Minggu, Agustus 21, 2016

Mengenang Tragedi Maluku II (Pengkhianatan Kristen) : "Lebih Dari 5 Ribu Umat Islam Tewas Dibantai Salibis Kristen Maluku !"


 

Islamiqpos - Tahun 1999. Terjadi Pembantaian oleh orang-orang Kristen terhadap 3 sampai 5 ribu lebih umat Islam di Maluku. Wahai Umat Kristen, ketahuilah "kami tidak akan pernah melupakan PENGKHIATAN kalian terhadap saudara kami Umat Islam Maluku !"

Di Maluku, Tanpa pernah diduga sebelumnya orang-orang Kristen tega menyerbu habis-habisan umat Islam yang tak tahu apa-apa dan selama ini selalu berbaik sangka pada mereka.

Terlebih lagi mereka salibis-salibis haus darah itu melakukan penikaman habis-habisan ketika umat Islam sedang merayakan hari raya Idul Fitri (Tahun 1999).

Yang lebih menyakitkan lagi adalah disaat mereka sedang asyik melakukan pembersihan massal terhadap umat Islam disana, sebagian kalangan Kristen yang memang sejak dulu dikenal memiliki lobby-lobby yang kuat justru melemparkan fitnah keji ke dunia internasional, bahwa justru umat Kristen yang diserang dan dibantai oleh orang-orang Islam. Untunglah, bermacam metode pembuktian siapa yang benar dan siapa yang bersalah di Maluku bisa diteliti dengan baik.

Karena dari penelitian dari sudut manapun sudah jelas, bahwa orang-orang Kristenlah yang berkepentingan untuk melakukan pembantaian terhadap umat Islam, karena memang mereka merasa terdesak akibat alasan ekonomis dsb.

Apalagi ditopang dengan dorongan nafsu keji gerakan separatis RMS (Republik Maluku Selatan) yang telah berjuang selama puluhan tahun untuk melepaskan diri dari NKRI. Namun sayangnya perjuangan illegal mereka itu kurang mendapat tanggapan positif dari umat Islam.

Sebagian besar umat Islam menentang gerakan mereka dan tetap setia berlindung di bawah bendera NKRI. Hal ini membuat RMS geram dan menghasut orang-orang Kristen di Maluku untuk membunuhi umat Islam, atau setidaknya bisa ditakut-takuti supaya mereka muslim-muslim transmigran yang berasal dari Jawa, Sulawesi dsbnya segera pulang ke daerah asalnya. Tujuan mereka mengusir umat Islam untuk keluar dari sana adalah supaya persentase umat Kristen di Maluku menjadi meningkat dan Muslim menurun.

Harapan mereka apabila sewaktu-waktu perjuangan mereka mengalami kemajuan dan berhasil memaksa pemerintah RI untuk melakukan referendum, sebagian besar penduduk Maluku akan memilih merdeka, menuruti keinginan RMS karena penduduk muslim yang selama ini anti melepaskan diri dari NKRI sudah dibunuhi atau diusir keluar dari Maluku.

Dalam kerusuhan Ambon, target bunuh pertama orang-orang Kristen itu adalah para ulama, lalu orang-orang Arab, pemuka-pemuka Islam, yang keempat barulah BBM (Buton, Bugis, Makasar).



Ternyata setelah 'BBM' ini banyak yang mengungsi ke kampungnya, ternyata orang-orang Kristen itu tetap memerangi orang-orang Ambon yang Muslim.

Ini terjadi di Pelauw. BBM ternyata bukan sekedar Buton, Bugis, Makasar, tapi lebih kepada "Bakar, Bunuh Muslim"! Itu pengertian BBM sekarang ini, sebab hal tersebut terus saja berjalan selama beberapa tahun lamanya.

