Jumat, Oktober 23, 2026

Ajaran Allah vs ajaran manusia

 

 Ajaran Allah vs ajaran manusia

ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَىٰ شَرِيعَةٍ مِّنَ الْأَمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ

  Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.  18 Jatsiyah 

 ثُمَّ جَعَلْنَاكَ -أَيُّهَا الرَّسُولُ- عَلَى

 مِنْهَاجِ وَاضِح مِنْ أَمْرِ الدِّينِ، فَاتُّبِع الشَّرِيعَةً الَّتِي جَعَلْنَاك عَلَيْهَا، وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَ الْجَاهِلِين بِشَرْعِ اللَّهِ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ الْحَقَّ. وَفِي الْايَةِ دَلَالَةٌ عَظِيمَةٌ عَلَى كَمَالِ هَذَا الدَّيْنِ وَشَرَفِه، وَوُجُوبِ الِانْقِيَادِ لِحُكْمِه، وَعَدَمِ الْمَيْلِ إلَى أَهْوَاء الْكَفَرَة وَالْمُلْحِدِين

.

Kemudian Kami telah menempatkanmu, [wahai Rasul], di jalan agama yang jelas. Maka ikutilah hukum yang telah Kami tetapkan untukmu, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui hukum Allah dan tidak mengetahui kebenaran. Ayat ini merupakan indikasi yang kuat tentang kesempurnaan dan kemuliaan agama ini, kewajiban untuk tunduk pada hukum-hukumnya, dan larangan untuk condong kepada hawa nafsu orang-orang kafir dan ateis.

Ayat 18 Gracia tersebut menunjukkan bahwa ajaran islam itu dari Allah bukan dari manusia bukan dari jin dan bukan dari setan . Karena itu Allah memerintah kepada nabi untuk mengikuti syariat tersebut , tidak boleh membikin sendiri tapi ikutilah ajaran  dari Allah tersebut dan ada larangan mengikuti ajaran  hawa nafsu orang-orang bodoh. Maksudnya ikutilah ajaran dari Allah ini jangan mengikuti kebidahan yang dilakukan oleh orang-orang bodoh, orang-orang yang tidak berilmu atau berilmu tapi ilmunya salah, bukan ilmu yang benar tapi menyesatkan.  Ayat ini juga menganjurkan kita untuk berpegangan kepada ajaran Allah dan menghindari kebidahan ,  jangan sampai diikuti tapi tinggalkan saja kebidanan itu. Seba kebidahan bukan dari orang yang berilmu tapi dari orang-orang bodoh.

إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَىٰ إِلَيَّ ۚ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الْأَعْمَىٰ وَالْبَصِيرُ ۚ أَفَلَا تَتَفَكَّرُونَ

Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Katakanlah: "Apakah sama orang yang buta dengan yang melihat?" Maka apakah kamu tidak memikirkan(nya)?"

Al an`am 50

Maka dari itu cerita-cerita yang bertentangan dengan Alquran . Jangan dipercaya sebab nabi tidak mengatakan seperti itu . Apa yang dikatakan oleh nabi itu hanya mengikuti Wahyu. maksudnya cocok dengan ayat . Banyak hadis-hadis yang menentang Alquran itu harus ditinggalkan karena itu bikinan orang, bukan dari nabi dan bukan ajarannya.

Saya  mendengar perkataan pimpinan pondok pesantren Gontor kyai haji Abdullah Sahal yang menyatakan santri Gontor yang dari rumah nu maka kembali ke rumah akan tetap menjadi NU dan  yang asalnya dari rumah Muhammadiyah maka akan kembali ke desanya menjadi Muhammadiyah. Juga 4 menantu saya itu orang-orang NU semua. Perkataan sedemikian ini berarti ajaran Gontor ini tidak murni cocok dengan ajaran Allah tapi dicampur dengan ajaran-ajaran manusia atau  populernya dikatakan ajaran kebidahan dan Sunnah.

 

 

Kamis, Oktober 08, 2026

Jawaban untuk dr kh muhammad abduh tuasikal st m sc tentang hadis sbb :

  

Jawaban untuk dr kh muhammad abduh tuasikal st m sc tentang hadis sbb :

 

عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ السَّاعِدِىِّ قَالَ نَظَرَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – إِلَى رَجُلٍ يُقَاتِلُ الْمُشْرِكِينَ ، وَكَانَ مِنْ أَعْظَمِ الْمُسْلِمِينَ غَنَاءً عَنْهُمْ فَقَالَ « مَنْ أَحَبَّ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى رَجُلٍ مِنْ أَهْلِ النَّارِ فَلْيَنْظُرْ إِلَى هَذَا » . فَتَبِعَهُ رَجُلٌ فَلَمْ يَزَلْ عَلَى ذَلِكَ حَتَّى جُرِحَ ، فَاسْتَعْجَلَ الْمَوْتَ . فَقَالَ بِذُبَابَةِ سَيْفِهِ ، فَوَضَعَهُ بَيْنَ ثَدْيَيْهِ ، فَتَحَامَلَ عَلَيْهِ ، حَتَّى خَرَجَ مِنْ بَيْنِ كَتِفَيْهِ . فَقَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « إِنَّ الْعَبْدَ لَيَعْمَلُ فِيمَا يَرَى النَّاسُ عَمَلَ أَهْلِ الْجَنَّةِ ، وَإِنَّهُ لَمِنْ أَهْلِ النَّارِ ، وَيَعْمَلُ فِيمَا يَرَى النَّاسُ عَمَلَ أَهْلِ النَّارِ وَهْوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ ، وَإِنَّمَا الأَعْمَالُ بِخَوَاتِيمِهَا »

 

Sahl bin Sa’ad As-Sa’idi berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melihat ada yang membunuh orang-orang musyrik dan ia merupakan salah seorang prajurit muslimin yang gagah berani. Namun anehnya beliau malah berujar, “Siapa yang ingin melihat seorang penduduk neraka, silakan lihat orang ini.” Kontan seseorang menguntitnya, dan terus ia kuntit hingga prajurit tadi terluka dan ia sendiri ingin segera mati (tak kuat menahan sakit, pen.). Lalu serta merta, ia ambil ujung pedangnya dan ia letakkan di dadanya, lantas ia hunjamkan hingga menembus di antara kedua lengannya.

