 |
PEMBAGIAN TAUHID MENJADI TIGA adalah TRINITAS? Kategori: Aqidah Diterbitkan pada 15 March 2013 Klik: 8958
Merupakan perkara yang konyol dan lucu adalah perkataan sebagian ASWAJA
atau sebagian Jahmiyah bahwasanya pembagian tauhid menjadi tiga, (1)
Tauhid Ar-Rububiyah, (2) Tauhid Al-'Uluhiyah/al-'Ubudiyah, dan (3)
Tauhid al-Asmaa' wa as-Sifaat, adalah sama dengan aqidah TRINITAS kaum
Nasrani yang meyakini Allah terdiri dari 3 oknum. Yang lebih
lucu lagi mereka masih terus menganggap bahwa pernyataan mereka ini
adalah hujjah yang sangat kuat untuk membantah salafiyin, padahal ini
adalah hujjah yang sangat konyol dan sangat…sangat…sangat…tidak
nyambung. Apakah semua yang dibagi menjadi tiga sama dengan trinitas??.
Akan tetapi begitulah sebagian ASWAJA yang mencari dalil apa saja yang
penting bisa membantah salafiyin (Aswaja yang sesungguhnya) !!!
Pernyataan ini (bahwasanya pembagian tauhid menjadi tiga sama dengan
trinitas) digembar-gemborkan oleh seorang yang bernama Hasan 'Alawi
As-Saqqoof, seorang pengikut faham Jahmiyah dalam kitabnya التَّنْدِيْدُ
بِمَنْ عَدَّدَ التَّوْحِيْدَ، إِبْطَالُ مُحَاوَلَةِ التَّثْلِيْثِ فِي
التَّوْحِيْدِ وَالْعَقِيْدَةِ الإِسْلاَمِيَّةِ (artinya : Pengungkapan
kebatilan orang yang membagi tauhid, pembatalan usaha trinitas dalam
tauhid dan aqidah Islamiyah) Beliau ini dikenal tukang dusta,
terlalu banyak dusta yang ia sampaikan, bahkan berdusta dihadapan
khalayak ramai (di stasiun televisi), silahkan baca (http://www.saaid.net/Doat/Zugail/303.htm),
demikian juga tidak amanahnya Hasan As-Saqqoof terhadap kitab-kitab
para ulama sebagaimana dibongkar oleh Muhammad Sa'id Al-Katsiiri dalam
kitabnya عَبَثُ أَهْلِ الأَهْوَاءِ بِتُرَاثِ الأُمَّةِ وَوَقَيْعَتُهُمْ
فِي عُلَمَائِنَا نَظْرَةٌ تَطْبِيْقِيَّةٌ فِي كُتُبِ حَسَن بْنِ عَلِي
السَّقَّافِ (inti buku ini adalah menunjukkan contoh praktek-praktek
nyata ketidakamanahan Hasan As-Saqqof terhadap buku-buku para ulama, dan
sikapnya yang menjatuhkan para ulama : silahkan di download di http://ia700302.us.archive.org/22/items/waq85152/85152.pdf),
buku ini diberi pengantar oleh Syaikh yang alim yang juga berasal dari
satu suku dengan Hasan As-Saqqoof, yaitu syaikh yang bernama Abdul
Qoodir 'Alawi As-Saqqoof hafizohulloh) Adapun buku At-Tandiid
tersebut maka telah dibantah secara khusus oleh Syaikh Abdurrozzaq
Al-Badr hafizohulloh dalam kitabnya الْقَوْلُ السَّدِيْدُ فِي الرَّدِّ
عَلَى مَنْ أَنْكَرَ تَقْسِيْمَ التَّوْحِيْدِ (yang artinya : Perkataan
yang Tepat dalam Membantah Orang yang Mengingkari Pembagian Tauhid,
silahkan didownload di http://ia701206.us.archive.org/24/items/waq34288/34288.pdf) Untuk membantah hujjah konyol ini maka ada beberapa perkara yang perlu diperhatikan :
PERTAMA : Maksud dari pembagian Tauhid menjadi tiga, yaitu mentauhidkan
Allah dalam (1) Rububiyahnya, dalam (2) Uluhiyahnya, dan dalam (3)
Asmaa dan SifaatNya. - Tauhid ar-Rubuubiyah artinya
Mengesakan Allah dalam hal penciptaan, pemilikan dan pengaturan. Yaitu
meyakini bahwa Allah Maha Esa dan tidak ada dzat lain yang ikut nimbrung
membantu Allah dalam hal penciptaan, penguasaan, dan pengaturan.
