Rabu, Agustus 31, 2016

Bocah Tewas Ditolak 6 RS, Gerindra: BPJS Jangan Cuman Sibuk Iklan Saja!

POSMETRO INFO - Wakil Sekretaris Jenderal DPP Partai Gerindra, Andre Rosiade, menyesalkan kejadian yang menimpa bocah asal Sumedang, M Rizki Akbar. Bocah berusia 2,9 tahun itu menghembuskan nafas terakhirnya setelah sebelumnya ditolak oleh 6 rumah sakit di Jakarta dan Tangerang karena kelainan jantung.

“Kasus seperti ini seharusnya tidak terjadi lagi, tapi kenyataannya kan berkata lain. Pemerintah harus lebih serius membenahi Kartu Indonesia Sehat, BPJS, jangan cuma sibuk iklan saja,” tegas Andre dalam keterangannya kepada wartawan di Jakarta, Senin (29/8).

Menurutnya, UU 40/2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional dan UU 24/2011 tentang BPJS mewajibkan seluruh rakyat Indonesia mengikuti program BPJS Kesehatan. Rakyat selanjutnya dipungut iuran meski BPJS sudah mendapatkan alokasi anggaran dari APBN. BPJS bahkan meminta tambahan anggaran melalui skema penyertaan modal negara (PMN) pada tahun ini.

“Satu sisi BPJS minta tambahan anggaran, iuran juga diminta, tapi perlakuan beda antara pasien BPJS dengan asuransi lain. Kalau asuransi lain langsung dilayani, kalau BPJS masih sering ditolak,” jelasnya.

Akan tetapi, dalam kenyataannya justru kerap didapati pasien pemegang kartu BPJS dari kalangan tidak mampu ditolak pihak rumah sakit. Beberapa diantaranya bahkan sampai meninggal karena tidak segera mendapatkan penanganan rumah sakit seperti dialami M Rizki.

Andre mendesak Presiden Joko Widodo melalui Kemenkes dan Kemenkeu mengevaluasi program BPJS hingga rumah sakit. Ia juga meminta Presiden menerbitkan dalam bentuk Peraturan Presiden atau Peraturan Menteri, dimana salah satunya mengatur perijinan RS bisa dicabut hingga dipidana apabila menolak pasien BPJS.


“Pihak rumah sakit jantung terbesar di Jakarta, RS Harapan Kita, yang menolak pasien BPJS harus dievaluasi, terbitkan Perpres atau Permen, jika alasan RS-nya tidak jelas bisa dicabut bahkan bisa dipidanakan. Karena kita sudah sering dengar pasien ditolak rumah sakit berujung pada kematian,” tambah Andre.

Tokoh muda Minangkabau itu menyinggung janji Joko Widodo – Jusuf Kalla sebagaimana dituangkan dalam 9 program prioritas (Nawa Cita), khususnya bidang kesehatan. Jokowi berjanji memberikan layanan kesehatan gratis secara maksimal kepada rakyat Indonesia. Janji yang disebutnya akan terus ditagih, bukan hanya di dunia melainkan juga di akhirat.

Sekedar diketahui, kasus yang menimpa M Rizki Akbar, bocah berusia 2,9 tahun asal Sumedang Jawa Barat disampaikan pegiat kemanusiaan Yuli Supriati melalui akun Facebooknya. Ia menceritakan bagaimana Rizki ditolak enam RS penerima BPJS di Tangerang dan Jakarta hingga meninggal pada Sabtu (27/8).


Padahal, ayah Rizki setiap bulan dipotong pihak perusahaan untuk membayar iuran BPJS. Akan tetapi dengan alasan klise, keenam rumah sakit menolak memberikan pelayanan. Salah satu RS Jantung terbesar di Jakarta misalnya, hanya memeriksa Rizki tidak sampai 10 menit dan menyatakan pasien hanya menderita batuk biasa. [akt]
Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Pesan yang baik, jangan emosional.Bila ingin mengkeritisi, pakailah dalil yang sahih.Dan identitasnya jelas. Komentar emosional, tidak ditayangkan