 

Selanjutnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh ada seorang hamba yang menurut pandangan orang banyak mengamalkan amalan penghuni surga, namun berakhir menjadi penghuni neraka. Sebaliknya ada seorang hamba yang menurut pandangan orang melakukan amalan-amalan penduduk neraka, namun berakhir dengan menjadi penghuni surga. Sungguh amalan itu dilihat dari akhirnya.” (HR. Bukhari, no. 6493)

 

Komentarku ( Mahrus ali ) :

Itulah terjemahan dari KH Muhammad Abduh Tausikaal ‘

– إِلَى رَجُلٍ يُقَاتِلُ الْمُشْرِكِينَ

pernah melihat ada yang membunuh orang-orang musyrik

komentarku (Mahrus ali ) :

 Yang benar adalah  melihat kepada lelaki yangberperang melawan musrikin. ( bukan membunuh ).

وَكَانَ مِنْ أَعْظَمِ الْمُسْلِمِينَ غَنَاءً عَنْهُم

dan ia merupakan salah seorang prajurit muslimin yang gagah berani

komentarku (Mahrus ali ) :

 yang tepat adalah Dia termasuk di antara umat Muslim yang paling mandiri di antara mereka.

، فَاسْتَعْجَلَ الْمَوْتَ . فَقَالَ بِذُبَابَةِ سَيْفِهِ ، فَوَضَعَهُ بَيْنَ ثَدْيَيْهِ ، فَتَحَامَلَ عَلَيْهِ ، حَتَّى خَرَجَ مِنْ بَيْنِ كَتِفَيْهِ

dan ia sendiri ingin segera mati (tak kuat menahan sakit, pen.). Lalu serta merta, ia ambil ujung pedangnya dan ia letakkan di dadanya, lantas ia hunjamkan hingga menembus di antara kedua lengannya.

Komentarku (Mahrus ali ) :

Yang benar adalah sbb : Ia mempercepat kematiannya. Maka ia mengambil ujung pedangnya dan meletakkannya di antara dadanya, lalu bersandar padanya hingga pedang itu keluar dari antara bahunya.

 Komentarku (Mahrus ali ) :

Hadis tsb di kitab

تحفة الأشراف بمعرفة الأطراف (4/ 122)

الحديث. خ في القدر (5: 2) عن ابن أبي مريم - وفي الرقاق (33) عن عليِّ بن عياش - كلاهما عنه به

Tuhfat al-Ashraf bi-Ma'rifat al-Atraf (4/122)

Hadits ini terdapat dalam al-Qadr (5:2) berdasarkan riwayat Ibnu Abi Maryam - dan dalam al-Riqaq (33) berdasarkan riwayat Ali bin Ayyash - keduanya berdasarkan riwayatnya.

 Hadisitu hanya dari Al bin Ayyas

قال يعقوب الفسوي : مات سنة تسع عشرة ومائتين .

Yaqub al-Fasawi berkata: Beliau wafat pada tahun dua ratus sembilan belas.

 

الدارقطني، أحاديث من صحيح البخاري أعلها الدارقطني

Al-Daraqutni, hadits dari Sahih al-Bukhari yang dianggap cacat oleh Al-Daraqutni

Komentarku (Mahrus ali ) :

Hadis tersebut tidak layak untuk dibuat pegangan tapi lepaskan, jangan lagi dilihat buang saja, karena hadis itu menyatakan seseorang menjalankan perbuatan ahli surga tapi hakikatnya dia adalah penduduk neraka. Dan orang yang mengerjakan sesuatu menurut manusia dia adalah ahli neraka tapi hakikatnya ahli surge. Hari ini sama dengan mengatakan kalau Anda menjumpai orang sholeh maka jangan kira dia ahli surga belum tentu dia mungkin ahli neraka.Kalau Anda lihat lagi orang kafir Jangen kau lihat dia penduduk neraka tapi dia adalah penduduk surge. Hadits ini jelas membingungkan bukan menjelaskan ajaran agama tapi bikin orang bingung dengan ajaran agama. Orang sholeh dianggap Ahli neraka dan orang kafir boleh dianggap ahli surga , karena yang penting akhir hayatnya bukan penting awal hayatnya atau tengahnya-tengahnya biardia minum berzina atau mengerjakan amalan-amalan orang kafir, tapi lihat nanti akhirnya. Ini keliru sekali bertentangan dengan ayat sebagai berikut

Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa,

( 6 )   dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga),

( 7 )   maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.

( 8 )   Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup,

( 9 )   serta mendustakan pahala terbaik,

   maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar.

( 11 )   Dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah binasa.

( 12 )   Sesungguhnya kewajiban Kamilah memberi petunjuk,

( 13 )   dan sesungguhnya kepunyaan Kamilah akhirat dan dunia.

Sekarang kita lihat saja kenyataannya , orang ahli bidah maka dia akan menjalankannya sampai akhir hayatnya.  itu hukum kebanyakan mesti ada pengecualian dan sebagian kecil lihatt saja orang Saudi , kebanyakan mengikuti aqidah salafi dan anti kebidanan, ya sampai akhir hayatnya dia menjalankan seperti itu, lihat saja orang-orang syiah di Iran dia akan menjalankan ajaran syiah sampai mati, ini hukum kebanyakan. Jadi kalau orang itu  suka berjudi minum maka dia akan menjalankannya sampai mati ini hukum pada umumnya . makanya hadis tersebut tidak sesuai dengan kenyataan bahwa orang sholeh jangan dikira dia ahli surga tapi dia hakikatnya adalah Ali neraka itu tidak benar dan itu hadisd tssb oleh Daroqutni dikatakan cacat dan itu hadis mungkar karena Ali bin ayas yang meriwayatkannya satu orang

 

Jawaban untuk dr kh muhammad abduh tuasikal st m sc tentang hadis sbb :

 

عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ السَّاعِدِىِّ قَالَ نَظَرَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – إِلَى رَجُلٍ يُقَاتِلُ الْمُشْرِكِينَ ، وَكَانَ مِنْ أَعْظَمِ الْمُسْلِمِينَ غَنَاءً عَنْهُمْ فَقَالَ « مَنْ أَحَبَّ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى رَجُلٍ مِنْ أَهْلِ النَّارِ فَلْيَنْظُرْ إِلَى هَذَا » . فَتَبِعَهُ رَجُلٌ فَلَمْ يَزَلْ عَلَى ذَلِكَ حَتَّى جُرِحَ ، فَاسْتَعْجَلَ الْمَوْتَ . فَقَالَ بِذُبَابَةِ سَيْفِهِ ، فَوَضَعَهُ بَيْنَ ثَدْيَيْهِ ، فَتَحَامَلَ عَلَيْهِ ، حَتَّى خَرَجَ مِنْ بَيْنِ كَتِفَيْهِ . فَقَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « إِنَّ الْعَبْدَ لَيَعْمَلُ فِيمَا يَرَى النَّاسُ عَمَلَ أَهْلِ الْجَنَّةِ ، وَإِنَّهُ لَمِنْ أَهْلِ النَّارِ ، وَيَعْمَلُ فِيمَا يَرَى النَّاسُ عَمَلَ أَهْلِ النَّارِ وَهْوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ ، وَإِنَّمَا الأَعْمَالُ بِخَوَاتِيمِهَا »

 

Sahl bin Sa’ad As-Sa’idi berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melihat ada yang membunuh orang-orang musyrik dan ia merupakan salah seorang prajurit muslimin yang gagah berani. Namun anehnya beliau malah berujar, “Siapa yang ingin melihat seorang penduduk neraka, silakan lihat orang ini.” Kontan seseorang menguntitnya, dan terus ia kuntit hingga prajurit tadi terluka dan ia sendiri ingin segera mati (tak kuat menahan sakit, pen.). Lalu serta merta, ia ambil ujung pedangnya dan ia letakkan di dadanya, lantas ia hunjamkan hingga menembus di antara kedua lengannya.

 

Selanjutnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh ada seorang hamba yang menurut pandangan orang banyak mengamalkan amalan penghuni surga, namun berakhir menjadi penghuni neraka. Sebaliknya ada seorang hamba yang menurut pandangan orang melakukan amalan-amalan penduduk neraka, namun berakhir dengan menjadi penghuni surga. Sungguh amalan itu dilihat dari akhirnya.” (HR. Bukhari, no. 6493)

 

Komentarku ( Mahrus ali ) :

Itulah terjemahan dari KH Muhammad Abduh Tausikaal ‘

– إِلَى رَجُلٍ يُقَاتِلُ الْمُشْرِكِينَ

pernah melihat ada yang membunuh orang-orang musyrik

komentarku (Mahrus ali ) :

 Yang benar adalah  melihat kepada lelaki yangberperang melawan musrikin. ( bukan membunuh ).

وَكَانَ مِنْ أَعْظَمِ الْمُسْلِمِينَ غَنَاءً عَنْهُم

dan ia merupakan salah seorang prajurit muslimin yang gagah berani

komentarku (Mahrus ali ) :

 yang tepat adalah Dia termasuk di antara umat Muslim yang paling mandiri di antara mereka.

، فَاسْتَعْجَلَ الْمَوْتَ . فَقَالَ بِذُبَابَةِ سَيْفِهِ ، فَوَضَعَهُ بَيْنَ ثَدْيَيْهِ ، فَتَحَامَلَ عَلَيْهِ ، حَتَّى خَرَجَ مِنْ بَيْنِ كَتِفَيْهِ

dan ia sendiri ingin segera mati (tak kuat menahan sakit, pen.). Lalu serta merta, ia ambil ujung pedangnya dan ia letakkan di dadanya, lantas ia hunjamkan hingga menembus di antara kedua lengannya.

Komentarku (Mahrus ali ) :

Yang benar adalah sbb : Ia mempercepat kematiannya. Maka ia mengambil ujung pedangnya dan meletakkannya di antara dadanya, lalu bersandar padanya hingga pedang itu keluar dari antara bahunya.

 Komentarku (Mahrus ali ) :

Hadis tsb di kitab

تحفة الأشراف بمعرفة الأطراف (4/ 122)

الحديث. خ في القدر (5: 2) عن ابن أبي مريم - وفي الرقاق (33) عن عليِّ بن عياش - كلاهما عنه به

Tuhfat al-Ashraf bi-Ma'rifat al-Atraf (4/122)

Hadits ini terdapat dalam al-Qadr (5:2) berdasarkan riwayat Ibnu Abi Maryam - dan dalam al-Riqaq (33) berdasarkan riwayat Ali bin Ayyash - keduanya berdasarkan riwayatnya.

 Hadisitu hanya dari Al bin Ayyas

قال يعقوب الفسوي : مات سنة تسع عشرة ومائتين .

Yaqub al-Fasawi berkata: Beliau wafat pada tahun dua ratus sembilan belas.

 

الدارقطني، أحاديث من صحيح البخاري أعلها الدارقطني

Al-Daraqutni, hadits dari Sahih al-Bukhari yang dianggap cacat oleh Al-Daraqutni

Komentarku (Mahrus ali ) :

Hadis tersebut tidak layak untuk dibuat pegangan tapi lepaskan, jangan lagi dilihat buang saja, karena hadis itu menyatakan seseorang menjalankan perbuatan ahli surga tapi hakikatnya dia adalah penduduk neraka. Dan orang yang mengerjakan sesuatu menurut manusia dia adalah ahli neraka tapi hakikatnya ahli surge. Hari ini sama dengan mengatakan kalau Anda menjumpai orang sholeh maka jangan kira dia ahli surga belum tentu dia mungkin ahli neraka.Kalau Anda lihat lagi orang kafir Jangen kau lihat dia penduduk neraka tapi dia adalah penduduk surge. Hadits ini jelas membingungkan bukan menjelaskan ajaran agama tapi bikin orang bingung dengan ajaran agama. Orang sholeh dianggap Ahli neraka dan orang kafir boleh dianggap ahli surga , karena yang penting akhir hayatnya bukan penting awal hayatnya atau tengahnya-tengahnya biardia minum berzina atau mengerjakan amalan-amalan orang kafir, tapi lihat nanti akhirnya. Ini keliru sekali bertentangan dengan ayat sebagai berikut

Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa,

( 6 )   dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga),

( 7 )   maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.

( 8 )   Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup,

( 9 )   serta mendustakan pahala terbaik,

   maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar.

( 11 )   Dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah binasa.

