Rabu, Juni 14, 2017

Fase ke 9 berbuka ketika adzan Maghrib membetalkan puasa

Fase ke 9 berbuka ketika adzan Maghrib membetalkan puasa

Faruq Hudzaifah menyatakan:

semua Ulama islam dari zaman dulu smpai sekarang, krna pendapat yg membatalkan puasa org yg berbuka ketika maghrib hnya ada sekarang, tdk ditemukan dari sebelumnya\

Komentarku ( Mahrus ali ) :
KOmentar spt itu tdk ilmiyah, emosional sekali , tdk obyektif mirip dg perkataan kafirin ketika dtg kebenaran pdnya:

وَمَا سَمِعْنَا بِهَذَا فِي ءَابَائِنَا الْأَوَّلِينَ
Dan kami belum pernah mendengar (seruan yang seperti) ini pada nenek moyang kami dahulu". Al qashas 36.
Karena itu, jangan ikut perkataan orang kafir dulu atau sekarang tapi ikutilah perkataan orang mukmin  yaitu  sami`na wa atho`na kepada dalil dari Allah dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Ada atau  tidak ada ulama  yang berfatwa itu bukan persoalan . Yang penting itu dalil.
Ibnu Utsaimin  jg pernah menyatakan :  Tdk menjadi sarat kebenaran hrs sama dg pendapat  ulama dulu .
Komentarku ( Mahrus ali ) :
Bahkan , mungkin juga ulama dulu salah dan ulalma sekarang benar . Bgmn km bila seorang mujaddid dtg lalu menyalahkan pendapat ulama dulu . Apakah km menentang nya ?
Ajaran Islam ini sdh banyak berobah, mk hrs di kembalikan kpd ajaran Allah dan RasulNya yg asli bukan pd ulama.
Kita haram ikut guru yang keliru dan kita harus mengikuti dalil untuk menghurmati ayat :
فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللهِ  وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللهِ  وَالْيَوْمِ ا‏ ْلآ‏خِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً
Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan  Rasul  (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. Nisa` 59
Kita haram ikut ulama yang menyelisihi sahabat  karena menghurmati dalil :
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ(100)
Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar. 100 Tobat
Faruq Hudzaifah menyatakan
akhi.. al Qur'an adalah bhs arab, maka harus ditafsirkan dgn bhs arab pula..
dan dlm bhs arab malam itu dimulai dari terbenam nya matahari, bgtu juga dlm syariat malam adalah dari terbenam nya matahari.
para ulama salaf sepakat akan hal ini.
Komentarku ( Mahrus ali ) :
Bedakan antara  malam menurut bahasa arab  dg mlm menurut al quran.
Jadi devinisi itu tdk bisa di buat pegangan untuk puasa.
Kalau menurut al quran devinisi malam itu di mulai setelah salat Maghrib > Sebab  shalat maghrib di katakan sbg salat siang yg terahir sbgmn  di jlskan dlm ayat 114 Hud kemarin .
Salat maghrib di katakan sbg salat siang yg terahir dan salat subuh sbg permulaan salat siang  sbgmn  bahasa  al quran yg menyebut dg kalimat thorofayin nahar 114 HUd.  Atau boleh di katakan  dua ujung  siang . Ujung yg satu salat subuh  dan ujung  yg lain salat Maghrib.
Ayatnya sbb:
وَأَقِمِ الصَّلَاةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِّنَ اللَّيْلِ ۚ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ۚ ذَٰلِكَ ذِكْرَىٰ لِلذَّاكِرِينَ
Dan dirikanlah salat itu pada kedua tepi siang  dan pada sebagian  malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat. 114 Hud.
Jadi karena salat Maghrib di anggap sbg salat siang terahir , mk adzan Maghrib di kumandangkan  waktu  siang bukan waktu malam. Bila berbuka saat  itu , sm dg berbuka waktu siang. Puasanya  batal , tdk dpt pahala  dari Allah karena menyalahi  perintah Allah  dlm surat 187 Baqarah  sbb:
ثُمَّ أَتِمُّواْ الصيام إِلَى الليل
Kemudian sempurnakanlah puasa sampai malam.  187 Baqarah.
Berbuka ketika adzan Maghrib menyalahi ayat itu. Otomatis dpt dosa karena menyalahi ayat.
Berbuka  ketika adzan Maghrib mengikuti orang banyak menyalahi Allah yg Maha Esa.
Bersambung …………….




