Tampilkan postingan dengan label Tauhid. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tauhid. Tampilkan semua postingan

Jumat, Juli 19, 2013

Wasiat ulama: "Jangan sampai ikut Madzhab Asy`ari"



قَالَ أَبُو الْحَسَنِ اْلكرجي: "لَمْ يَزَلِ اْلأَئِمَّةُ الشَّافِعِيَّةُ؛ يَأْنَفُوْنَ وَيَسْتَنْكِفُوْنَ أَنْ يُنْسَبُوا إِلَى اْلأَشْعَرِي، وَيَتَبَرَّؤُوْنَ مِمَّا بَنَى اْلأَشْعَرِي مَذْهَبَهُ عَلَيْهِ، وَيَنْهَوْنَ أَصْحَابَهُمْ وَأَحْبَابَهُمْ عَنِ الْحَوْمِ حَوَالَيْهِ؛
Abul Hasan al Karji menyatakan: Tak hentinya  ( terus menerus ) tokoh – tokoh ulama  madzhab Syafi`i, enggan, tidak mau untuk dikatakan ikut madzhab Asy`ari. Mereka menyatakan berlepas diri  terhadap  landasan  madzhab asy`ari . Mereka melarang teman, dan simpatisan mereka untuk mendekati madzhab Asy`ari.
 Ingin buktikan , lihat di situs Syaikh Imad farraj . Klik disini: 
Dan masih banyak perkataan ulama agar menghindari madzhab Asy`ari yang di ikuti ahli bid`ah sekitar kita, bukan ahlis sunnah.

Mau nanya hubungi kami:
088803080803.( Smart freand) 081935056529 ( XL )
Alamat rumah: Tambak sumur 36 RT 1 RW1
                           Waru Sidoarjo. Jatim.

Sabtu, Mei 25, 2013

PEMBAGIAN TAUHID MENJADI TIGA bukan trinitas

PEMBAGIAN TAUHID MENJADI TIGA adalah TRINITAS?...
Yudi Wicaksono 25 Mei 22:25
PEMBAGIAN TAUHID MENJADI TIGA adalah TRINITAS?
Kategori: Aqidah
Diterbitkan pada 15 March 2013 Klik: 8958

Merupakan perkara yang konyol dan lucu adalah perkataan sebagian ASWAJA atau sebagian Jahmiyah bahwasanya pembagian tauhid menjadi tiga, (1) Tauhid Ar-Rububiyah, (2) Tauhid Al-'Uluhiyah/al-'Ubudiyah, dan (3) Tauhid al-Asmaa' wa as-Sifaat, adalah sama dengan aqidah TRINITAS kaum Nasrani yang meyakini Allah terdiri dari 3 oknum.

Yang lebih lucu lagi mereka masih terus menganggap bahwa pernyataan mereka ini adalah hujjah yang sangat kuat untuk membantah salafiyin, padahal ini adalah hujjah yang sangat konyol dan sangat…sangat…sangat…tidak nyambung. Apakah semua yang dibagi menjadi tiga sama dengan trinitas??. Akan tetapi begitulah sebagian ASWAJA yang mencari dalil apa saja yang penting bisa membantah salafiyin (Aswaja yang sesungguhnya) !!!

Pernyataan ini (bahwasanya pembagian tauhid menjadi tiga sama dengan trinitas) digembar-gemborkan oleh seorang yang bernama Hasan 'Alawi As-Saqqoof, seorang pengikut faham Jahmiyah dalam kitabnya التَّنْدِيْدُ بِمَنْ عَدَّدَ التَّوْحِيْدَ، إِبْطَالُ مُحَاوَلَةِ التَّثْلِيْثِ فِي التَّوْحِيْدِ وَالْعَقِيْدَةِ الإِسْلاَمِيَّةِ (artinya : Pengungkapan kebatilan orang yang membagi tauhid, pembatalan usaha trinitas dalam tauhid dan aqidah Islamiyah)

Beliau ini dikenal tukang dusta, terlalu banyak dusta yang ia sampaikan, bahkan berdusta dihadapan khalayak ramai (di stasiun televisi), silahkan baca (http://www.saaid.net/Doat/Zugail/303.htm), demikian juga tidak amanahnya Hasan As-Saqqoof terhadap kitab-kitab para ulama sebagaimana dibongkar oleh Muhammad Sa'id Al-Katsiiri dalam kitabnya عَبَثُ أَهْلِ الأَهْوَاءِ بِتُرَاثِ الأُمَّةِ وَوَقَيْعَتُهُمْ فِي عُلَمَائِنَا نَظْرَةٌ تَطْبِيْقِيَّةٌ فِي كُتُبِ حَسَن بْنِ عَلِي السَّقَّافِ (inti buku ini adalah menunjukkan contoh praktek-praktek nyata ketidakamanahan Hasan As-Saqqof terhadap buku-buku para ulama, dan sikapnya yang menjatuhkan para ulama : silahkan di download di http://ia700302.us.archive.org/22/items/waq85152/85152.pdf), buku ini diberi pengantar oleh Syaikh yang alim yang juga berasal dari satu suku dengan Hasan As-Saqqoof, yaitu syaikh yang bernama Abdul Qoodir 'Alawi As-Saqqoof hafizohulloh)

Adapun buku At-Tandiid tersebut maka telah dibantah secara khusus oleh Syaikh Abdurrozzaq Al-Badr hafizohulloh dalam kitabnya الْقَوْلُ السَّدِيْدُ فِي الرَّدِّ عَلَى مَنْ أَنْكَرَ تَقْسِيْمَ التَّوْحِيْدِ (yang artinya : Perkataan yang Tepat dalam Membantah Orang yang Mengingkari Pembagian Tauhid, silahkan didownload di http://ia701206.us.archive.org/24/items/waq34288/34288.pdf)

Untuk membantah hujjah konyol ini maka ada beberapa perkara yang perlu diperhatikan :



PERTAMA : Maksud dari pembagian Tauhid menjadi tiga, yaitu mentauhidkan Allah dalam (1) Rububiyahnya, dalam (2) Uluhiyahnya, dan dalam (3) Asmaa dan SifaatNya.

