Rabu, Mei 27, 2015

Kesalahan ulama ke 18



MUhammad Idrus Ramli menulis :
PAHALA MENCACI-MAKI WAHABI
Seorang ulama besar di Aceh, al-
marhum Syaikh Abdul Aziz,
Pengasuh Pondok Pesantren MUDI
MESRA Samalanga berfatwa: bahwa
apabila kamu malas berdzikir maka
mencaci-maki Wahabi dengan
berkata Wahabi sesat dan
menyesatkan atau semacamnya,
pahalanya sama saja.

Komentarku ( Mahrus ali ):
Biasanya kalimat wahabi itu diarahkan kepada pengikut syaikh Muhammad bin Abd wahab yang sekarang menjamur di Saudi arabia. Untuk Syi`ah menjamur di Iran. Dan untuk ahli bid`ah menjamur di Indonesia dan banyak di negara sekuler.
Pengikut ahlis sunnah menjamur di Saudi arabia dan daulah Islamiyah.
Mencaci maki wahabi mendapat pahala ini perlu dalil dan ulama besar Aceh itu tidak membawakan dalil. Sudah tentu dalam hal ini dia tidak layak disebut ulama besar, tapi ulama kecil yang krisis ilmu .Terus apakah memuji syi`ah dan ahli bid`ah mendapat pahala ?  Ini termasuk iftira` - berbuat kedustaan pada Allah bukan kejujuran padaNya, membuat ajaran dalam Islam dengan dusta bukan dengan jujur yang berdalil.
Layak  sekali ulama itu akan di ancam dengan ayat ini:
. وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللهِ كَذِبًا أَوْ كَذَّبَ بِالْحَقِّ لَمَّا جَاءَهُ أَلَيْسَ فِي جَهَنَّمَ مَثْوًى لِلْكَافِرِينَ
Dan siapakah yang lebih zalim dari pada orang-orang yang berbuat kedustaan terhadap Allah atau mendustakan kebenaran  tatkala  datang kepadanya? Bukankah dalam neraka Jahannam itu ada tempat bagi orang-orang yang kafir?  Ankabut  68
Apakah dia tidak ingat hadis sbb:
- حَدِيْثُ  عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعودٍ أَنَّ النَّبِيّ صَلَّىاللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ‏
قَالَ: سِبَابُ الْمُسْلِم فُسُوْقٌ وَقِتالُهُ كُفْرٌ
أَخْرَجَهُ الْبُخَارِيْ فِى : كِتَابُ اْلإِيْمَانِ : 36 بَابُ خَوْفُ اْلمُؤْمِنِ مِنْ أَنْ يَحْبِطَ عَمَلُهُ وَهُوَ لاَ يَشْعُرُ

11.  Abdullah ibnu Mas’ud menuturkan bahwa Nabi saw bersabda: “Mencaci orang muslim adalah fasik, dan membunuhnya adalah kafir.” (Bukhari, 2, kitabul iman, 36, bab menakuti seorang mukmin dapat menggugurkan pahala amalannya, sedanmg ia tidak merasa).