- Tauhid al-Uluhiyah : Mengesakan Allah dalam peribadatan hamba
kepadaNya. Artinya Allah Maha Esa dalam penyembahan, maka tidak ada
dzat lain yang boleh untuk ikut serta disembah disamping penyembahan
terhadap Allah - Tauhid al-Asmaa wa as-Sifaat :
Mengesakan Allah dalam nama-nama dan sifat-sifatnya. Artinya tidak ada
dzat lain yang menyamai sifat-sifat Allah yang maha sempurna.
Jika kita bertanya kepada kaum muslimin secara umum tentang tiga makna
tauhid di atas, maka secara umum tidak ada yang menolak, karena Allah
memang Maha Esa dalam ketiga hal di atas. Lantas kenapa harus ada
pengingkaran jika maknanya disetujui dan disepakati..??
KEDUA : Tauhid asalnya tidaklah diterima kecuali tauhid yang satu.
Karena asalnya (1) Rob yang berhak disembah adalah (2) Rob yang maha Esa
dalam penciptaan, dan juga (3) Maha sempurna sifat-sifatnya. Jika ada
Rob yang tidak maha esa dalam penciptaan atau tidak sempurna
sifat-sifatnya maka dia tidak berhak untuk disembah. Karenanya asalnya
bahwa tauhid tidaklah menerima pembagian. Ketiga makna tauhid di atas
harus terkumpulkan menjadi satu. Lantas kenapa ada pembagian??!!
Makhluklah (yaitu kaum musyrikin) yang telah melakukan pembagian,
sehingga mereka hanya mengimani dan mengerjakan sebagian dari makna
tauhid. Allah berfirman :
وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُمْ بِاللَّهِ إِلا وَهُمْ مُشْرِكُونَ
"Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan
dalam Keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain)"
(QS Yusuf : 106) Para salaf dan para ahli tafsir telah sepakat
bahwa makna ayat ini adalah kaum musyrikin arab mengakui dan mengimani
bahwasanya Allah Maha Esa dalam penciptaan dan pengaturan, akan tetapi
mereka berbuat kesyirikan dengan beribadah juga kepada selain Allah.
(Silahkan baca kembali penjelasan panjang lebar disertai nukilan-nukilan
dari salaf dan para mufassir di artikel ini "Persangkaan Abu Salafy
Al-Majhuul Bahwasanya Kaum Musyrikin Arab Tidak Mengakui Rububiyyah
Allah" Ayat ini menunjukkan bahwa kaum musyrikin Arablah yang
membagi tauhid kepada Allah, sehingga hanya mengimani sebagian tauhid
(yaitu tauhid rububiyah) dan berbuat syirik dalam tauhid al-uluhiyah. Allah juga berfirman
فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ
الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ
Maka apabila mereka naik kapal mereka mendoa kepada Allah dengan
memurnikan ketaatan kepada-Nya, Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka
sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah) (QS
Al-'Ankabuut : 65) Ayat ini menjelaskan bahwasanya dalam
kondisi gawat kaum musyrikin mengesakan (tidak membagi) tauhid mereka
sehingga ikhlas berdoa kepada Allah, akan tetapi tatkala mereka
diselamatkan di daratan mereka kembali lagi melakukan pembagian tauhid
dan menyimpang dalam tauhid al-uluhiyah. Dan dalil-dalil yang
menunjukkan akan keimanan kaum musyrikin terhadap tauhid ar-rububiyah
sangatlah banyak, sebagaimana telah saya sampaikan pada link diatas.