- Tauhid ar-Rubuubiyah artinya Mengesakan Allah dalam hal penciptaan, pemilikan dan pengaturan. Yaitu meyakini bahwa Allah Maha Esa dan tidak ada dzat lain yang ikut nimbrung membantu Allah dalam hal penciptaan, penguasaan, dan pengaturan.

- Tauhid al-Uluhiyah : Mengesakan Allah dalam peribadatan hamba kepadaNya. Artinya Allah Maha Esa dalam penyembahan, maka tidak ada dzat lain yang boleh untuk ikut serta disembah disamping penyembahan terhadap Allah

- Tauhid al-Asmaa wa as-Sifaat : Mengesakan Allah dalam nama-nama dan sifat-sifatnya. Artinya tidak ada dzat lain yang menyamai sifat-sifat Allah yang maha sempurna.

Jika kita bertanya kepada kaum muslimin secara umum tentang tiga makna tauhid di atas, maka secara umum tidak ada yang menolak, karena Allah memang Maha Esa dalam ketiga hal di atas. Lantas kenapa harus ada pengingkaran jika maknanya disetujui dan disepakati..??



KEDUA : Tauhid asalnya tidaklah diterima kecuali tauhid yang satu. Karena asalnya (1) Rob yang berhak disembah adalah (2) Rob yang maha Esa dalam penciptaan, dan juga (3) Maha sempurna sifat-sifatnya. Jika ada Rob yang tidak maha esa dalam penciptaan atau tidak sempurna sifat-sifatnya maka dia tidak berhak untuk disembah. Karenanya asalnya bahwa tauhid tidaklah menerima pembagian. Ketiga makna tauhid di atas harus terkumpulkan menjadi satu. Lantas kenapa ada pembagian??!!

Makhluklah (yaitu kaum musyrikin) yang telah melakukan pembagian, sehingga mereka hanya mengimani dan mengerjakan sebagian dari makna tauhid.

Allah berfirman :


وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُمْ بِاللَّهِ إِلا وَهُمْ مُشْرِكُونَ

"Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam Keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain)" (QS Yusuf : 106)

Para salaf dan para ahli tafsir telah sepakat bahwa makna ayat ini adalah kaum musyrikin arab mengakui dan mengimani bahwasanya Allah Maha Esa dalam penciptaan dan pengaturan, akan tetapi mereka berbuat kesyirikan dengan beribadah juga kepada selain Allah. (Silahkan baca kembali penjelasan panjang lebar disertai nukilan-nukilan dari salaf dan para mufassir di artikel ini "Persangkaan Abu Salafy Al-Majhuul Bahwasanya Kaum Musyrikin Arab Tidak Mengakui Rububiyyah Allah"

Ayat ini menunjukkan bahwa kaum musyrikin Arablah yang membagi tauhid kepada Allah, sehingga hanya mengimani sebagian tauhid (yaitu tauhid rububiyah) dan berbuat syirik dalam tauhid al-uluhiyah.

Allah juga berfirman


فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ

Maka apabila mereka naik kapal mereka mendoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya, Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah) (QS Al-'Ankabuut : 65)

Ayat ini menjelaskan bahwasanya dalam kondisi gawat kaum musyrikin mengesakan (tidak membagi) tauhid mereka sehingga ikhlas berdoa kepada Allah, akan tetapi tatkala mereka diselamatkan di daratan mereka kembali lagi melakukan pembagian tauhid dan menyimpang dalam tauhid al-uluhiyah.

Dan dalil-dalil yang menunjukkan akan keimanan kaum musyrikin terhadap tauhid ar-rububiyah sangatlah banyak, sebagaimana telah saya sampaikan pada link diatas.



Perhatikan : Syari'at tidak ingin tauhid dipisah-pisahkan, bahkan ingin agar tauhid merupakan seusatu yang satu kesatuan. Hanya saja timbul penyimpangan dari kaum musyrikin yang memecah dan membagi tauhid, dimana mereka beriman kepada sebagian makna tauhid dan mengingkari sebagian yang lain. Maka datanglah syari'at untuk meluruskan mereka sehingga menjelaskan dengan cara membagi antara keimanan mereka yang benar (tauhid ar-rububiyah) dan keimanan mereka yang salah dalam tauhid (yaitu tauhid al-uluhiyah). Sehingga sering kita dapati bahwasanya Al-Qur'an berhujjah dengan keimanan mereka terhadap tauhid ar-rububiyah agar mereka meluruskan tauhid mereka yang salah dalam tauhid al-uluhiyah. Seperti firman Allah


يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (٢١)الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الأرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ فَلا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa, Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu Mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui." (QS Al-Baqoroh : 21-22)

Dalam ayat ini Allah berhujjah dengan pengakuan kaum musyrikin dan keimanan mereka terhadap Rububiyah Allah agar mereka juga mentauhidkan Allah dalam uluhiyah/peribadatan.

Intinya : Pembagian tauhid nampak dan muncul pada makhluk lalu datanglah syari'at berusaha memperbaiki dan meluruskan pemahaman mereka yang keliru tentang tauhid. Jadilah timbul pembagian tauhid dalam syari'at yang memiliki 2 fungsi, (1) dalam rangka penjelasan dan (2) dalam rangka menjaga tauhid dari kesalahpahaman



KETIGA : Karenanya pembagian tauhid ini bukanlah penimbulan/pemunculan suatu makna baru yang tidak ada di zaman salaf, akan tetapi hanyalah pembaharuan dalam istilah atau metode penjelasan dan pemahaman. Karena kalau pembagian ini dikatakan bid'ah maka terlalu banyak penamaan dan pembagian yang kita hukumi sebagai bid'ah juga. Sebagai contoh misalnya pembagian para ulama bahwasanya hukum taklifi terbagi menjadi 5 (wajib, mustahab, mubah, makruh, dan haram). Tentunya pembagian ini tidak terdapat dalam pembicaraan sahabat. Akan tetapi setelah diteliti dalil-dalil yang ada jelas bahwa kesimpulan hukum-hukum taklifi tidaklah keluar dari 5 hukum tersebut.