Senin, Juni 12, 2017

Fase ke 8 buka puasa waktu Maghrib batalkan puasa

Farouq Hudzaifah al atsari menulis:
kan antum bilang : bukti kan klo sanad nya tdk tafarrud.. makanya saya bilang sanad nya memang tafarrud, tp makna hadits nya yg berkaitan dgn waktu berbuka tdk tafarrud krna di riwayat kan oleh beberapa sahabat
Komentarku ( Mahrus ali ) :
Hampir semua hadis yg di nyatakan sanadnya tafarrud / munkar kalau dilihat dr satu sisi makna bukan sisi yg lain , di dukung oleh sisi makna hadis lain , tp sisi makna hadis yg lain bertentangan .
Kalau caranya spt itu, maka tdk ada hadis munkar dan akhirnya tdk ada hadis lemah. Sbb hampir seluruh hadis lemah satu sisi maknanya di dukung hadis lain.
Bila tdk percaya buktikan sj apabila pernyataan sy ini keliru.
Anda menyatakan:
hadits2 itu shahih dan tdk munkar, krna datang riwayat2 lain sebagai mutaba'ah dan Syawahid
Komentarku ( Mahrus ali ) :
Sebutkan hadis sahih dlm hal berbuka sblm salat Maghrib yg kamu anggap sahih yg tdk bertentangan dg al quran. Silahkan ……………..
Anda menyatakan:
- artinya juga tdk bertentangan dgn ayat al Qur'an, bhkan menjadi tafsir untuk kata al lail dan itu sesuai dgn bhasa arab. Dan juga tdk bertentangan dgn surat hud 114 krna arti thorofain nahar msh diperslisihkan, datang riwayat hadits dari Nabi shollallohu'alaihiwasallam bahwa yg dimaksud zulfata al lail adlah maghrib dan Isya, klo mau diartikan maghrib sebagai sholat thorf nahar pun para Ulama yg berpendapat itu tdk ada satupun yg menjadikan nya sebagai dalil penentuan waktu berbuka, krna arti lail jelas dlm bhs arab atau dlm Sunnah
Komentarku ( Mahrus ali ) :
Ini artikel sy yg lalu :
Fase ke 4. Berbuka ketika adzan Maghrib membatalkan puasa
قوله عز وجل : ( وأقم الصلاة طرفي النهار ) أي : الغداة والعشي . [ يعني : صلاة الصبح والمغرب ] قال مجاهد : طرفا النهار صلاة [ الصبح ] والظهر والعصر . " وزلفا من الليل " ، صلاة المغرب والعشاء .
وقال مقاتل : صلاة الفجر والظهر طرف ، وصلاة العصر والمغرب طرف ، وزلفا من الليل ، يعني : صلاة العشاء .
وقال الحسن : طرفا النهار . الصبح والعصر ، وزلفا من الليل : المغرب والعشاء . وقال ابن عباس رضي الله عنهما : طرفا النهار الغداة والعشي ، يعني صلاة الصبح والمغرب .
http://library.islamweb.net/newlibrary/display_book.php…
18613 - حدثني الحارث قال ، حدثنا عبد العزيز قال ، حدثنا أبو معشر ، عن محمد بن كعب القرظي : ( أقم الصلاة طرفي النهار ) ، قال : ( طرفي النهار ) ، قال : الفجر والظهر والعصر .
Intinya perkataan Ulama itu adalah mrk sepakat salat Subuh sbg salat permulaan siang .
Mereka beda pendapat ttg salat akhir siang .
Al Hasan menyatakan : Salat dua ujung siang adalah Subuh dan Asar .
Komentarku ( Mahrus ali ) :
Kelemahan pendapat ini , Salat asar di anggap sbg salat terahir siang.
Pd hal setelah Asar keada an masih tetap siang / sore bukan malam . Dan tdk ada orang yg menyatakan setelah salat Asar adalah waktu malam. Sbb keadaan masih terang bederang.
Pendapat itu jg bertentangan dg hadis :
حَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الْحَنْظَلِيُّ أَخْبَرَنَا يَحْيَى بْنُ آدَمَ حَدَّثَنَا الْفُضَيْلُ بْنُ مَرْزُوقٍ عَنْ شَقِيقِ بْنِ عُقْبَةَ عَنْ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ قَالَ
(MUSLIM - 999) : Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim Al Hanzhali telah mengabarkan kepada kami Yahya bin Adam telah menceritakan kepada kami Al Fudlail bin Marzuq dari Syaqiq bin 'Uqbah dari Al Barra` bin 'Azib katanya;
نَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ
{ حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ }
وَصَلَاةِ الْعَصْرِ فَقَرَأْنَاهَا مَا شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ نَسَخَهَا اللَّهُ فَنَزَلَتْ
{ حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى }
"Jagalah oleh kalian seluruh shalat yang ada" dan salat Asar
maka kami membacanya …….. sampai lama sesuai dg kehendak Allah, kemudian Allah memansukhkannya hingga turun ayat "Jagalah oleh kalian seluruh shalat yang ada dan shalat wustha" (QS. Albaqarah 238),
فَقَالَ رَجُلٌ كَانَ جَالِسًا عِنْدَ شَقِيقٍ لَهُ هِيَ إِذَنْ صَلَاةُ الْعَصْرِ فَقَالَ الْبَرَاءُ قَدْ أَخْبَرْتُكَ كَيْفَ نَزَلَتْ وَكَيْفَ نَسَخَهَا اللَّهُ وَاللَّهُ أَعْلَمُ
Maka seorang lelaki yang ketika itu duduk bersama saudara kandungnya berkata "Shalat wustha yang dimaksud adalah shalat ashar, " Lalu Al Barra` berkomentar; aku telah mengabarkan kepadamu bagaimana ayat itu turun dan bagaimana Allah memansukhkannya, dan Allah dzat yang lebih tahu." Muslim
Hadis riwayat Muslim itu menyatakan bahwa salat wusto ( pertengahan ) adalah salat Asar . Berarti salat Asar bukan salat siang yg terahir , atau salat ujung siang yg terahir . Tp ia salat wustho ( pertengahan ).
Salat Ahir siang adalah salat maghrib sbgmn pendapat Ibn Abbas itulah yg benar. Salat Maghrib bukan salat permulaan malam tapi salat ahir siang yg di sebut dlm ayat 114 Hud.
.
شرح الزرقاني على الموطأ (1/ 490)
قَالَ الْقُرْطُبِيُّ: وَهَذَا أَقْوَى حُجَّةً لِمَنْ قَالَ: الْعَصْرُ، لِأَنَّهُ يُشْعِرُ بِأَنَّهَا أُبْهِمَتْ بَعْدَمَا عُيِّنَتْ،
Intinya al qurthubi menyatakan paling kuat adalah pendapat salat Asar adalah salat Wustho .
لقول الثاني : أنها صلاة العصر .
وهذا قول أكثر أهل العلم ، وهو القول الصحيح المعتمد ، لدلالة السنة الصحيحة عليه .
Intinya , Mayoritas ahlu ilmi menyatakan salat Asar adalah salat wustho – itulah yg benar yg bisa dibuat pegangan karena petunjuk dr sunnah yg sahih.