Ujian yang dialami kaum Muslimin di Karang Tagepe tidak kalah beratnya. Rumah dan kampung mereka habis dibakar oleh orang-orang kafirin. Di sana, menurut mereka, wanita-wanita Muslimah yang sedang hamil dibedah perutnya. Lalu dikeluarkan janinnya, dan dicincang-cincang. Anak-anak kecil yang lari ketakutan dan berusaha menyelamatkan diri ditangkapi lalu dilempar ke dalam api yang menyala. Jerit tangis bocah-bocah mungil (anak-anak kecil) itusangat menyayat hati. Perlakuan iblis itu dilakukan orang-orang Kristen di sana atas nama agamanya.

Gadis-gadis Muslimah diperkosa beramai-ramai. Payudaranya ditoreh tanda salib dengan parang, lalu dipotong. Setelah puas, barulah dibunuh. Banyak di antara para Muslimah yang sudah syahid sebelum dibunuh kaum kafirin. Rasa sakit yang tak terperikan menghentikan detak jantungnya. Semoga Allah SWT berkenan menerima mereka di syurga seperti dijanjikanNya. Kejadian yang berlangsung di Rumah Sakit Umum (RSU) di daerah Kudamati juga memilukan.

Karena terjadi penyerangan di hari pertama, banyak orang Islam terluka. Mereka dibawa ke RSU di Kudamati. Walau mereka tahu Kudamati merupakan basis Kristen, namun mungkin disebabkan lebih dekat maka mereka ke sana. Para penyerang itu diberitahu bahwa orang Islam banyak yang dirawat di RSU tersebut.

Akhirnya orang-orang Kristen itu menyerang RSU. KTP-KTP (kad pengenalan) pasien (pesakit) digeledah untuk mengetahui pasien tersebut Islam atau non-Islam. Jika si pasien Islam maka langsung dibantai. Ibu-ibu hamil yang ada di rumah sakit itu pun banyak yang hilang, mendengar kejadian tersebut, akhirnya banyak orang yang berobat ke Rumah Sakit Bersalin (RSB) yang ada di dalam kompleks Masjid Raya Al-Fatah. RSB Al-Fatah beralih fungsi menjadi Rumah Sakit Umum. Banyak lagi kekejaman-kekejaman yang dilakukan oleh Kristen-Kristen biadab disana terhadap umat Islam.

Kaum Muslimin Buton, Bugis, dan Makasar yang pulang ke daerahnya sesungguhnya hanya untuk mengantar anak dan istrinya saja ke tempat tinggal yang aman. Setelah itu mereka akan kembali semua ke Ambon bersama sanak famili yang laki-laki. Mereka akan mempertahankan Ambon sampai tetes darah terakhir. Mereka sudah bertekad untuk jihad fi sabilillah.

Penyerangan orang-orang Kristen kepada umat Islam di Ambon dan sekitarnya bukanlah tindakan kriminal murni. Mereka melihat itu sebagai bagian dari perang sucinya.

PEMBANTAIAN MUSLIM POSO !



Sementara itu di Poso, Sulawesi Tengah, Kristen-Kristen haus darah disana pun tidak mau kalah dengan saudara sesama iblisnya di Maluku. Mereka membantai seribu lebih umat Islam disana pada tahun 2000.

Bukannya berterima kasih karena selama ini umat Kristen yang menjadi minoritas di kantong-kantong Islam seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Makassar dll telah dibiarkan untuk hidup dan bernafas dengan nyaman oleh umat Islam, namun di daerah-daerah terpencil dimana jumlah orang Kristen cukup signifikan mereka justru dengan buasnya membantai umat Islam. Tak terkecuali di Poso, telah seribu lebih umat Islam dibunuh oleh orang-orang Kristen haus darah.

Tak peduli laki-laki, wanita maupun anak-anak, siapapun yang beragama Islam disana dihabisi oleh Pasukan Ninja bertuhankan Yesus Kristus itu. Sama seperti ketika Salibis Kristen membantai umat


Islam tanpa pandang bulu ketika menaklukan Yerusalem tahun 1099, Kristen Poso pun sama saja, cuma menapaktilasi pembantaian biadab, ciri khas agama Kristen itu.

