Minggu, September 27, 2026

Jawabanku untuk prof doctor Said Aqil siraj tentang maulid

 

Jawabanku untuk prof doctor Said Aqil siraj tentang maulid

Saya pernah mendengar ceramah profesor doktor said Aqil Siradj yang menyatakan bahwa maulid itu  dilakukan oleh para sahabat. Setahu saya para sahabat tidak pernah menjalankan mauled. begitu juga para tabiin , bahkan sampai sekarang maulid itu dilarang oleh pemerintah Saudi. Di Madinah waktu dulu nabi masih hidup atau nabi sudah meninggal tidak ada mauled.   Mulai para sahabat sampai kini I Mainah tidak ada mauled, bagaimana profesor doktor said Aqil Siradj menyatakan bahwa di masa sahabat juga ada mauled,  dari mana dalilnya, beliau tidak menunjukkan dalil, beliau hanya ngomong tanpa dalil. Maulid yang sekarang ada itu dilakukan oleh Syiah sampai maulidnya Fatimah maulidnya Husein Hasan dilakukan oleh Syiah

الْحُكْمُ الشَّرْعِيُّ عِنْدَ الشَّيْخِ ابْنِ بِإِزَبِدْعَة ضَلالَةً: الِاحْتِفَال بِمَوْلِد النَّبِيّ ﷺ لَيْلَةِ الثَّانِي عَشَرَ مِنْ رَبِيعٍ الْأَوَّلِ أَوْ فِي أَيِّ وَقْتٍ اخَرَ لَيْسَ لَهُ أَصْلٌ فِي الشَّرِيعَةِ.عَدَمُ فِعْلِ السَّلَفِ: لَمْ يحْتَفِل النَّبِيّ ﷺ بِمَوْلِدِه، وَلَمْ يَأْمُرْ بِهِ، وَلَمْ يَفْعَلْهُ الْخُلَفَاءُ الرَّاشِدُونَ وَلَا الصَّحَابَةِ وَلَا التَّابِعُون وَلَا أَئِمَّةَ الْقُرُون الْمُفَضَّلَة.مُخَالَفَةَ الدِّينِ: يَعْتَبِرُهُ مِنْ بَابِ إحْدَاثِ مَا لَيْسَ مِنْ الدَّيْنِ، وَقَدْ اسْتَدَلَّ بِقَوْلِ النَّبِيِّ ﷺ: «مِنْ أَحْدَثِ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ»

Menurut Syekh Ibn Baz, fatwa Islam menyatakan: Merayakan hari kelahiran Nabi pada malam tanggal 12 Rabi' al-Awwal, atau pada waktu lain, tidak memiliki dasar dalam hukum Islam. Generasi awal tidak melakukannya: Nabi (shalawat dan salam kepadanya) tidak merayakan hari kelahirannya, dan beliau juga tidak memerintahkannya, demikian pula para Khalifah yang diberi petunjuk, para Sahabat, para Penerus, dan para Imam dari generasi awal. Hal itu bertentangan dengan agama: Beliau menganggapnya sebagai bid'ah yang bukan bagian dari agama, dan beliau mengutip sabda Nabi (shalawat dan salam kepadanya): "Barangsiapa yang memasukkan ke dalam urusan kita ini sesuatu yang bukan bagian darinya, maka itu ditolak."

 

Di ndonesia yang rame mengadakan maulid itu golongan NU. Kalangan Muhammadiyah salafi dan lainnya tidak mengadakan mauled.Dalilnya dari mana maulid itu diadakan tidak ada bahkan Allah dalam Alquran tidak memerintahkan maulid begitu juga nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam tidak mengadakan mauled.Bila maulid itu ada di masa sahabat musti dilanjutkan oleh para tabiin, tapi buktinya para tabiin tidak menjalankan mauled

وَقَفَ الشَّيْخُ ابْنُ عُثَيْمين مِنْ الِاحْتِفَال بِالمَوْلِد النَّبَوِيّ:

الْبِدْعِيَّة: يَرَى أَنَّ الِاحْتِفَال بِمَوْلِد النَّبِيِّ ﷺ لَيْسَ لَهُ أَصْلٌ فِي الشَّرْعِ، وَلَمْ يَفْعَلْهُ النَّبِيُّ ﷺ وَلَا الْخُلَفَاءُ الرَّاشِدُونَ وَلَا الصَّحَابَةِ الْكِرَام.

