Minggu, November 13, 2016

Bantahan untuk Ust Aqsith


Ust Abu Aqsith menyatakan  sbb:
. Hadits Al-Baihaqy No.2657 (Khobbab bin Al-Aroth r.a)

أخبرنا أبو عبد الله الحافظ، ثنا أبو بكر هو ابن إسحاق الفقيه أنبأ الحسن بن علي بن زياد ثنا إبراهيم بن موسى، ثنا عيسى بن يونس عن زكريا بن أبي زائدة عن إبي إسحاق عن سعيد بن وهب عن خباب بن الأرت قال : شكونا إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم شدة الرمضاء في جباهنا وأكفنا فلم يشكنا

Dari khobbab bin Al-Aroth ia berkata: kami mengadu kepada Rasulullah SAW tentang sangat panasnya dahi kami (saat sujud) dan juga pergelangan kami namun Rasul SAW tidak menanggapi pengaduan kami.

(Dikeluarkan oleh: Imam Al-Baihaqy; Sunan Al-Kubro Lil-Baihaqy. Juz 2 hal. 151 No.2658)

Komentarku ( Mahrus ali ) :
Terjemahannya keliru.
Dia menerjemahkan sbb:
Dari khobbab bin Al-Aroth ia berkata: kami mengadu kepada Rasulullah SAW tentang sangat panasnya dahi kami (saat sujud) dan juga pergelangan kami namun Rasul SAW tidak menanggapi pengaduan kami.
Komentarku ( Mahrus ali ) :
Terjemahan yg benar sbb:
Dari khobbab bin Al-Aroth ia berkata: kami mengadu kepada Rasulullah SAW tentang pasir yg sangat panass ( karena terik matahari ) yg menyengat  dahi –dahi kami (saat sujud) dan tapak tangan kami.  namun Rasul SAW tidak menanggapi pengaduan kami.

Perbedaannya :
Dia menerjemahkan :
tentang sangat panasnya dahi kami (saat sujud) dan juga pergelangan kami

Komentarku ( Mahrus ali ) :
Terjemahan sy :
tentang pasir  yg sangat panas ( karena terik matahari ) yg menyengat  dahi –dahi kami (saat sujud) dan tapak tangan – tapak tangan  kami. 

INti kesalahan Ust Aqsit , kalimat ramdha` yg artinya pasir yg panas  karena terik matahari  tdk diterjemahkan.   Lalu  kalimat  wa akuffina di terjemahkan pergelangan kami . Mestinya terjemahannya adalah tapak tangan– tapak tangan kami.
Ini berdasarkan sy lihat di syarah hadis  :
شرح السيوطي على مسلم (2/ 358)
شدَّة الرمضاء وَهُوَ الرمل الَّذِي اشتدت حرارته بالشمس
الديباج على مسلم (2/ 358)
شدة الرمضاء وهو الرمل الذي اشتدت حرارته بالشمس
Arti syiddaturramdha``  adalah pasir yg sagat panas karena  terik sinar matahari.

Dia menuis lg
Riwayat ini “SYAD” karena hanya bermuara ke Zakaria dari Abu Ishaq dari Sa’id bin Wahb dari Khobbab bin Al-Aroth r.a. Padahal dari Abu Ishaq yang diriwayatkan oleh banyak rowi sebagai muridnya tidak ada tambahan “pada dahi kami dan juga pergelangan kami”. Mereka murid-murid abu Ishaq yang tsiqoh yaitu:

Komentarku ( Mahrus ali ) :
Yg syadz itu bukan riwayatnya , tp tambahannya  .
Walaupun demikian   tdk merobah kontek dan makna  hadis.
Ada kekeliruan lg dr Ust Aqsit  sbb:
Padahal dari Abu Ishaq yang diriwayatkan oleh banyak rowi sebagai muridnya tidak ada tambahan “pada dahi kami dan juga pergelangan kami”.

Komentarku ( Mahrus ali ) :
Mestinya :
Padahal dari Abu Ishaq yang diriwayatkan oleh banyak rowi sebagai muridnya tidak ada tambahan “pada dahi – dahi kami dan juga tapak tangan – tapak tangan kami”.

Komentarku ( Mahrus ali ) :
Bila tambahan  “pada dahi – dahi kami dan juga tapak tangan – tapak tangan kami”. Di tolak , makna hadis masih ttp sama dan  bisa di buat renungan bagi orang yg menjalankan salat wajib di sajadah agar tobat dr pdnya.
Intinya para  sahabat itu mengadu pd Rasulullah shallallahu alaihi wasallam   atas panas pasir  waktu salat  zuhur , maunya mereka agar diberi solusi boleh salat di sajadah atau  tikar dll. Tp Rasulullah shallallahu alaihi wasallam  diam sj.
Mengapa  kondisi  yg sangat panas ini masih tdk  diperkenankan makai  tikar tp masih dibiarkan  bgt sj para sahabat sujud di tanah yg panas.
Mengapa para sahabat masih ttp menjalankan salat tanpa tikar sekalipun  kondisinya amat anas?


Bersambung …………………..
Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Pesan yang baik, jangan emosional.Bila ingin mengkeritisi, pakailah dalil yang sahih.Dan identitasnya jelas. Komentar emosional, tidak ditayangkan