KEEMPAT : Pembagian tauhid adalah perkara ijtihadiah, tergantung cara seorang mujtahid dalam meng "istiqroo' dalil-dalil, sehingga berkesimpulan bahwa tauhid terbagi menjadi berapa?.

Karenanya kita dapati :

- Sebagian ulama membagi tauhid menjadi dua saja, yaitu :تَوْحِيْدُ الْمَعْرِفَةِ وَالْإِثْبَاتِ dan تَوْحِيْدُ الطَّلَبِ وَالْقَصْدِ.

- Ada juga yang membagi dua dengan ibarat yang lain, yaitu : التَّوْحِيْدُ الْعِلْمِيِّ الْخَبَرِيِّ dan التَّوْحِيْدِ الطَّلَبِيِّ الإِرَادِيِّ

- Ada juga yang mengungkapkan dengan ibarat yang lain, yaitu : تَوْحِيْدُ الإِعْتِقَادِ dan تَوْحِيْدُ الْعَمَلِ

- Kita dapati juga ada sebagian orang yang membagi tauhid menjadi 4, seperti Ibnu Mandah yang membagi tauhid menjadi : (1) Tauhid Al-Uluhiyah, (2) Tauhid Ar-Tububiyah, (3) Tauhid al-Asmaa', dan (4) Tauhid As-Sifaat.

- Demikian juga ada yang membagi tauhid menjadi empat dengan menambahkan tauhid yang ke (4) Tauhid Al-Haakimiyah.

Yang menjadi permasalahan bukanlah pembagian, akan tetapi content/isi dan kandungan dari pembagian tersebut, apakah benar menurut syari'at atau tidak??!! Inilah yang menjadi permasalahan, bukan masalah pembagian tauhid menjadi dua atau tiga atau empat, atau lebih dari itu.



KELIMA : Ternyata kita dapati para ulama terdahulu –jauh sebelum Ibnu Taimiyyah- telah membagi tauhid menjadi tiga. Hal ini jelas membantah pernyataan mereka bahwa pembagian tauhid menjadi tiga adalah kreasi Ibnu Taimiyyah rahimahullah di abad ke 8 hijriyah. Syaikh Abdurrozzaq hafizohulloh telah menukil perkataan para ulama salaf jauh sebelum Ibnu Taimiyyah yang membagi tauhid menjadi tiga. Diantara para ulama tersebut adalah :

(1) Al-Imam Abu Abdillah 'Ubaidullahi bin Muhammad bin Batthoh al-'Akburi yang wafat pada tahun 387 H, dalam kitabnya Al-Ibaanah.

(2) Al-Imam Ibnu Mandah yang wafat pada tahun 395 Hijriyah dalam kitabnya "At-Tauhid".

(3) Al-Imam Abu Yusuf yang wafat pada tahun 182 H (silahkan merujuk kembali kitab al-qoul as-sadiid)



KEENAM : Ternyata kita juga dapati ahlul bid'ah juga telah membagi tauhid

Pertama : Kaum Asyaa'roh juga membagi tauhid menjadi 3, mereka menyatakan bahwa wahdaniah (keesaan) Allah mencakup tiga perkara, ungkapan mereka adalah:


إن الله واحد في ذاته لا قسيم له وواحد في صفاته لا نظير له، وواحد في أفعاله لا شريك له

"Sesungguhnya Allah (1) maha satu pada dzatnya maka tidak ada pembagian dalam dzatNya, (2) Maha esa pada sifat-sifatNya maka tidak ada yang menyerupai sifat-sifatnya, dan (3) Maha esa pada perbuatan-perbuatanNya maka tidak ada syarikat bagiNya.

Salah seorang ulama terkemukan dari Asyaa'iroh yang bernama Ibrahim Al-Laqqooni berkata :

"Keesaan (ketauhidan) Allah meliputi tiga perkara yang dinafikan :

… "Keesaan" dalam istilah kaum (Asyaa'iroh) adalah ungkapan dari tiga perkara yang dinafikan :

"(1) Dinafikannya berbilang dari Dzat Allah, artinya Dzat Allah tidak menerima pembagian….

(2) Dinafikannya sesuatu yang serupa dengan Allah, maksudnya tidak ada perbilangan dalam dzat atau salah satu sifat dari sifat-sifatNya…

(3) Dinafikannya penyamaan Allah dengan makhluk-makhluk yang baru…"

(Hidaayatul Muriid Li Jauharot At-Tauhiid, Ibraahim Al-Laqqooni. 1/336-338)

Ulama besar Asya'iroh yang lain yaitu Al-Baajuuri rahimahullah berkata :

"Kesimpulannya bawhasanya wahdaniah/keesaan/ketauhidan Allah yang mencakup (1) Keesaan pada Dzat, (2) Keesaan pada sifat-sifat Allah, dan (3) Keesaan pada perbuatan-perbuatanNya…"

(Hasyiat Al-Imam Al-Baijuuri 'alaa Jauharot At-Tauhiid, hal 114)



Kedua : Abu Hamid Al-Gozali menyatakan bahwa tauhid yang berkaitan dengan kaum muslimin ada 3 tingakatan, karena beliau membagi tauhid menjadi 4 tingkatan, dan tingkatan pertama adalah tingkatan tauhidnya orang-orang munafik.

Adapun tingkatan-tingakatan yang berikutnya :

(1) Tauhidul 'awaam تَوْحِيْدُ الْعَوَّام (Tauhidnya orang-orang awam)

(2) Tauhidul Khoosoh تَوْحِيْدُ الْخَاصَّةِ (Tauhidnya orang-orang khusus, مَقَامُ الْمُقَرّبِيْنَ) dan

(3) Tauhid Khoosotil Khooshoh تَوْحِيْدُ خَاصَّةِ الْخَاصَّةِ (Tauhidnya orang-orang super khusus مُشَاهَدَةُ الصِّدِّيْقِيْنَ)

Beliau rahimahullah berkata :

للتوحيد أربع مراتب ...


