Senin, Juli 11, 2016

Jawabanku untuk Ust Aqsith ke dua




Ust Aqsith menulis lg :


3. "apabila kisah ini benar" tetap blm jelas apa yg dilakukan ibn mahdy itu shalat sunat atau wajib?

مع الاحتمال بطل به الاستدلال

sedangkan mnurt k.h.mahrus aly klo sunnah itu tdk apa apa.

tau dari mana bhw yg dilakukan ibn mahdy adalah shlat wajib?

Komentarku ( Mahrus ali ) :
Sy tdk pernah mengambil istinbat dr perkataan Imam Malik  untuk memutuskan salat wajib langsung sujud ke tanah dan salat sunat boleh menggunakan sajadah.
Bukan dr situ tp realita salat wajib Rasulullah shallallahu alaihi wasallam selalu di tanah dan hadisnya dlm hal ini sangat banyak.   Juga mengambil dr hadis ini:
وَجُعِلَتْ لِيَ الْأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا فَأَيُّمَا رَجُلٍ  أَدْرَكَتْهُ الصَّلَاةُ فَلْيُصَلِّ
Bumi di jadikan  tempat sujud dan alat suci ( untuk tayammum )Setiap lelaki  yang   menjumpai waktu salat   , salat lah ( di tempat itu ) ………( HR Bukhori /Tayammum/ 335. Muslim / Masajid dan tempat salat  /521 )
Bumi dijadikan tmpat sujud bukan sajadah, keramik, lantai tingkat. Hadis itu untuk salat wajib karena Rasulullah shallallahu alaihi wasallam   bersabda: Setiap lelaki  yang   menjumpai waktu salat   , salat lah ( di tempat itu ) ………
Bila di arahkan kpd salat sunat tdk bisa. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam   sendiri pernah menjalankan salat sunat di atas unta bukan di tanah, juga pernah di khumrah – sajadah kecil yg cukup untuk  wajah .
Kalau dlm kisah Abd rahman bin Mahdi itu jls ada kemungkinan, salat sunat atau salat wajib. Dan sy blm pernah menentukan bahwa apa yg akan di lakukan oleh Abd rahman itu untuk  salat wajib apalagi sunat.

Dan ini  hadis  dukungan untuk  salat wajib di tanah .Muaiqib ra berkata :
قَالَ فِي الرَّجُلِ يُسَوِّي التُّرَابَ حَيْثُ يَسْجُدُ قَالَ إنْ كُنْت فَاعِلًا فَوَاحِدَةً
  Rasulullah   saw,     bersabda  tentang seorang lelaki  yang meratakan debu di tempat sujudnya . Beliau bersabda : “Bila kamu harus melakukannya  cukup sekali “.Muttafaq  alaih ,1207
Bila anda melakukan salat di masjid berkarpet , mk anda  tdk akan meratakan debu yg akan di sujudi. Jadi salat anda tdk  sesuai  dengan tuntunan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam  


Bila anda punya prediksi kisah Abd rahman bin Mahdi itu tdk benar, mk anda hrs mendatangkan  dalil yg menafikannya. Paling tidak refrensi kitabnya yg menyatakan kisah itu dusta belaka , tdk benar.
Bila anda tdk bisa menjumpainya, mk blm bisa di katakana final . Realitanya  kisah itu populer, karena itu sy jumpai di refrensi sebagaimana sy sebutkan di  artikel yg lalu.
Anda menyatakan: 

مع الاحتمال بطل به الاستدلال
Komentarku ( Mahrus ali ) :
Kaidah itu biasanya  bukan untuk perkataan Ulama tp untuk istidlal dari dalil hadis atau al quran.
قال الشيخ عبد الرحمن السديس:

وتكلم على هذه المسألة الشيخ عبد العزيز بن فيصل الراجحي في كتابه "مجانبة أهل الثبور" ص 193-197،
Syaikh Abd Rahman As sudais berkata:
Masalah ini telah di bicarakan   oleh Syakh Abd Aziz bin Faishal ar rajihi  dlm kitabnya : “ Mujanabat ahlis tsubur  hal 193- 197.