"وهو قول علي بن أبي طالب ، فقد روى الترمذي والنسائي من طريق زر بن حبيش قال :
قلنا لعبيدة : سل عليا عن الصلاة الوسطى . فسأله فقال : كنا نرى أنها الصبح ، حتى سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول يوم الأحزاب : (شَغَلُونَا عَنْ الصَّلَاةِ الْوُسْطَى ، صَلَاةِ الْعَصْرِ).
Intinya : Imam Ali bin Abi Thalib jg berpendapat bahwa salat Wustho adalah salat Asar > Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda pd perang Ahzab : Mereka bikin sibuk kami , hingga kami lalai terhadap salat wustho yaitu salat Asar.
وبه قال ابن مسعود وأبو هريرة ، وهو الصحيح من مذهب أبي حنيفة ، وقول أحمد ، والذي صار إليه معظم الشافعية لصحة الحديث فيه .
Pendapat Ibn Mas1ud , Abu Hurairah , dan yg sahih dr madzhab Abu Hanifah, pendapat Imam Ahmad dan kebanyakan ulama syafiiyah jg menyatakan salat wustho adalah salat Asar .
قال الترمذي : هو قول أكثر علماء الصحابة .
Tirmidzi menyatakan : Itu pendapat mayoritas sahabat
وقال الماوردي : هو قول جمهور التابعين .
Mawardi menyatakan : Itulah pendapat mayoritas tabiin
وقال ابن عبد البر : هو قول أكثر أهل الأثر .
Ibn Abdil bar jg berkata : Itulah pendapat mayoritas ahlul atsar
وبه قال من المالكية ابن حبيب وابن العربي وابن عطية" انتهى من " فتح الباري " (8/196) .
Ibnu Habib , Ibnul arabi dan Ibn Athiyah dr kalangan madzhab Maliki jg berpendapat salat Asar adalah salat wustho .
وقال النووي رحمه الله :
"الذي تقتضيه الأحاديث الصحيحة أنها العصر ، وهو المختار" انتهى.
Imam Nawawi menyatakan: “ menurut hadis – hadis yg sahih salat wustho adalah Asar”
https://islamqa.info/ar/129636
Komentarku ( Mahrus ali ) :
Dg demikian salat terahir siang adalah Maghrib dan adzan Maghrib masih termasuk siang . Tdk boleh berbuka ketika mendengarnya. Bila berbuka , mk sia – sia puasanya. Di akhirat tdk mendapat pahala puasa dan termasuk orang yg meninggalkan puasa Ramadhan seluruhnya bila terus menerus berbuka ketika adzan Maghrib.
3. membatalkan Ijma'?
Ijma batal hanya ketika diketahui ada pendapat yg lain, klo tdk diketahui ada pendapat yg lain maka Ijma tetap ada... para Ulama yg membatalkan ijma di beberapa masalah hal itu dikarenakan mreka mengetahui pendapat yg lain.. sekarang bawakan satu saja seorang Alim Mujtahid yg berpendapat dengan apa yg antum ikuti dlm mslh ini.. klo tdk ada maka klaim Ijma tetap dan tidak bisa dibatalkan..!
nentang menurut siapa??
Komentarku ( Mahrus ali ) :
Tidak ada ijma`. Mn dalil yg menyatakan Ijma` adalah landasan hukum .
Ini jawaban sy yg lalu :
Ada sebagian ulama menyatakan:
وكم من إجماعٍ نقلوه وهو أبطل من الباطل. ولنا أن نذكر مقولة الإمام أحمد: «من ادعى الإجماع فهو كاذب
Banyak ijma` yang mereka kutip ternyata paling keliru. Kita ingat perkataan Imam Ahmad : Barang siapa yang menyatakan Ijma` adalah pendusta.
Ibnu Taimiyah berkata:
ولكن كثير من المسائل يظن بعض الناس فيها إجماعا ولا يكون الأمر كذلك بل يكون القول الآخر أرجح في الكتاب والسنة.
Tapi banyak sekali masalah – masalah yang dikira sebagian manusia mendapat Ijma`. Tapi hakikatnya tidak begitu. Bahkan perkataan lainya lebih rajih ( dominan ) dalam kitab al Quran dan sunnah ( maksudnya pendapat yang lain lebih cocok menurut al quran dan sunnah ) . Lihat di Majmu` fatawa juz 20
Ibnu Hazem berkata:
المحلى [مشكول و بالحواشي] - (ج 7 / ص 345)
وَرَحِمَ اللَّهُ أَحْمَدَ بْنَ حَنْبَلٍ فَلَقَدْ صَدَقَ إذْ يَقُولُ: مَنْ يَدَّعِي الإِجْمَاعَ فَقَدْ كَذَبَ، مَا يُدْرِيهِ لَعَلَّ النَّاسَ اخْتَلَفُوا لَكِنْ لِيَقُلْ: لا أَعْلَمُ خِلافًا، هَذِهِ أَخْبَارُ الْمَرِيسِيِّ، وَالأَصَمِّ.
Semoga Allah memberi rahmat kepada Imam Ahmad bin Hambal . Sungguh benar beliau ketika berkata: Barang siapa yang mengaku Ijma` maka sungguh dia berdusta. Apakah dia tahu barang kali manusia beda pendapat. Tapi katakan saja: Aku tidak tahu hilap dalam masalah ini. ………. Ini adalah berita – berita al marisi dan al asham ( ya`ni kabar Burung ).
وقال ابن القيّم :
« وكذلك الشافعي أيضا نصّ في رسالته الجديدة على أنّ ما لا يعلم فيه خلاف لا يقال له إجماع ، ولفظه لا يعلم فيه خلاف ، فليس إجماعا
Ibn Qayyim berkata: Begitu juga Imam Syafii menulis nas dalam risalahnya yang baru bahwa masalah yang tidak diketahui terdapat hilap padanya tidak boleh dikatakan Ijma` . Kalimatnya :
لا يعلم فيه خلاف ، فليس إجماعا
Tiada hilap dalam suatu masalah bukan menunjukkan Ijma`.
Anda menyatakan:
hadits klo sdh terpenuhi syarat2 shahih pasti tdk akan bertentangan dgn ayat.. yg ada otak yg melihat nya bertentangan yg rusak, krna hadits2 adalah tafsir untuk ayat alquran.. siapa lg yg paling baik menafsirkan al Qur'an klo bukan Rosululloh shollallohu'alaihiwasallam sendiri
ga ada di definisi ulama syarat shahih itu tdk bertentangan dgn ayat
Komentarku ( Mahrus ali ) :
Mankna hadis yg bertentangan dg al quran harus di lemahkan .
Syaik As suba`I telah merumuskan tanda kelemahan hadis sampai tujuh belas point.
Yang nomer sembilan sbb:
9ـ ألا يخالف القرآن
“Hadis itu harus tdk bertentangan dengan al quran” .
Bila hadis tsb mash disahihkan , maka mana yg kita ambil , al qurannya atau hadisnya.
Dan silahkan terangkan dg detil , al quar an menyatakan bahwa berbuka puasa hrs malam, dan 114 Hud menyatakan salat Maghrib termasuk salat akhir siang dg hadis yg katamu sahih Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berbuka sebelm salat Maghrib.