فالرتبة الأولى من التوحيد هي أن يقول الإنسان بلسانه لا إله إلا الله وقلبه غافل عنه أو منكر له كتوحيد المنافقين

"Tauhid memiliki 4 tingkatan…tingkatan pertama dari tauhid adalah seseorang mengucapkan dengan lisannya laa ilaah illallah akan tetapi hatinya lalai darinya atau mengingkarinya, sebagaimana tauhidnya orang-orang munafiq"

Lalu Al-Gozali menyebutkan 3 tingkatan tauhidnya kaum muslimin, ia berkata :

والثانية أن يصدق بمعنى اللفظ قلبه كما صدق به عموم المسلمين وهو اعتقاد العوام

(1) Yang kedua : Yaitu ia membenarkan makna lafal laa ilaaha illallahu dalam hatinya sebagaimana pembenaran orang-orang awam kaum muslimin, dan ini adalah aqidahnya orang-orang awam

والثالثة أن يشاهد ذلك بطريق الكشف بواسطة نور الحق وهو مقام المقربين وذلك بأن يرى أشياء كثيرة ولكن يراها على كثرتها صادرة عن الواحد القهار

(2) Yang Ketiga : Yaitu dengan metode Kasyf (pengungkapan) dengan perantara cahaya Allah, dan ini adalah orang-orang muqorrobin (yang didekatkan), yaitu jika ia melihat sesuatu yang banyak akan tetapi ia melihatnya –meskipun banyak- timbul dari dzat Yang Maha Satu Yang Maha Kuasa


والرابعة أن لا يرى في الوجود إلا واحدا وهي مشاهدة الصديقين وتسميه الصوفية الفناء في التوحيد لأنه من حيث لا يرى إلا واحدا فلا يرى نفسه أيضا وإذا لم ير نفسه لكونه مستغرقا بالتوحيد كان فانيا عن نفسه في توحيده بمعنى أنه فنى عن رؤية نفسه والخلق

(3) Yang Keempat : yaitu ia tidak melihat di alam wujud ini (alam nyata) ini kecuali hanya satu, dan ini adalah pengamatan orang-orang as-siddiqin. Dan kaum sufiah menamakannya al-fanaa dalam tauhid, karena ia tidaklah melihat kecuali satu, maka iapun bahkan tidak melihat dirinya sendiri. Dan jika ia tidak melihat dirinya dikarenakan tenggelam dalam tauhid maka ia telah sirna dari dirinya dalam mentauhidkan Allah, yaitu maknanya ia telah sirna tidak melihat dirinya dan tidak melihat makhluk" (Ihyaa 'Ulumiddiin 4/245)



KETUJUH :Ternyata sebagian ulama Ahlul Kalaam juga mengenal istilah tauhid ar-rububiyah dan tauhid al-uluhiyah,

Abu Mansuur Al-Maturidi (pendiri madzhab Al-Maturidiyah, wafat 333 H) dalam kitabnya At-Tauhid beliau berkata :

(Kitaab At-Tauhid, Abu Manshuur Al-Maturidi, tahqiq : DR Muhammad Aruusi, Terbitan Daar Shoodir, Beirut, hal 86)



KEDELAPAN : Kenapa harus pengingkaran besar-besaran terhadap pembagian tauhid menjadi tiga?. Rahasianya karena pembagian ini menjelaskan akan bedanya antara tauhid Ar-Rububiyah dengan tauhid Al-Uluhiyah. Dan barangsiapa yang mengakui tauhid Ar-rububiyah akan tetapi beribadah kepada selain Allah maka ia adalah seorang musyrik. Inilah pembagian yang mereka ingkari, mereka hanya ingin pembicaraan tauhid hanya pada dua model tauhid saja, yaitu tauhid ar-rububiyah dan tauhid al-asmaa wa as-sifaat.

Karena dengan dibedakannya antara tauhid ar-rububiyah dan tauhid al-uluhiyah semakin memperjelas bahwa aqidah mereka tentang bolehnya berdoa kepada mayat-mayat penghuni kubur dan beristighotsah kepada para wali yang telah meninggal adalah kesyirikan yang nyata !!!

Mereka tidak mempermasalahkan jika seandainya tauhid dibagi menjadi dua, yaitu tauhid rububiyah dan tauhid al-asmaa wa as-sifaat, karena dalam buku-buku aqidah mereka ternyata memfokuskan pembicaraan pada dua model tauhid ini. Jika kita setuju pembagian tauhid hanya dua saja, maka bisa saja dikatakan ini adalah dualisme ketuhanan, sebagaimana penyembah dua dewa atau dua tuhan, dan ini juga kesyirikan. Sebagaimana trinitas adalah kesyirikan demikian juga dualisme ketuhanan juga terlarang



KESEMBILAN : Pembicaraan kaum Asya'iroh hanya terfokus dalam masalah tauhid Ar-Rububiyah, bahwasanya Allahlah satu-satunya pencipta.

Hal ini sangat nampak dari sikap mereka berikut ini

- Sebagian ulama mereka menafsirkan laa ilaah illallah pada makna rububiyah لاَ قَادِرَ عَلَى الاِخْتِرَاعِ إِلاَّ اللهُ (Tidak ada yang mampu untuk menciptakan kecuali Allah).

