Tampilkan postingan dengan label Gerakan Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gerakan Islam. Tampilkan semua postingan

Jumat, Juli 08, 2016

Mendagri Inggris: Hukum Islam Bawa Manfaat Besar bagi Warga

Menteri Dalam Negeri Inggris Theresa May mengejutkan banyak pihak. Di saat pemerintah hendak menyelidiki apa yang mereka sebut ‘penyalahgunaan’ hukum syariat Islam yang merendahkan perempuan, May mengatakan bahwa hukum Islam membawa manfaat besar bagi warga Inggris, khususnya warga Muslim.

 


Di saat isu utama di Inggris menuding peradilan Islam merugikan perempuan, May mengatakan hal itu hanyalah karena penyalahgunaan peradilan sehingga mengakibatkan diskriminasi atas perempuan. Ia menegaskan bahwa banyak warga muslim Inggris yang mendapatkan manfaat dari hukum syariat Islam.

“Banyak muslim Inggris mendapatkan manfaat besar dari keberadaan hukum-hukum syariat tersebut,” tegas May.

Di Inggris ada sekitar 100 pengadilan hukum syariat. Keputusan peradilan Islam itu di luar kewenangan sistem hukum Inggris.


Pernyataan May itu diprotes oleh banyak netizen Inggris. Umumnya mereka tidak setuju peradilan syariat menjadi hukum sekunder di Inggris. Protes dengan nama islamophobia juga menempati peringkat atas menanggapi pernyataan May tersebut. [Ibnu K/Tarbiyah.net

Senin, Maret 05, 2012

Islam bercahaya di AS


Dalam kebangkitan dari Musim Semi Arab di Timur Tengah, bentuk yurisprudensi Islam, hukum Syariah, menjadi banyak sorotan karena banyaknya permintaan untuk pelaksanaannya yang menyebabkan keprihatinan bagi para pemimpin dan pembuat kebijakan Barat yang tidak terbiasa dengan hal tersebut.
Dalam upaya untuk menghapus kesalahpahaman umum antara Barat dan nilai-nilai Islam, Muslim Amerika memulai kampanye nasional pada hari Jumat pekan lalu untuk menjelaskan hal tertentu yang telah menjadi identik dengan hukum Syariah.
Sebuah laporan di CNN menyatakan bahwa "kampanye Muslim terlihat untuk memperbaiki reputasi Syariah", menunjukkan aksi yang dilakukan anggota Islamic Circle of North America menggambarkan usaha mereka untuk "mendidik orang Amerika" terkait apa makna mulia dari Syariah islam melalui konferensi, billboard, TV dan radio. Kelompok ini juga meluncurkan hot line nasional untuk menjawab pertanyaan tentang Syariah dan Islam.
Bagi umat Islam di seluruh dunia, hukum Syariah dianggap menjadi cara hidup Islam; kode kehidupan moral dari lahir sampai penguburan karena merupakan "cara hidup yang lebih unggul" dibandingkan dengan "belenggu hukum buatan manusia."
Meskipun di Barat sebagian besar agama telah dipisahkan dari hukum, di dunia Islam, Syariah tidak terbatas pada hal-hal yang murni keagamaan. Hal ini diterapkan untuk berbagai macam masalah hukum sekuler, mulai dari warisan, pernikahan perceraian, dan urusan kontrak bisnis dan hukuman pidana. Banyak negara berpenduduk mayoritas Muslim sekarang telah memulai penyadaran untuk menyuntikkan agama lebih banyak ke pemerintah, menurut Kareem Elbayar, kandidat MA dari George Washington University Law School.
"Semakin banyak negara berpenduduk mayoritas Muslim yang memasukkan klausul 'supremasi Syariah' ke dalam konstitusi mereka, membuat undang-undang yang bertentangan dengan ketentuan hukum Islam menjadi tidak konstitusional," katanya menegaskan.
Sementara itu, Zahid Bukhari, presiden Islamic Circle of North America mengatakan kepada CNN pada hari Sabtu lalu bahwa Syariah dipolitisasi di dunia pasca insiden 9/11 seperti Amerika Serikat lebih perhatian penuh yang membuat ancaman yang dirasakan di dunia Muslim.
Bukhari mengatakan calon presiden dari Partai Republik telah menggunakan kata Syariah tersebut untuk memicu sikap Islamofobia.
"Kami harus memiliki undang-undang federal yang mengatakan hukum Syariah tidak dapat diakui oleh pengadilan di Amerika Serikat," kata kandidat presiden AS Newt pada kampanye di Washington pada 2010. "Tidak ada hakim yang akan tetap berada di kantornya yang mencoba menggunakan hukum Syariah."
"Beberapa politisi ingin menyalahgunakan kata Syairah dalam sorotan nasional yang mereka miliki," kata Bukhari. "Mereka mencoba untuk membuatnya menjadi kata yang kotor."
Kampanye nasional tentang Syariah ini mencakup sebuah website berjudul "Membela Kebebasan Beragama: Memahami Syariah" , memberikan masyarakat untuk ikut terlibat dan menjawab pertanyaan tentang Syariah. (fq/aby)
Sumber: eramusli.

