Tampilkan postingan dengan label Tasawuf. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tasawuf. Tampilkan semua postingan

Minggu, Oktober 18, 2015

Kesesatan Tasawuf



تلبيس إبليس - (ج 1 / ص 447)
Yahya bin Yahya berkata:

 الخَوَارِجُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنَ الصُّوْفِيَّةِ
Khawarij lebih aku sukai  dari pada ahli tasawuf

Komentarku ( Mahrus ali ):
Pernyataan tsb menunjukkan kesesatan tasawuf . Sekalipun keduanya termasuk kelompok sesat bukn kelompok yang  di jalan lurus.
Sufi sekalipun ber ahlak baik, menjalankan shalat , puasa , zakat dan haji masih tetap sesat karena banyak penyimpangan di dalamnya.

Rabu, September 02, 2015

Melihat Allah bagi kaum Sufi



Bapak Harun Nasution berkata lagi :
Kaum sufi mengartikan doa disini bukan berdoa, tetapi berseru, agar Tuhan mengabulkan seruannya untuk melihat Tuhan dan berada dekat  kepada-Nya. Dengan kata lain, ia berseru agar Tuhan membuka hijab dan menampakkan diri-Nya kepada yang berseru[1]

Komentar penulis:
Melihat Tuhan dengan mata hati adalah perkara yang tiada dalilnya dan tiada tuntunannya, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam juga tidak mengajarkan, begitu juga para sahabat tidak kenal istilah ingin melihat Allah. Dan hal ini telah saya bahas di buku saya,” Ahlussunnah Menuduh Sufi”. Untuk  doa agar hijab Allah terbuka, pada hakikat permintaan seperti itu tidak begitu penting dan tiada ajarannya dari hadis maupun dari al Quran dan tiada perintahnya, lalu untuk apakah kita minta melihat kepada Allah, lihatlah dan renungkan ayat sbb:
وَلَمَّا جَاءَ مُوسَى لِمِيقَاتِنَا وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ قَالَ رَبِّ أَرِنِي أَنْظُرْ إِلَيْكَ قَالَ لَنْ تَرَانِي وَلَكِنِ انْظُرْ إِلَى الْجَبَلِ فَإِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهُ فَسَوْفَ تَرَانِي فَلَمَّا تَجَلَّى رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَى صَعِقًا فَلَمَّا أَفَاقَ قَالَ سُبْحَانَكَ تُبْتُ إِلَيْكَ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُؤْمِنِينَ
Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: "Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau". Tuhan berfirman: "Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku". Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: "Maha Suci Engkau, aku bertobat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman".[2]
Nabi Musa tidak mampu melihat kepada Allah, bahkan pingsan dan bertobat, apalagi kita – kita yang hidup belakangan dan penuh dengan kemungkaran, dosa dan noda hitam dalam lembaran hidup kita, sudah tentu, Allah tidak akan mau tampak dan kitapun tidak akan mampu. Tiada  para  nabi sejak nabi Adam sampai nabi Muhammad yang pernah melihat Allah, seluruhnya harus melalui hijab sebagaimana ayat :
وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُكَلِّمَهُ اللهُ إِلاَّ  وَحْيًا أَوْ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ أَوْ يُرْسِلَ رَسُولاً فَيُوحِيَ بِإِذْنِهِ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ عَلِيٌّ حَكِيمٌ
Dan tidak ada seorang pun yang diajak bicara oleh Allah kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana.[3]
Jabir bin Abdillah ra berkata: “ Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam  berjumpa denganku, lalu bersabda: mengapa aku melihatmu sedih ? “ Aku berkata : “ Ayahku mati sahid di hari perang Uhud. Dia meninggalkan keluarga dan hutang.” Rasulullah SAW bersabda: “
أَفَلاَ أُبَشِّرُكَ بِمَا لَقِيَ اللهُ بِهِ أَبَاكَ
Apakah kamu saya beri kabar gembira tentang pertemuan Allah dengan ayahmu ? “.
Jabir menjawab : Ya “. Rasulullah SAW bersabda:
مَا كَلَّمَ اللهُ أَحَدًا قَطُّ إِلاَّ  مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ وَأَحْيَا أَبَاكَ فَكَلَّمَهُ كِفَاحًا فَقَالَ يَا عَبْدِي تَمَنَّ عَلَيَّ أُعْطِكَ قَالَ يَا رَبِّ تُحْيِينِي فَأُقْتَلَ فِيكَ ثَانِيَةً قَالَ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ إِنَّهُ قَدْ سَبَقَ مِنِّي أَنَّهُمْ إِلَيْهَا لاَ يُرْجَعُونَ
Allah belum pernah berbicara dengan sesesorang kecuali dari balik hijab, dan Dia berbicara dengan ayahmu secara langsung. Allah berfirman: “Wahai hambaKu ! Berharaplah kepada-Ku, AKU memberimu “.
Ayah Jabir berkata: ” Wahai Tuhanku, hidupkan lagi aku, lalu aku terbunuh lagi untuk-Mu“.
Tuhan azza wajal menjawab: “ Telah menjadi ketentuan-KU bahwa mereka tidak akan  dikembalikan ke dunia lagi “. Lantas turunlah ayat :
وَلاَ  تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللهِ أَمْوَاتًا بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ(169)فَرِحِينَ بِمَا ءَاتَاهُمُ اللهُ مِنْ فَضْلِهِ وَيَسْتَبْشِرُونَ بِالَّذِينَ لَمْ يَلْحَقُوا بِهِمْ مِنْ خَلْفِهِمْ إلاَّ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ  هُمْ يَحْزَنُونَ(170)يَسْتَبْشِرُونَ بِنِعْمَةٍ مِنَ اللهِ وَفَضْلٍ وَأَنَّ اللهَ لاَ يُضِيعُ أَجْرَ الْمُؤْمِنِينَ
Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki. mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka memberi kabar gembira terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Mereka bergirang hati dengan ni`mat dan karunia yang besar dari Allah, dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman.[4]
Hadis tsb diriwayatkan oleh Tirmidzi di nomor 3010, tetapi lemah karena ada perawi bernama Musa bin Ibrahim bin Katsir al anshori yang berkata benar tapi sering keliru. Karena itu Imam Tirmidzi sendiri menyatakan hadis tsb gharib/aneh. Dan Bukhori Muslim tidak meriwayatkannya.