Perhatikan : Syari'at tidak ingin tauhid dipisah-pisahkan, bahkan ingin
agar tauhid merupakan seusatu yang satu kesatuan. Hanya saja timbul
penyimpangan dari kaum musyrikin yang memecah dan membagi tauhid, dimana
mereka beriman kepada sebagian makna tauhid dan mengingkari sebagian
yang lain. Maka datanglah syari'at untuk meluruskan mereka sehingga
menjelaskan dengan cara membagi antara keimanan mereka yang benar
(tauhid ar-rububiyah) dan keimanan mereka yang salah dalam tauhid (yaitu
tauhid al-uluhiyah). Sehingga sering kita dapati bahwasanya Al-Qur'an
berhujjah dengan keimanan mereka terhadap tauhid ar-rububiyah agar
mereka meluruskan tauhid mereka yang salah dalam tauhid al-uluhiyah.
Seperti firman Allah
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ
الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
(٢١)الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الأرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً
وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ
رِزْقًا لَكُمْ فَلا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ
Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang
yang sebelummu, agar kamu bertakwa, Dialah yang menjadikan bumi sebagai
hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan)
dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan
sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu Mengadakan
sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui." (QS Al-Baqoroh :
21-22) Dalam ayat ini Allah berhujjah dengan pengakuan kaum
musyrikin dan keimanan mereka terhadap Rububiyah Allah agar mereka juga
mentauhidkan Allah dalam uluhiyah/peribadatan. Intinya :
Pembagian tauhid nampak dan muncul pada makhluk lalu datanglah syari'at
berusaha memperbaiki dan meluruskan pemahaman mereka yang keliru tentang
tauhid. Jadilah timbul pembagian tauhid dalam syari'at yang memiliki 2
fungsi, (1) dalam rangka penjelasan dan (2) dalam rangka menjaga tauhid
dari kesalahpahaman KETIGA : Karenanya pembagian
tauhid ini bukanlah penimbulan/pemunculan suatu makna baru yang tidak
ada di zaman salaf, akan tetapi hanyalah pembaharuan dalam istilah atau
metode penjelasan dan pemahaman. Karena kalau pembagian ini dikatakan
bid'ah maka terlalu banyak penamaan dan pembagian yang kita hukumi
sebagai bid'ah juga. Sebagai contoh misalnya pembagian para ulama
bahwasanya hukum taklifi terbagi menjadi 5 (wajib, mustahab, mubah,
makruh, dan haram). Tentunya pembagian ini tidak terdapat dalam
pembicaraan sahabat. Akan tetapi setelah diteliti dalil-dalil yang ada
jelas bahwa kesimpulan hukum-hukum taklifi tidaklah keluar dari 5 hukum
tersebut. KEEMPAT : Pembagian tauhid adalah perkara
ijtihadiah, tergantung cara seorang mujtahid dalam meng "istiqroo'
dalil-dalil, sehingga berkesimpulan bahwa tauhid terbagi menjadi
berapa?. Karenanya kita dapati : - Sebagian
ulama membagi tauhid menjadi dua saja, yaitu :تَوْحِيْدُ الْمَعْرِفَةِ
وَالْإِثْبَاتِ dan تَوْحِيْدُ الطَّلَبِ وَالْقَصْدِ. -
Ada juga yang membagi dua dengan ibarat yang lain, yaitu : التَّوْحِيْدُ
الْعِلْمِيِّ الْخَبَرِيِّ dan التَّوْحِيْدِ الطَّلَبِيِّ الإِرَادِيِّ - Ada juga yang mengungkapkan dengan ibarat yang lain, yaitu : تَوْحِيْدُ الإِعْتِقَادِ dan تَوْحِيْدُ الْعَمَلِ
- Kita dapati juga ada sebagian orang yang membagi tauhid
menjadi 4, seperti Ibnu Mandah yang membagi tauhid menjadi : (1) Tauhid
Al-Uluhiyah, (2) Tauhid Ar-Tububiyah, (3) Tauhid al-Asmaa', dan (4)
Tauhid As-Sifaat. - Demikian juga ada yang membagi tauhid menjadi empat dengan menambahkan tauhid yang ke (4) Tauhid Al-Haakimiyah.