Komentarku ( Mahrus ali ):
  Sariat Islam meski di perangi, di cemooh, di caci maki, namun masih tetap di pandang. Cahaya itu sekalipun di katakan gelap, redup maka tetap bercahaya dan menyinari banyak orang.
Banyak negara, rakyatnya ingin memeraktekkan hukum Islam dan membuang hukum sekuler. Mereka ingin  hukum Islam di praktekkan, hukum sekuler di tinggalkan, menjemukan. Ingat saja firman Allah:

يُرِيدُونَ لِيُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ(8)
Mereka ingin hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci. Shof

Baca lagi disini:
21 Feb 2012

Sabtu, Februari 04, 2012

RPI ( Republik persatuan Indonesia ) telah diproklamirkan



Oleh: H.M.S Dt. Tan Kabasaran*
Agak “istimewa” dari yang lain. Pertama kali bertemu, bukan saya yang mendatangi, tapi pak Natsir yang datang ke Bukittinggi di awal Januari 1950. Beliau mengundang saya bertatap-muka.
Saya baru berusia 22 tahun tapi sudah bekeluarga, ketika mengayuh sepeda menginggalkan rumah di Birugo menuju jalan Luruih untuk memenuhi undangan bertemu pak Natsir di Markas Masyumi Sumatera Tengah. Saat itu beliau baru jadi Ketua Partai Masyumi.
Memang, sejak usia mantah (muda) saya sudah berkecimpung di markas GPII (Gerakan Pemuda Islam Indonesia). Di sini saya mulai dari tukang sapu, hingga jadi Pengurus Wilayah GPII Sumatera Tengah.
Usia saya saat Ananda (reporter) datang ini, sudah 83 tahun. Peristiwa pertamakali bertemu dengan pak Natsir sudah sangat-sangat lama berlalu. Sehingga saya tak begitu ingat lagi bagaimana kesan pertama bertemu dengan beliau.
Di antara generasi pertama GPII dan Masyumi, saya mungkin satu-satunya yang amat jarang menemui beliau ke Jakarta. Beliaulah yang datang menemui saya.“Angku Malin, kata pak Natsir (saat itu saya belum bergelar Datuk), jangan jauh-jauh dari ranah Minang. Saya minta Angku Malin tetap saja di kampung (Bukittinggi). Angku Malin harus menjadi tampatan (tujuan pertama) setiap pengurus Masyumi Pusat dan GPII Pusat yang datang ke ranah Minang.”
Amanah itu, sampai di usia laruik sanjo (larut senja) ini, tetap saya pegang. Saya tak penah beranjak dari ranah Minang, kendati yang memberi amanah sudah lama berpulang ke pangkuan Allah Azza Wajalla.
Walau sangat jarang keluar daerah, saya sangat mendalami garis dasar perjuangan Masyumi yaitu mewujudkan Islam sebagai Dasar Negara Indonesia. Mungkin sudah beratus kali saya baca ulang naskah pidato beliau di muka sidang Konstituante yang bertajuk “Islam Sebagai Negara ”. Inilah yang pertama menarik saya terjun ke GPII dan kemudian Masyumi. Maka, sebagai anggota Masyumi dan bagian dari umat Islam, saya harus tutut berjuang bagi terwujudnya cita-cita menjadikan Islam sebagai Dasar Negara dan berjuang mempersiapkan masyarakat dengan berbagai kegiatan.
Sebab, andai kata Islam berhasil dijadikan sebagai Dasar Negara, maka masyarakat telah siap melaksanakan Syariat Islam karena memang telah kita siapkan sejak awal. Dengan demikian masyarakat Indonesia tidak akan canggung lagi melaksanakan hukum Islam. Karena tugas menyiapkan mental masyarakat itulah, saya menjadi punya cukup banyak pengalaman dan kenangan bersama pak Natsir.
Salah satu persiapan mental umat melaksanakan Islam sebagai dasar negara yang saya lakukan di Bukittinggi adalah menyiapkan dan melaksanakan Kongres Alim Ulama se-Sumatera selama sepekan di awal tahun 1967. Inilah alek gadang pertama yang berhasil mempertemukan para alim ulama di pulau Sumatera dimana saya diamanahkan menjadi Kepala Sekretariat persiapan dan pelaksananya.
Alhamdulillah, kongres Alim Ulama se-Sumatera selama lima hari itu berakhir dengan sukses. Lebih seratus tokoh Alim Ulama di pulau Sumatera hadir. Kendati tidak seluruh Alim Ulama anggota Masyumi, namun Kongres itu berhasil melahirkan rekomendasi yang intinya adalah juga tuntutan Masyumi.
Di antaranya Kongres Alim Ulama se Sumatera menuntut dibersihkannya pemerintahan dari unsur PKI. Bentuk Pengadilan Agama mulai dari Pusat hingga ke Kabupten/Kota di Indonesia. Tapi yang pokok bana sebagaimana tuntutan Masyumi dan kemudian PRRI, adalah dimana Kongres Alim Ulama dalam rekomendasi yang ditandatangani Buchari Tamam selaku ketua dan Sofyan Hamzah Sekretaris adalah, Pengurus Alim Ulama se Sumatera mempercayakan kepada Presiden membentuk Kabinet yang dipimpin Mohammad Hatta tanpa Dewan Nasional (DN) yang dipenuhi anasir komunis/PKI.
Tauladan di Tengah Hutan
Meski inti dari perjuangan pak Natsir adalah agar Negara yang baru merdeka tidak jatuh ke tangan komunis dan tidak terpecah belah menjadi beberapa Negara boneka bagi Negara Asing, dan meskipun dukungan terhadap perjuangan pak Natsir itu amat besar seperti rekomendasi Alim Ulama se-Sumatera itu, tetapi tidak juga digubris rezim penguasa. Justru, jawaban yang diberikan pada pak Natsir adalah penyerbuan. Beliau akhirnya harus masuk hutan-keluar hutan, bahkan dipenjarakan. Tapi itulah pak Natsir yang saya kenal. Beliau seorang pemimpin yang ikhlas dan istiqamah dimana dan kapan pun, bahkan ditengah hutan sekalipun.
Saya adalah kader dengan status sebagai “pembawa tas” pak Natsir saat harus masuk hutan, keluar hutan. Tapi sampai ke tengah hutan sekalipun saya mendapati beliau yo bana (betul-betul) pemimpin. Suatu ketika di dalam hutan, saya menyaksikan beliau didatangi orang kampung yang mengantarkan pucuk ubi, nangka dan segala macam sayuran. Memang orang kampung yang datang itu sudah terseleksi oleh kami. Saya lupa namanya, dia datang dengan pakaian kotor, berkeringat dan rambutnya kusut-masai. Tampaknya, dari ladang dia langsung saja membawa sayuran dengan mengendap-ngendap terus ke tempat persembunyian pak Natsir.
Oleh pak Natsir orang kampung yang datang dengan pakaiannya masih baluluak itu, belum dibolehkan pulang sebelum makan sama-sama dengan beliau. Bahkan sampai ke tempat duduk pun beliau ‘istimewakan’. Orang kampung itu disuruh duduk di sebelah kanan beliau, di sebelah kiri beliau duduk ummi dan anak-anak beliau. Sedangkan saya oleh pak Natsir di suruh duduk di sebelah kiri orang kampung itu.
Berapa kali tampak pak Natsir membasoi orang kampung itu. "Buekan samba, tambuahlah," (buatkanlah sambal, tambah lagi) begitu sapa pak Natsir. Beliau juga tidak buru-buru membasuh tangan begitu nasi di piringnya licin (habis). Beliau menanti orang kampung itu sampai selesai makan, dan barulah sama-sama mencuci tangan.