Para gembong pelaku penyerangan itu sendiri seperti Fabianus Tibo dan Dominggus Soares sudah mengakui kejahatannya dan kini telah divonis mati, menunggu di eksekusi.

Padahal di Poso populasi umat Kristen -sebelum kerusuhan- hanya 25%, sedangkan umat Islam adalah mayoritas, hampir 75%. Namun karena umat Islam selama ini selalu berbaik sangka dan tidak pernah menduga bahwa orang-orang Kristen akan menyerbu umat Islam ketika mereka sedang lengah (tertidur lelap), maka episode horror pembantaian yang disutradarai dan dilakoni sendiri oleh Kristen-kristen BIADAB HAUS DARAH Poso itu berlangsung sukses.

Ini merupakan pelajaran berharga bagi kita umat Islam. Karena ternyata walaupun dengan hanya berjumlah 25%, orang Kristen di Poso sudah berani melakukan penyerangan dan pembantaian terhadap umat Islam yang mayoritas.

Di Jakarta kini kalau tidak salah populasi Kristen berjumlah hampir 15%, sedangkan umat Islam hampir 85%. Ini berarti orang Kristen hanya perlu menambah beberapa persen lagi jumlah mereka di Jakarta, sehingga ambisi mereka untuk mem-Poso-kan Jakarta bisa segera kesampaian.

Asalkan mereka telah mempersiapkan strategi penyerangannya dengan jitu, seperti yang telah dipraktekkan di Poso, maka bersiap-siaplah kita umat Islam untuk LAGI-LAGI dibantai secara biadab oleh orang Kristen walaupun kita di Jakarta ini adalah mayoritas, sama seperti di Poso.

Orang Kristen bisa menambah persentase jumlah mereka di Jakarta dengan berbagai cara.

Misalnya : dengan melakukan Kristenisasi secara paksa -yang memang sudah biasa dilakukan-, atau mendatangkan, menyusupkan secara pelan-pelan atau terang-terangan orang-orang Kristen dari wilayah basis-basis Kristen di Indonesia seperti Maluku, Papua, Kupang, Flores, Tapanuli, Toraja, Manado dll.

Dengan mudahnya mereka pun bisa saja mendatangkan kembali preman-preman Ambon yang dulu pernah bikin rusuh di Ketapang dan telah diusir keluar dari Jakarta tahun 1998. Setelah pulang dengan membawa dendam terhadap umat Islam preman-preman itu pun melakukan kerusuhan di Ambon dan membantai umat Islam disana beberapa bulan kemudian.

Kalau Kristen sudah berhasil menambah sedikit saja lagi populasinya di Jakarta sehingga persentase jumlahnya menjadi setidaknya 25%, bersiaplah kita umat Islam di kota Jakarta, ibukota kita yang tercinta ini untuk "di-Poso-kan" .. Waspadalah! Waspadalah!!!

Laporan US Comitte of Refugees tentang Indonesia yang diterbitkan Januari 2001 menyebutkan dalam kerusuhan/konflik Poso yang terjadi selama tiga tahun belakangan ini, pihak Muslim telah menderita secara tidak seimbang. Dalam laporan itu disebutkan, jumlah pengungsi akibat konflik Poso kini sebanyak hampir 80.000 orang, dan diperkirakan 60.000 orang adalah Muslim.

Para pengungsi ini hidup menderita tanpa kejelasan masa depan mereka; dan mereka kehilangan hak-haknya berupa tanah, kebun coklat, cengkih, kopra, rumah, harta benda, bahkan nyawa sanak-saudaranya. Bantuan makanan, obat-obatan sangat terbatas, sehingga penyakit senantiasa menghantui mereka. Bantuan hukum umtuk meminta keadilan praktis tidak ada. Bahkan, nyawa mereka terancam setiap saat, karena diserang pasukan kelelawar Merah (Kristen pada malam hari, walau barak-barak pengungsi dijaga oleh polisi (Republika, 4 September 2001).