( 12 )   Sesungguhnya kewajiban Kamilah memberi petunjuk,

( 13 )   dan sesungguhnya kepunyaan Kamilah akhirat dan dunia.

Sekarang kita lihat saja kenyataannya , orang ahli bidah maka dia akan menjalankannya sampai akhir hayatnya.  itu hukum kebanyakan mesti ada pengecualian dan sebagian kecil lihatt saja orang Saudi , kebanyakan mengikuti aqidah salafi dan anti kebidanan, ya sampai akhir hayatnya dia menjalankan seperti itu, lihat saja orang-orang syiah di Iran dia akan menjalankan ajaran syiah sampai mati, ini hukum kebanyakan. Jadi kalau orang itu  suka berjudi minum maka dia akan menjalankannya sampai mati ini hukum pada umumnya . makanya hadis tersebut tidak sesuai dengan kenyataan bahwa orang sholeh jangan dikira dia ahli surga tapi dia hakikatnya adalah Ali neraka itu tidak benar dan itu hadisd tssb oleh Daroqutni dikatakan cacat dan itu hadis mungkar karena Ali bin ayas yang meriwayatkannya satu orang

Rabu, September 30, 2026

Jawabanku untuk gusdur

 Jawaban untuk gus dur

 

Menurut bu sinta istri gusddur, bahwa gusdur tidak pernah perintahkan jilbab.

 

Memang sosok gusdur selulu kontro versi , ddaan saya ingin ,emjelaskan secra ringkas masalah ini .

 

جَاءَ فِي الْقَامُوسِ الْمُحِيط: وَالْجِلْبَاب كَسِرْدَاب وَسُنَّمار: الْقَمِيصُ وَثَوْب وَاسِع لِلْمَرْأَةِ دُونَ الْمِلْحَفَة أَوْ مَا تُغَطِّي بِهِ ثِيَابَهَا مِنْ فَوْقِ كَالْمِلْحَفَة أَوْ هُوَ الْخِمَار

Kamus Al-Muheet menyatakan: “Jilbab itu seperti jubah dan pakaian: kemeja  ( Gamis  ) . dan pakaian lebar untuk wanita, di atasnya jubah atau apa yang dia gunakan untuk menutupi pakaiannya dari atas, seperti jubah, atau itu adalah jilbab.”.

وَعَلَى ذَلِكَ فَحُكم لُبْسِ الْمَرْأَةِ لِلْجَلْبَاب يَنْبَنِي عَلَى وَصْفِ الْجِلْبَاب وَمَا يُحَقِّقُهُ مِنْ سَتْرِ لِبَدَن الْمَرْأَةِ، فَإِنْ الشَّرْعَ لَمْ يُعَيِّنْ لِلِّبَاس الْمَرْأَة نَوْعًا مِنْ اللِّبَاسِ، وَلَكِنْ ذَكَرَ الْعُلَمَاءُ شُرُوطًا فِي لِبَاسِ الْمِرْاةَ أَمَامَ الْأَجَانِبِ إذَا تَحَقَّقَتْ هَذِهِ الشُّرُوطِ فِي أَيِّ مَلْبُوس فَهُو الْحِجَاب الْمَشْرُوع وَإِذَا لَمْ تَتَحَقَّقْ فَهُوَ غَيْرُ جَائِزٍ، وَانْظُرِي هَذِهِ الشُّرُوطِ فِي الْفَتْوَى رَقَّم: 6745.

Oleh karena itu, hukum mengenai perempuan yang mengenakan jilbab bergantung pada deskripsi jilbab dan apa yang dicapainya dalam hal menutupi tubuh perempuan. Syariat tidak menentukan jenis pakaian tertentu untuk perempuan, tetapi para ulama menyebutkan syarat-syarat pakaian perempuan di hadapan orang asing. Jika syarat-syarat ini terpenuhi pada pakaian apa pun, maka itu adalah hijab yang sah, dan jika tidak terpenuhi, maka tidak diperbolehkan. Lihat syarat-syarat tersebut dalam Fatwa No. 6745.

الِفَرْقُ الأَسَاسِيّ بَيْنَ الْخِمَارِ وَالْجِلْبَاب يَكْمُنُ فِي مَوْضِعٍ لُبْسُه وَحَجْمِه؛ فَالْخِمَار هُوَ مَا تُغَطِّي بِهِ الْمَرْأَةُ رَأْسَهَا وَعُنُقَهَا وَمَا دُونَهُ، بَيْنَمَا الْجِلْبَاب ثَوْبٌ وَاسِعٌ وَفِضَّفاض يَلْبَسُ فَوْقَ الثِّيَابِ وَالْخِمَار لِيَسْتَوْعِب كَامِلَ الْبَدَنِ

Perbedaan utama antara khimar dan jilbab terletak pada cara pemakaian dan ukurannya; khimar digunakan wanita untuk menutupi kepala, leher, dan bawany sedangkan jilbab adalah pakaian lebar dan longgar yang dikenakan di atas pakaian, dan khimar untuk menutupi seluruh tubuh.

Definisi khimar di sini tidak digunakan untuk menutup wajah wanita,  khimar itu artinya kerudung sebagaimana yang dipakai oleh wanita Indonesia . Sedangkan jilbabnya pakaian menutupi seluruh tubuh termasuk wajah kaki dan tangan .kebiasaan ini  dilakukan oleh wanita arab di saudi.

 Kita ikut arahan Al quran tentang jilbab .

قُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا ۖ وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ ۖ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَىٰ عَوْرَاتِ النِّسَاءِ ۖ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِن زِينَتِهِنَّ ۚ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan menjaga kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.

أيسر التفاسير — أبو بكر الجزائري (١٤٣٩ هـ)

                  بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ: أَيْ وَلِتَضْرِب الْمَرْأَةُ الْمُسْلِمَةُ الْحُرَّة بِخِمَارِهَا عَلَى جُيُوب أَيْ فَتَحَات الثِّيَابِ فِي الصَّدْرِ وَغَيْرِهِ حَتَّى لَا يَبْدُو شَيْءٌ مِنْ جِسْمِهَا

Dengan Khimar ( kerudung )  menutupi dada mereka: artinya, wanita Muslim yang merdeka harus menutupi  dadanya dengan khimar ( kerudung ), yaitu, bagian pakaian ( kerah )yang terbuka di dada ( kerah ) dan di tempat lain, sehingga tidak ada bagian tubuhnya yang terlihat.