Kebesaran pak Natsir juga tampak ketika beliau berbincang-bincang dengan orang kampung itu. Memang Rasulullah pernah mengatakan, "Berbicaralah dengan orang, sepanjang pengetahuannya”. Itu dipraktekkan pak Natsir dalam pembicaraan dengan orang kampung itu.
Beliau memang bicarakan juga spirit perjuangan, tapi tidak dengan bahasa 'tinggi'. Jadi, siapapun yang mau datang tidak dibebani rasa takut. Lain dengan pak Syaf (Syafruddin Prawiranegara) atau pak Bur (Burhanuddin Harahap), banyak kawan-kawan takut bila disuruh berbicara empat mata dengan beliau, ‘setelannya’ tinggi.
Pak Natsir kalau berbicara, selalu menyesuaikan dengan audiensnya. Saat berbicara dengan pak Wali Nagari Sungai Batang, dia bicara tidak secadiak(secerdik) Camat. Setiap orang yang pertama bertemu dengan beliau, cepat terpaut hatinya dan merasa seperti sudah kenal lama.
Dari pengalaman selama hampir dua tahun berada dalam rimba bersama pak Natsir, saya sangat merasakan betapa beliau adalah pemimpin sejati yang tidak ada duanya di republik ini. Di masa susah itu, beliau benar sama-sama susah dengan yang dipimpin. Ketika mendaki bukit atau menuruni lembah, beliau sama-sama berjalan kaki dengan kami. Minta dipapah saja beliau tidak pernah, apalagi minta ditandu.
Teladan dari seorang pemimpin yang ikhlas itulah yang menumbuhsuburkan benih kesetiaan di hati para kader hingga tinggal di pelosok kampung dan di pinggir hutan sekali pun. Kesetiaan para kader pak Natsir itu saya saksikan langsung ketika kami baru masuk hutan.
Rimbo (hutan) pertama yang kami huni adalah rimbo Sitalang. Ini merupakan kawasan terujung dari wilayah Lubukbasung Utara berbatasan dengan Palembayan.Dari kampung Sitalang ke rimbo Sitalang cuma berjarak satu jam berjalan kaki saja. Amat dekat sebenar, bagi kaki tentara terlatih. Pada sebuah dangau di tengah rimba Sitalang itulah pak Natsir diungsikan dari kejaran tentara Soekarno yang sudah sampai di kampung Sitalang. Lebih delapan bulan pak Natsir di sini. Tapi tidak pernah tercium oleh tentara Soekarno yang terpisahkan oleh jarak cuma satu jam jalan kaki saja.
Pemimpim Masyumi Sitalang bersama masyarakat benar-benar berjuang menyelamatkan pak Natsir, sehingga tidak ada orang yang tahu lokasinya. Bila pun ada yang tahu, tapi masyarakat benar-benar bisa menutup mulut. Begitulah kharisma pak Natsir di hati ummat. Andai beliau bukan pemimpin paling dicintai ummat, maka pada hari kedua masuk hutan saja, pak Natsir sudah ditangkap. Ya, berapa jauhlah jarak kami dengan balatentara Sekarno. Hanya sekitar satu jam perjalanan saja, dan bagi tentara terlatih tentu itu sangatlah dekat.
Hanya karena kegelisahan seorang tua yang menjadi penunjuk jalan, akhirnya pak Natsir setuju melanjutkan perjalan dari rimbo Sitalang menembus hutan Palembayan, kemudian turun ke Kayu Pasak, lalu berbelok ke desa Maur. Setelah berdiam beberapa malam, Ketua Masyumi Palembayan memandu kami ke dalam hutan yang jarang dilalui orang.
Saya mengawal pak Natsir menuju tepi Batang Masang. Menjelang malam dari sini pak Natsir diberangkatkan ke seberang Batang Masang dengan menaiki rakit. Di sebarang Batang Masang itulah selama 11 bulan, pak Natsir diselamatkan. Padahal jaraknya tidaklah jauh dari tentara musuh. Dari persembunyian itu masih jelas terdengar deru oto prah (truk) yang hilir-mudik mengangkut tentara Soekarno. Pak Natsir berada di sana lebih 11 bulan dengan aman. Dan, barulah keluar dari hutan melalui Aia Kijang setelah Ketua Dewan Perjuangan PRRI, Ahmad Husein, mengumumkan dihentikannya perlawanan, pada awal Juni 1961.
Tapi pengumunan penghentian perlawanan oleh PRRI, bukan akhir perjuangan. Sebenarnya, perjuangan dengan cara dan nama lain, sudah diproklamirkan jauh sebelum pengumuman itu. Tepatnya, di awal Januari tahun 1961. Dalam suatu upacara di Bonjol Pasaman, diproklamirkanlah Republik Persatuan Indonesia (RPI) yang diikuti pak Natsir sebagai Menteri PDK dan Agama, sedangkan Presiden RPI adalah pak Syafruddin Prawiranegara.
Setelah memproklamirkan RPI di Bonjol, rombongan kemudian dibagi dua. Rombongan pak Syaf dan Burhanuddin berjalan ke arah Timur, sedangkan rombongan pak Natsir, Dahlan Djambek dan saya berjalan ke arah ke Barat. Adapun sebab RPI diproklamirkan karena perjuangan PRRI akan segera berakhir dan dibubarkan oleh pemerintahan Soekarno. Sedangkan cita-cita perjuangan PRRI belum tercapai, terutama tentang Pembubaran Dewan Nasional dan pembersihan Kabinet dari unsur PKI.
Karena tidak ada lagi jalan kompromi dengan rezim Soekarno, maka 'dilatuihkan bana' Republik Persatuan Indonesia . Jalannya upacara ya, seperti upacara militer
dilengkapi dengan pasukan militer, di antaranya pasukan Batalyon Kemal Amin.
RPI merupakan gerakan lanjutan PRRI yang dilengkapi dengan naskah Proklamasi dan UUD. Mukaddimah UUD RPI merupakan kutipan langsung dari Pidato Mohammad Natsir dalam suatu pertemuan lengkap Dewan Perjuangan PRRI. Masyarakat akan dapat membaca selengkapnya Mukaddimah UUD RPI di buku Kapita Selecta III yang akan terbit.
Memang, yang diproklamirkan tetap saja bernama Republik Persatuan Indonesia (RPI).Ya, sebenarnya pak Natsir, pak Syaf, pak Bur dan sejumlah tokoh sipil itu sangat cinta Republik Indonesia. Tadinya, sebelum dibentuknya PRRI para tokoh sipil ini sudah membuktikan kecintaannya pada Republik Indonesia. Jadi sebelum meraka datang dan bergabung, para Panglima yang membentuk Dewan-Dewan Daerah sudah sampai pada rencana pemisahan diri dari NKRI. Bahkan rapat di Sungai Dareh arahnya memang sudah ke sana, berjuang melepaskan diri dari Republik Indonesia. Tapi dengan keberadaan pak Natsir, pak Syaf, pak Bur dan Mr. Asaat, cita-cita itu dapat dipadamkan. Orang berempat ini bertahan dengan seruan, "Jangan!” dan makanya yang dibentuk bernama PRRI bukan Republik Sumatera atau bukan seperti yang sudah lebih dulu diproklamirkan yaitu RMS (Republik Maluku Selatan).
Jadi, pak Natsir cs ini bukan pemberontak.Karena yang akhirnya dibentuk hanya Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia. Bukan pemerintahan Negara Sumatera misalnya atau seperti RMS itu. Tetapi setelah lebih 2,5 tahun berjalan, tak ada juga titik temu antara PRRI dan pemerintahan Jakarta. Bahkan jaraknya makin lama makin jauh, sementara di Maluku, Sulawesi dan Kalimantan kian tumbuh gerakan separatis yang mengancam keutuhkan Republik Indonesia. Maka, diproklamirkanlah Republik Persatuan Indonesia itu. (Bersambung)
*Mantan Pengawal Pak Natsir di Hutan Sumatera Barat, Tokoh Masyumi Sumbar dan Senior Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia wilayah Sumatera Barat.