Bila kamu menyatakan antara quran dan hadis tdk bertentangan dlm hal ini, mk terangkan dg detil. Dan pakailah rujukan arabnya agar tampak valid lalu diterjemahkan dg benar.

H. Nuruddin bertanya

H. Nuruddin bertanya:
Imam Hanafi (Hanafiyah ). menegaskan bahwa mengirim pahala bacaan al-Quran kepada mayit hukum dibolehkan. Pahalanya sampai kepada mayit, dan bisa bermanfaat bagi mayit.
إن الثواب حق العامل، فإذا وهبه لأخيه المسلم لم يمنع من ذلك، كما لم يمنع من هبة ماله له في حياته، وإبرائه له منه بعد وفاته. وقد نبه الشارع بوصول ثواب الصوم على وصول ثواب القراءة ونحوها من العبادات البدنية
[18:01, 6/11/2017] H Nuruddin2: Benarkah pendapat imam hanafi bisa sampai pahala bacaan kpd mayat tsb
Komentarku ( Mahrus ali ) :
إن الثواب حق العامل، فإذا وهبه لأخيه المسلم لم يمنع من ذلك، كما لم يمنع من هبة ماله له في حياته، وإبرائه له منه بعد وفاته. وقد نبه الشارع بوصول ثواب الصوم على وصول ثواب القراءة ونحوها من العبادات البدنية
Itu perkataan dr syaikh Nabsir bin Abd Karim pengarang kitab syarah akidah Thahawiyah
http://live.islamweb.net/audio/index.php…
قال ملا على القاري (1014 هـ ) في كتابه شرح الفقه الاكبر :(( ثم القراءة عند القبور مكروهة عند أبي حنيفة و مالك و أحمد رحمهم الله في رواية لانه محدث لم ترد به السنة)) ص 110

Mulla ali al Qari 1014 H dlm kitabnya syarah fiqih al akbar ; Kemudian baca di kuburan itu makruh menurut Abu Hanifah , Malik, Ahmad rahimahumullah dlm suatu riwayat. Sbb ia bid`ah yg tdk ada dalilnya dr hadis :