مُخَالَفَةِ الْهُدَى: يُوَضِّحُ أَنَّ مَحَبَّةَ النَّبِيّ ﷺ الْحَقِيقِيَّةَ تَقْتَضِي اتِّبَاعِ سُنَّتِهِ وَاجْتِنَابِ الْبِدَعِ، لَا إحْدَاثَ أَعْيَاد وَمُنَاسَبَات لَمْ يُشَرِّعْهَا اللَّه.

الِانْتِفَاء التَّارِيخِيّ: يَذْكُرْ أَنَّهُ لَمْ يَصِحَّ ثُبُوتُ أَنَّ مَوْلِدَ النَّبِيِّ ﷺ كَانَ فِي الْيَوْمِ الثَّانِي عَشَرَ مِنْ رَبِيعٍ الْأَوَّلِ عَلَى وَجْهِ الْقَطْعِ، وَإِنْ الذِّكْرِيّ الْحَقِيقِيَّةُ تَكُونُ بِاسْتِحْضَار سِيرَتِه وَأَتْبَاعِهِ فِي كُلِّ وَقْتٍ لَا فِي لَيْلَةٍ مُخَصِّصَة.

 

مَوْقِع الشَّيْخُ : مُحَمَّدُ بْنُ عُثَيْمين

يُمْكِنُك الِاطِّلَاعِ عَلَى تَفَاصِيلَ الْفَتْوَى بِشَكْلٍ مُبَاشِرٍ عَبَّر الْمَوْقِع الرَّسْمِيّ لِلشَّيْخِ ابْنِ عُثَيْمين.

Pendapat Syekh Ibn Uthaymeen tentang perayaan hari kelahiran Nabi:

 

Bidah : Beliau meyakini bahwa perayaan hari kelahiran Nabi tidak memiliki dasar dalam hukum Islam, dan tidak dipraktikkan oleh Nabi (shalawat dan salam kepadanya), para Khalifah yang diberi petunjuk, atau para Sahabat yang mulia.

 

Bertentangan dengan Sunnah: Beliau menjelaskan bahwa kecintaan sejati kepada Nabi (shalawat dan salam kepadanya) mengharuskan mengikuti Sunnahnya dan menghindari inovasi, bukan menciptakan hari raya dan acara yang tidak ditentukan oleh Allah.

Ketidak  akuratan sejarah: Beliau menyatakan bahwa belum terbukti secara pasti bahwa kelahiran Nabi terjadi pada tanggal 12 Rabi' al-Awwal, dan bahwa mengingat Nabi yang sejati terletak pada merenungkan kehidupannya dan mengikuti teladannya setiap saat, bukan pada malam tertentu.

Situs web Syekh Ibn Uthaymeen: Muhammad Ibn Uthaymeen

Anda dapat melihat detail fatwa tersebut secara langsung melalui situs web resmi Syekh Ibn Uthaymeen.

 

 

 

 

 

Selasa, Agustus 25, 2026

Mayat di beritahu amalan kerabatnya di dunia ?

 

Mayat di beri tahu amal perbuatan kerabatnya di dunia ?

إنْ أَعْمَالَكُمْ تُعْرَضُ عَلَى أَقَارِبِكُمْ وَعَشَائِرِكُمْ مِنَ الْأَمْوَاتِ، فَإِنْ كَانَ خَيْرًا اسْتَبْشَرُوا بِهِ، وَإِنْ كَانَ غَيْرَ ذَلِكَ قَالُوا: اللَّهُمَّ لِاتِّمُتَّهَم حَتَّى تَهْدِيَهُمْ كَمَا هَدَيْتَنَا.

الرَّاوِي: أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ • الأَلبَانيّ، السِّلْسِلَة الضَّعِيفَة (٨٦٣) • ضَعِيفٌ [ ثُمَّ تَرَاجِع الشَّيْخ وَصَحَّحَه، اُنْظُرْ الصَّحِيحَة: 6 / 605 ] • أَخْرَجَهُ أَحْمَدُ (١٢٦٨٣) وَاللَّفْظُ لَهُ، وَالْحَكِيمُ التِّرْمِذِيُّ فِي ((نَوَادِرِ الْأُصُولِ)) (٢/٢٦٠) بِاخْتِلَافِ يَسِير

3. Amal perbuatanmu diperlihatkan kepada kerabat dan sanak saudaramu yang telah meninggal. Jika amal perbuatanmu baik, mereka akan bergembira. Jika sebaliknya, mereka akan berkata, “Ya Allah, jangan biarkan mereka meninggal sebelum Engkau memberi mereka petunjuk sebagaimana Engkau telah memberi kami petunjuk.”