  Komentarku ( Mahrus ali ) : Wanita afganistan menutupi wajahnya dengan langsung pakaian tanpa kerudung . Umtuk wanita yaman yang badu wajahnya  di tutup dengan kulit dan hanya matanya yang tampak

يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلابِيبِهِنَّ: أَيْ يُرْخِين عَلَى وَجْهٍهن الْجِلْبَابُ حَتَّى لَا يَبْدُو مِنْ الْمَرْأَةِ إلَّا عَيْنُ وَاحِدَةٍ تَنْظُر بِهَا الطَّرِيقُ إذَا خَرَجَتْ لِحَاجَة.

ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ: أَيْ ذَلِكَ الْإِدْنَاءَ مِنْ طَرَفِ الْجِلْبَابِ عَلَى الْوَجْهِ أَقْرَبَ.

فَلَا يُؤْذِيَنَّ: أَيْ يُعْرَفْن أَنَّهُنّ حَرَائِرَ فَلَا يَتَعَرَّضُ لَهُنَّ الْمُنَافِقُون بِالْأَذَى.

Interpretasi Paling Mudah — Abu Bakr al-Jaza’iri (1439 H)

 

“Hendaknya mereka menutup rapat pakaian luar mereka”: artinya mereka hendaknya membiarkan pakaian luar mereka jatuh menutupi wajah mereka sehingga hanya satu mata yang terlihat, yang mereka gunakan untuk melihat sekeliling jika mereka keluar untuk keperluan tertentu.

 

“Itu lebih pantas agar mereka dikenali”: artinya menutup rapat ujung pakaian luar ke wajah lebih tepat.

 

“Agar mereka tidak disakiti”: artinya mereka akan dikenali sebagai wanita merdeka, dan orang-orang munafik tidak akan mengganggu mereka.

Komentarku ( Mahrus ali ) :

   Kalau di Indonesia agar wanita yang bercadar itu di katakan  sebagai wanita baik yang memperhatikan ajaran agama dengan benar. Kalau di Saudi sekarang wanita memakai cadar dengan menutup seluruh wajah .

 

 

 

 

 

   

:

 

  

                 

( Wanita harus menutup wajah dan seluruh tubuhnya )

Biasanya wanita Saudi memakai pakaian yang menutupi seluruh tubuhnya lalu memakai kaos kaki sehingga tidak ada tubuhnya yang kelihatan Dan ini juga menjalar ke seluruh kota Saudi Mereka menutup wajahnya dengan kerudung.Jawaban untuk gus dur

 

Menurut bu sinta istri gusddur, bahwa gusdur tidak pernah perintahkan jilbab.

 

Memang sosok gusdur selulu kontro versi , ddaan saya ingin ,emjelaskan secra ringkas masalah ini .

 

جَاءَ فِي الْقَامُوسِ الْمُحِيط: وَالْجِلْبَاب كَسِرْدَاب وَسُنَّمار: الْقَمِيصُ وَثَوْب وَاسِع لِلْمَرْأَةِ دُونَ الْمِلْحَفَة أَوْ مَا تُغَطِّي بِهِ ثِيَابَهَا مِنْ فَوْقِ كَالْمِلْحَفَة أَوْ هُوَ الْخِمَار

Kamus Al-Muheet menyatakan: “Jilbab itu seperti jubah dan pakaian: kemeja  ( Gamis  ) . dan pakaian lebar untuk wanita, di atasnya jubah atau apa yang dia gunakan untuk menutupi pakaiannya dari atas, seperti jubah, atau itu adalah jilbab.”.

وَعَلَى ذَلِكَ فَحُكم لُبْسِ الْمَرْأَةِ لِلْجَلْبَاب يَنْبَنِي عَلَى وَصْفِ الْجِلْبَاب وَمَا يُحَقِّقُهُ مِنْ سَتْرِ لِبَدَن الْمَرْأَةِ، فَإِنْ الشَّرْعَ لَمْ يُعَيِّنْ لِلِّبَاس الْمَرْأَة نَوْعًا مِنْ اللِّبَاسِ، وَلَكِنْ ذَكَرَ الْعُلَمَاءُ شُرُوطًا فِي لِبَاسِ الْمِرْاةَ أَمَامَ الْأَجَانِبِ إذَا تَحَقَّقَتْ هَذِهِ الشُّرُوطِ فِي أَيِّ مَلْبُوس فَهُو الْحِجَاب الْمَشْرُوع وَإِذَا لَمْ تَتَحَقَّقْ فَهُوَ غَيْرُ جَائِزٍ، وَانْظُرِي هَذِهِ الشُّرُوطِ فِي الْفَتْوَى رَقَّم: 6745.

Oleh karena itu, hukum mengenai perempuan yang mengenakan jilbab bergantung pada deskripsi jilbab dan apa yang dicapainya dalam hal menutupi tubuh perempuan. Syariat tidak menentukan jenis pakaian tertentu untuk perempuan, tetapi para ulama menyebutkan syarat-syarat pakaian perempuan di hadapan orang asing. Jika syarat-syarat ini terpenuhi pada pakaian apa pun, maka itu adalah hijab yang sah, dan jika tidak terpenuhi, maka tidak diperbolehkan. Lihat syarat-syarat tersebut dalam Fatwa No. 6745.

الِفَرْقُ الأَسَاسِيّ بَيْنَ الْخِمَارِ وَالْجِلْبَاب يَكْمُنُ فِي مَوْضِعٍ لُبْسُه وَحَجْمِه؛ فَالْخِمَار هُوَ مَا تُغَطِّي بِهِ الْمَرْأَةُ رَأْسَهَا وَعُنُقَهَا وَمَا دُونَهُ، بَيْنَمَا الْجِلْبَاب ثَوْبٌ وَاسِعٌ وَفِضَّفاض يَلْبَسُ فَوْقَ الثِّيَابِ وَالْخِمَار لِيَسْتَوْعِب كَامِلَ الْبَدَنِ

Perbedaan utama antara khimar dan jilbab terletak pada cara pemakaian dan ukurannya; khimar digunakan wanita untuk menutupi kepala, leher, dan bawany sedangkan jilbab adalah pakaian lebar dan longgar yang dikenakan di atas pakaian, dan khimar untuk menutupi seluruh tubuh.