Sumber: eramuslim.

Judul asli: Kenangan Seorang "Pembawa Tas" Muhammad Natsir

Komentarku ( Mahrus ali ):

Kesan saya RPI itu masih negara kufur bukan Negara Islam,  namun lebih baik dari pada RI yang waktu dulu juga banyak PKInya.  Sedang Negara Islam itu menggunakan Quran sebagai dasar Negara bukan hukum warisan Belanda atau hokum budaya lain.Lihat ayat sbb:

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ
Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin? Maidah 50

Baca lagi disini:
24 Jan 2012


06 Agt 2011

Selasa, Januari 24, 2012

Presiden penghalang tegaknya ajaran Allah

Parlemen harus diizinkan untuk melembagakan hukum Syariah Islam, Mufti besar Mesir Ali Jum'aah mengatakan pada pertemuan dengan kelompok aktivis muda pada hari Minggu lalu.
"Ini terserah kepada anggota Parlemen untuk mengevaluasi," katanya menambahkan.
Dalam pemilihan umum parlemen terakhir, kelompok Islamis memenangkan mayoritas parlemen. Partai Kebebasan dan keadilan Ikhwanul Muslimin memenangkan 47 persen dari parlemen dan Partai Salafi An-Nur memenangkan 23 persen. Keduanya telah mengeluarkan pernyataan bahwa mereka bermaksud untuk mendorong tegaknya hukum Syariah.
Jum'aah mengatakan bahwa hukum Syariah Islam kompatibel dengan negara sipil, dan bahwa kemenangan kelompok Islam dalam pemilihan parlemen mencerminkan keinginan rakyat. Dia juga menyerukan untuk menyingkirkan perbedaan-perbedaan yang ada dalam rangka untuk bekerja demi kebaikan agama dan negara.
"Dalam kapasitas saya sebagai hakim di antara masyarakat, saya tidak termasuk ke tren tertentu," jelasnya.
Jum'aah mengatakan demonstrasi damai diperbolehkan selama mereka tidak mengganggu aktivitas pekerjaan atau mengganggu lalu lintas. Dia mencela aksi pemblokiran jalan dan kereta api.
"Menuntut hak-hak Anda seharusnya tidak merugikan orang lain," katanya dengan tegas.
Dia mendesak para pemuda untuk membaca revolusi-revolusi lain dalam sejarah dan belajar dari hal tersebut.
"Anda juga harus berkonsentrasi pada pekerjaan anda dalam rangka meningkatkan perekonomian kita," katanya kepada para aktivis pemuda Mesir.(fq/amay)
Komentarku ( Mahrus ali ):
   Selama rezim Mubarak, pemerintah Mesir menggunakan UU Thaghut, UU kekufuran yang di benci oleh Allah bukan UU Quran yang di senangi oleh Allah , di benci oleh setan – setan manusia. Kalau begitu, Husni Mubarak presiden Mesir adalah penegak UU kekufuran dan menghalangi tegaknya sariat Allah. Dia tokoh kekufuran yang sangat anti kepada UU Quran. Dia kekasih setan bukan kekasih Allah. Dia menyesatkan rakyat banyak bukan mengarahkan  mereka kepada kebenaran. Dia waktu menjabat sekalipun di hormat, hakikatnya di mata sariat terhina di dunia apalagi kelak di akhirat. Ingatlah firman Allah:
أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ
Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin? Maidah 50
يُرِيدُونَ لِيُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ(8)
Mereka ingin hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci. Shof 
Baca lagi disini:


