Minggu, September 27, 2026

Jawabanku untuk prof doctor Said Aqil siraj tentang maulid

 

Jawabanku untuk prof doctor Said Aqil siraj tentang maulid

Saya pernah mendengar ceramah profesor doktor said Aqil Siradj yang menyatakan bahwa maulid itu  dilakukan oleh para sahabat. Setahu saya para sahabat tidak pernah menjalankan mauled. begitu juga para tabiin , bahkan sampai sekarang maulid itu dilarang oleh pemerintah Saudi. Di Madinah waktu dulu nabi masih hidup atau nabi sudah meninggal tidak ada mauled.   Mulai para sahabat sampai kini I Mainah tidak ada mauled, bagaimana profesor doktor said Aqil Siradj menyatakan bahwa di masa sahabat juga ada mauled,  dari mana dalilnya, beliau tidak menunjukkan dalil, beliau hanya ngomong tanpa dalil. Maulid yang sekarang ada itu dilakukan oleh Syiah sampai maulidnya Fatimah maulidnya Husein Hasan dilakukan oleh Syiah

الْحُكْمُ الشَّرْعِيُّ عِنْدَ الشَّيْخِ ابْنِ بِإِزَبِدْعَة ضَلالَةً: الِاحْتِفَال بِمَوْلِد النَّبِيّ ﷺ لَيْلَةِ الثَّانِي عَشَرَ مِنْ رَبِيعٍ الْأَوَّلِ أَوْ فِي أَيِّ وَقْتٍ اخَرَ لَيْسَ لَهُ أَصْلٌ فِي الشَّرِيعَةِ.عَدَمُ فِعْلِ السَّلَفِ: لَمْ يحْتَفِل النَّبِيّ ﷺ بِمَوْلِدِه، وَلَمْ يَأْمُرْ بِهِ، وَلَمْ يَفْعَلْهُ الْخُلَفَاءُ الرَّاشِدُونَ وَلَا الصَّحَابَةِ وَلَا التَّابِعُون وَلَا أَئِمَّةَ الْقُرُون الْمُفَضَّلَة.مُخَالَفَةَ الدِّينِ: يَعْتَبِرُهُ مِنْ بَابِ إحْدَاثِ مَا لَيْسَ مِنْ الدَّيْنِ، وَقَدْ اسْتَدَلَّ بِقَوْلِ النَّبِيِّ ﷺ: «مِنْ أَحْدَثِ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ»

Menurut Syekh Ibn Baz, fatwa Islam menyatakan: Merayakan hari kelahiran Nabi pada malam tanggal 12 Rabi' al-Awwal, atau pada waktu lain, tidak memiliki dasar dalam hukum Islam. Generasi awal tidak melakukannya: Nabi (shalawat dan salam kepadanya) tidak merayakan hari kelahirannya, dan beliau juga tidak memerintahkannya, demikian pula para Khalifah yang diberi petunjuk, para Sahabat, para Penerus, dan para Imam dari generasi awal. Hal itu bertentangan dengan agama: Beliau menganggapnya sebagai bid'ah yang bukan bagian dari agama, dan beliau mengutip sabda Nabi (shalawat dan salam kepadanya): "Barangsiapa yang memasukkan ke dalam urusan kita ini sesuatu yang bukan bagian darinya, maka itu ditolak."

 

Di ndonesia yang rame mengadakan maulid itu golongan NU. Kalangan Muhammadiyah salafi dan lainnya tidak mengadakan mauled.Dalilnya dari mana maulid itu diadakan tidak ada bahkan Allah dalam Alquran tidak memerintahkan maulid begitu juga nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam tidak mengadakan mauled.Bila maulid itu ada di masa sahabat musti dilanjutkan oleh para tabiin, tapi buktinya para tabiin tidak menjalankan mauled

وَقَفَ الشَّيْخُ ابْنُ عُثَيْمين مِنْ الِاحْتِفَال بِالمَوْلِد النَّبَوِيّ:

الْبِدْعِيَّة: يَرَى أَنَّ الِاحْتِفَال بِمَوْلِد النَّبِيِّ ﷺ لَيْسَ لَهُ أَصْلٌ فِي الشَّرْعِ، وَلَمْ يَفْعَلْهُ النَّبِيُّ ﷺ وَلَا الْخُلَفَاءُ الرَّاشِدُونَ وَلَا الصَّحَابَةِ الْكِرَام.

مُخَالَفَةِ الْهُدَى: يُوَضِّحُ أَنَّ مَحَبَّةَ النَّبِيّ ﷺ الْحَقِيقِيَّةَ تَقْتَضِي اتِّبَاعِ سُنَّتِهِ وَاجْتِنَابِ الْبِدَعِ، لَا إحْدَاثَ أَعْيَاد وَمُنَاسَبَات لَمْ يُشَرِّعْهَا اللَّه.

الِانْتِفَاء التَّارِيخِيّ: يَذْكُرْ أَنَّهُ لَمْ يَصِحَّ ثُبُوتُ أَنَّ مَوْلِدَ النَّبِيِّ ﷺ كَانَ فِي الْيَوْمِ الثَّانِي عَشَرَ مِنْ رَبِيعٍ الْأَوَّلِ عَلَى وَجْهِ الْقَطْعِ، وَإِنْ الذِّكْرِيّ الْحَقِيقِيَّةُ تَكُونُ بِاسْتِحْضَار سِيرَتِه وَأَتْبَاعِهِ فِي كُلِّ وَقْتٍ لَا فِي لَيْلَةٍ مُخَصِّصَة.

 

مَوْقِع الشَّيْخُ : مُحَمَّدُ بْنُ عُثَيْمين

يُمْكِنُك الِاطِّلَاعِ عَلَى تَفَاصِيلَ الْفَتْوَى بِشَكْلٍ مُبَاشِرٍ عَبَّر الْمَوْقِع الرَّسْمِيّ لِلشَّيْخِ ابْنِ عُثَيْمين.

Pendapat Syekh Ibn Uthaymeen tentang perayaan hari kelahiran Nabi:

 

Bidah : Beliau meyakini bahwa perayaan hari kelahiran Nabi tidak memiliki dasar dalam hukum Islam, dan tidak dipraktikkan oleh Nabi (shalawat dan salam kepadanya), para Khalifah yang diberi petunjuk, atau para Sahabat yang mulia.

 

Bertentangan dengan Sunnah: Beliau menjelaskan bahwa kecintaan sejati kepada Nabi (shalawat dan salam kepadanya) mengharuskan mengikuti Sunnahnya dan menghindari inovasi, bukan menciptakan hari raya dan acara yang tidak ditentukan oleh Allah.

Ketidak  akuratan sejarah: Beliau menyatakan bahwa belum terbukti secara pasti bahwa kelahiran Nabi terjadi pada tanggal 12 Rabi' al-Awwal, dan bahwa mengingat Nabi yang sejati terletak pada merenungkan kehidupannya dan mengikuti teladannya setiap saat, bukan pada malam tertentu.

Situs web Syekh Ibn Uthaymeen: Muhammad Ibn Uthaymeen

Anda dapat melihat detail fatwa tersebut secara langsung melalui situs web resmi Syekh Ibn Uthaymeen.