Definisi khimar di sini tidak digunakan untuk menutup wajah wanita,  khimar itu artinya kerudung sebagaimana yang dipakai oleh wanita Indonesia . Sedangkan jilbabnya pakaian menutupi seluruh tubuh termasuk wajah kaki dan tangan .kebiasaan ini  dilakukan oleh wanita arab di saudi.

 Kita ikut arahan Al quran tentang jilbab .

قُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا ۖ وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ ۖ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَىٰ عَوْرَاتِ النِّسَاءِ ۖ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِن زِينَتِهِنَّ ۚ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan menjaga kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.

أيسر التفاسير — أبو بكر الجزائري (١٤٣٩ هـ)

                  بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ: أَيْ وَلِتَضْرِب الْمَرْأَةُ الْمُسْلِمَةُ الْحُرَّة بِخِمَارِهَا عَلَى جُيُوب أَيْ فَتَحَات الثِّيَابِ فِي الصَّدْرِ وَغَيْرِهِ حَتَّى لَا يَبْدُو شَيْءٌ مِنْ جِسْمِهَا

Dengan Khimar ( kerudung )  menutupi dada mereka: artinya, wanita Muslim yang merdeka harus menutupi  dadanya dengan khimar ( kerudung ), yaitu, bagian pakaian ( kerah )yang terbuka di dada ( kerah ) dan di tempat lain, sehingga tidak ada bagian tubuhnya yang terlihat.

  Komentarku ( Mahrus ali ) : Wanita afganistan menutupi wajahnya dengan langsung pakaian tanpa kerudung . Umtuk wanita yaman yang badu wajahnya  di tutup dengan kulit dan hanya matanya yang tampak

يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلابِيبِهِنَّ: أَيْ يُرْخِين عَلَى وَجْهٍهن الْجِلْبَابُ حَتَّى لَا يَبْدُو مِنْ الْمَرْأَةِ إلَّا عَيْنُ وَاحِدَةٍ تَنْظُر بِهَا الطَّرِيقُ إذَا خَرَجَتْ لِحَاجَة.

ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ: أَيْ ذَلِكَ الْإِدْنَاءَ مِنْ طَرَفِ الْجِلْبَابِ عَلَى الْوَجْهِ أَقْرَبَ.

فَلَا يُؤْذِيَنَّ: أَيْ يُعْرَفْن أَنَّهُنّ حَرَائِرَ فَلَا يَتَعَرَّضُ لَهُنَّ الْمُنَافِقُون بِالْأَذَى.

Interpretasi Paling Mudah — Abu Bakr al-Jaza’iri (1439 H)

 

“Hendaknya mereka menutup rapat pakaian luar mereka”: artinya mereka hendaknya membiarkan pakaian luar mereka jatuh menutupi wajah mereka sehingga hanya satu mata yang terlihat, yang mereka gunakan untuk melihat sekeliling jika mereka keluar untuk keperluan tertentu.

 

“Itu lebih pantas agar mereka dikenali”: artinya menutup rapat ujung pakaian luar ke wajah lebih tepat.

 

“Agar mereka tidak disakiti”: artinya mereka akan dikenali sebagai wanita merdeka, dan orang-orang munafik tidak akan mengganggu mereka.

Komentarku ( Mahrus ali ) :

   Kalau di Indonesia agar wanita yang bercadar itu di katakan  sebagai wanita baik yang memperhatikan ajaran agama dengan benar. Kalau di Saudi sekarang wanita memakai cadar dengan menutup seluruh wajah .

 

 

 

 

 

   

:

 

  

                 

( Wanita harus menutup wajah dan seluruh tubuhnya )

Biasanya wanita Saudi memakai pakaian yang menutupi seluruh tubuhnya lalu memakai kaos kaki sehingga tidak ada tubuhnya yang kelihatan Dan ini juga menjalar ke seluruh kota Saudi Mereka menutup wajahnya dengan kerudung. 

Jawaban untuk gus dur

 

Menurut bu sinta istri gusddur, bahwa gusdur tidak pernah perintahkan jilbab.

 

Memang sosok gusdur selulu kontro versi , ddaan saya ingin ,emjelaskan secra ringkas masalah ini .

 

جَاءَ فِي الْقَامُوسِ الْمُحِيط: وَالْجِلْبَاب كَسِرْدَاب وَسُنَّمار: الْقَمِيصُ وَثَوْب وَاسِع لِلْمَرْأَةِ دُونَ الْمِلْحَفَة أَوْ مَا تُغَطِّي بِهِ ثِيَابَهَا مِنْ فَوْقِ كَالْمِلْحَفَة أَوْ هُوَ الْخِمَار

Kamus Al-Muheet menyatakan: “Jilbab itu seperti jubah dan pakaian: kemeja  ( Gamis  ) . dan pakaian lebar untuk wanita, di atasnya jubah atau apa yang dia gunakan untuk menutupi pakaiannya dari atas, seperti jubah, atau itu adalah jilbab.”.

وَعَلَى ذَلِكَ فَحُكم لُبْسِ الْمَرْأَةِ لِلْجَلْبَاب يَنْبَنِي عَلَى وَصْفِ الْجِلْبَاب وَمَا يُحَقِّقُهُ مِنْ سَتْرِ لِبَدَن الْمَرْأَةِ، فَإِنْ الشَّرْعَ لَمْ يُعَيِّنْ لِلِّبَاس الْمَرْأَة نَوْعًا مِنْ اللِّبَاسِ، وَلَكِنْ ذَكَرَ الْعُلَمَاءُ شُرُوطًا فِي لِبَاسِ الْمِرْاةَ أَمَامَ الْأَجَانِبِ إذَا تَحَقَّقَتْ هَذِهِ الشُّرُوطِ فِي أَيِّ مَلْبُوس فَهُو الْحِجَاب الْمَشْرُوع وَإِذَا لَمْ تَتَحَقَّقْ فَهُوَ غَيْرُ جَائِزٍ، وَانْظُرِي هَذِهِ الشُّرُوطِ فِي الْفَتْوَى رَقَّم: 6745.

