumlah rohaniwan gereja dan jemaat yang rutin datang ke gereja, direncanakan akan rampung pada Agustus tahun 2015.

Secara umum jumlah rohaniwan dan jemaat gereja Katolik di Amerika Serikat terus menurun dalam 40 tahun terakhir, menurut data statistik yang dikumpulkan Universitas Georgetown. Jadi masalah itu sebenarnya tidak dialami oleh keusukupan di New York saja.

Tahun 1970 jumlah rohaniwan Katolik di Amerika Serikat diperkirakan mencapai 59.000 orang. Namun pada tahun 2010 angka itu merosot menjadi 40.000.

Universitas Georgetown memperkirakan, di tahun 1990 terdapat sekitar 19.600 paroki di seluruh Amerika Serikat. Namun saat ini hanya ada kurang dari 17.500, atau angka terkecil dalam kurun 50 tahun terakhir.*

Rep: Ama Farah

Editor: Dija
Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Pesan yang baik, jangan emosional.Bila ingin mengkeritisi, pakailah dalil yang sahih.Dan identitasnya jelas. Komentar emosional, tidak ditayangkan