Rabu, Juli 20, 2016

Erdogan Diduga Gunakan Kudeta Guna Akhiri Sekulerisasi Turki



TEMPO.CO, Istanbul- Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan telah menggunakan kudeta militer oleh lawan politiknya untuk membenarkan pembersihan pejabat negara dan perwira militer yang dianggap tidak loyal kepadanya. Dia diduga menggunakan momentum tersebut sebagai jalan menuju islamisasi penuh yang tidak tampak semenjak jatuhnya Kaisar Ottoman.

Pascainsiden kudeta berdarah pada Jumat malam, 15 Juli 2106, pembersihan terus dilakukan dengan melakukan pemecatan pada Senin, 18 Juli 2016, terhadap 8.000 polisi, 30 gubernur, dan 52 pejabat pegawai negeri sipil setingkat eselon. Selain itu, 70 laksamana dan jenderal bersama dengan 3.000 tentara serta 2.700 anggota peradilan dipecat atau ditahan sejak kudeta gagal pada Sabtu, 16 Juli 2016.

Selama pembersihan orang-orang yang dituduh prokudeta, ada parade dari para pengikut fanatik agama di jalan-jalan yang meneriakkan "Allahu Akbar" dengan beberapa ulama terkemuka yang membacakan ayat-ayat Al-Quran menggunakan pengeras suara raksasa di Taksim Square di pusat Kota Istanbul.

Seperti dilansir Independent pada 18 Juli 2016, 85 ribu masjid Turki dilaporkan memainkan peran penting dalam memobilisasi massa untuk berunjuk rasa secara besar-besaran melawan kelompok prokudeta.

Area Gezi Park di Istanbul, pusat protes sekuler dan liberal terhadap pemerintahan otoriter Erdogan tiga tahun lalu, sekarang dipenuhi banyak orang yang setia kepada Presiden.

Islamisasi semakin mempengaruhi adat istiadat sosial di Istanbul. Selin Derya, 26 tahun, yang bekerja di sebuah perusahaan bisnis, mengatakan, sejak kelompok pro-Erdogan membanjiri pusat kota pascakudeta, dia takut keluar mengenakan gaun khas wanita Eropa. Dia khawatir hal tersebut akan mengundang kemarahan warga ekstremis muslim yang kini seakan-akan  menguasai semua lini kehidupan.

Ada tanda-tanda meningkatnya intoleransi dari gaya hidup sekuler dalam beberapa tahun terakhir, termasuk serangan pada Juni lalu terhadap puluhan orang di sebuah toko musik di Istanbul. Puluhan penggemar Radiohead dipukuli karena dituduh minum alkohol selama bulan suci Ramadan. Ketika demonstran berkumpul untuk memprotes serangan, polisi membubarkan mereka menggunakan gas air mata dan meriam air.

Program partai pimpinan Erdogan, Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP), yang memenangi pemilihan umum pertamanya pada 2002, telah membalikkan sekularisasi yang diperkenalkan oleh Kemal Ataturk, pendiri republik, pada 1923. Ketika kekuatan AKP semakin besar, banyak lembaga-lembaga sekuler di negara tersebut yang dihilangkan. Hal itu mendorong islamisasi pendidikan dan perilaku sosial serta berusaha menyisihkan pejabat dan petugas non-Islam.

Dalam pernyataannya, Erdogan pernah menuturkan ingin melihat "pertumbuhan generasi yang agamais", yang akan menggantikan dominasi sekuler di Turki. Kebijakan luar negeri sejak Arab Spring pada 2011 membuatnya secara nyata mendukung pemberontakan muslim Sunni di Suriah dalam aliansi dengan Arab Saudi dan Qatar, meskipun upaya menggulingkan Presiden Bashar al-Assad sejauh ini gagal.


Strategi ini termasuk sikap Erdogan yang dianggap menoleransi gerakan ekstrem, seperti ISIS, Jabhat al-Nusra, dan Ahrar al-Sham, memungkinkan mereka membangun jaringan dukungan di Turki. Namun, pada musim panas 2015, pemerintah Turki setuju membiarkan Amerika Serikat dan empat negara lain, termasuk Inggris, menggunakan pangkalan udara Incirlik di Turki tenggara untuk melancarkan serangan udara terhadap ISIS.
Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Pesan yang baik, jangan emosional.Bila ingin mengkeritisi, pakailah dalil yang sahih.Dan identitasnya jelas. Komentar emosional, tidak ditayangkan