Untuk Rasul Muhammad berbicara langsung dengan Allah, saya belum menjumpai dalilnya.

Setelah pembahasan di atas, maka jelaslah bagi kita semua bahwa ajaran kelompok orang-orang bodoh dalam beragama ini adalah ajaran sesat yang menyimpang sangat jauh dari petunjuk Al Quran dan As Sunnah, yang dengan mengamalkan ajaran ini -na’udzu billah min dzalik- seseorang bukannya makin dekat kepada Allah ‘azza wa jalla, tapi malah semakin jauh dari-Nya, dan hatinya bukannya makin bersih, akan tetapi malah semakin kotor dan penuh noda. Karena iblis senantiasa menjerat mereka dengan berbagai macam kesesatan, sehingga mereka membuat sunnah tersendiri bagi mereka. Mereka harus disanggah, karena itu kita tidak perlu ada sikap manis muka dalam menegakkan kebenaran. Jika tidak benar, maka kita tetap harus waspada terhadap perkataan yang keluar dari golongan mereka.


http://media.isnet.org/islam/Paramadina/Konteks/TasawufHN1.html


[1] http://media.isnet.org/islam/Paramadina/Konteks/TasawufHN1.html
[2] Al a`raf 143
[3]  As syura 51
[4] Ali imran 169-170  HR  Tirmizi, Sahih Ibnu Hibban  490/15, Nawadirul ushul 362/1 Tuhfatul ahwazi 286/8. Hilyatul auliya` 4/2

