Kamis, Oktober 13, 2016

Salat zhuhur dan Asar yg benar

820. Ibn Majah.
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ حَكِيمٍ حَدَّثَنَا أَبُو دَاوُدَ الطَّيَالِسِيُّ حَدَّثَنَا الْمَسْعُودِيُّ حَدَّثَنَا زَيْدٌ الْعَمِّيُّ عَنْ أَبِي نَضْرَةَ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ اجْتَمَعَ ثَلَاثُونَ بَدْرِيًّا مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا تَعَالَوْا حَتَّى نَقِيسَ قِرَاءَةَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيمَا لَمْ يَجْهَرْ فِيهِ مِنْ الصَّلَاةِ فَمَا اخْتَلَفَ مِنْهُمْ رَجُلَانِ فَقَاسُوا قِرَاءَتَهُ فِي الرَّكْعَةِ الْأُولَى مِنْ الظُّهْرِ بِقَدْرِ ثَلَاثِينَ آيَةً وَفِي الرَّكْعَةِ الْأُخْرَى قَدْرَ النِّصْفِ مِنْ ذَلِكَ وَقَاسُوا ذَلِكَ فِي صَلَاةِ الْعَصْرِ عَلَى قَدْرِ النِّصْفِ مِنْ الرَّكْعَتَيْنِ الْأُخْرَيَيْنِ مِنْ الظُّهْرِ
dari [Abu Sa'id Al Khudzri] ia berkata, "Tiga puluh orang sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang pernah ikut perang badar berkumpul, mereka berkata; "Kemarilah berkumpul hingga kita bisa mengukur berapa panjang bacaan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dalam shalat yang bacaannya tidak dikeraskan. " Tidak ada dua orang pun dari mereka yang  berselisih, lalu mereka memperkirakan bahwa bacaan beliau di raka'at pertama dari shalat zhuhur sekitar tiga puluh ayat, sedangkan dalam raka'at yang lainnya hanya separuhnya. Kemudian mereka membandingkan dengan shalat ashar, bahwa panjangnya adalah separuh dari bacaan dua raka'at terakhir shalat zhuhur. "
Al bani menyatakan:
وزيدٌ العَمِّي هذا: ضعيف.
Perawi bernama Zaid al ammi adalah lemah.
أصل صفة صلاة النبي صلى الله عليه وسلم (2/ 461)
Kalimat dlm hadis  “ dalam shalat yang bacaannya tidak dikeraskan” ini ber arti salat sirriyah  atau  salat yg bacaannya di bisikkan , bukan di suarakan .
Hadis  tsb seandainya sahih, mk bisa di buat pegangan bahwa salat zhuhur dan Asar sirriyah bukan jahriyah  bukan  bersuara.
Seandainya di sahihkan masih bertentangan dg ayat 110 al Isra`. Dan banyak hadis lalu yg menyatakan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam   membaca  surat dlm salat Zhuhur dan Asar bukan berbisik sebagmn salat orang sekarang.
Lantas bgmn salat zhuhur dan Asar  yg dilakukan banyak orang dg berbisik ?
Sy katakan: Menyalahi ayat 110 al Isra` itu dn tuntunan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam  . Mn landasan  dr hadis atau al Quran yg memerintah agar berbisik  dlm dua salat siang itu ?
Sy blm menjumpainya.
Lalu mn dalil bacaan  rakaat ketiga  Maghrib dan ke tiga dan ke empat Isya` di buat berbisik ?
Siapapun yg di tanyai  spt itu dr kalangan  alim  ulama  atau juhala   tdk akan tahu. Bungkam seribu bahasa. Boleh diperaktekkan , boleh  di coba di dunia ini. Apalagi  nanti di akhirat bila di tanyai oleh Allah : Siapa yg menyuruhmu berbisik dlm salat?
Siapapun tdk akan bisa jawab.
Tp bila di tanya mengapa dibc jaher dlm rakaat ke tiga Maghrib dan ke tiga atau ke empat Isya`. Mk kita bisa jwb dengan tegas karena ayat 110 al Isra dan tuntunan  dr Nabi  shallallahu alaihi wasallam  
Siapa yg bisa bantah, tdk akan bisa. Bukan sulit bantah, tp tdk bisa.
Kok bantah – bantahan . Kita ini boleh bantah untuk kebenaran dr pd  diam untuk bela kebatilan, apalagi diam pd  hal kita  punya ilmu untuk di sampaikan.  
Kita bersuara  sedang dlm salat karena ada perintah dlm ayat 110 al Isra` itu.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam   bersuara  sedang / jaher dlm salat itupun karena ada ayat 110 al Isra` itu.
Jadi ayat itu di buat landasan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam   dlm bacaan bersuara  dlm salat.
Landasan itu tdk boleh di tinggalkan lalu ikut lingkungan dengan kebodohan atau tanpa ilmu. Kita  buang ayat untuk ikut manusia. Mestinya  kita ikut ayat meski bertentangan dg  manusia. UNtuk apa kita sama dg manusia tp kita melanggar perintah Allah.



Grup WA baru sy anggotanya sdh mencapai 147 orang dr asatidz dan ikhwan Judul nya “ Masa il diniyah “ / “ Koreksi ajaran Islam klasik “
Cari ilmu agama dg sistim dialog yg ilmiyah, penuh persaudaraan . 
Mau ikut , hub 08883215524 . 
0852-7312-5077
0 857-8715-4455 
0812-3270-051
0812-4194-6733
Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Pesan yang baik, jangan emosional.Bila ingin mengkeritisi, pakailah dalil yang sahih.Dan identitasnya jelas. Komentar emosional, tidak ditayangkan