Padahal yang benar dalam hal ism ahsan الله adalah bukanlah ism jamid (yaitu kata benda yang tidak berasal dari kata masdar yang bermakna), akan tetapi pendapat yang benar bawhasanya lafal الله adalah ism musytaq berasal dari kata الإله yang artinya المألوه (sebagaimana كتاب yang bermakna مكتوب), dan المألوه maknanya adalah المعبود "yang di sembah". Sehingga makna yang benar dari laa ilaah illallah adalah "Tidak ada yang berhak untuk disembah kecuali Allah"

- Kita dapati kaum asyairoh dalam buku-buku aqidah mereka menyatakan bahwa أَوَّلُ وَاجِبٍ عَلَى الْمُكَلَّفِ هُوَ النَّظْرُ (Yang pertama wajib bagi seorang mukallaf adalah pengamatan untuk meyakini adanya pencipta). Sehingga konsentrasi mereka adalah tentang penetapan akan adanya Tuhan Pencipta Yang Maha Esa dalam Penciptaan

Akibat dari salah penafsiran tentang laa ilaaha illahllahu ini akhirnya seseorang yang beristighotsah dan berdoa kepada selain Allah tidaklah terjerumus dalam kemusyrikan selama meyakini bahwa pencipta satu-satunya adalah Allah.

Karenanya kita dapati sebagian orang alim mereka (sebagian kiyai) terjerumus dalam kesyirikan atau membolehkan kesyirikan. Menurut mereka hal-hal berikut bukanlah kesyirikan :

- Berdoa kepada mayat, meminta pertolongan dan beristighotsah kepada mayat bukanlah kesyirikan, selama meyakini bahwa mayat-mayat tersebut hanyalah sebab dan Allahlah satu-satunya yang menolong

- Jimat-jimat bukanlah kesyirikan selama meyakini itu hanyalah sebab, dan yang menentukan hanyalah Allah. Karenanya kita dapati sebagian kiyai menjual jimat-jimat

- Bahkan kita dapati sebagian kiyai mengajarkan ilmu-ilmu kanuragan atau ilmu-ilmu sihir. Karena selama meyakini itu hanyalah sebab dan Allah yang merupakan sumber kekuatan maka hal ini bukanlah kesyirikan.

- Sebagian mereka juga membolehkan memberikan sesajen atau tumbal kepada lumpur lapindo atau kepada gunung yang akan meletus, karena menurut mereka hal itu bukanlah bentuk kesyirikan kepada Allah.

Kota Nabi -shallallahu 'alaihi wa sallam-, 03-04-1434 H / 15 Maret 2013 M
Abu Abdil Muhsin Firanda
www.firanda.com
    

Komentarku ( Mahrus ali ) 
Untuk mengetahui kedustaan  Hasan Segaf klik lagi disin:
http://mantankyainu.blogspot.com/2013/04/pengarang-kamus-caci-maki-al-bani-benar.html
بعضٌ من خياناتِ السقاف العلميةِ خلال مناظراتِ المستقلةِ





      

Sabtu, November 10, 2012

Apakah Allah Menciptakan Kejahatan?


Oleh: Ust. al-Fadhil Zulfi Akmal, MA.

Saya dapat kiriman cerita seperti ini:
Seorang profesor yang atheis berbicara dalam seminar di kampus.
Prof: "Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada ?"
Mahasisa semua : "Betul, Dia yang menciptakan semuanya."
"Tuhan menciptakan semuanya?" tanya prof sekali lagi.
"Ya prof, semuanya," kata mahasiswa itu.
Prof: "Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan
menciptakan kejahatan."
Mahasiswa itu terdiam & kesulitan menjawab hipotesis prof tsb.
Suasana hening dipecahkan oleh suara mahasiswa lainnya,
"Prof, boleh saya bertanya sesuatu?"
"Tentu saja," jawab si Prof.
Mahasiswa: "Prof, apakah dingin itu ada ?"
"Pertanyaan macam apa itu ? Tentu saja dingin itu ada."
Mahasiswa itu menyangkal, "Kenyataannya Prof, dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas.
Suhu-460F adalah ketiadaan panas sama sekali & semua partikel menjadi diam & tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas".
Mahasiswa itu melanjutkan...
"Prof, apakah gelap itu ada ?"
Prof menjawab, "Tentu saja itu ada."
Mahasiwa itu menjawab, "Sekali lagi anda salah, Prof. Gelap juga tidak ada. Gelap adalah keadaan di mana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak. Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya jadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna. Tapi Anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut. Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya."
Akhirnya mahasiswa itu bertanya,
"Prof, apakah kejahatan itu ada ?"
Dengan bimbang prof itu menjawab, "Tentu saja !"
Mahasiswa itu menjawab,
"Sekali lagi anda salah, Prof. Kejahatan itu TIDAK ADA. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan di dalam diri seseorang. Seperti dingin atau gelap, kejahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan di dalam diri. Tuhan tidak menciptakan kejahatan. Kejahatan adalah hasil dari tak adanya Tuhan di hati manusia". Profesor itu terdiam..
Mahasiswa itu adalah: ALBERT EINSTEIN


Terlepas benar atau tidak cerita ini berasal dari Einstein, dari kandungannya kita bisa mendapatkan banyak pelajaran:


1. Pengetahuan tentang alam yang benar, kemudian dihubungkan dengan agama akan mendatangkan keyakinan semakin kuat terhadap adanya Allah dan ke-Maha Kuasaan-Nya. Ayat-ayat al Qur’an mengajak akal manusia untuk mengenal Allah dengan cara memperhatikan alam, bukan dengan teori-teori akal dan debat-debat yang kering dari ruh. Semakin dalam pengetahuan tentang alam ini dan semakin besar keterbukaan hati menerima kebenaran, maka semakin kenal juga seseorang itu dengan Allah. Inilah barangkali yang dimaksud oleh ilmuan Islam belakangan ini dengan “Islamisasi Sains” yang banyak kena kecaman dan ejekan dari para atheis.


2. Dengan memahami penjelasan Einstein tentang “kejahatan” di atas, kita tidak perlu repot-repot membantah dan mengkafirkan “mu’tazilah yang mengatakan bahwa Allah tidak menciptakan “kejahatan”. Karena mereka enggan membangsakan (menisbahkan) segala kejelekan kepada Allah. Juga kalau “mu’tazilah” bisa menjelaskan seperti penjelasan Einstein barangkali mereka tidak akan mengalami serangan yang dahsyat dari penentangnya.


