Kamis, Agustus 21, 2014

Pertanyaan dari BPK H Nuruddin kepoh kiriman dalam tentang kafir dzimmi

Pertanyaan dari BPK H  Nuruddin kepoh kiriman dalam tentang  kafir  dzimmi , lalu jawabannya  sbb:
                 
   Hukum kafir dzimmi


Abu Ismaaeel Fathi  menulis sbb:
مَنْ آذَى ذِمِّيًا فَقَدْ آذَانِي 

"Sesiapa yang menyakiti kafir zimmi, maka dia juga menyakiti diriku”


Takhrij:

Ibn Taimiah (Majmu’ al-Fatawa, 28/6530), Ibn al-Qayyim (al-Manar al-Munif, 98)


Status:

Batil, tiada asalnya dengan lafaz ini. Namun maknanya benar. Hadith dengan lafaz “مَنْ آذَى ذِمّيًا َفقَدْ آذَانِي - sesiapa yang menyakiti kafir zimmi, maka dia juga menyakiti diriku” ini tiada asalnya, kata Ibn Taimiah: “Dusta kepada Nabi SAW”, dan berkata Ibn al-Qayyim: “Batil“.

Yang wujud ialah dengan lafaz :
 “مَنْ آذَى ذِمِّيًا فَأَنَا خَصْمُهُ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ –
 sesiapa yang menyakiti kafir zimmi, maka aku adalah musuhnya pada hari qiyamah“ dikeluarkan oleh al-Khatib al-Baghdadi dalam Tarikh Baghdad (4/34) dari jalur al-`Amash dari Abi Sufyan dari Jabir dari Nabi SAW secara marfu’ dan berkata al-Khatib al-Baghdadi sendiri ia adalah hadith munkar, manakala kata Imam Ahmad bin Hanbal dalam Tanqih Tahqiq al-Ta’liq (2/267): “tiada asalnya (iaitu tiada sanad yang sahih walaupun satu)”.

Saya katakan: hadith dengan lafaz pertama tiada asalnya, dan hadith dengan lafaz kedua diatas adalah dhai’f. Namun maknanya benar serta bertepatan dengan hadith-hadith lain yang sahih berkenaan ahli zimmah. Antaranya ialah hadith yang dikeluarkan al-Bukhari dalam kitabnya al-Sahih bahawa Nabi SAW bersabda:

 “مَنْ قَتَلَ نَفْسًا مُعَاهَدًا لَمْ يَرِحْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ أَرْبَعِينَ عَامًا –

 Siapa yang membunuh orang kafir yang telah mengikat perjanjian (mu'ahid) dengan pemerintahan muslimin, ia tidak dapat mencium bau harum syurga, padahal bau harum syurga itu dapat dicium dari jarak empat puluh tahun“.

Dengan itu berkata Syaikh Ahmad Syakir berkenaan hadith ini dalam tahqiqnya atas al-Ba'ith al-Hathith (2/457) : “بهذا اللفظ لا أصل له ولكن ورد معناه بأسانيد لا بأس بها – tiada asal dengan lafaz ini, akan tetapi maknanya ada wujud (datang) dengan isnad-isnad yang tidak mengapa (iaitu diterima)“.

Komentarku ( Mahrus ali ):
[Larangan Membunuh Kafir Musta’man yang telah mendapat jaminan keamanan dari kaum muslimin]
Allah Ta’ala berfirman,
وَإِنْ أَحَدٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتَّى يَسْمَعَ كَلامَ اللَّهِ ثُمَّ أَبْلِغْهُ مَأْمَنَهُ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لا يَعْلَمُونَ
“Dan jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui.” (QS. At Taubah: 6)
Namun  kita  tidak boleh mencintai orang kafir karena ada  ayat:
لَّا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ ۚ أُولَٰئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الْإِيمَانَ وَأَيَّدَهُم بِرُوحٍ مِّنْهُ ۖ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ۚ أُولَٰئِكَ حِزْبُ اللَّهِ ۚ أَلَا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung.  Mujadilah  22
لاّ يَتّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَآءَ مِن دُونِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللّهِ فِي شَيْءٍ إِلاّ أَن تَتّقُواْ مِنْهُمْ تُقَاةً
”Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka”. [QS. Aali ’Imraan : 28]
الّذِينَ يَتّخِذُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَآءَ مِن دُونِ الْمُؤْمِنِينَ أَيَبْتَغُونَ عِندَهُمُ الْعِزّةَ فَإِنّ العِزّةَ للّهِ جَمِيعاً
”(Yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah”. [QS. An-Nisaa’ : 139]
Al-Hafidh Ibnu Hajar rahimahullah berkata :
ثُمَّ اَلْبِرُّ وَالصِّلَة وَالْإِحْسَان لَا يَسْتَلْزِمُ التَّحَابُبَ وَالتَّوَادُدَ اَلْمَنْهِيَّ عَنْهُ فِي قَوْلِهِ تَعَالَى : (لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاَللَّهِ وَالْيَوْم اَلْآخِر يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اَللَّه وَرَسُولَهُ) . اَلْآيَة فَإِنَّهَا عَامَّةٌ فِي حَقِّ مَنْ قَاتَلَ وَمَنْ لَمْ يُقَاتِلْ وَاَللَّه أَعْلَمُ.
”Kemudian, kebajikan, hubungan, dan kebaikan (yang kita lakukan kepada orang kafir) tidaklah mengharuskan adanya kecintaan dan kasih sayang yang dilarang oleh Allah untuk dilakukan sebagaimana terdapat dalam firman Allah ta’ala : ‘Kamu tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya’ (QS. Al-Mujaadilah : 22).  Ayat ini bersifat umum, berlaku bagi setiap orang kafir yang memerangi maupun tidak memerangi. Wallaahu a’lam” [Fathul-Baariy, 5/233].