ونقل عن الشيخ العلامة الأصولي عبد الله بن غديان قوله :
هذه القاعدة لا يصح إطلاقها ، وإنما هي صحيحة في صورة واحدة : إذا كان الاحتمال مساويا .
أما إذا لم يكن مساويا : فكان راجحا = وجب المصير إليه .
أو مرجوحا وهميا = وجب اطراحه ، وتركه ،ولا تأثير له .
وإطلاقها كإطلاق الناس لقاعدة "درء المفاسد مقدم على جلب المصالح " ، مع أن هذه القاعدة لا تصح إلا في صورة واحدة فقط ، وهي إذا تساوت المصلحة والمفسدة . اهـ
Intinya  kaidah tsb berlaku bila ihtimalnya sama/ kemungkinannya sama. Bila tdk, mk tdk berlaku.
ويلفت النظر: إلى أن تعدد الاحتمالات ليس مبناها على ما يرد في الأذهان، بل على أمرين:
- دلالات الألفاظ معانيها.
- تفسيرات الصحابة.
Intinya : Kemungkinan – kemungkinan itu bukan yg ada dlm pikiran. Tpi  pd dua perkara : 1. Pengertian lafadh  dan dilalahnya   2 pentafsiran para sahabat.


Anda menyatakan lg :

sedangkan mnurt k.h.mahrus aly klo sunnah itu tdk apa apa.

tau dari mana bhw yg dilakukan ibn mahdy adalah shlat wajib?

Komentarku ( Mahrus ali ) :
Bukan dr perkataan Imam Malik , sy menyatakan salat wajib hrs ke tanah dan sunat boleh di sajadah. Keliru sekali , bila di katakan   dari situ. Sy tdk pernah menyatakan spt itu.


Anda menyatakan:
ust mahrus berkata:
Jadi masjid Rasulullah shallahu alaihi wasallam dari masa sahabat  sampai di masa Imam Malik  yg lahir pd 93 H dan wafat pd 179 H [1] masih berlantaikan tanah bukan  sajadah atau tikar