Fase ke 7. Berbuka ketika adzan Maghrib membatalkan puasa

Fase ke 7. Berbuka ketika adzan Maghrib membatalkan puasa
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ حَدَّثَنَا جَعْفَرُ بْنُ سُلَيْمَانَ حَدَّثَنَا ثَابِتٌ الْبُنَانِيُّ أَنَّهُ سَمِعَ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ يَقُولُ
Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Hanbal, telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq, telah menceritakan kepada kami Ja'far bin Sulaiman, telah menceritakan kepada kami Tsabit Al Bunani bahwa ia telah mendengar Anas bin Malik berkata
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ فَعَلَى تَمَرَاتٍ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ
; Dahulu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berbuka dengan beberapa ruthab (kurma yang belum masak) sebelum melakukan shalat, jika tidak ada mk berbuka degan beberapa tamar ( kurma yg sdh masak ) Dan apabila tidak ada kurma maka beliau minum air beberapa teguk / kali
HR. Abu Daud no. 2356 dan Ahmad 3/164 HR. Abu Daud no. 2356 dan Ahmad 3/164 .
Cacat dr sg sanad :
المسند الجامع (1/ 474)
- عَنْ ثَابِتٍ الْبُنَانِيِّ، أَنَّهُ سَمِعَ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ يَقُولُ:
كَانَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ، فَعَلَى تَمَرَاتٍ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ.
المسند الجامع (1/ 475)
أخرجه أحمد 3/164 (12705. وأبو داود (2356) قال: حدَّثنا أحمد بن حَنْبَل. والتِّرْمِذِيّ" 696 قال: حدَّثنا مُحَمد بن رافع.
كلاهما (أحمد، وابن رافع) قالا: حدَّثنا عَبْد الرَّزَّاق، قال: حدَّثنا جَعْفَر بن سُلَيْمان، قال: حدَّثني ثابت، فذكره.
- قال أبو عِيسَى التِّرْمِذِي: هذا حديثٌ حَسَنٌ غريبٌ.
Hadis tsb hanya di riwayatkan oleh Abd Razzaq , bahkan juga tafarrud pd Ja`far bin Sulaiman perawi Irak yang Syi`ah bukan perawi Madinah.
ــ جعفر بن سليمان الضبعى ، أبو سليمان البصرى ، مولى بنى الحريش
المولد :
الطبقة : 8 : من الوسطى من أتباع التابعين
الوفاة : 178 هـ
روى له : بخ م د ت س ق
مرتبته عند ابن حجر : صدوق زاهد لكنه كان يتشيع
مرتبته عند الذهبـي : ثقة ، فيه شىء مع كثرة علومه ، قيل : كان أميا ، و هو من زهاد الشيعة
Ja`far bin Sulaiman yg wafat pd tahun 178 H termasuk tingkat pertengahan dr pengikut tabiin . Beliau terkenal sbg tokoh Syi`ah yg zuhud.
البدر المنير (5/ 698)
وَقَالَ الْبَزَّار: لَا أعلم من رَوَاهُ عَن ثَابت، عَن أنس إِلَّا جَعْفَر بن
سُلَيْمَان. وَذكره ابْن عدي (8) أَيْضا فِي أَفْرَاد جَعْفَر، عَن ثَابت. وَقَالَ ابْن
أبي حَاتِم فِي «علله» (9) : سَأَلت أبي وَأَبا زرْعَة عَنهُ فَقَالَا: لم يرفع إِلَّا من
حَدِيث عبد الرَّزَّاق، وَلَا نَدْرِي من أَيْن جَاءَ بِهِ. وَرَوَى التِّرْمِذِيّ (10)
Intinya , Al Bazzar menyatakan hadis itu hanya Ja`far yg meriwayatkannya . Bahkan Ibn a dy menyebutnya dlm afrad Ja`far atau hadis yg hanya Ja`far yg meriwayatkannya.
Ibn Aby Hatim berkata dlm kitab Ilalnya : Aku bertanya kpd ayahku dan Abu Zar`ah ttg hadis itu , lalu beliau menyatakan : Hanya Abd Razzaq yg memarfu`kan hadis itu ( Hanya Abd Razzaq yg menyatakan hadis itu benar dari tindakan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ). Dan kami tdk tahu dr mn dia bisa mengetengahkan hadis spt itu. Al Badrul munir 698/5
Cacat dr sg redaksi hadis :
Dahulu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berbuka dengan beberapa ruthab (kurma yang belum masak) sebelum melakukan shalat, jika tidak ada mk berbuka degan beberapa tamar ( kurma yg sdh masak ) Dan apabila tidak ada kurma maka beliau minum air beberapa teguk / kali
Komentarku ( Mahrus ali ) :
Hadis itu menyatakan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berbuka sblm salat Maghrib. Di masa pengikut tabiin , hanya Ja`far yg tahu hadis itu. Dan mrk sampai mati tdk phm hadis itu.
Bila hadis itu di ikuti, mk kita akan kufur pd ayat 118 Baqarah yg menyatakan berbuka harus waktu mlm. Sdg adzan Maghrib menurut ayat 114 Hud adalah adzan untuk salat akhir siang yaitu salat Maghrib.
Kita ikut ayat – yaitu berbuka di waktu mlm bukan masih sore lebih baik dr pd kita berbuka ketika adzan Maghrib yg note bennya masih sore bukan malam.
Hadis itu jls menentang al quran ayat 118 Baqarah dan 114 Hud.
Bila di buat pegangan , mk kita ini sm dg kufur pd ayat 187 Baqarah dan 114 Hud untuk percaya pd hadis yg munkar itu.
Kita kufur pd Allah untuk beriman kpd perawi Syi`ah yaitu Ja`far bin Sulaiman – sumber utama keluarnya hadis itu .
Bila kita ikut hadis itu mk kita sama dg mengfungsikan hadis munkar itu di atas ayat . Dan ini menyesatkan.
Bila kita ikut hadis itu, mk kita termasuk ingkarul ayat untuk iman pd hadis yg munkar .
Kita buka ketika adzan Maghrib sm dg kita ragu kebenaran ayat quran , ingat ayat ini :
ذَلِكَ بِأَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا اتَّبَعُوا الْبَاطِلَ وَأَنَّ الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّبَعُوا الْحَقَّ مِنْ رَبِّهِمْ كَذَلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ لِلنَّاسِ أَمْثَالَهُمْ(3)
Yang demikian adalah karena sesungguhnya orang-orang kafir mengikuti yang batil dan sesungguhnya orang-orang yang beriman mengikuti yang hak dari Tuhan mereka. Demikianlah Allah membuat untuk manusia perbandingan-perbandingan bagi mereka. Muhammad 3
Komentarku ( Mahrus ali ) :
Kebenaran dari Allah adalah ayat al quran spt ayat ;
فَلاَ تَكُ فِي مِرْيَةٍ مِنْهُ إِنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يُؤْمِنُونَ(17)
karena itu janganlah kamu ragu-ragu terhadap Al Qur'an itu. Sesungguhnya (Al Qur'an) itu benar-benar dari Tuhanmu, tetapi kebanyakan manusia tidak beriman. Hud 17.
وَلَا يَزَالُ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي مِرْيَةٍ مِّنْهُ حَتَّىٰ تَأْتِيَهُمُ السَّاعَةُ بَغْتَةً أَوْ يَأْتِيَهُمْ عَذَابُ يَوْمٍ عَقِيمٍ
Dan senantiasalah orang-orang kafir itu berada dalam keragu-raguan terhadap Al Quran, hingga datang kepada mereka kiamat dengan tiba-tiba atau datang kepada mereka azab hari kiamat. Al Haj 55.
Berbuka yg tepat adalah waktu malam, bukan waktu sore atau siang.

Berbuka adalah setelah salat maghrib dan tampak sudah malam lebih tepat karena berpegangan kpd ayat 187 Baqarah dan 114 Hud. Bukan pendapat orang tapi langsung dalil ayat.