Oleh karena itu, hukum mengenai perempuan yang mengenakan jilbab bergantung pada deskripsi jilbab dan apa yang dicapainya dalam hal menutupi tubuh perempuan. Syariat tidak menentukan jenis pakaian tertentu untuk perempuan, tetapi para ulama menyebutkan syarat-syarat pakaian perempuan di hadapan orang asing. Jika syarat-syarat ini terpenuhi pada pakaian apa pun, maka itu adalah hijab yang sah, dan jika tidak terpenuhi, maka tidak diperbolehkan. Lihat syarat-syarat tersebut dalam Fatwa No. 6745.

الِفَرْقُ الأَسَاسِيّ بَيْنَ الْخِمَارِ وَالْجِلْبَاب يَكْمُنُ فِي مَوْضِعٍ لُبْسُه وَحَجْمِه؛ فَالْخِمَار هُوَ مَا تُغَطِّي بِهِ الْمَرْأَةُ رَأْسَهَا وَعُنُقَهَا وَمَا دُونَهُ، بَيْنَمَا الْجِلْبَاب ثَوْبٌ وَاسِعٌ وَفِضَّفاض يَلْبَسُ فَوْقَ الثِّيَابِ وَالْخِمَار لِيَسْتَوْعِب كَامِلَ الْبَدَنِ

Perbedaan utama antara khimar dan jilbab terletak pada cara pemakaian dan ukurannya; khimar digunakan wanita untuk menutupi kepala, leher, dan bawany sedangkan jilbab adalah pakaian lebar dan longgar yang dikenakan di atas pakaian, dan khimar untuk menutupi seluruh tubuh.

Definisi khimar di sini tidak digunakan untuk menutup wajah wanita,  khimar itu artinya kerudung sebagaimana yang dipakai oleh wanita Indonesia . Sedangkan jilbabnya pakaian menutupi seluruh tubuh termasuk wajah kaki dan tangan .kebiasaan ini  dilakukan oleh wanita arab di saudi.

 Kita ikut arahan Al quran tentang jilbab .

قُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا ۖ وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ ۖ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَىٰ عَوْرَاتِ النِّسَاءِ ۖ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِن زِينَتِهِنَّ ۚ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan menjaga kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.

أيسر التفاسير — أبو بكر الجزائري (١٤٣٩ هـ)

                  بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ: أَيْ وَلِتَضْرِب الْمَرْأَةُ الْمُسْلِمَةُ الْحُرَّة بِخِمَارِهَا عَلَى جُيُوب أَيْ فَتَحَات الثِّيَابِ فِي الصَّدْرِ وَغَيْرِهِ حَتَّى لَا يَبْدُو شَيْءٌ مِنْ جِسْمِهَا

Dengan Khimar ( kerudung )  menutupi dada mereka: artinya, wanita Muslim yang merdeka harus menutupi  dadanya dengan khimar ( kerudung ), yaitu, bagian pakaian ( kerah )yang terbuka di dada ( kerah ) dan di tempat lain, sehingga tidak ada bagian tubuhnya yang terlihat.

  Komentarku ( Mahrus ali ) : Wanita afganistan menutupi wajahnya dengan langsung pakaian tanpa kerudung . Umtuk wanita yaman yang badu wajahnya  di tutup dengan kulit dan hanya matanya yang tampak

يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلابِيبِهِنَّ: أَيْ يُرْخِين عَلَى وَجْهٍهن الْجِلْبَابُ حَتَّى لَا يَبْدُو مِنْ الْمَرْأَةِ إلَّا عَيْنُ وَاحِدَةٍ تَنْظُر بِهَا الطَّرِيقُ إذَا خَرَجَتْ لِحَاجَة.

ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ: أَيْ ذَلِكَ الْإِدْنَاءَ مِنْ طَرَفِ الْجِلْبَابِ عَلَى الْوَجْهِ أَقْرَبَ.

فَلَا يُؤْذِيَنَّ: أَيْ يُعْرَفْن أَنَّهُنّ حَرَائِرَ فَلَا يَتَعَرَّضُ لَهُنَّ الْمُنَافِقُون بِالْأَذَى.

Interpretasi Paling Mudah — Abu Bakr al-Jaza’iri (1439 H)

 

“Hendaknya mereka menutup rapat pakaian luar mereka”: artinya mereka hendaknya membiarkan pakaian luar mereka jatuh menutupi wajah mereka sehingga hanya satu mata yang terlihat, yang mereka gunakan untuk melihat sekeliling jika mereka keluar untuk keperluan tertentu.

 

“Itu lebih pantas agar mereka dikenali”: artinya menutup rapat ujung pakaian luar ke wajah lebih tepat.

 

“Agar mereka tidak disakiti”: artinya mereka akan dikenali sebagai wanita merdeka, dan orang-orang munafik tidak akan mengganggu mereka.

Komentarku ( Mahrus ali ) :

   Kalau di Indonesia agar wanita yang bercadar itu di katakan  sebagai wanita baik yang memperhatikan ajaran agama dengan benar. Kalau di Saudi sekarang wanita memakai cadar dengan menutup seluruh wajah .

 

 

 

 

 

   

:

 

  

                 

( Wanita harus menutup wajah dan seluruh tubuhnya )

Biasanya wanita Saudi memakai pakaian yang menutupi seluruh tubuhnya lalu memakai kaos kaki sehingga tidak ada tubuhnya yang kelihatan Dan ini juga menjalar ke seluruh kota Saudi Mereka menutup wajahnya dengan kerudung.

