27يَا بَنِي آدَمَ لَا
يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أَخْرَجَ أَبَوَيْكُم مِّنَ الْجَنَّةِ
يَنزِعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوْآتِهِمَا ۗ إِنَّهُ يَرَاكُمْ
هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لَا تَرَوْنَهُمْ ۗ إِنَّا جَعَلْنَا الشَّيَاطِينَ
أَوْلِيَاءَ لِلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ
27 Wahai anak Adam, janganlah setan menggoda kamu sebagaimana ia
telah mengeluarkan kedua orang tuamu dari surga, dengan menelanjangi mereka dan
menyingkapkan aurat mereka. Sesungguhnya ia dan kaumnya melihat kamu dari
tempat yang tidak kamu lihat. Kami telah menjadikan setan sebagai sekutu
orang-orang yang tidak beriman. Al a`raf 27.
Orang
bilang : Mungkin juga mu`jizat.
Saya
katakan: Mu`jizat hendaknya cocok dengan ayat. Allah suddah menjelaskan Rasul
itu manusia biasa , bukan mlaikat an bukn jin . Kita tidak percaya ayat ini
فَقَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِن قَوْمِهِ مَا
نَرَاكَ إِلَّا بَشَرًا مِّثْلَنَا وَمَا نَرَاكَ اتَّبَعَكَ إِلَّا الَّذِينَ
هُمْ أَرَاذِلُنَا بَادِيَ الرَّأْيِ وَمَا نَرَىٰ لَكُمْ عَلَيْنَا مِن فَضْلٍ
بَلْ نَظُنُّكُمْ كَاذِبِينَ
Maka
berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya: "Kami tidak melihat
kamu, melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa) seperti kami, dan kami tidak
melihat orang-orang yang mengikuti kamu, melainkan orang-orang yang hina dina
di antara kami yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihat kamu memiliki
sesuatu kelebihan apapun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah
orang-orang yang dusta". Hud 27
Bila
kita percaya Rasul bisa melihat setan dari belakang ketik a salat , kita ber
arti tidk mngerti ayat itu atau mendustakanny a, tidak percaya paanya. dan ayat
itu tidak berfungsi dalam kehidupan kita sseperti omong kosong belaka,tidak
dari Allah bahkan bikinan manusia. Lalu bodohnya kita memegang hadis mungkar
untuk lemparkan ayat suci.
كان رسولُ اللهِ ﷺ إذا أُقيمَتِ الصلاةُ مسَحَ صُدورَنا،
وقال: رُصُّوا المَناكِبَ بالمَناكِبِ، والأقدامَ بالأقدامِ، فإنَّ اللهَ تعالى
يُحِبُّ في الصلاةِ ما يُحِبُّ في القِتالِ، كأنَّهم بُنيانٌ مَرصوصٌ.
الراوي: البراء بن عازب • شعيب الأرنؤوط، تخريج مشكل
الآثار (٥٦٢٧) • إسناده ضعيف • أخرجه الطحاوي في ((شرح مشكل الآثار)) (٥٦٢٧)
بلفظه، وابن أبي عاصم في ((الجهاد)) (١٤٣) ببعض لفظه
Ketika
salat hendak dimulai, Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam biasa mengusap
dada kami dan berkata, “Rapatkan bahu kalian dan kaki ( mata kaki kalian,
karena Allah menyukai dalam salat apa yang Dia sukai dalam peperangan,
seolah-olah keduanya adalah bangunan yang kokoh.”
Diriwayatkan
oleh: Al-Bara’ ibn ‘Azib • Shu’ayb al-Arna’ut, Takhrij Mushkil al-Athar (5627)
• Sanad periwayatannya lemah • Juga diriwayatkan oleh al-Tahawi dalam Sharh
Mushkil al-Athar (5627) dengan redaksi yang sama, dan oleh Ibn Abi ‘Asim dalam
al-Jihad (143) dengan beberapa redaksi yang sama
Hadis
lemah.