Selasa, September 01, 2015

Perang terhadap sufi Indonesia oleh Syaikh M. Nawawi al bantani




 Syaikh Muhammad Nawawi bin ‘Umar Al-Bantani (1230-1314) yang digelari Sayyid Ulama Al-Hijaz oleh penduduk Taimur (Al-A’lam VI/318 karya Az-Zarkali) dan Syaikh ‘Utsman bin Yahya (…-1333), mufti Batavia, ikut serta memberantas ajaran sufi yang sedang marak di Syarq Aqsha (Timur Jauh/Indonesia). Keduanya bersepakat untuk memadamkan ajaran sufi yang tengah marak di Nusantara.
Dalam  buku Beberapa Aspek tentang Islam di Indonesia Abad Ke19disebutkan (hlm. 121) disebutkan, “Ketika seorang Arab dari Batavia di Indonesia –negeri di mana tarekat tersebar secara sangat luas-, yaitu Sayid Usman bin Yahya, mengirim suatu brosur yang polemis dan tajam terhadap ‘sistem yang durhaka’ ini supaya Syekh Nawawi menyetujui isinya, memang ulama Banten ini tidak mau menolak untuk menyokong posisi Sayid ini dengan beberapa kata yang manis.”
Brosur bantahan Sayyid ‘Utsman bin Yahya tersebut bertajuk An-Nashihat ‘ala Niqat. Di antara kata pengantar terhadap buku ini, Al-Bantani berkata, “Adapun orang-orang yang mengambil tarekat, jikalau perkataan dan perbuatan mereka itu mufakat pada syara’ Nabi Muhammad sebagaimana ahli-ahli tarekat yang benar, maka maqbul; dan jika tiada begitu  maka tentulah seperti yang terjadi banyak di dalam anak-anak murid Syekh Ismail Minangkabau.”
Selanjutnya beliau berkata mengomentari tata cara dzikir mereka yang aneh dan adanya faktor duniawi dari pimpinan tarekat (baca: mursyid), “Maka bahwasannya mereka itu bercela akan zikr Allah dengan (…) dan mereka itu bercela-cela akan orang yang tiada masuk di dalam tarekat. Mereka itu hingga, bahwasanya mereka itu mencegah akan ikut bersembahyang padanya dan bercampur makan padanya dan mereka benci padanya istimewa pada Syekh Ismail itu hanyasanya mengambil ia akan tarekat itu : asalnya karena kumpul harta buat bayar segala hutangnya. Maka ia di dalam  asal itu mau jual agama dengan dunia adanya…”
Syekh Isma’il yang disebut Muhammad Nawawi di atas adalah Isma’il bin ‘Abdullah Al-Minkabawi Al-Jawi Al-Khalidi An-Naqsyabandi. Dia adalah seorang tokoh tarekat Naqsyabandiyyah Khalidiyyah yang berpengaruh di Minangkabau dan sekitarnya. Dia sendiri memiliki  sebuah karangan tentang tarekat silsilah Naqsyabandiyyah bertajuk Qashidah Nazhm fi Silsilah Ath-Thariqah An-Naqsyabandiyyah. (Lihat Faidh Al-Malik Al-Wahhab I/203-204, Al-Mukhtashar min Nasyr An-Nur wa Az-Zuhar hlm. 131-132, danA’lam Al-Makkiyyin II/931)
Terakhir dalam artikel ringkas ini adalah bantahan dan tahdziran dari Syaikh Ahmad bin ‘Abdul Lathif Al-Khathib Al-Minangkabawi (dalam teks Arab tertulis: Al-Minkabawi), seorang imam, khathib, dan pengajar di Masjidil Haram asal Minangkabau. Barangkali dari sekian ulama yang mentahdzir dan ‘menelanjangi’ ajaran sufi secara keseluruhan dengan tegas adalah Ahmad Al-Khathib. Beliau ini terkenal dengan sikap kerasnya dalam memerangi penyakit TBC (thatayyur, bid’ah, dan churafat), termasuk dalam hal ini adalah praktek ajaran sufi yang menjamur di negerinya.
Polemiknya dengan ulama-ulama sufi di negerinya sangat terkenal. Terlebih polemiknya dengan Muhammad Sa’ad Munqa (1277-1339), Khathib ‘Ali (w. 1353), Sulaiman Ar-Rasuli (w. 1390), dan konco-konconya yang biasa disebut dengan “kaum tuo” yang sedemikian gigih mempertahankan “jobnya” itu.
Itulah salah satu isi buku saya yg akan terbit tentang gugatan terhadap ajaran – ajaran Sufi