3. Tentang kegelapan yang dijelaskan Einstein bisa dijadikan bahan untuk mentadaburi dan memahami ayat al Qur’an lainnya, seperti:


مثلهم كمل الذي استوقد نارا فلما أضآء ما حوله ذهب الله بنورهم وتركهم في ظلمات لا يبصرون


“Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya yang menyinari mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan hingga tidak dapat melihat. (al Baqarah: 17)


Di dalam ayat ini Allah mengatakan bahwa Dia "melenyapkan" cahaya api itu, bukan "mendatangkan" kegelapan. Seperti kata Einstein, kegelapan itu sebenarnya tidak ada, yang ada adalah ketiadaan intensitas cahaya, semakin hilang intensitas cahaya semakin gelaplah sesuatu. Begitu juga dengan gambaran hati yang kehilangan hidayah, di saat hati semakin ditinggalkan oleh hidayah semakin dalam tenggelamnya di jurang kesesatan.


4. Penjelasan ini juga bisa kita gunakan untuk memahami ayat yang lain. Seperti:


وإذا مرضت فهو يشفين


“dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkanku. (asy Syu’ara’: 80)


Selama ini ulama menjelaskan perkataan Nabi Ibrahim dalam surat asy Syu'ara' ini adalah ta'adduban (beradab) kepada Allah, sehingga beliau tidak menyandarkan penyakit itu didatangkan Allah ke dalam dirinya, tapi mengatakan seolah-olah penyakit itu datang sendiri. Namun kalau kita baca dengan pemahaman Einstein, sesungguhnya penyakit itu tidaklah diciptakan khusus oleh Allah, yang diciptakan Allah itu sebenarnya adalah kesehatan. Manakala kesehatan itu dicabut oleh Allah dengan sendirinya datanglah penyakit. Hal ini bisa kita buktikan dengan ungkapan para dokter atau media bila mengabarkan tentang penyakit seseorang yang semakin parah. Mereka tidak mengatakan: “Penyakit si Fulan semakin parah”, tapi mereka akan berkata: “Kesehatan si Fulan semakin menurun”.


5. Sebelum saya diserang balik dengan pertanyaan, saya akan dahului dengan ajakan untuk tadabur lebih dalam. Di dalam al Qur’an Allah mengatakan:


الحمد لله الذي خلق السموات والأرض وجعل الظلمات والنور ثم الذي كفروا بربهم يعدلون


“Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan langit dan bumi, dan mengadakan gelap dan terang, namun orang-orang yang kafir mempersekutukan sesuatu dengan Tuhan mereka”. (al An’am: 1)


Mungkin muncul pertanyaan, dalam ayat itu Allah mengatakan bahwa Dialah yang “mengadakan gelap dan terang”. Lalu bagaimana dengan penjelasan di atas yang mengatakan bahwa kegelapan itu sesungguhnya tidak ada, dengan artian Allah sebenarnya tidak menciptakan kegelapan? Untuk jawabannya mungkin bisa ditemukan dengan merinci apa perbedaan kalimat
خلق dan جعل, di mana kita lihat dalam ayat itu khususnya, Allah menggunakan kata-kata yang sangat detail. Untuk itu saya persilahkan kepada kawan-kawan untuk melanjutkan tadaburnya.
^_^


Mohon perlindungan kepada Allah dari memahami ayat-ayat-Nya tidak sesuai dengan yang dikehendaki-Nya.


Wallahu a’lam bishshawab.
Sumber: http://sufimedan.blogspot.com/2012/06/apakah-allah-menciptakan-kejahatan.html

Komentarku ( Mahrus ali): 
Kalau Allah menciptakan gelap itu benar. Bila  Allah yang menciptakan terang, maka Allah pula yang menciptakan gelap. Bila Allah yang menciptakan  terang, lalu Tuhan lain yang menciptakan gelap, maka pernyataan ini adalah syirik bukan tauhid. Kita kembali saja kepada ayat:

وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ خِلْفَةً لِّمَنْ أَرَادَ أَن يَذَّكَّرَ أَوْ أَرَادَ شُكُوراً ﴿٦٢﴾
062. Dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin memgambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur. Furqan

Kalau Allah menciptakan panas, maka Dia pula yang menciptakan dingin. Lihat ayat ini:
أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يُزْجِي سَحَاباً ثُمَّ يُؤَلِّفُ بَيْنَهُ ثُمَّ يَجْعَلُهُ رُكَاماً فَتَرَى الْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلَالِهِ وَيُنَزِّلُ مِنَ السَّمَاءِ مِن جِبَالٍ فِيهَا مِن بَرَدٍ فَيُصِيبُ بِهِ مَن يَشَاءُ وَيَصْرِفُهُ عَن مَّن يَشَاءُ يَكَادُ سَنَا بَرْقِهِ يَذْهَبُ بِالْأَبْصَارِ ﴿٤٣﴾
043. Tidakkah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian) nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan. Nur

Kalau Allah berbuat jahat, maka tidak akan Allah berbuat sedemikian. Wallohu a`lam bisshowab.

