أن النبي صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ كان يقرأ في العيدين والجمعة ب { سبح
اسم ربك الأعلى } و{ هل أتاك حديثُ الغاشية } وربما اجتمعا في يوم فيقرأ بهما
خلاصة حكم المحدث : صحيح
الراوي : النعمان بن بشير | المحدث : البخاري | المصدر : العلل الكبير |
الصفحة أو الرقم : 92
| التخريج : أخرجه أبو داود (1122)، والنسائي (1568)، والطبراني في
((المعجم الكبير)) (21/ 134) (166)، والبيهقي (6262)، والترمذي في ((العلل)) (152)
جميعا بلفظه.
سنن النسائي (3/ 112)
Nabi
Muhammad shallallahu alaihi wa sallam membaca Surah Al-A'la (87) dan Surah
Al-Ghashiyah (88) pada kedua shalat Id dan shalat Jumat. Terkadang, jika shalat
Id dan Jumat bertepatan, beliau membacanya bersama-sama.
Pendapat
ulama hadits: Sahih
Perawi:
Nu'man bin Bashir | Diriwayatkan oleh: Al-Bukhari | Sumber: Al-'Ilal Al-Kabir |
Halaman atau Nomor: 92
| Referensi:
Diriwayatkan oleh Abu Dawud (1122), An-Nasa'i (1568), At-Tabarani dalam
Al-Mu'jam Al-Kabir (21/134) (166), Al-Bayhaqi (6262), dan At-Tirmidhi dalam
Al-'Ilal (152), muanya dengan redaksi yang sama.
Sunan
An-Nasa'i (3/112)
المسند الجامع (15/ 508)
ستتهم (سُفْيَان الثَّوْرِي،
وجَرِير، وأبو عَوَانَة، ومِسْعَر، وشُعْبة، وسُفْيان بن عُيَيْنَة) عن إبراهيم بن
مُحَمد بن المُنْتَشِر، عن أبيه، عن حَبِيب بن سالم، فذكره
Al-Musnad al-Jami' (15/508)
Enam diantaranya (Sufyan al-Tsawri,
Jarir, Abu ‘Awanah, Mis’ar, Shu’bah, dan Sufyan bin ‘Uyaynah) meriwayatkan dari
Ibrahim bin Muhammad bin al-Muntashir, dari ayahnya, dari Habib bin Salim, dan
beliau menyebutkannya.
Komentarku ( Mahrus ali ) :
Intinya perawi tunggalnya
adalah Ibrahim bin Muhammad tidak ada tabiin atau pengikutnya di Madinah yang tahu hadis itu.
لأسم : إبراهيم بن محمد بن
المنتشر بن الأجدع
الشهرة : إبراهيم بن محمد
الهمداني
النسب : الكوفي, الهمداني
الرتبة : ثقة
عاش في : الكوفة
Nama : Ibrahim bin Muhammad bin al-Muntasyir bin
al-Ajda'
Dikenal sebagai: Ibrahim bin Muhammad al-Hamdani
Kebangsaan: Kufan, al-Hamdani
Peringkat: Dapat Dipercaya
Tinggal di: Kufah
Komentarku ( Mahrus ali ) :
Ibrahim bn Muhammad memilik murid banyak juga antara
lain Imam Abu Hanifah yang wafat pada tahun 150 . Berarti sebelum tahun itulah
hadis tsb masih di ketahu satu orang. Ini namanya hadis gharib, nyeleneh
حكم تفرد الثقة الذي لم يخالف
فيما تفرد به.
ذهب الخليلي إلى أن الحديث الذي
تفرد به الثقة: “يتوقف فيه، ولا يحتج به”.
واعتبر أبو عبد الله الحاكم ما
تفرد به الثقة من قبيل الشاذ، فقال: “فأما الشاذ فإنه الحديث يتفرد به ثقة من
الثقات وليس للحديث أصل متابع لذلك الثقة”.
Hukum mengenai riwayat tunggal dari perawi terpercaya
yang tidak pernah menyelisihi dalam apa yang diriwayatkannya sendiri.
Al-Khalili berpendapat bahwa hadits yang diriwayatkan
hanya oleh perawi yang tunggal terpercaya harus diperlakukan dengan hati-hati (
di tangguhkan ) dan tidak digunakan sebagai bukti ( hujjah atau pegangan )
Abu Abdullah al-Hakim menganggap apa yang diriwayatkan
oleh perawi terpercaya yang tunggal sebagai
sesuatu yang anomali, dengan mengatakan: “Adapun hadits anomali, yaitu hadits
yang diriwayatkan hanya oleh satu perawi
terpercaya yang tidak memiliki riwayat pendukung.”
توفي الإمام أبو حنيفة النعمان
في بغداد عام 150 هـ (767 م) عن عمر ناهز 70 عاماً، ودفن في مقبرة الخيزران
(بمنطقة الأعظمية حالياً)، وذلك في عهد الخليفة العباسي أبي جعفر المنصور. وتذكر
المصادر أنه توفي في السجن إثر سجنه بسبب رفضه تولي القضاء، وصلى عليه نحو 50 ألف
شخص
Imam Abu Hanifa al-Nu'man wafat di Baghdad pada
tahun 150 H (767 M) pada usia sekitar 70 tahun. Beliau dimakamkan di pemakaman
al-Khayzuran (di distrik al-Adhamiya saat ini) pada masa pemerintahan Khalifah
Abbasiyah Abu Ja'far al-Mansur. Sumber-sumber menunjukkan bahwa beliau wafat di
penjara setelah dipenjara karena menolak menduduki jabatan hakim. Sekitar
50.000 orang menghadiri salat jenazahnya.
Komentarku ( Mahrus ali ) :
Hadis itu tidak bias di buat sandaran
karena riwayat tunggal . Dan ulama ahli haadis dulu tidak memperbolehkan untuk membuat
pegangan kepada hadis riwayat tunggal . harus di tangguhkan hingga ketemu riwayat
lain yang mendukung da tidak di temukan. Sebab masa sebelum Abu Hanifah wafat saja
yaitu 150 hijriyah masih di ketahui satu orang , yaitu Ibrahim bin Muhammad.
Kita tetap berpegangna kepada ayat
78 Al isra` :
78أَقِمِ الصَّلَاةَ لِدُلُوكِ
الشَّمْسِ
Dirikanlah shalat dari sesudah
matahari tergelincir
Ayat ini untuk hari kamis , jumat
atau hari lainnya,lalu mengapa pada hari jumat ayat ini di non aftifkan . Mengapa
ia hanya ddi lakukan pada hari lainnya. Bila kita tidak melakukan salat lohor pada
hari jumat , maka kita akan berdosa karena
kita melalaikan ayat itu tanpa dasar izin dari Allah.