Rabu, April 17, 2013

Miris!!! Shufi Loyalis Mubarok & Anti Islamis Bikin Solidaritas Koptik

Hendri Intifadha  17 April 22:08
Miris!!! Shufi Loyalis Mubarok & Anti Islamis Bikin Solidaritas Koptik

MESIR (voa-islam.com) – Sabtu (13/04/13)pukul 17:00 sore GMT puluhan shufi keluar pawai dari masjid An-Nur menuju katerdral St Mark Abbasia.

Pemuka barisan pawai ini adalah Alauddin Abu Azaim, Syaikh para guru tarekat-tarekat Shufi, sejumlah anggota Uni Angkatan Shufi dan beberapa perwakilan Hizbut Tahrir Mesir (Shufi). Hal itu dalam rangka mengecam peristiwa Katedral dan dalam rangka solidaritas bersama orang-orang Koptik serta menyampaikan belasungkawa kepada komunitas gereja atas korban jiwa pada kejadian Katedral di daerah El Khusus. Slogan dari pawai solidaritas tersebut adalah Agama milik Allah, Negri milik bersama.

Gerakan Shufi di Mesir , yang terkenal loyalitasnya kepada mantan Presiden Husni Mubarak sebelum revolusi, mulai berada di barisan anti gerakan Islam setelah revolusi. Ia mengumumkan penolakannya untuk mendukung calon-calon Islamis dalam pemilihan legislatif dan presiden yang telah berlangsung di Mesir.

Katedral St Mark menyaksikan kekerasan kekerasan yang dipicu oloeh Koptik yang turut serta dalam pemakaman korban jiwa Kristen yang jatuh dalam bentrok sektarian pada Jumat lalu di daaerah Al-Khusus, propinsi Qolubia yang berjarak 20 km utara Kairo, yaitu bentrokan yang juga mengakibatkan gugurnya muslim.

Para pelayat Koptik tersebut menyerang properti milik rakyat Abbasiya serta memprovokasi mereka yang menyebabkan pecahnya bentrok antara kedua belah pihak, di aman fotografer menangkap orang-orang Koptik menggunakan berbagai jinis senjata hidup dari tongkat, batu sampai bom Molotov, sebagaimana yang dituturkan oleh petugas keamanan yang juga menjadi korban luka-luka akibat peristiwa tersebut. Padahal, Kristen Koptik telah dijamin oleh Negara hak-hak mereka, mereka tetap merasa didiskriminasi dan membuat provokasi.


Komentarku ( Mahrus ali): 
Tidak mengherankan, layak sekali bila  sufi atau ahli tasawwuf di Mesir mendukung kristen koptik. Bila mereka mendukung gerakan ahli hadis maka itulah yang perlu dicari datanya. Dan belum diketahuinya. Ini yang unik dan mengherankan. Karena keduanya sama syiriknya. Kristen syirik karena menganggap Tuhan tiga dan sufi itu syirik karena realitanya mengagungkan guru melebihi dalil. Perkataan guru lebih dipegangi dan dalil dibuang bila bertentangan dengan ajaran gurunya. Ini sama dengan membuang Allah dan mengambil guru sebagai Tuhan. Berpegangan kepada pendapat pakar tasawwuf dan melepaskan dalil.  Ingatlah ayat ini:

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلاَّ لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ
Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.
Blog ke tiga
Peringatan: Bila mesin pencari diblog tidak berfungsi, pergilah ke google lalu tulislah:  mantan kiyai nu    lalu teks yang kamu cari
Mau nanya hubungi kami:
088803080803. 081935056529
Alamat rumah: Tambak sumur 36 RT 1 RW1
                           Waru Sidoarjo