Senin, September 19, 2016

Jawabanku untuk member di FMP




Member di FMP menyatakan sbb:
Saya lagi mulai belajar ( mohon bimbingan ) ilmu hadits - sampai kpd bab kitab2 al mustakhrajaat...semisal

Al Ismailiy
Al Barqaniy
Abu Ja'far bin Hamdan dan lain lain...

Dalam keterangan disebutkan yg intinya :

" Bahwa al mustakhrajaat tidaklah harus lafadznya sama dengan shahihain walaupun bertemu pada sebuah titik di perawi shahihain secara sanad "


Kebayang - ini delik mutharib dong ?

Jadi pasti lemah - artinya gak ada guna disusun kitab2 al mustakhraj ?

Bener gak logika ini ?

#sambilsenyumngeliatujanrintikrintik


Sia2 dong disusun al mustakhrajaat - juga aimmah yg nyusunnya mengerjakan yg gak guna ?

Bener Kyai ?

Komentarku ( Mahrus ali ) :
 حكم المستخرجات على الصحيحين:
المستخرجات على الصحيحين لا يجزم بصحة ما فيها لأن صاحب المستخرج يروي الكتاب من غير طريق مصنفه.
فحينئذ يتوقف الحكم بصحة ما فيه حتى ينظر في رواته.
Intinya : Hadis – hadis dlm mustakhrajat blm tentu sahih  - jd hrs dilihat perawi – peawinya lemah atau tdk., bgt juga redaksinya apakah menyalahi ayat al quran atau hadis  yg lebih sahih  atau tidak.
Jd kadang hadis di sana lemah, hasan atau sahih.
حكم الرواية عن الكتب المستخرجة :

لم يلتزم واحد من هؤلاء الأئمة موافقة الكتاب الأصلي في ألفاظ الحديث ، لأنهم إنما يروون بالألفاظ التي وقعت لهم عن شيوخهم ، فحصل فيها تفاوت قليل في الألفاظ ، وتفاوت أقل منه في المعاني ، فلا يجوز لمن ينقل عن أحد هذه الكتب المستخرجة حديثـًا ثم ينسبه إلى الصحيحين مثلاً ، ويقول هو هكذا فيهما إلا أن يقابله بهما ، أو يكون صاحب الكتاب المستخرج قد صرح بأنه استخرجه بلفظه كأن يقول : أخرجه البخاري بلفظه .
Intinya: menurut keterangan di atas, ada perbedaan lafadh sedikit antara  hadis – hadis mustakhrajat  dan hadis  Bukhari dan Muslim. Jg ada perbedaan makna, tp tambah lebih sedikit.
Komentarku ( Mahrus ali ) :
Perbedaan lafadh asal tdk merobah makna mk silahkan dan tdk dikatakan idhtirab. Apalagi perbedaan hanya sbg penjelasan, bukan pengkaburan.
Tp bila perbedaan lafadh dlm mustakhrajat dan sahihain  itu menimbulkan pemahaman  yg sangat beda , mk  disini idhtrab bila sama sahihnya.
BIla tdk dikatakan idhtirab, mk dikatakan apa ?
Bila  salah satunya lemah, mk  ambillah yg sahih dan tinggalkan yg lemah.
Bila  yg lemah di ambil, dan yg sahih di tinggalkan  mk  sangat keliru.
Untuk faedah kitab mustakhrajat itu banyak tp disini diluar topic yg kita bahas  yaitu masalah idltirab,mk  sy tdk jelaskan.


Kita kembali kpd tambahan redaksi hadis  dr perawi terpercaya, dmn kemarin telah sy kutipkan :
فِي زِيَادَةِ الثِّقَةِ 
إِذَا تَفَرَّدَ الرَّاوِي بِزِيَادَةٍ فِي الْحَدِيثِ عَنْ بَقِيَّةِ الرُّوَاةِ عَنْ شَيْخٍ لَهُمْ, وَهَذَا الَّذِي يُعَبَّرُ عَنْهُ بِزِيَادَةِ الثِّقَةِ, فَهَلْ هِيَ مَقْبُولَةٌ أَمْ لَا؟ فِيهِ خِلَافٌ مَشْهُورٌ: فَحَكَى الْخَطِيبُ عَنْ أَكْثَرِ الْفُقَهَاءِ قَبُولَهَا, وَرَدَّهَا أَكْثَرُ الْمُحَدِّثِينَ. 
Intinya kebanyakan   pakar  hadis  menolak tambahan perawi terpercaya.
Apalagi tambahan dr perawi lemah, mk  lebih tertolak.
Untuk pengurangan  redaksi hadis  dr perawi terpercaya  boleh jd di katakana riwayat  yg di ringkas.
Tp bila bikin makna yg sangat berbeda , mk  jg di katakana idhtirab.
Lebih tepatnya ikutilah  kebanyakan  pr  pakar hadis  untuk menolak tambahan perawi terpercaya.
Hal itu  biar hadis  itu murni dr perkataan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam  , bukan  campur aduk antara  perkataan perawi dn Rasulullah shallallahu alaihi wasallam 


Ada  yg menyatakan sedemikian:
Sy kutip scr ringkas sj sbb:
Jadi, syarat dari tafarrud adalah adanya banyak rawi yang menjadi bandingan. Adapun kalau bandingannya cuma satu, atau malah tidak ada bandingannya, maka itu bukan kasus tafarrud.

Komentarku ( Mahrus ali ) :
Bila tdk dikatakan tafarrud , terus dikatakan apa ?
Bila tdk dikatakan syadz, terus dikatakan  apa, pendukungnya tdk ada.
Walaupun satu orang perawi, tp redaksi riwayatnya syadz, mk ttp dikatakan  tafarrud.
Pd hal hadis Kisah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam   mkn Ayam yg digulirkan oleh Zahdam ini punya dua jalur lg tanpa menyebut Rasulullah shallallahu alaihi wasallam   mkn Ayam . Yaitu dari jalur Ansa dan Abu Burdah . Boleh dilihat sbb:


صحيح البخاري (6/ 2)
عَنْ أَبِي بُرْدَةَ،
صحيح البخاري (6/ 2)
حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ العَلاَءِ، حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ، عَنْ بُرَيْدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي بُرْدَةَ، عَنْ أَبِي بُرْدَةَ، عَنْ أَبِي مُوسَى رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ،
المسند الجامع (11/ 372)
- عَنْ أَنَسٍ، أَنَّ أَبَا مُوسَى قال:
اسْتَحْملْنَا رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم، فَحَلَفَ لاَيَحْمِلْنَا، ثُمَّ حَمَلَنَا. قُلْتُ: يَارَسُولَ الله، إِنَّكَ حَلَفْتَ لاَتَحْمِلْنَا. قال: وَأَنَا أَحْلِفُ لأَحْمِلَنَّكُمْ.
أخرجه أحمد 3/179

WA sy yg baru 08883215524
Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Pesan yang baik, jangan emosional.Bila ingin mengkeritisi, pakailah dalil yang sahih.Dan identitasnya jelas. Komentar emosional, tidak ditayangkan