komentar ana:
iya apabila riwayat kisah tadi itu bisa dipertanggung jawabkan. namun tetap blm bisa diambil keputsan krn kisahnya majhul. coba riwayat kisah yg aslinya gimana?
Komentarku ( Mahrus ali ) :
Sdh sy tunjukkan refrensinya. Dan  ia telah  di kutip  oleh Ibn Taimiyah , lajnah daimah untuk  ifta dan Irsyad , Syaikh Muhammad Al amin  dll.
Bila perkataan Imam Malik itu benar  tdk ada menurut anda , mk anda hrs datangkan  refrensi atau  data yg menafikannya. Dan anda blm membawa data itu.
Anda hendaknya hrs memberikan data  bahwa di saat Imam Malik  masjid Medinah sudah di tegel, di lepa atau digelari tikar dll. Coba sampaikan hal itu .
Sampai sekarang sy blm menjumpainya. Sy hanya menjumpai kebid`ahan sajadah .
Ibnu taimiyah berkata :
. أَمَّا الصَّلاَةُ عَلَى السَّجَّادَةِ فَلَمْ تَكُنْ هَذِهِ سُنَّةَ السَّلَفِ مِنْ الْمُهَاجِرِينَ وَاْلأَنْصَارِ وَمَنْ بَعْدَهُمْ مِنْ التَّابِعِينَ لَهُمْ بِإِحْسَانِ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللهِ  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ; بَلْ كَانُوا يُصَلُّونَ فِي مَسْجِدِهِ عَلَى اْلأَرْضِ لاَ يَتَّخِذُ أَحَدُهُمْ سَجَّادَةً يَخْتَصُّ بِالصَّلاَةِ عَلَيْهَا
Melakukan salat diatas sajadah ( tikar, karpet, keramik ) tidak termasuk budaya  kaum muhajirin, Ansar, tabi`in yang mengikuti jejak mereka dengan baik di masa   Rasulullah  saw. Bahkan mereka menjalankan salat  di atas tanah  , seseorang diantara mereka tiada yang menggunakan sajadah husus salat [1]
Komentarku ( Mahrus ali ) :
Kesan sy dlm pernyataan Imam Ibn Taimiyah itu para muhajirin  dan Anshor dan para  tabiin yg mengikuti mereka dg baik  tidak mengenakan  sajadah dlm salat. Sdh tentu masjid mereka  tdk di gelari sajadah.
Bila masjid Rasulullah shallallahu alaihi wasallam   di gelari sajadah, mk Ibnu Taimiyah tdk menyatakan spt itu. Bila di katakana masjid Rasulullah shallallahu alaihi wasallam   saat tabiin di gelari sajadah, mk datangkan refrensinya.
Karena itu, sy masih tetap berkesimpulan  masjid medinah masih berlantaikan tanah di era tabiin sebagaimana  perbuatan para sahabat yg  masih mengikuti sunah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam   dlm menjalankan salat wajib di tanah dan  mereka tdk akan menyelisihinya. Lalu bersajadah  atau bertikar dlm salat wajib.
محمد الأمين
الأصل هو ترك المساجد كما كانت على أيام الصحابة، أي أرضها حصى وتراب. وهكذا بقيت الأمور إلى أن أطغى الرخاء ثلة من المسلمين فأبوا على أنفسهم أن يسجدوا على التراب، ففرشوا المساجد بالسجاد. قال شيخ الإسلام عنهم: فما أحق هؤلاء بقول ابن مسعود لأنتم أهدى من أصحاب محمد أو أنتم على شعبة ضلالة؟
Syaikh Muhammad al amin berkata : Asalnya  masjid – masjid  spt masjid  di masa sahabat -  ya`ni lantainya  krikil dan  debu / tanah. Keadaan  sedemikian ini masih  ttp terpelihara sehingga sebagian kaum muslimin mendapat kemakmuran melebihi , lalu mereka tdk mau bersujud ke tanah / debu. Lalu masjid – masjid di hampari  karpet.
Syaikh Islam berkata tentang mereka : Alangkah  berhaknya mereka  dengan perkataan Ibnu  Mas`ud : Kalian lebih mendapat petunjuk dr pd para sahabat Muhammad   atau kalian berada di cabang ke sesatan ?
وإن سمعوا بأحد يدعو الناس أن يصلوا كما صلى رسول الله صلى الله عليه وسلم وأصحابه الكرام، سخروا منه، واتهموه بأنه "يتشبه بالرافضة" واتهموه "بحمى (!) التسرع في التبديع فيما ليس فيه تشريع" وبالـ"كذب" (!!!) و "النظر السطحي" و "عدم قراءة الأقوال مكتملة" و "غياب النفس الفقهي" و "العجلة" و "غير ذلك" من التهم الباطلة.
Bila mereka mendengar seorang yg mengajak manusia  agar melakukan salat sebagaimana  tuntunan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam   dan sahabat – sahabatnya yg mulia. Mereka sm ngbully , menghina, lalu tudingan miring di lontarkan . Dia mirip dengan  rafidhah , lalu di tuduh demam  cepat membid`ahkan tentng perkara yg tdk ada sariatnya ( bikin – bikin sariat ) . Malah dituduh  dusta, pandangan dangkal, tdk baca  qaul ulama  dg sempurna, tdk punya jiwa fikih, tergesa gesa  dll  dr pd  tudingan yg batil.

Ingat sy menyampaikan pendapat ulama  ini bukan sebagai landasan mutlak. Ia hanyalah pendukung dan add ilmu pengetahuan belaka agar di jadikan renungan.
Bersambung……………,




.






[1] Ibid 
Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Pesan yang baik, jangan emosional.Bila ingin mengkeritisi, pakailah dalil yang sahih.Dan identitasnya jelas. Komentar emosional, tidak ditayangkan