25 Des 2011

30 Mei 2011

06 Agt 2011
.

Kamis, Oktober 13, 2011

Muslim Prancis: Perjuangan Di atas Sajadah Salat Jumat


Sebelum memulai Salat Jumat, gulungan tikar diikat dengan tali yang disandarkan pada tiang trotoar. Pengeras suara menyiarkan lantunan doa-doa ke jalan. Ketika Salat Jumat dimulai, jalanan tumpah ruah oleh jamaah. Itu adalah adegan khas setiap Jumat di Masjid Al-Fath, Paris. Adegan yang terus terjadi setiap pekan ini telah menjadi simbol dalam perdebatan sengit atas upaya mendamaikan Islam dengan tradisi sekuler Prancis.
Dari 2.000 masjid dan ruangan salat di Prancis, jamaah membludak hanya terjadi di Paris dan Marseille. Di balik pelarangan jilbab (termasuk juga cadar) di wilayah umum, maraknya bar-bar di jalanan, dan terutama negara yang kuat akan sekularismenya, Prancis adalah rumah untuk Muslim terbesar di Eropa.
Partai UMP, yang merupakan kendaraan Nicolas Sarkozy untuk jadi presiden, meningkatkan suhu dengan mengadakan debat kontroversial tentang hal ini. Partai ini mengutak-atik hukum tahun 1905 untuk membuat 26 langkah yang dinilai terus mempersempit ruang gerak orang-orang Islam di Prancis.
Jean-François Copé, pemimpin UMP, mengatakan dia menanggapi berbagai masalah, untuk guru atau dokter, yang terus diremehkan oleh kaum elit Paris. Dia mengundang perwakilan dari agama-agama lain dalam perdebatan. Dia ingin menegaskan kembali prinsip-prinsip sekuler untuk mengirim pesan kepada golongan Islam.
Namun, pihak lain memandang  wacana perdebatan itu sebagai upaya untuk menstigmatisasi umat Islam untuk tujuan pemilu, karena masalahnya hanya melulu menyentil Islam. Mohammed Moussaoui, kepala Dewan Prancis untuk Agama Islam, menolak untuk bergabung dengan debat UMP. Bahkan François Fillon, perdana menteri, memboikot debat ini.
UMP terbagi atas seberapa jauh menekan masalah ini. Banyak orang lebih suka berbicara hal-hal yang lebih mendesak seperti pekerjaan. Lainnya mengatakan bahwa mereka tidak bisa meninggalkan lapangan untuk Marine Le Pen, pemimpin sayap kanan Front Nasional, yang telah membandingkan jamaah Salat Jumat di Paris dengan zaman pendudukan Nazi.
Beberapa jajak pendapat menunjukkan ia bisa mengalahkan Sarkozy dalam putaran pertama pemilihan presiden tahun depan. Sarkozy, tentu saja mendukung perdebatan dan tampaknya akan terus menyimpannya sebagai  berita utama. Awal tahun ini dia mengatakan multikulturalisme telah "gagal", bahwa imigran perlu untuk "bersikap cair" di masyarakat Prancis, dan bahwa "kami tidak ingin (melihat) pelaksanaan Salat Jumat doa di jalanan di Prancis."
Kembali ke jalanan Paris No 18 itu—yang dipakai untuk melakukan Salat Jumat—tidak jauh dari jalanan Montmartre, prinsip-prinsip sekuler Prancis tampak lebih rapi dalam teori daripada praktek. Setiap Jumat, polisi mengizinkan jalan-jalan ditutup untuk Salat Jumat di luar ruangan. Mereka bahkan berdiri sebagai petugas resmi yang memasang tali pembatas untuk pejalan kaki dan para jamaah. Beberapa warga melihat ini sebagai provokasi. Daniel Vaillant, seorang Sosialis lokal, menyebutnya pragmatis. "Ada pelanggaran yang lebih buruk daripada jalan di sini, seperti pelacuran atau narkoba," katanya. "Saya menentang pelaksanaan Salat Jumat di jalan, tapi saya juga tidak setuju jika hanya melarang mereka tanpa memberikan solusi."
Balai kota Prancis melihat Salat Jumat sebagai masalah kapasitas yang temporer. Dua masjid lokal yang ada sangat jauh dan memakan waktu yang lama untuk para jamaah jika harus melaju ke sana. Sebenarnya pemerintah daerah dan kota telah menghabiskan € 22m ($ 32m) untuk membangun sebuah pusat budaya baru Islam di dua lokasi, dengan ruang untuk konser dan pameran. Asosiasi Muslim akan menggunakan keuangan swasta untuk membeli ruangan yang akan digunakan sebagai mushola.
Kaum puritan Prancis, terus melihat hal ini sebagai pelanggaran langsung. Untuk balai kota, sebaliknya hal ini merupakan harapan terbaik untuk memecahkan masalah dengan damai, meskipun satu masjid belum terdaftar. Seperti di kota-kota Prancis lainnya, di mana pemerintah mengatur ritual selama Idul Fitri atau pemakaman Muslim di pemakaman umum, fleksibilitas lokal tampaknya merupakan kemenangan atas teori nasional Prancis yang kaku. Ketika pusat-pusat Islam yang baru siap dalam satu atau dua tahun, Vaillant berjanji, "tidak akan ada lagi Salat Jumat di jalanan, dan mereka akan memberikan ruang publik kembali kepada warga." Semoga! (sa/theeconomist)
Eramuslim.com