Yang menjadi permasalahan bukanlah pembagian, akan tetapi content/isi
dan kandungan dari pembagian tersebut, apakah benar menurut syari'at
atau tidak??!! Inilah yang menjadi permasalahan, bukan masalah pembagian
tauhid menjadi dua atau tiga atau empat, atau lebih dari itu.
KELIMA : Ternyata kita dapati para ulama terdahulu –jauh sebelum Ibnu
Taimiyyah- telah membagi tauhid menjadi tiga. Hal ini jelas membantah
pernyataan mereka bahwa pembagian tauhid menjadi tiga adalah kreasi Ibnu
Taimiyyah rahimahullah di abad ke 8 hijriyah. Syaikh Abdurrozzaq
hafizohulloh telah menukil perkataan para ulama salaf jauh sebelum Ibnu
Taimiyyah yang membagi tauhid menjadi tiga. Diantara para ulama tersebut
adalah : (1) Al-Imam Abu Abdillah 'Ubaidullahi bin Muhammad
bin Batthoh al-'Akburi yang wafat pada tahun 387 H, dalam kitabnya
Al-Ibaanah. (2) Al-Imam Ibnu Mandah yang wafat pada tahun 395 Hijriyah dalam kitabnya "At-Tauhid". (3) Al-Imam Abu Yusuf yang wafat pada tahun 182 H (silahkan merujuk kembali kitab al-qoul as-sadiid) KEENAM : Ternyata kita juga dapati ahlul bid'ah juga telah membagi tauhid
Pertama : Kaum Asyaa'roh juga membagi tauhid menjadi 3, mereka
menyatakan bahwa wahdaniah (keesaan) Allah mencakup tiga perkara,
ungkapan mereka adalah:
إن الله واحد في ذاته لا قسيم له وواحد في صفاته لا نظير له، وواحد في أفعاله لا شريك له
"Sesungguhnya Allah (1) maha satu pada dzatnya maka tidak ada pembagian
dalam dzatNya, (2) Maha esa pada sifat-sifatNya maka tidak ada yang
menyerupai sifat-sifatnya, dan (3) Maha esa pada perbuatan-perbuatanNya
maka tidak ada syarikat bagiNya. Salah seorang ulama terkemukan dari Asyaa'iroh yang bernama Ibrahim Al-Laqqooni berkata : "Keesaan (ketauhidan) Allah meliputi tiga perkara yang dinafikan : … "Keesaan" dalam istilah kaum (Asyaa'iroh) adalah ungkapan dari tiga perkara yang dinafikan : "(1) Dinafikannya berbilang dari Dzat Allah, artinya Dzat Allah tidak menerima pembagian….
(2) Dinafikannya sesuatu yang serupa dengan Allah, maksudnya tidak ada
perbilangan dalam dzat atau salah satu sifat dari sifat-sifatNya… (3) Dinafikannya penyamaan Allah dengan makhluk-makhluk yang baru…" (Hidaayatul Muriid Li Jauharot At-Tauhiid, Ibraahim Al-Laqqooni. 1/336-338) Ulama besar Asya'iroh yang lain yaitu Al-Baajuuri rahimahullah berkata :
"Kesimpulannya bawhasanya wahdaniah/keesaan/ketauhidan Allah yang
mencakup (1) Keesaan pada Dzat, (2) Keesaan pada sifat-sifat Allah, dan
(3) Keesaan pada perbuatan-perbuatanNya…" (Hasyiat Al-Imam Al-Baijuuri 'alaa Jauharot At-Tauhiid, hal 114)
Kedua : Abu Hamid Al-Gozali menyatakan bahwa tauhid yang berkaitan
dengan kaum muslimin ada 3 tingakatan, karena beliau membagi tauhid
menjadi 4 tingkatan, dan tingkatan pertama adalah tingkatan tauhidnya
orang-orang munafik. Adapun tingkatan-tingakatan yang berikutnya : (1) Tauhidul 'awaam تَوْحِيْدُ الْعَوَّام (Tauhidnya orang-orang awam) (2) Tauhidul Khoosoh تَوْحِيْدُ الْخَاصَّةِ (Tauhidnya orang-orang khusus, مَقَامُ الْمُقَرّبِيْنَ) dan (3) Tauhid Khoosotil Khooshoh تَوْحِيْدُ خَاصَّةِ الْخَاصَّةِ (Tauhidnya orang-orang super khusus مُشَاهَدَةُ الصِّدِّيْقِيْنَ) Beliau rahimahullah berkata : للتوحيد أربع مراتب ...
