Jumat, Agustus 05, 2016

Obama Bantah Duit Rp5 Triliun yang Dikirim ke Iran untuk Tebus Sandera



Presiden Barack Obama menyanggah tudingan adanya pengiriman uang US$400 juta dari pemerintah Amerika Serikat untuk Iran guna membayar tebusan sandera.

"Kami tidak membayar tebusan. Kami tidak melakukan itu dan tidak akan pernah melakukannya," ujar Obama seperti dikutip CNN.

Obama pun menegaskan bahwa AS memegang teguh prinsip negaranya untuk tidak membayar tebusan, bahkan keluarga sandera pun sudah memahami itu.

"Keluarga-keluarga itu mengetahui bahwa kami memiliki kebijakan untuk tidak membayar tebusan. Bahkan ketika kami melihat wajah-wajah anggota keluarga yang orang terkasihnya disandera, kami mengatakan kepada mereka bahwa kami tidak membayar tebusan, itu bertolak belakang dengan logika," tutur Obama.

Informasi pengiriman uang yang setara dengan lebih dari Rp5,2 triliun itu terungkap melalui laporan CNN pada Rabu (3/8) yang mengutip sejumlah sumber pemerintahan. Pengiriman uang itu dilakukan di hari yang sama empat tahanan AS dibebaskan oleh Teheran dan kesepakatan nuklir diimplementasikan.

Dalam kesempatan tersebut, Obama kembali menekankan bahwa dana tersebut merupakan bagian dari US$1,7 miliar yang harus dibayarkan AS berdasarkan keputusan pengadilan arbitrase internasional di Den Haag terkait pembelian senjata yang gagal di era Shah Reza Pahlevi.



"Kami mengumumkan pembayaran ini pada Januri lalu, Berbulan-bulan lalu. Itu bukan rahasia. Kami sangat terbuka mengenai hal itu," kata Obama.

Obama pada Januari lalu mengatakan, uang itu harus diberikan demi menyelamatkan miliaran dolar uang AS. Uang itu adalah pembayaran pembelian senjata oleh Iran kepada AS di era Shah pada tahun 1970-an. Shah digulingkan tahun 1979 dalam revolusi pimpinan Khameini, sehingga transaksi gagal dilakukan dan dana Iran di AS dibekukan.

Iran melalui pengadilan internasional sejak tahun 1981 berjuang untuk mendapatkan kembali uang tersebut. Obama mengatakan, lebih baik membayarkan US$400 juta--ditambah US$1,3 miliar bunga--ketimbang memenuhi seluruh jumlah uang yang dituntut Iran dalam pengadilan, yaitu US$10 miliar.

Setahun setelah kesepakatan nuklir diimplementasikan, Presiden Iran, Hassan Rouhani, pada Selasa (2/8) mengeluh bahwa AS tidak menyepakati isi perjanjian tersebut. Meski sanksi ekonomi terhadap Iran sudah dihapus, namun bank-bank utama Eropa masih enggan untuk menangani berbagai pembayaran dari Iran karena masih sanksi terkait terorisme dan hak asasi manusia dari AS masih diberlakukan.

Iran juga dinilai kesulitan memanfaatkan kesepakatan itu. Warga Iran mulai banyak yang menyuarakan kekecewaan mereka soal hasil kesepakatan ini.


Alhasil, pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, menyatakan pada awal pekan ini bahwa publik Iran pada umumnya tidak mendapat manfaat dari kesepakatan itu. Pernyataan Khamenei ini mendukung tuduhannya sebelumnya bahwa AS tidak dapat dipecaya.
Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Pesan yang baik, jangan emosional.Bila ingin mengkeritisi, pakailah dalil yang sahih.Dan identitasnya jelas. Komentar emosional, tidak ditayangkan