Komentarku ( Mahrus ali ) :
Hidup di negara kafir , memang ada diskriminasi terhadap kaum muslimin , berlainan dengan kaum kafirin yang hidup di negara Islam atau negara yang meyoritas penduduknya muslim bukan negara yang muslimnya minim. Mereka sangat mendapat pembelaan dari penguasanya bukan di abaikan.
Di Bali , setelah kasus Amrozi , kaum muslimin tidak boleh mendirikan masjid lagi . Untuk mendirikan kuil dan greja sangat di anjurkan . Ini diskriminasi yang mencolok , bukan pluralisme lagi yang samar atau jelas.
Dalam suatu ayat di katakan :
 يُرِيدُونَ لِيُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ(8)
Mereka ingin hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci.
Untuk salat di atas sajadah  , jangan di lakukan  dan bertobatlah , tapi langsung lakukan salat di atas tanah tanpa alas sebagaimana para rasul dan sahabat .
Baca lagi di artikel ini :
01 Apr 2011
01 Apr 2011
17 Mar 2011

Sabtu, September 17, 2011

Erdogan figur Khalifah yang di nantikan



Khalifah Usmaniyah terakhir, Sultan Hamid II, yang digulingkan oleh sekelompok perwira militer yang dipimpin seorang opsir bernama Kemal Attaturk, dan mengubah Turki menjadi negara Republik sekuler, tahun 1924.
Imperium  Usmaniyah berkuasa selama lebih dari 7 abad. Dengan pengaruhnya yang luas sampai ke jantung Eropa, Balkan, Asia Tengah, dan Asia, serta Timur Tengah. Kemudian dijuluki "Sick man in the Europe".
Sesudah berkuasa di Turki, Kemal Attaturk mengubah negeri itu seluruhnya. Hukum Islam dihapus, Agama Islam direduksi sampai ke titik terendah, nilai-nilai Islam dilarang dalam kehidupan masyarakat, para ulama diasingkan keluar negeri, bahasa Arab dilarang, adzan menggunakan bahasa Turki, simbol-simbol Islam disingkirkan.
Sejak Kemal Attaturk  berkuasa terjadi proses sekulerisasi yang hebat dan luar biasa terhadap seluruh kehidupan rakyat Turki. Attaturk yang masih berdarah Yahudi itu, mengganti sistem dan nilai Islam dengan sistem dan nilai sekuler Eropa. Karena itu, sejak runtuhnya Khalifah Usmaniyah  itu, berlangsung proses sekulerisasi yang sangat massif terhadap kehidupan rakyat Turki. Semua yang dilakukan Attaturk itu, bertujuan menghapus nilai-nilai Islam dan sistem Islam dalam kehidupan masyarakat dan rakyat Turki, sampai ke akar-akarnya.
Sekulerisme sudah menjadi sebuah "agama" baru di Turki sejak Kemal Attaturk berkuasa. Tidak boleh dan tidak ada apapun,  selain nilai sekuler dalam kehidupan Turki. Sekulerisme menjadi "credo" (aqidah) di dalam kehidupan rakyat Turki, karena secara tegas masuk dalam konstitusi Turki. Hukum, tata nilai, dan segala bentuk aturan yang ada, tidak boleh berlawanan dengan prinsip sekulerisme.
Sekulerisme di Turki memiliki penjaga dan penjamin, yang akan melindungi nilai-nilai itu, khususnya dari setiap ancaman yang ingin menggantinya, yaitu militer. Militer Turki menjadi "garda" paling depan, dan akan bertindak terhadap apa saja, dan siapa saja yang akan mengganti prinsip sekulerisme dengan nilai lainnya. Dari manapun. Karena militer Turki dapat bertindak dengan dasar konstitusi yang ada. Inilah yang memperpanjang umur sekulerisme di Turki.
Maka, sejak lahirnya Republik Turki yang sekuler, yang ada hanyalah entitas politik sekuler, tidak ada yang lain. Semua partai yang berkuasa hanyalah partai-partai sekuler tidak ada yang lain. Partai-partai sekuler dengan dukungan dan penjagaan dari militer, yang akan selalu menjadi pembela dan penjaganya. Semua itu, berlangsung hingga menjelang akhir abad ke 20.
Satu-satunya gerakan yang menyalamatkan rakyat Turki dari kehancurannya, dan tetap melestarikan nilai-nilai dan prinsip Islam, tak lain, gerakan sufi, yang dipimpin seorang ulama sufi, Badi'uzzaman atau Said Nursi. Dengan sembunyi-sembunyi Said Nursi mengajarkan Islam kepada rakyat Turki. Badi'uzzaman alias Said Nursi, menjauhkan diri dari politik, dan tetap mangajarkan Islam dengan caranya.
Kemudian belakangan lahir Gerakan Milli Gurus, yang mirip dengan Gerakan Ikhwan di Mesir, dan berkembang pesat di Turki dan daratan Eropa. Mehmed Sabri yang merupakan keponakan Erbakan menjadi pemimpin Milli Gurus, dan kemudian Sabiha anak Mehmed Sabri  menikah dengan seorang tokoh muda Ikhwan, Ibrahim Zayad, yang sekarang menjadi tokoh penting dalam Gerakan Islam di Eropa.
Milli Gurus mempunyai peranan yang sangat penting menghidupkan kembali Islam di Turki, bahkan di daratan Eropa. Kelompok Milli Gurus yang tidak lepas dari peranan Erbakan, kemudian melakukan re-Islamisasi kembali di Turki dan daratan Eropa. Sehingga, tidak menjadi sesuatu yang aneh, bila Turki dan Timur Tengah, sekarang kembali memiliki kedekatan, karena telah memiliki akar dan dasar, yang dibangun oleh entitas Gerakan Islam, di mana antara Ikhwan dan Milli Gurus memiliki kesamaan tujuan dan kemiripan dalam gerakan.
Erbakan kembali ke Turki tahun 1965, sesudah menyelesaikan Phd, di Aachen dibidang Tehnik, kemudian mengajar di Istambul University, di bidang teknik. Kemudian Erbakan menjadi deputi tahun 1969.
Erbakan yang jenius dan ahli membuat tank itu, justru menjadi pemikir dan aktivis, dan selanjutnya mendirikan partai politik. Mungkin Erbakanlah yang pertama kali membidani lahirnya gerakan politik Islam di Turki. Karena, sejak dibangku mahasiswa, ketika kuliah tehnik di Jerman, Erbakan sudah bergelut dengan para aktivitas Islam, dan mempelajari berbagai ideologi, dan pandangan politik, termasuk pemikirannya, yang banyak menyerap dari pemikiran dan ideologi Ikhwan, yang kemudian ditransformasikan melalui Gerakan Milli Gorus.
Pertama kali Erbakan mendirikan partai politik di tahun l978, ketika sudah merasa memiliki kemampuan, dan dukungan yang kuat. Tahun l980, mendirikan Partai Salvation (Partai Penyelamat), sesudah ikut pemilu, dan mendapat suara yang signifikan di parlemen, dibubarkan oleh militer. Sampai Jendral Kenan Evren melakukan kudeta, membubarkan Partai Salvation , dan memasukkan penjara Erbakan, di tahun 1980-1987.
Berikutnya, Erbakan mendirikan Partai Refah, di tahun 1990, dan kemudian mengikuti pemilu tahun 1994, dan memperoleh suara yang mayoritas tipis di parlemen, serta melakukan koalisi dengan Partai Republik, yang dipimpin Tansu Ciller, dan membentuk pemerintahan.
Waktu Erbakan menang pemilu tahun 1994 itu, pertama kali, ia melakukan perayaan besar-besaran di Istambul, memperingati jatuhnya Konstatinopel, dan dihadiri seluruh tokoh Gerakan Islam dari seluruh dunia. Acara itu yang berlangsung di sebuah stadion di Istambul,  memvisiualkan kembali,  bagaiaman Sultan Mohammad al-Fatih merebut Konstatinopel, yang menjadi pusat  imperium Romawi.
