Senin, Agustus 03, 2015

Kesalahan ulama ke 28



- وقال النووي رحمه الله في "المجموع" (3/221) : " شرط الفريضة المكتوبة أن يكون مصليا مستقبل القبلة مستقرا في جميعها .......... فلو استقبل القبلة وأتم الأركان في هودج أو سرير أو نحوهما على ظهر دابة واقفة ففي صحة فريضته وجهان : أصحهما : تصح , وبه قطع الأكثرون ; لأنه كالسفينة " انتهى .
3
والله أعلم .

http://islamqa.info/ar/93560


Imam Nawawi rahimahullah  dlm kitab Majmu` 221/3  berkata:
Sarat  menjalankan shalat fardhu  hendaklah di jalankan  dengan menghadap kiblat dan bisa  tetap dlm menjalankan seluruh salat.
Bila dia menghadap kiblat dan menyempurnakan  rukun di sekedup atau  ranjang /dipan atau sesamanya  di atas punggung  hewan dengan berdiri.  Keabsahan shalat wajib spt itu ada dua macam pendapat ( sah  dan tidak sah ).
Namun paling sahih adalah sah. Ini pendapat kebanyakan ulama , karena ia seperti  kapal atau sampan. ………….. selesai kutipan.

Komentarku ( Mahrus ali ):
Pendapat imam Nawawi itu tanpa merujuk pada dalil, tapi perkiraan  dan pendapat  sj . Boleh benar juga boleh keliru. Bagaimana  bila  keliru ? Kita  yg mengikuti parah , dan kita keliru.
Bila benar, kita masih merujuk kepada perbuatan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.
Imam Syafii berkata:
لاَ تُقَلِّدْ دِينَك الرِّجَالَ فَإِنَّهُمْ لَنْ يَسْلَمُوا مِنْ أَنْ يَغْلَطُوا .
Dalam masalah agama,jangan ikut orang , sebab  mereka mungkin juga salah .
Kapan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjalankan shalat wajib dikendaraan . Pada hal saat itu , Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam punya kendaraan . Tp beliau tidak pernah menjalankan shalat wajib di kendaraan .
Kendaraan itu  bukan untuk shalat wajib. Boleh mengerjakaan di atasnya untuk shalat sunat. Untuk shalat wajib, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam turun ke tanah.
Tanah tanpa  tikar adalah tempat sujud shalat wajib. Dan mengerjakan shalat wajib tanpa  tanah tanpa  tikar tiada dalilnya.
Ustadz Manshur al Buraidi mengatakan:
أجمع العلماء أنه لا يجوز أن يصلي أحد فريضةً على الدابة من غير عذر ، وأنه لا يجوز له ترك القبلة إلا فى شدة الخوف8، لحديث عَامِرِ بْنِ رَبِيعَةَ ، قَالَ : رَأَيْتُ النَّبِيّ وَهُوَ عَلَى الرَّاحِلَةِ يُسَبِّحُ ، يُومِئُ بِرَأْسِهِ قِبَلَ أَىِّ وَجْهٍ تَوَجَّهَ ، وَلَمْ يَكُنْ رَسُولُ اللَّهِ يَصْنَعُ ذَلِكَ فِي الصَّلاةِ الْمَكْتُوبَةِ .رواه البخاري ومسلم . وروى ابن عُمَرَ وَجَابِر مثله ، وَقَالَ جَابِر : فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يُصَلِّىَ الْمَكْتُوبَةَ نَزَلَ ، فَاسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ
Ulama telah ijma` tidak diperkenankan menjalankan shalat wajib di atas binatang ( unta atau lainnya ) tanpa ada uzur. Tidak diperkenankan meninggalkan menghadap kiblat kecuali dalam keada an sangat takut karena ada  hadis Amir bin Rabi`ah  yang berkata: Aku melihat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam  menjalankan shalat  sunat di atas kendaraannya   dengan berisarat dengan kepalanya  dan menghadap kemana saja. Namun hal itu tidak di lakukan oleh beliau dalam shalat wajib. HR Bukhari dan Muslim.
Ibnu Umar dan Jabir juga meriwayatkan hadis yang sama denganya.
Jabir sendiri berkata: Bila berkehendak untuk menjalankan shalat wajib, maka beliau turun dan menghadap kiblat.
http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=215277

عن بلال بن سعد قال: ثلاث لا يقبل معهن عمل: الشرك، والكفر، والرأي؛ قيل: وما الرأي؟ قال: يترك كتاب الله وسنة نبيه، ويعمل برأيه. حلية الأولياء(5/ 229)

Dari Bilal bin Sa`ad berkata: Tiga perkara membikin amal seseorang tidak diterima( disisi Allah ) ; Syirik, kufur dan berpendapat ( dlm menentukan hukum )

Dikatakan: Apakah pendapat itu ?

Beliau berkata: Meninggalkan kitabullah dan sunnah nabiNya lalu menjalankan sesuatu dengan pendapatnya”.

Hilyatul auliya` 229/5 . 


Mau nanya hubungi kami:
088803080803( Smartfren). 081935056529 (XL )  https://www.facebook.com/mahrusali.ali.50