Kamis, November 08, 2012

MBAH WAHAB NGAJI AQOID (3) Dasar Iman dan Islam







Iman didirikan di atas enam perkara; 1) Beritiqad (percaya) pada adanya Tuhan Allah ta’ala yang Esa. 2) Beritikad (percaya) pada adanya malaikat Allah Ta’ala. 3) Beritikad (percaya) pada adanya kitab-kitab Allah Ta’ala. 4) Beritikad (percaya) pada adanya utusan-utusan AllahTa’ala. 5) Beritikad (percaya) pada adanya hari kiamat, ialah hari rusaknya alam dunia ini. 6) Beritikad (percaya) bahwa adanya baik dan buruk itu ciptaan Allah Ta’ala.Adapun dalil keenam dasar iman di atas ini ialah sabda Nabi kita Muhammad saw yang diriwayatkan oleh sahabat Umar ra. sebagai yang terkutip oleh Imam Nawawi di dalam kitab arbain, ketika Gusti Nabi Muhammad saw diminta menerangkan apakah iman itu? lantas beliau bersabda
 أن تؤمن بالله وملائكته وكتبه ورسله واليوم الأخر وتؤمن بالقدر خيره وشره
Berimanlah kamu kepada Allah dan malaikat-Nya dan kitab-kitab-Nya dan utusan-utusan-Nya dan hari Qiamat dan imanlah kamu pada kepastian Allah dalam baiknya dan buruknya.
Oleh karenanya, barang siapa yang beriman tetapi tidak berdasar pada enam hal tersebut, maka imannya tidak berguna dan tidak menghasilkan apa-apa kecuali berdiam selamanya di dalam siksa neraka.
Sedangkan Islam didasarkan pada lima perkara; 1) Mengucapkan dua kalimat syahadat yaitu 
أشهد أن لااله الاالله واشهد ان محمدا رسول الله
Aku ber-i’tikad bahwa sesungguhnya tiada Tuhan melainkan Allah, dan aku ber-I’tikad bahwa Nabi Muhmmad itu utusan Allah.
Bagi orang yang tidak bisa mengucapkan syahadat dengan bahasa arab maka cukuplah mengucap syahadat dengan bahasanya sendiri, asal saja artinya bersetuju dengan syahadat bahasa arab tersebut. Pada dasarnya kewajiban mengucap syahadat sebagai dasar Islam itu sekali selama hidup, asal saja sesudahnya tidak pernah murtad.
2. Mendirikan sembayang (shalat) lima waktu. perlu diingat bahwasannya sembayang (shalat) lima waktu inilah tanda keislaman yang kelihatan tiap-tiap hari, dan inilah yang kelihatan membedakan antara orang Islam dengan lain Islam, sebagaimana Gusti Nabi Muhammad SAW bersabda:
 العهد الذى بيننا وبين الكفر الصلاة فمن ترك الصلاة فقد كفر
Menurut Imam Syafi’i sabda ini berartu, bahwa perjanjian yang membedakan antara kita orang Islam dan orang kufur ialah sembahyang (shalat), maka siapa orang yang meninggalkan sembahyang (shalat), maka sungguh ia adalah orang kufur: Menurut Imam Hambali bahwa orang yang sengaja meninggalkan sembahyang (shalat), niscaya ia menjadi kufur. Jadi apabila dia mati dalam keadaan tersebut, maka mayitnya tidak harus diurus secara Islam, artinya tidak dishalati atau dikubur di tanah kuburan Islam.
3) Dasar Islam yang ketiga ialah memberi zakat. Jangan lupa bahwa zakat itu ada ada beberapa bentuk; zakat fitrah, zakat tanaman (azzoeroe’), zakat mas dan perak, zakat hewan ternak (mawasyi), Zakat dagangan (tijaroh) dan lain sebagainya
4) Dasar yang ke empat yaitu puasa setiap bulan Ramadhan.
5) Dasar yang ke lima yaitu melaksanakan ibadah haji, apabila kuasa dan cukupnya bekal dan amanya perjalanan dan sempat waktunya. Haji yang wajib hanya sekali dalam seumur hidup. 
Adapun asal dalil lima dasar Islam tersebut ialah sabda Gusti Nabi Muhammad saw.  yang diriwayatkan oleh Sayyidina Umar r.a  sebagai terkutip oleh Imam Nanawi di dalam kitab arbain-nya begini bunyinya:
 الاسلام أن تشهد ان لااله الاالله وان محمدا رسول الله وتقيم الصلاة وتؤتى الزكاة وتصوم رمضان وتحج البيت ان استطعت اليه سبيلا
Bahwa islam harus bersyahadatlah kalian, sesungguhnya tiada Tuhan selain Allah dan sesungguhnya Muhammad itu utusan Allah, dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat dan puasalah kamu di bulan Ramadhan dan hajilah ke Baitullah jikalau kuasa perjalanan.    
Sumber:  Oetusan Nahdlatul Oelama, No1. Tahun ke.1
Rekdatur: Ulil Hadrawy
Komentarku ( Mahrus ali): 
Saya masih belum menjumpai dalil tentang zakat dagangan, karena banyak kalangan sahabat yang berdagang, tapi saya belum menjumpai dalil bahwa Rasulullah SAW mengambil zakatnya dari mereka.
Apalagi perdagangan sekarang yang tak lepas dari uang kucuran dana  Bank ribawi dan barang yang di jual mengandung banyak glatin babi. Dagangan yang haram sudah tentu tiada zakatnya.

Minggu, November 27, 2011

Mahasiswa kedokteran: Buang teori Darwin, ambil quran

 

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON - Mahasiswa Muslim, termasuk calon dokter di salah satu program medis terkemuka di Inggris, memilih keluar dari ruang kuliah saat pembahasan teori evolusi. Mereka mengklaim hal itu bertentangan dengan ide-ide kreasionis yang disebutkan dalam Alquran.

Padahal di University College London tempat mereka belajar, teori Darwin merupakan bagian penting dari silabus.

Serupa dengan keyakinan yang diungkapkan oleh orang-orang Kristen fundamentalis, mahasiswa Muslim di kampus itu bersikeras mempertahankan pendapat bahwa Allah lah yang menciptakan dunia, manusia, dan semua spesies  dalam sebuah tindakan tunggal.

Steve Jones, profesor emeritus genetika manusia di University College London, telah mempertanyakan mengapa para mahasiswa tersebut belajar biologi jika hal itu bertentangan dengan keyakinan mereka.

"Mereka tidak datang [kuliah] atau mereka mengeluh tentang hal itu atau mereka mengirim catatan atau email mengatakan bahwa mereka tidak harus mempelajari hal ini. Saya tidak benar-benar memahaminya, saya tidak religius, mereka menolak gagasan bahwa ada suatu proses acak di luar sana di luar kehendak Tuhan," kata Jones.

Awal tahun ini Usama Hasan, iman dari masjid al-Tauhid di Leyton, menerima ancaman hukuman mati setelah berpendapat bahwa Darwinisme dan Islam mungkin kompatibel.