فالرتبة الأولى من التوحيد هي أن يقول الإنسان بلسانه لا إله إلا الله وقلبه غافل عنه أو منكر له كتوحيد المنافقين
"Tauhid memiliki 4 tingkatan…tingkatan pertama dari tauhid adalah
seseorang mengucapkan dengan lisannya laa ilaah illallah akan tetapi
hatinya lalai darinya atau mengingkarinya, sebagaimana tauhidnya
orang-orang munafiq" Lalu Al-Gozali menyebutkan 3 tingkatan tauhidnya kaum muslimin, ia berkata : والثانية أن يصدق بمعنى اللفظ قلبه كما صدق به عموم المسلمين وهو اعتقاد العوام
(1) Yang kedua : Yaitu ia membenarkan makna lafal laa ilaaha illallahu
dalam hatinya sebagaimana pembenaran orang-orang awam kaum muslimin, dan
ini adalah aqidahnya orang-orang awam والثالثة أن يشاهد ذلك
بطريق الكشف بواسطة نور الحق وهو مقام المقربين وذلك بأن يرى أشياء كثيرة
ولكن يراها على كثرتها صادرة عن الواحد القهار (2) Yang Ketiga :
Yaitu dengan metode Kasyf (pengungkapan) dengan perantara cahaya Allah,
dan ini adalah orang-orang muqorrobin (yang didekatkan), yaitu jika ia
melihat sesuatu yang banyak akan tetapi ia melihatnya –meskipun banyak-
timbul dari dzat Yang Maha Satu Yang Maha Kuasa
والرابعة أن لا
يرى في الوجود إلا واحدا وهي مشاهدة الصديقين وتسميه الصوفية الفناء في
التوحيد لأنه من حيث لا يرى إلا واحدا فلا يرى نفسه أيضا وإذا لم ير نفسه
لكونه مستغرقا بالتوحيد كان فانيا عن نفسه في توحيده بمعنى أنه فنى عن رؤية
نفسه والخلق
(3) Yang Keempat : yaitu ia tidak melihat di alam
wujud ini (alam nyata) ini kecuali hanya satu, dan ini adalah pengamatan
orang-orang as-siddiqin. Dan kaum sufiah menamakannya al-fanaa dalam
tauhid, karena ia tidaklah melihat kecuali satu, maka iapun bahkan tidak
melihat dirinya sendiri. Dan jika ia tidak melihat dirinya dikarenakan
tenggelam dalam tauhid maka ia telah sirna dari dirinya dalam
mentauhidkan Allah, yaitu maknanya ia telah sirna tidak melihat dirinya
dan tidak melihat makhluk" (Ihyaa 'Ulumiddiin 4/245) KETUJUH :Ternyata sebagian ulama Ahlul Kalaam juga mengenal istilah tauhid ar-rububiyah dan tauhid al-uluhiyah, Abu Mansuur Al-Maturidi (pendiri madzhab Al-Maturidiyah, wafat 333 H) dalam kitabnya At-Tauhid beliau berkata : (Kitaab At-Tauhid, Abu Manshuur Al-Maturidi, tahqiq : DR Muhammad Aruusi, Terbitan Daar Shoodir, Beirut, hal 86)
KEDELAPAN : Kenapa harus pengingkaran besar-besaran terhadap pembagian
tauhid menjadi tiga?. Rahasianya karena pembagian ini menjelaskan akan
bedanya antara tauhid Ar-Rububiyah dengan tauhid Al-Uluhiyah. Dan
barangsiapa yang mengakui tauhid Ar-rububiyah akan tetapi beribadah
kepada selain Allah maka ia adalah seorang musyrik. Inilah pembagian
yang mereka ingkari, mereka hanya ingin pembicaraan tauhid hanya pada
dua model tauhid saja, yaitu tauhid ar-rububiyah dan tauhid al-asmaa wa
as-sifaat. Karena dengan dibedakannya antara tauhid
ar-rububiyah dan tauhid al-uluhiyah semakin memperjelas bahwa aqidah
mereka tentang bolehnya berdoa kepada mayat-mayat penghuni kubur dan
beristighotsah kepada para wali yang telah meninggal adalah kesyirikan
yang nyata !!! Mereka tidak mempermasalahkan jika seandainya
tauhid dibagi menjadi dua, yaitu tauhid rububiyah dan tauhid al-asmaa wa
as-sifaat, karena dalam buku-buku aqidah mereka ternyata memfokuskan
pembicaraan pada dua model tauhid ini. Jika kita setuju pembagian tauhid
hanya dua saja, maka bisa saja dikatakan ini adalah dualisme ketuhanan,
sebagaimana penyembah dua dewa atau dua tuhan, dan ini juga kesyirikan.