Bila mengingat awal tragedi Poso, sebagian kita terfokus pada pesantren Walisongo dan seluruh penghuninya yang dihabisi Tibo cs. Padahal, tak hanya wilayah Tagolu (lokasi pesantren tersebut) saja yang berkobar. Yang lebih mengkhawatirkan sekali adalah kondisi geografis kaum Muslimin Poso yang terjepit. Rentang jalur Palu-Poso mayoritas dikuasai pihak Kristen. Sementara jalur Poso-Ampana juga dikelilingi desa-desa Kristen. Dan, sepanjang trans Tagolu-Pindolo adalah hunian kelompok merah.

Ketika terjadi pembantaian besar-besaran terhadap umat Islam Poso, pihak Kristen sengaja mengisolir wilayah Poso kota dari jangkauan aparat. Jalur segitiga tadi mereka kepung dan halangi dengan pepohonan yang ditumbangkan. Sehingga, aparat gagal mencapai Poso. Namun dalam kondisi yang demikian, berkat pertolongan Allah Ta'ala kaum Muslim Poso berhasil mempertahankan wilayahnya.

Gejolak nafsu pihak Kristen untuk melumat habis Muslimin Poso tetap membara. Dengan dukungan pendudukan wilayah yang mengepung Poso, mereka selalu berinisiatif menyerang. 5 unit pos aparat yang ada di Pindolo tak dapat berbuat banyak untuk mengatasi, sebab jalur Tagolu-Pindolo telah mereka jepit. Ada indikasi kuat bahwa jenazah kaum Muslimin yang selama ini dibantai dibuang di jurang.

Ulah pihak Kristen tak hanya ditujukan kepada kaum Muslimin saja. Aparat keamanan yang dianggap menghalangi kebrutalan mereka pun, disikat. Seperti tragedi yang menimpa Serka Muslimin, 21 Juni lalu di Tomata kembali mereka beraksi (lihat Patroli).

Tak hanya Mujahidin yang mereka serang. 15 Juni lalu di Sepe Silanca mereka menghadang mobil yang menjemput Habib Sholeh Al Jufri, salah seorang tokoh tarekat di Poso. Padahal sikap kelompok tarekat selama ini tidak menunjukkan simpati pada perjuangan jihad kaum Muslimin di Poso. Makna jihad misalnya, diartikan tidak dengan senjata. Cukup dengan pentungan dan kerikil yang telah 'diisi'. Dengan kesyirikan itulah, pasukan merah hendak dilawan! Tentu secara teknis perang, kelompok tarekat tidak membahayakan posisi kelompok Kristen. Toh begitu, tetap mereka serang.

Fakta tersebut menunjukkan betapa kuat keinginan mereka untuk menghabisi umat Islam di wilayah Sulawesi Tengah, terutama Poso. Jadi, jelaslah tragedi ini bukan sekadar konflik memperebutkan jabatan politik atau sentimen antarsuku. Melainkan sebuah grand disain yang rapi untuk menjadikan Poso sebagai lahan banjir darah umat Islam, sebagaimana Maluku.

Untunglah setelah 1 tahun konflik di Maluku dan 2 tahun di Poso, Laskar Jihad berhasil masuk kesana. Lambat laun keadaan menjadi lebih berimbang, dan umat Islam berhasil mempertahankan diri bahkan mampu memukul balik serangan-serangan Laskar Kristen di kedua wilayah tersebut. Alhamdulillah dengan demikian hal itu berhasil memaksa pasukan Kristen untuk berunding dan menandatangani perjanjian damai.

Episode pembantaian biadab orang Kristen ketika menyerbu pesantren Walisongo begitu memilukan hati, tentu bagi orang yang masih memiliki hati.(dm)


MENGENANG TRAGEDI PEMBANTAIAN UMAT ISLAM MALUKU & POSO...
SEMOGA PENGKHIANATAN KRISTEN TIDAK TERULANG LAGI...


Sumber : http://duniamuallaf.blogspot.co.id/
Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Pesan yang baik, jangan emosional.Bila ingin mengkeritisi, pakailah dalil yang sahih.Dan identitasnya jelas. Komentar emosional, tidak ditayangkan