Fase ke 6. Berbuka ketika adzan Maghrib membatalkan puasa

Fase ke 6. Berbuka ketika adzan Maghrib membatalkan puasa
. (حديث مرفوع) أَخْبَرَنَا ابْنُ خُزَيْمَةَ ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي صَفُوَانَ الثَّقَفِيُّ ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ ، حَدَّثَنَا سُفِيَانُ ، عَنْ أَبِي حَازِمٍ ، عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : " لا تَزَالُ أُمَّتِي عَلَى سُنَّتِي مَا لَمْ تَنْتَظِرْ بِفِطْرِهَا النُّجُومَ " ، قَالَ : وَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ صَائِمًا أَمَرَ رَجُلا فَأَوْفِي عَلَى شَيْءٍ ، فَإِذَا قَالَ : " غَابَتِ الشَّمْسُ " ، أَفْطَرَ .
…………, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: : Umatku selalu mengikuti sunnahku selama tdk menantikan bintang – bintang ketika berbuka.
Perawi berkata: Nabi shallallahu alaihi wasallam bila dlm keaadaan puasa , memerintah seorang lelaki lalu naik di atas sesuatu . Bila dia berkata : “ Matahari telah terbenam “ , mk beliau berbuka . HR Ibn Hibban .
Cacat sanad :
Hadis itu hanya di riwayatkan oleh Muhammad bin Abi Shofwan ats tsaqafi , identitasnya sbb:
ــ محمد بن عمرو بن نبهان بن صفوان الثقفى البصرى ، و يقال له محمد بن عمرو بن أبى صفوان ، و يقال محمد بن أبى صفوان
المولد :
الطبقة : 11 : أوساط الآخذين عن تبع الأتباع
الوفاة :
روى له : ت
مرتبته عند ابن حجر : مقبول
مرتبته عند الذهبـي : لم يذكرها
Muhmmad bin Abu Shofwan: .Dia tingkat ke 11 dr kalangan perawi yg mengambil / mendengar riwayat dr tabaul atba` yg berahir pd tahun 260 H.
Jd pada saat itu , hadis tsb masih di kethaui satu orang – yaitu Muhammad bin Abi Shofwan . Tiada orang lain tahu hadis tsb kcl dia. Sanad sedemikian ini termasuk tafarrudatil iraqiyyin – atau perawi Iraq yg tafarrud sehingga hadisnya di nilai lemah sbgmn kaidah ilmu hadis .
Dalam majalah Buhus Islamiyah terdapat keterangan:
ولهذا نقول إنه ينبغي لطالب العلم أن ينظر أن من قرائن الإعلال والرد للأحاديث، في تفردات الكوفيين والعراقيين على وجه العموم،
مجلة البحوث الإسلامية
Karena ini, kami katakan: Layak sekali bagi thalib ilm untuk melihat bahwa sebagian tanda cacat dan tertolaknya beberapa hadis adalah tafarrudnya perawi Kufah dan Irak secara umum (seperti hadis masalah Bilal tadi).
Boleh kita buktikan sanadnya sbb:
صحيح ابن خزيمة ط 3 (2/ 990)
- حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي صَفْوَانَ الثَّقَفِيُّ، حَدَّثَنَا عَبْد الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ، حَدَّثَنَا سُفْيَان، عَنْ أَبِي حَازِمٍ [212 - ب]، عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّه - صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -:
- صحيح ابن حبان - مخرجا (8/ 277)
- - أَخْبَرَنَا ابْنُ خُزَيْمَةَ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي صَفْوَانَ الثَّقَفِيُّ، [ص:278] حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنْ أَبِي حَازِمٍ، عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
- المستدرك على الصحيحين للحاكم (1/ 599)
- حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ الْحُسَيْنِ بْنِ عَلِيٍّ الْحَافِظُ، أَنْبَأَ عَبْدَانُ الْأَهْوَازِيُّ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي صَفْوَانَ الثَّقَفِيُّ، ثنا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ، ثنا سُفْيَانُ، عَنْ أَبِي حَازِمٍ، عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ:
Dari keterangan tsb , bisa di ambil kesimpulan bahwa hadis itu hanya bersumber dari satu orang yaitu Muhammad bin Abu Shofwan .Orang Irak bukan penduduk Madinah.
Dari segi sanad , hadis itu adalah munkar , bukan hadis sahih . Makanya Bukhari Muslim , Tirmidzi, Abu Dawud dan seluruh imam kutub sittah tdk meriwayatkannya. Setahu sy bgt.
Cacat redaksi :
Kalimat ini : “Nabi shallallahu alaihi wasallam bila dlm keaadaan puasa , memerintah seorang lelaki lalu naik di atas sesuatu . Bila dia berkata : “ Maahari telah terbenam “ , mk beliau berbuka .”. kalimat itu tambahan peawi berikutnya bukan perawi Sahal bin Sa`ad.
المسند الجامع (7/ 276)
(*) قال ابن خُزَيمة: هكذا حدثنا به ابن أَبي صَفوان، وأَهابُ أن يكون الكلامُ الأخيرُ عن غير سَهل بن سهل، لعله من كلام الثوري، أو من قولِ أَبي حازم، فاُدرجَ في الحديث.
Intinya : Kata Ibn Huzaimah seolah kalimat itu (Nabi shallallahu alaihi wasallam bila dlm keaadaan puasa , memerintah seorang lelaki lalu naik di atas sesuatu . Bila dia berkata : “ Maahari telah terbenam “ , mk beliau berbuka .) tambahan dari perkataan Tsauri .
Komentarku ( Mahrus ali ) :
Berhubung tambahan yg di sisipkan dlm hadis mk tdk bisa dibuat pegangan, lepaskan sj. Bila di buat pegangan menyesatkan . Tambahan kalimat Nabi shallallahu alaihi wasallam berbuka ketika matahari terbenam itu adalah tambahan perawi bukan aslinya.
Hadis itu tdk bisa di buat pegangan untuk berbuka ketika matahari terbenam . Sbb kalimat itu dr perawi yg tdk menjumpai Rasulullah shallallahu alaihi wasallam .
Bila di buat pegangan akan menyalahi ayat 187 Baqarah yg memerintah berbuka pd waktu malam dan ayat 114 Hud yg menyatakan bahwa adzan Maghrib adalah masih di sebut siang / sore bukan malam . Dan kelirulah berbuka saat adzan Maghrib sbb blm malam . Ia masih sore dan sore itu bukan malam. Sdg perintah berbuka ketika malam. Dan berbukalah ketika malam dan telah menjalankan salat Maghrib.
Cacat redaksi berikutnya :
: “Umatku selalu mengikut sunnahku selama tdk menantikan bintang – bintang ketika berbuka”
Maksudnya bila berbuka di malam hari bukan termasuk sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam . Tp bila berbuka ketika adzan Maghrib / sblm bintang terbit , mk termasuk sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam .
Bila di ikuti, mk kita akan menyalahi ayat 187 Baqarah yg memerintahkan berbuka ketika malam bukan ketika adzan Maghrib yg masih sore . Dan salat Maghrib sendiri termasuk akhir salat siang bukan awal salat malam. Rujuklah ke ayat 114 HUd.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengikuti ayat / wahyu . Jadi sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dlm berbuka adalah ketika malam. Dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tdk akan menyalahi ayat. . lihat ayatnya :
وَاتَّبِعْ مَا يُوحَىٰ إِلَيْكَ وَاصْبِرْ حَتَّىٰ يَحْكُمَ اللَّهُ ۚ وَهُوَ خَيْرُ الْحَاكِمِينَ
Dan ikutilah apa yang diwahyukan kepadamu, dan bersabarlah hingga Allah memberi keputusan dan Dia adalah Hakim yang sebaik-baiknya. Yunus 108
إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَىٰ إِلَيَّ
Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Al an`am 50