Sebagaimana trinitas adalah kesyirikan demikian juga dualisme ketuhanan
juga terlarang KESEMBILAN : Pembicaraan kaum
Asya'iroh hanya terfokus dalam masalah tauhid Ar-Rububiyah, bahwasanya
Allahlah satu-satunya pencipta. Hal ini sangat nampak dari sikap mereka berikut ini
- Sebagian ulama mereka menafsirkan laa ilaah illallah pada
makna rububiyah لاَ قَادِرَ عَلَى الاِخْتِرَاعِ إِلاَّ اللهُ (Tidak ada
yang mampu untuk menciptakan kecuali Allah). Padahal yang benar
dalam hal ism ahsan الله adalah bukanlah ism jamid (yaitu kata benda
yang tidak berasal dari kata masdar yang bermakna), akan tetapi pendapat
yang benar bawhasanya lafal الله adalah ism musytaq berasal dari kata
الإله yang artinya المألوه (sebagaimana كتاب yang bermakna مكتوب), dan
المألوه maknanya adalah المعبود "yang di sembah". Sehingga makna yang
benar dari laa ilaah illallah adalah "Tidak ada yang berhak untuk
disembah kecuali Allah" - Kita dapati kaum asyairoh
dalam buku-buku aqidah mereka menyatakan bahwa أَوَّلُ وَاجِبٍ عَلَى
الْمُكَلَّفِ هُوَ النَّظْرُ (Yang pertama wajib bagi seorang mukallaf
adalah pengamatan untuk meyakini adanya pencipta). Sehingga konsentrasi
mereka adalah tentang penetapan akan adanya Tuhan Pencipta Yang Maha Esa
dalam Penciptaan Akibat dari salah penafsiran tentang laa
ilaaha illahllahu ini akhirnya seseorang yang beristighotsah dan berdoa
kepada selain Allah tidaklah terjerumus dalam kemusyrikan selama
meyakini bahwa pencipta satu-satunya adalah Allah. Karenanya
kita dapati sebagian orang alim mereka (sebagian kiyai) terjerumus dalam
kesyirikan atau membolehkan kesyirikan. Menurut mereka hal-hal berikut
bukanlah kesyirikan : - Berdoa kepada mayat, meminta
pertolongan dan beristighotsah kepada mayat bukanlah kesyirikan, selama
meyakini bahwa mayat-mayat tersebut hanyalah sebab dan Allahlah
satu-satunya yang menolong - Jimat-jimat bukanlah
kesyirikan selama meyakini itu hanyalah sebab, dan yang menentukan
hanyalah Allah. Karenanya kita dapati sebagian kiyai menjual jimat-jimat
- Bahkan kita dapati sebagian kiyai mengajarkan ilmu-ilmu
kanuragan atau ilmu-ilmu sihir. Karena selama meyakini itu hanyalah
sebab dan Allah yang merupakan sumber kekuatan maka hal ini bukanlah
kesyirikan. - Sebagian mereka juga membolehkan
memberikan sesajen atau tumbal kepada lumpur lapindo atau kepada gunung
yang akan meletus, karena menurut mereka hal itu bukanlah bentuk
kesyirikan kepada Allah. Kota Nabi -shallallahu 'alaihi wa sallam-, 03-04-1434 H / 15 Maret 2013 M Abu Abdil Muhsin Firanda www.firanda.com
|