Kalau membaca konsep Erbakan dalam membangun Turki menjadi sebuah imperium baru, sangat jelas, dan rinci. Erbakan ingin membuat mata uang sendiri bagi seluruh negara-negara Islam, membuat sistem ekonomi dan perdagangan, membuat sistem kerjasama bidang pertahanan, keamanan dan militer, membuat sistem kerjasama dibidang budaya dan sosial. Konsep itu ditulis dengan komprehensif dan lengkap. Mungkin Erbakan ingin mewujudkan sebuah kekuatan Islam dengan satu sistem, yang banyak ditunggu itu.
Bahkan, Erbakan yang baru berkuasa itu, mempunyai langkah yang sangat luar biasa, di mana ia menginginkan agar Turki keluar dari keanggaotaan Nato, thaun 1995. Sehingga, menciptakan kekawatiran dikalangan anggota Nato dan negara-negara sekutu di Eropa.
Tetapi, semuanya impian itu kandas, karena militer Turki membubarkan pemerintahannya, karena dituduh menyimpang dari prinsip-prinsip sekuler, tahun 1997. Bahkan Partai Refah dilarang, dan Erbakan tidak boleh melakukan aktivitas politik selama 5 tahun. Berakhirkah cita-cita politik Erbakan?
Salah seorang murid Erbakan, ketika  berkuasa, yaitu Recep Tayyib Erdogan, kala itu diangkat menjadi walikota Istambul.
Erdogan tahun 2000 mendirikan partai politik baru, yang diberi nama Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP). Kemudian ikut pemilu berturut-turut, tahun 2002, menang dengan dukungan suara 37 persen, tahun 2007 naik suaranya menjadi 46,5 persen, dan tahun 2011 menjadi 50,3 persen.
AKP menargetkan mayoritas mutlak, dan ingin mengganti konstitusi Turki, dan mengubah sistem sekuler, tetapi gagal.
Keberhasilan AKP tidak lain, karena langkah-langkah strategis yang dilakukan Erdogan, memperbaiki Turki secara ekonomi dan politik. Langkah yang dilakukannya sangat jelas. Berhasil mengatasi krisis ekonomi, dan sekarang di tengah-tengah krisis global, ekonomi Turki tetap tumbuh, dan inflasi hanya satu digit. Seluruh sektor ekonomi dan perdagangan mengalami kemajuan yang signifiqan. Turki menjadi kekuatan ekonomi keempat di Eropa.
Tetapi, catatan yang paling penting dari semua yang dilakukan Erdogan dan AKP, adalah  memasukan militer Turki ke dalam kotak. Militer Turki tidak lagi dapat melakukan intervensi dibidang politik. Inilah pencapaian yang paling penting dalam sejarah politik Turki yang dilakukan oleh Erdogan.
Sekarang militer berada di bawah supremasi sipil. Tidak hanya itu, Erdogan menyeret puluhan jenderal yang akan melakukan kudeta, dan memenjarakannya. Perdana Menteri Turki Erdogan dan Presiden  Abdullah Gul, memimpin militer Turki, dan menjadi Ketua Dewan Militer Tertinggi Turki. Berakhirlah supremasi militer Turki yang sudah berlangsung sejak zamannya Kemal Attaturk.
Erdogan dan AKP hanya memanfaatkan demokrasi, dan melakukan perubahan yang lebih luas. Bukan hanya perubahan dalam skala nasional Turki, tetapi yang diinginkan Erdogan perubahan kawasan, dan bahkan perubahan secara global. Karena itu, Turki terus memainkan perananannya secara regional dan global. Langkah-langkah yang dilakukan Erdogan difinitif dan tegas. Pembelaan terhadap dunia Islam dan negeri-negeri Muslim juga sangat tegas.
Tentu, Erdogan belum mampu atau tidak mampu membuat seruan tegaknya Khilafah, Daulah, atau Sistem Syari'ah. Tetapi, perubahan secara gradual terus berjalan, dan nampak  sedikit demi sedikit. Termasuk pandangan-pandangannya yang selama ini menjadi sangat tabu, yaitu penggunaan kerudung alias jilbab di Turki. Isterinya Emina, terlibat aktif memperjuangkan agar perempuan Turki bebas menggunakan kerudung.
Kehidupan Islam di Turki terus nampak, dan berkembang dengan pesat. Tidak ada lagi ristriksi pembatasan terhadap rakyatnya. Termasuk bagi mereka yang ingin melaksanakan prinsip-prinsip Islam. Masjid Aya Shopia yang sudah lebih dari 600 tahun ditutup, sekarang dibuka kembali, dan digunakan shalat tarawih selama bulan Ramadhan.
Pernyataan Erdogan yang mengundang kritik, seruannya kepada Mesir dan Tunisia menjadi negara sekuler. Maksudnya, menurut Erdogan, "Negara sekuler tidak mesti rakyatnya harus menganut sistem sekulerisme. Saya misalnya, bukan penganut paham sekulerisme. Tetapi, saya adalah perdana negara sekuler", kata Erdogan.
Situasi mungkin akan sangat berbeda, jika Erdogan saat berkunjung ke Mesir dan Tunisia, menyerukan kepada Mesir dan Tunisia bersama dengan Turki, menegakkan kembali sistem Khilafah, Daulah  dan Syari'ah Islam. Mungkin baru sebatas itu, yang dapat dilakukan oleh Erdogan dan Turki, yang mungkin dapat kita maafkan.
Kita menghormati kepada mereka yang penuh pengorbanan, khususnya  para syuhada yang berjihad ingin menegakkan sistem Khilafah, Daulah dan Syari'ah, serta mereka yang terus istiqomah dengan jalannya masing-masing ingin mewujdukan cita-citanya itu. Semoga semuanya menjadi amal shalih. 
Tetapi, langkah-langkah yang dilakukan Turki dan Erdogan, di tengah-tengah situasi yang sangat penuh dengan ancaman orang-orang kafir,  kegagalan, perpecahan, dan kekecawaan, masih ada sosok pribadi, sebagai pemimpin yang dengan sungguh-sungguh melakukan pembelaan dengan cara yang dilakukannya itu.
Mungkin banyak diantara kita yang tidak setuju dengan apa yang dilakukan Erdogan. Wallahu'alam.
Komentarku ( Mahrus ali )
Mendirikan negara Islam , ber sariat dengannya di tengah – tengah demokrasi sangat sulit bukan masalah mudah  , sebab antara demokrasi dan Islam itu ada jurang yang sangat luas dan dalam , bukan jurang dalam tapi sempit . Demokrasi adalah bikinan barat yang setani dan Islam adalah wahyu dari Allah .
 Demokrasi itu mengikuti suara terbanyak , sedang kebanyakan orang itu senang kekufuran , kemungkaran , kedurhakaan bukan islam , amal  saleh dan taat kepada ajaran Al quran . Allah telah menyatakan :
وَلَقَدْ صَرَّفْنَا لِلنَّاسِ فِي هَـذَا الْقُرْآنِ مِن كُلِّ مَثَلٍ فَأَبَى أَكْثَرُ النَّاسِ إِلاَّ كُفُوراً   
17.89. Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulang kepada manusia dalam Al Qur'an ini tiap-tiap macam perumpamaan, tapi kebanyakan manusia tidak menyukai kecuali kufur.
Bisa mendirikan negara Islam sekarang menurut  ahli bid`ah – ya`ni Islamnya menurut ahli bid`ah , bukan Islam ahli hadis yang konsis kepada ajaran al Quran . Ya`ni Islam yang di peraktekkan  itu sesuai dengan kehendak nafsu mayoritas rakyat . Bukan Islam yang kaffah yang di benci oleh setan – setan manusia . Lihat ayat beikutnya  :
وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي اْلأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلاَّ الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلاَّ يَخَْرُصُون
Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).
وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ اْلإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ
Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.