Fase ke 5. Berbuka ketika adzan Maghrib membatalkan puasa

Fase ke 5. Berbuka ketika adzan Maghrib membatalkan puasa
Anda menyatakan:
[14:32, 6/7/2017] +62 856-4668-6644: mohon cantumkan hadits rasulullah atau atsar para salaf (sahabat, tabiin, tabiut tabiin) yg mereka tidak langsung berbuka saat maghrib tiba... tapi nunggu dulu sampai benar2 gelap ! atau menurut istilah Ust. @Mahrus Ali harus nunggu sekitar 30 menit dulu...
Komentarku ( Mahrus ali ) :
Kalau dr tindakan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam saat berbuka setelah salat Maghrib , sy tdk menjumpai hadisnya nya.
Realitanya tdk ada.
Yg ada hanya hadis Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berbuka sblm salat Maghrub dan itupun bila di kaji sanad dan matanya cacat bahkan munkar atau gharib. Apa lagi bertentangan dg ayat quran 114 HUd dan 187 Baqarah.
Bila sdh jls tdk ada hadis sahih , Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berbuka ketika matahari terbenam atau ketika adzan , mk silahkan anda cantumkan hadis sahih menurut anda yg menyatakan spt itu . Dan ulaslah sanad dan matannya . Sy akan bc dan akan memberikan jawaban.
Realita Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berbuka setelh adzan juga tdk ada yg sahih. Dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berbuka setelah salat Maghrib jg tdk ada yg sahih . Mk kita punya pegangan dr al Quran. Yaitu berbuka ketika malam dan setelah salat Maghrib spt ayat 114 Hud dan 187 Baqarah.
Bg orang yg berbuka ketika adzan Maghrib akan menyalahi ayat quran tadi dan tdk punya landasan hadis yg sahih sanad dan matanya . Bila ada , tolong kaji dulu sanad dan matannya. Atau tulislah dg ulasan yg obyektif.
Bila ada hadis yg sahih Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berbuka ketika adzan Maghrib, mk akan bertentangan dg ayat dan ini tanda kelemahan menurut ahli ilmi.
Untuk atsar sahabat yg berbuka ketika adzan Maghrib silahkan tunjukkan .
Dan d pihak kami sudh menunjukkan atsar bahwa Umar dan Usman berbuka setelah salat Maghrib.
Anda menyatakan:
mohon cantumkan teks2 dari kitab para imam dan ulama mu'tabar yg menyatakan tidak boleh buka saat adzan maghrib !
Komentarku ( Mahrus ali ) :
Seandainya ada teks dt kitab kuning yg memperbolehkan berbuka ketika adzan maghrib , lalu di ikuti mk ttp menyalahi ayat 114 hud yg menyatakan adzan maghrib masih siang dan buka puasa hrs malam sbgmn ayat 187 Baqarah.
Aneh sekali anda , sdh jls ayatnya minta pendapat ulama . Kalau di kasih pendapat ulama , nanti anda akan minta qurannya . Ya bgtulah manusia yg kurang percaya pd al quran itu. Bila percaya pd qura akan cukup dg ayat .
Syaik As suba`I telah merumuskan tanda kelemahan hadis sampai tujuh belas point.
Yang nomer sembilan sbb:
9ـ ألا يخالف القرآن
“Hadis itu harus tdk bertentangan dengan al quran” .
Bila hadis tsb mash disahihkan , maka mana yg kita ambil , al qurannya atau hadisnya.
Ibnu Abbas sbb:
: تُوشِكُ أَنْ تُنْزَلُ عَلَيكُمْ حِجارَةٌ مِنَ السَّمَاءِ... أَقُوْلُ قَالِ رَسُولُ اللهِ ( صَلَّى اللَّهُ عَلَيه وَسَلَّمَ ) وَتَقُولُونَ قَالِ أَبُو بَكَرَ وَعُمَرُ ؟!
Hampir sj turun atasmu batu dari langit... Aku berkata: Rasulullah (saw) bersabda dan Anda mengatakan, Abu Bakar dan Umar?”
Apalagi sdh ada ayatnya , mlh Tanya pendapat ulama.
Bgmn bila pendapat ulama bertentangan dg al quran. Karena itu cukuplah dg ayat al quran . dan ingatlah perkataan Imam Malik:
إنَّمَا أَنَا بَشَرٌ أُصِيبُ وَأُخْطِئُ فَاعْرِضُوا قَوْلِي عَلَى الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ
Aku hanyalah manusia , terkadang pendapatku benar , di lain waktu kadang salah . Karena itu , cocokkan perkataanku ini dengan kitabullah dan hadis Rasulullah .
Dlm masalah perbedaan pendapat mk kembalikan kpd alloh dan RasulNya. Bila ayat dan hadis bertentangan , mk dahulukan ayatnya.
Anda menulis lg :
RENUNGAN :
1. jika alasan gelap sbg patokan berakhirnya siang atau masuknya malam, bukankah kala subuh tiba itu masih gelap, tapi kenapa dianggap sebagai awal siang (yg anda identikkan dg terang) ??? kenapa gak dikatakan masih malam saja ??? dan siang baru dikatakan udah tiba klo gelapnya sudah hilang..
Komentarku ( Mahrus ali ) :
Maunya km berbukalah sekalipun masih padang, bukan malam yg gelap. Bila bgt maumu mk akan menyalahi ayat 187 Baqarah yg memerintah agar puasa di sempurnakan sampai malam.
Subuh masih gelap itu tanda fajar blm terbit. Dan tdk sah menjalankan salat dlm keadaan spt itu.
Tanda fajar terbit itu kedaaan sdh tampak terang . Bila masih gelap waktu adzan Subuh , tanda fajar blm terbit. Apakah bisa di katakana fajar shadiq terbit dan keadaan masih gelap gulita. Kita ini sm tdk ngerti fajar terbit atau blm . kita ini hanya taklid buta pd ilmu hisap dlm hal ini. Karena itu banyak ulama yg mempersoalkan adzan Subuh ini . .Al bani sendiri menganjurkan agar di tunda lagi 25 ment setelah adzan Subuh.bgt juga Utsaimin