Minggu, September 27, 2026

Jawabanku untuk prof doctor Said Aqil siraj tentang maulid

 

Jawabanku untuk prof doctor Said Aqil siraj tentang maulid

Saya pernah mendengar ceramah profesor doktor said Aqil Siradj yang menyatakan bahwa maulid itu  dilakukan oleh para sahabat. Setahu saya para sahabat tidak pernah menjalankan mauled. begitu juga para tabiin , bahkan sampai sekarang maulid itu dilarang oleh pemerintah Saudi. Di Madinah waktu dulu nabi masih hidup atau nabi sudah meninggal tidak ada mauled.   Mulai para sahabat sampai kini I Mainah tidak ada mauled, bagaimana profesor doktor said Aqil Siradj menyatakan bahwa di masa sahabat juga ada mauled,  dari mana dalilnya, beliau tidak menunjukkan dalil, beliau hanya ngomong tanpa dalil. Maulid yang sekarang ada itu dilakukan oleh Syiah sampai maulidnya Fatimah maulidnya Husein Hasan dilakukan oleh Syiah

الْحُكْمُ الشَّرْعِيُّ عِنْدَ الشَّيْخِ ابْنِ بِإِزَبِدْعَة ضَلالَةً: الِاحْتِفَال بِمَوْلِد النَّبِيّ ﷺ لَيْلَةِ الثَّانِي عَشَرَ مِنْ رَبِيعٍ الْأَوَّلِ أَوْ فِي أَيِّ وَقْتٍ اخَرَ لَيْسَ لَهُ أَصْلٌ فِي الشَّرِيعَةِ.عَدَمُ فِعْلِ السَّلَفِ: لَمْ يحْتَفِل النَّبِيّ ﷺ بِمَوْلِدِه، وَلَمْ يَأْمُرْ بِهِ، وَلَمْ يَفْعَلْهُ الْخُلَفَاءُ الرَّاشِدُونَ وَلَا الصَّحَابَةِ وَلَا التَّابِعُون وَلَا أَئِمَّةَ الْقُرُون الْمُفَضَّلَة.مُخَالَفَةَ الدِّينِ: يَعْتَبِرُهُ مِنْ بَابِ إحْدَاثِ مَا لَيْسَ مِنْ الدَّيْنِ، وَقَدْ اسْتَدَلَّ بِقَوْلِ النَّبِيِّ ﷺ: «مِنْ أَحْدَثِ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ»

Menurut Syekh Ibn Baz, fatwa Islam menyatakan: Merayakan hari kelahiran Nabi pada malam tanggal 12 Rabi' al-Awwal, atau pada waktu lain, tidak memiliki dasar dalam hukum Islam. Generasi awal tidak melakukannya: Nabi (shalawat dan salam kepadanya) tidak merayakan hari kelahirannya, dan beliau juga tidak memerintahkannya, demikian pula para Khalifah yang diberi petunjuk, para Sahabat, para Penerus, dan para Imam dari generasi awal. Hal itu bertentangan dengan agama: Beliau menganggapnya sebagai bid'ah yang bukan bagian dari agama, dan beliau mengutip sabda Nabi (shalawat dan salam kepadanya): "Barangsiapa yang memasukkan ke dalam urusan kita ini sesuatu yang bukan bagian darinya, maka itu ditolak."

 

Di ndonesia yang rame mengadakan maulid itu golongan NU. Kalangan Muhammadiyah salafi dan lainnya tidak mengadakan mauled.Dalilnya dari mana maulid itu diadakan tidak ada bahkan Allah dalam Alquran tidak memerintahkan maulid begitu juga nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam tidak mengadakan mauled.Bila maulid itu ada di masa sahabat musti dilanjutkan oleh para tabiin, tapi buktinya para tabiin tidak menjalankan mauled

وَقَفَ الشَّيْخُ ابْنُ عُثَيْمين مِنْ الِاحْتِفَال بِالمَوْلِد النَّبَوِيّ:

الْبِدْعِيَّة: يَرَى أَنَّ الِاحْتِفَال بِمَوْلِد النَّبِيِّ ﷺ لَيْسَ لَهُ أَصْلٌ فِي الشَّرْعِ، وَلَمْ يَفْعَلْهُ النَّبِيُّ ﷺ وَلَا الْخُلَفَاءُ الرَّاشِدُونَ وَلَا الصَّحَابَةِ الْكِرَام.

مُخَالَفَةِ الْهُدَى: يُوَضِّحُ أَنَّ مَحَبَّةَ النَّبِيّ ﷺ الْحَقِيقِيَّةَ تَقْتَضِي اتِّبَاعِ سُنَّتِهِ وَاجْتِنَابِ الْبِدَعِ، لَا إحْدَاثَ أَعْيَاد وَمُنَاسَبَات لَمْ يُشَرِّعْهَا اللَّه.

الِانْتِفَاء التَّارِيخِيّ: يَذْكُرْ أَنَّهُ لَمْ يَصِحَّ ثُبُوتُ أَنَّ مَوْلِدَ النَّبِيِّ ﷺ كَانَ فِي الْيَوْمِ الثَّانِي عَشَرَ مِنْ رَبِيعٍ الْأَوَّلِ عَلَى وَجْهِ الْقَطْعِ، وَإِنْ الذِّكْرِيّ الْحَقِيقِيَّةُ تَكُونُ بِاسْتِحْضَار سِيرَتِه وَأَتْبَاعِهِ فِي كُلِّ وَقْتٍ لَا فِي لَيْلَةٍ مُخَصِّصَة.

 

مَوْقِع الشَّيْخُ : مُحَمَّدُ بْنُ عُثَيْمين

يُمْكِنُك الِاطِّلَاعِ عَلَى تَفَاصِيلَ الْفَتْوَى بِشَكْلٍ مُبَاشِرٍ عَبَّر الْمَوْقِع الرَّسْمِيّ لِلشَّيْخِ ابْنِ عُثَيْمين.

Pendapat Syekh Ibn Uthaymeen tentang perayaan hari kelahiran Nabi:

 

Bidah : Beliau meyakini bahwa perayaan hari kelahiran Nabi tidak memiliki dasar dalam hukum Islam, dan tidak dipraktikkan oleh Nabi (shalawat dan salam kepadanya), para Khalifah yang diberi petunjuk, atau para Sahabat yang mulia.

 

Bertentangan dengan Sunnah: Beliau menjelaskan bahwa kecintaan sejati kepada Nabi (shalawat dan salam kepadanya) mengharuskan mengikuti Sunnahnya dan menghindari inovasi, bukan menciptakan hari raya dan acara yang tidak ditentukan oleh Allah.

Ketidak  akuratan sejarah: Beliau menyatakan bahwa belum terbukti secara pasti bahwa kelahiran Nabi terjadi pada tanggal 12 Rabi' al-Awwal, dan bahwa mengingat Nabi yang sejati terletak pada merenungkan kehidupannya dan mengikuti teladannya setiap saat, bukan pada malam tertentu.

Situs web Syekh Ibn Uthaymeen: Muhammad Ibn Uthaymeen

Anda dapat melihat detail fatwa tersebut secara langsung melalui situs web resmi Syekh Ibn Uthaymeen.