Negara Islam yang cocok  menurut saya adalah mendirikan kerajaan sebagaimana kerajaan Nabi Sulaiman  atau Nabi Dawud , atau sistim khilafah tanpa  demokrasi barat.  Allah berfirman :

وَشَدَدْنَا مُلْكَهُ وَآتَيْنَاهُ الْحِكْمَةَ وَفَصْلَ الْخِطَابِ   
38.20. Dan Kami kuatkan kerajaannya dan Kami berikan kepadanya hikmah dan kebijaksanaan dalam menyelesaikan perselisihan.  . Surat Shod  20 .

قَالَ رَئِيْسُ الْوُزَرَاءِ التُّرْكِي أَنَّهُ بَعْدَ اسْتِقْرَارِ الْدِّيِمُقْرَاطِيَّةِ سَيَتَحَسَّنُ الْاقْتِصَادُ.. مُعْرِبًا عَنْ ثِقَتِهِ فِي أَنَّ مِصْرَ سَتَنْمُو بَعْدَ هَذِهِ الْفَتْرَةِ لِأَنَّ الْتَّرَاكُمَ الْحَضَارِيَّ الْمِصْرِيَّ سَيَدَفَعُهَا لِلْأَمَامْ.
Perdana Menteri Turki mengatakan bahwa setelah stabilitas demokrasi tercapai  , maka ekonomi akan meningkat.. Dia  mengungkapkan keyakinannya bahwa Mesir akan tumbuh setelah periode ini karena akumulasi  peradaban Mesir akan mendorongnya  ke depan

Selama  dia masih berpegangan kepada .Demokrasi , maka  dia bukan pemimpin yang di harapkan oleh Islam ahli hadis dan ahli quran , mungkin di gemari oleh ahli bid`ah wal khurofat atau orang nasionalis bukan muslim sejati.