Sumber dalam kelompok Muslims4UK sebagian menyalahkan semakin populernya keyakinan penciptaan dalam Islam yang digagas penulis Turki, Harun Yahya. Ia menulis beberapa buku yang mencela Darwinisme.

Ahli biologi evolusioner dan profesor dari Oxford, Richard Dawkins, menyatakan keprihatinannya pada makin bertambahnya jumlah mahasiswa yang menolak teori darwin dan memilih tak mengikuti kuliah tentang teori evolusi.
Redaktur: Siwi Tri Puji B
Sumber: Daily Mail

Judul asli : Mahasiswa Kedokteran Boikot Kuliah tentang Teori Darwin...karena Bertentangan dengan Quran


Komentarku ( Mahrus ali ):
Teori Darwin atau lainnya   pendapat yang bertentangan dengan al quran cocok dengan kehendak setan. Ia kekufuran bukan Islam dan membuang Allah sebagai pencipta, lalu tiada pencipta. Bahkan tiada Allah tapi ada dunia seisinya. Ia mirip dengan doktrin PKI yang anti Islam. Berdustalah Darwin dan benarlah Allah sebagaimana ayat:
اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ وَسَخَّرَ لَكُمُ الْفُلْكَ لِتَجْرِيَ فِي الْبَحْرِ بِأَمْرِهِ وَسَخَّرَ لَكُمُ الْأَنْهَارَ(32)
Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezki untukmu, dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai.[1]


[1] Ibrahim 32

Selasa, November 15, 2011

Rasulullah SAW. melihat cahaya Allah?.




  Issu  tentang Rasulullah SAW.  melihat cahaya Allah bukan kegelapan setan adalah kuno sekali bukan barang baru dan telah membudaya, bukan aneh lagi  di kalangan kaum santri maupun kalangan masarakat Islam. Dan kita tidak bisa membenarkan  tanpa pengkajian dulu, juga tidak menyalahkan dengan  gegabah. sebab  ada hadis riwayat Muslim tentang hal itu.


261 - حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ يَزِيدَ بْنِ إِبْرَاهِيمَ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ شَقِيقٍ عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ
سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَلْ رَأَيْتَ رَبَّكَ قَالَ نُورٌ أَنَّى أَرَاهُ
Bercerita kepada kami Abu bakar bin Abu Syaibah, lalu  berkata: Bercerita kepada kami Waki` dari Yazid bin Ibrahim  dari Qatadah  dari Abdullah bin Syafiq  dari Abu Dzar berkata: Aku bertanya  kepada  Rasulullah SAW., apakah  kamu pernah melihat Tuhanmu?.
Rasulullah SAW.  menjawab: Saya hanya  melihat  cahaya.  HR  Muslim
HR Thoyalisi 474, Ahmad 21429, Muslim  178 Tirmidzi dan beliau bilang hasan. Ibnu Hibban  58.  Jamiul  ahadis  22/285
Hadis tsb  di buku mana saja dan kapan saja di riwayatkan dari perawi tunggal  yaitu  Qatadah  dari Abdullah bin  Syafiq,[1]
Qatadah  telah kami jelaskan  di muka  dia adalah mudallis – suka menyelinapkan perawi lemah. Dan tiada  perawi lain  yang meriwayatkan  yang bisa di buat dukungan atau menambah kemantapan.
Imam  Al Bazzar berkata:
وَهَذَا الْحَدِيثُ لاَ نَعْلَمُ رَوَاهُ عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ شَقِيقٍ إِلاَّ قَتَادَةُ وَلاَ نَعْلَمُ رَوَاهُ عَنْ قَتَادَةَ إِلاَّ هِشَامُ وَيَزِيدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ.
Tiada  orang yang  meriwayatkan hadis tsb dari  Abdullah bin Syaqiq  kecuali  Qatadah  dan  kami  tidak tahu orang yang meriwayatkan  dari Qatadah kecuali  Hisyam  dan Yazid bin Ibrahim. [2]
Setahu  saya  perawi bernama  Yazid bin  Ibrahim bila meriwayatkan  dari Qatadah  di nilai lemah  oleh kalangan ulama dan Abdullah bin Syaqiq  adalah perawi terpercaya  yang syi`ah.  Jadi  hadis tsb sekalipun  di riwayatkan oleh Muslim  tapi Imam  Bukhari, Abu dawud, Nasai  tidak meriwayatkannya . Jadi lemah karena  sanadnya  yang masih cacat.  Dan tidak di kenal di kalangan sahabat atau tabiin.

Untuk cahaya  di atas cahaya maka telah  di jelaskan  dalam al quran  sbb:
اللَّهُ نُورُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُوقَدُ مِنْ شَجَرَةٍ مُبَارَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لَا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ نُورٌ عَلَى نُورٍ يَهْدِي اللَّهُ لِنُورِهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat (nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

اَنْتَ شَمْسٌ اَنْتَ بَدْرٌ  *  اَنْتَ نُوْرٌ فَوْقَ نُوْرٍ.

      "Engkau matahari, engkau bulan purnama * Engkaulah cahaya di atas cahaya".

اَنْتَ الَّذِيْ اَشْرَقْتَ فِىاُفُقِ الْعُلاَ * فَمَحَوْتَ بِاْلاَنْوَارِكُلَّ ضَلاَلِ

         "Engkaulah yang menyinari di ufuk yang tinggi * Engkau hapuskan setiap kegelapan dengan cahaya-cahayamu".

            Ungkapan dalam bait di atas iaitu: "Engkaulah cahaya di atas cahaya" menggambarkan bahwa Nur Muhammad sallallahu 'alaihi wa-sallam setara atau sekufu (sama) dengan Nur Allah.  Sedangkan ia bertentangan dengan firman Allah:

اَللهُ نُوْرُ السَّمَاوَاتِ وَاْلاَرْضِ.

"Allah (Pemberi) cahaya (kepada yang) di langit dan bumi". An-Nur, 24:35.



[1] Al musnadul jami` 135 /16
[2] Musnad al bazzar 5/ 307