Untuk saya , mk sering saya berjamaah Subuh sekitar jam 5 pagi kurang lima menit atau jam lima pagi dlm keadaan sudah padang/ terang. Ini lebih tepat dan tdk ragu lagi . Seluruh ulama menyatakan sah salat dlm keada an spt ini. .Sy pilih keadaan terang dan sy tdk menjalankan salat Subuh dlm keada an gelap gulita.
Jadi adzan Subuh di masjidil haram atau madinah itu menurut Utsaimin blm tepat , masih keliru dan salatnya juga keliru. Salatnya di lakukan blm waktunya dan bersajadah sekalian , tambah keliru. Sekalipun di masjidil haram atau di masjid Bali. Kalau benar di katakan benar dan kalau salah ttp di katakan salah.
Anda menyatakan:
2. yg mengkhawatirkan adalah klo kita ini jatuh pada kesalahan bahkan kesesatan pemahaman karena terlalu tekstual dan mengedepankan logika/akal/pendapat pribadi kita dalam memahami ayat-ayat dan hadits2 Rasulullah...
Komentarku ( Mahrus ali ) :
Kita jls benar , tdk hawatir salah . Kalau yg berbuka ketika adzan Maghrib jls menyalahi ayat 114 Hud dan 187 Baqarah. Tdk hawatir lg atas kesalahannya.
Saya dlm menentukan berbuka puasa ini bukan pendapat sy tp ayat 187 Baqarah dan 114 Hud. Pemahaman ayat itu bgt, bukan pendapat sy.
Terus bila pemahaman ttg ayat itu salah , mk silahkan tunjujkkan mn yg bena dr pemahaman itu . Jlskan.
Kita hrs jls ttg ajaran Islam sblm mati , jngn masih bimbang jelang kematian .
Anda menyatakan :
3. yg mengkhawatirkan juga bagaimana bisa ribuan para imam/ulama/auliya'/fuqoha/muhaddits/mufassir/ushuli yg luar biasa mumpuni selama 1400 tahun gak ada yg paham masalah ini (buka ga boleh pas adzan maghrib) dan barulah ditahun 1438 kita yg berhasil paham tentangnya ?
Komentarku ( Mahrus ali ) : pernyatan spt itu tdk ilmiyah, dan tidak obyektif.
Perkataan seperti itu persis dengan sinyalemen orang – orang kafir ketika menolak kebenaran :
وَمَا سَمِعْنَا بِهَذَا فِي ءَابَائِنَا الْأَوَّلِينَ
Dan kami belum pernah mendengar (seruan yang seperti) ini pada nenek moyang kami dahulu". Al qashas 36.
Karena itu, jangan ikut perkataan orang kafir dulu atau sekarang tapi ikutilah perkataan orang mukmin yaitu sami`na wa atho`na kepada dalil dari Allah dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Ada atau tidak ada ulama yang berfatwa itu bukan persoalan . Yang penting itu dalil.
Ibnu Utsaimin jg pernah menyatakan : Tdk menjadi sarat kebenaran hrs sama dg pendapat ulama dulu .
Komentarku ( Mahrus ali ) :
Bahkan , mungkin juga ulama dulu salah dan ulalma sekarang benar . Bgmn km bila seorang mujaddid dtg lalu menyalahkan pendapat ulama dulu . Apakah km menentang nya ?
Ajaran Islam ini sdh banyak berobah, mk hrs di kembalikan kpd ajaran Allah dan RasulNya yg asli bukan pd ulama.
Kita haram ikut guru yang keliru dan kita harus mengikuti dalil untuk menghurmati ayat :
فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ ا‏ ْلآ‏خِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً
Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. Nisa` 59
Kita haram ikut ulama yang menyelisihi sahabat karena menghurmati dalil :
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ(100)
Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar. 100 Tobat
Anda menyatakan :
. yg mengkhawatirkan juga bagimana bisa orang satu dunia salah semuanya selama berabad abad, dan hanya kita (komunitas kecil ini) yg benar dalam masalah tatacara berbuka ini ?
Komentarku ( Mahrus ali ) :
Maunya kita ikut mayoritas yg berbuka ketika adzan Maghrib .. Bgmn kalau kita ikut tahlilan sj untuk mengikuti mayoritas. Memang pengikut kebenaan itu sedikit . Lihat ayatnya :
قَالَ أَرَأَيْتَكَ هَذَا الَّذِي كَرَّمْتَ عَلَيَّ لَئِنْ أَخَّرْتَنِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ لَأَحْتَنِكَنَّ ذُرِّيَّتَهُ إِلَّا قَلِيلًا
Dia (iblis) berkata: "Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku? Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebahagian kecil". Al Isra` 62
Dan beruntunglah orang yg gharib sbgmn disebut dlm hadis . Dan rugilah otang yg ikut mayoritas.
Anda menyatakan :
6. surga yg luasnya seluas langit dan bumi bisa2 sepi mlompong dg sedikit penghuni... karena semua kaum muslimin diadzab dineraka jahannam gara2 gagal paham masalah berbuka puasa, sehingga puasanya gak sah semua sebab tiap maghrib tiba mereka menyegerakan berbuka...
Komentarku ( Mahrus ali ) :
Maunya orang yg berbuka puasa ketika adzan yg masih padang itu di benarkan lalu kita menyalahi ayat 114 Hud dan 187 Baqarah .

Bila mrk gagal phm dlm salat wajib atau puasa sdh tentu di katakan keliru menurut agama dan tdk akan di masukkan ke Surga. Maunya orang yg keliru salatnya dan puasanya di masukkan ke surga. .