الكتاب: شرح مشكل الآثار
المؤلف: أبو جعفر أحمد بن محمد بن سلامة بن عبد الملك بن
سلمة الأزدي الحجري المصري المعروف بالطحاوي (المتوفى: 321هـ)
تحقيق: شعيب الأرنؤوط
الناشر: مؤسسة الرسالة
الطبعة: الأولى - 1415 هـ، 1494 م
عدد الأجزاء: 16 (15 وجزء للفهارس)
Kitab:
Penjelasan Riwayat-Riwayat yang Sulit
Pengarang:
Abu Ja'far Ahmad ibn Muhammad ibn Salamah ibn 'Abd al-Malik ibn Salamah al-Azdi
al-Hajari al-Misri, dikenal sebagai al-Tahawi (wafat 321 H)
Penyunting:
Shu'ayb al-Arna'ut
Penerbit:
Yayasan Al-Risalah
Edisi:
Pertama - 1415 H, 1494 M
Jumlah
Jilid: 16 (15 jilid dan satu jilid untuk indeks)
شرح مشكل الآثار (14/ 294)
مَا قَدْ حَدَّثَنَا أَبُو أُمَيَّةَ، حَدَّثَنَا
مُحَمَّدُ بْنُ الْقَاسِمِ الْأَسَدِيُّ، عَنْ أَبِي جَنَابٍ الْكَلْبِيِّ، عَنْ
طَلْحَةَ بْنِ مُصَرِّفٍ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْسَجَةَ، عَنِ
الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ إِذَا أُقِيمَتِ الصَّلَاةُ مَسَحَ صُدُورَنَا، وَقَالَ: " رُصُّوا
الْمَنَاكِبَ بِالْمَنَاكِبِ، وَالْأَقْدَامَ بِالْأَقْدَامِ، فَإِنَّ اللهَ تَعَالَى
يُحِبُّ فِي الصَّلَاةِ مَا يُحِبُّ فِي الْقِتَالِ , كَأَنَّهُمْ بُنْيَانٌ
مَرْصُوصٌ "
Penjelasan
Riwayat-Riwayat yang Sulit (14/294)
Abu Umayyah meriwayatkan kepada kami, Muhammad ibn
al-Qasim al-Asadi meriwayatkan kepada kami, dari Abu Janab al-Kalbi, dari
Talhah ibn Musarrif, dari Abd al-Rahman ibn Awsajah, dari al-Bara’ ibn Azib, yang
berkata: Ketika shalat hendak dimulai, Rasulullah shalla Allahu alaihi wa
sallam mengusap dada kami dan berkata: “Rapatkan bahu ke bahu dan rapatkan
kaki.” Dengan kaki ( mata kaki dengan mata kaki ), karena Allah Yang Maha Kuasa
menyukai dalam shalat apa yang Dia sukai dalam peperangan, seolah-olah mereka adalah
bangunan yang kokoh.
Komentarku
( Mahrus ali ): Tidak ada kitab kitab sunnah yang mencantumkan hadis tsb
kecuali musykilil atsar. Saya tidak menjumpai hadis yang menerangkan untuk
merapatkan bau dan mata kaki yang valid. Kita hanya mendengar orang bilang
begitu. Para imam ahii hadis enggan
memasukkan hadis tsb dalam kitab mereka. Ini bukti hadis itu tidak sahih.
Andaikan sahih mengapa mereka berbuat seperti itu. Lihat sanadnya :
مَا قَدْ حَدَّثَنَا أَبُو أُمَيَّةَ، حَدَّثَنَا
مُحَمَّدُ بْنُ الْقَاسِمِ الْأَسَدِيُّ، عَنْ أَبِي جَنَابٍ الْكَلْبِيِّ، عَنْ
طَلْحَةَ بْنِ مُصَرِّفٍ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْسَجَةَ، عَنِ الْبَرَاءِ
بْنِ عَازِبٍ
Abu
Umayyah meriwayatkan kepada kami, Muhammad ibn al-Qasim al-Asadi meriwayatkan
kepada kami, dari Abu Janab al-Kalbi, dari Talhah ibn Musarrif, dari Abd
al-Rahman ibn Awsajah, dari al-Bara’ ibn Azib,
عبد الرحمن بن عوسجة الهمداني ثم النهمي الكوفي
Abd
al-Rahman ibn Awsajah al-Hamdani, kemudian al-Nahmi al-Kufi
Kevalidan
hadis itu harus diklarivikasi ,matan dan sanadnya. Bila salah satunya cacat,
maka hadis itu tidak sahih dan harus dI tinggalkan karena lemah, tidak boleh I
buat pegaangan atau sandaran dalam beragama. Cacat disini karena tafarrudnya Abd
Rahman bin Ausaja dari Irak. Perawi Medinah tidak ada yang paham hadis itu.
Pada hal kesendirian perawi Irak itu
gawat sekali.
لا يُشك أن تفرد الصدوق ليس كتفرد الضعيف المتفق على ضعفه،
فوجب التفريق بينهما؛ لأن تفرد الصدوق مشكوك فيه عند من لا يقبله، وأما تفرد
الضعيف فالمترجح في الظن أنه خطأ، ولهذا فالأولى أن يُستعمل لفظ (التوقف) بدل الرد
إلا بالنسبة لمن صرح بالرد كالبرديجي مثلاً فيُحافظ على عبارته كما قالها، وأما من
حيث عموم المذهب فلفظ (التوقف) أولى.
Tidak
diragukan lagi bahwa riwayat tunggal dari perawi terpercaya tidak sama dengan
riwayat tunggal dari perawi lemah yang kelemahannya disepakati secara bulat.
Oleh karena itu, harus dibedakan di antara keduanya. Riwayat tunggal dari perawi
terpercaya dipertanyakan oleh mereka yang tidak menerimanya, sedangkan riwayat
tunggal dari perawi lemah umumnya dianggap keliru. Karena alasan ini, lebih
baik menggunakan istilah "penangguhan" (tawaqquf) daripada
"penolakan" (radd), kecuali dalam kasus seseorang yang secara
eksplisit menolak suatu riwayat, seperti al-Bardiji, yang redaksinya harus
dipertahankan. Namun, mengenai posisi umum mazhab tersebut, istilah
"penangguhan" lebih tepat.