 

Diriwayatkan oleh: Anas ibn Malik • Al-Albani, Al-Silsilah al-Da’ifah (863) • Lemah [Kemudian Syekh mencabut dan mengesahkannya. Lihat Al-Sahihah: 6/605] • Diriwayatkan oleh Ahmad (12683), dan redaksinya adalah miliknya, dan oleh Al-Hakim Al-Tirmidhi dalam “Nawadir al-Usul” (2/260) dengan sedikit perbedaan

ابْنُ مُفْلِحٍ، الْفُرُوع لِابْنِ مُفْلِحٍ (٣/ ٤١٥) • ضَعِيف

Ibn Muflih, Al-Furu’ karya Ibn Muflih (3/415) • Lemah

الْهَيْثَمِيّ، مَجْمَعِ الزَّوَائِدِ (٢/٣٣١) • فِيهِ رَجُلٌ لَمْ يُسَمِّ

Al-Haythami, Majma' al-Zawa'id (2/331) • ini memuat seorang pria yang tidak disebutkan namanya. ( Lemah )

شُعَيْبُ إلَّارنووط، تَخْرِيجُ الْمُسْنَد لِشُعَيْب (١٢٦٨٣) • إسْنَادُهُ ضَعِيفٌ

 

Shu'ayb al-Arna'ut, Takhrij al-Musnad li Shu'ayb (12683) • Rantai sanadnya lemah

تخريج أحاديث الإحياء = المغني عن حمل الأسفار (ص: 1881)

أخرجه ابْن أبي الدُّنْيَا والمحاملي بِإِسْنَاد ضَعِيف

Rantai periwayatan hadits Ihya' Ulum al-Din = Al-Mughni 'an Haml al-Asfar (hlm. 1881)

Diriwayatkan oleh Ibn Abi al-Dunya dan al-Mahamili dengan rantai periwayatan yang lemah.

 

Komentarku ( Mahrus ali ) :

 

Menurut KH Ma`ruf khozin tokoh nu Jatim dengan hadis tsb mayat di kuburan masih bisa berdoa

Komentarku ( Mahrus ali ) :

Sebetulnya hadis tersebut hanya dari Anas.  Albani mengatakan dhaif . Kemudian mencabutnya dan kelirulah al bani dalam  mencabut itu,  karena secara lafadh hadis ini bertentangan juga dengan Alquran. Amal perbuatanmu diatur dan diperlihatkan kepada kerabat-kerabatmu yang mati, seandainya baik mereka  gembira. kalau jelek maka mereka berdoa :Ya Allah jangan matikan mereka sehingga mereka engkau beri hidayah seperti Engkau telah memberi hidayah pada kami.Hadis itu diriwayatkan oleh imam Ahmad dan banyak yang melemahkan seperti ini . Dalam kitab al-Furu` itu juga menyatakan hadis ini lemah . Dalam kitab Al Hatsami  dikatatakan ada perawi yang tidak disebut namanya yang tidak dikenal orang jujur apa orang pendusta.  Syuaib  sendiri menyatakan  hadis ini lemah . J adi hadis ini dari segi makna bahwa perbuatan manusia disampaikan kepada mayat di kuburan dan mayat di kuburan itu bisa gembira dan bisa mendoakan yang baik. Hadis ini bertentangan dengan ayat mayat akan dibangkitkan nanti di hari kiamat bukan pada waktu sekarang dikuburan  lalu bagaimana mayat bisa berdoa. Padahal di kuburan tempat istirahat. Hadis ini menurut kyai haji ma'ruf  tokoh NU Jawa timur menunjukkan bahwa mayat itu bisa berdoa sebagaimana orang hidup . Kalau diikuti maka kita ini bertentangan dengan ayat yang menyatakan bahwa kita ini tidak dibangkitkan di kuburan, tapi nanti di hari kiamat. Bila manusia dibangkitkan di kuburan siapa yang memberi makan, siapa yang memberi minum siapa yang memenuhi kebutuhannya.  Di katakana dalam al quran .

إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُم مَّيِّتُونَ

karena itu Muhammad juga akan mati dan mereka pun juga akan mati

 Sudah mati jangan dikatakan hidup  apalagi bisa berdoa . Kyai ma'ruf yang berpegangan kepada hadis ini hadis ini sudah jelas lemah. makanya imam Malik tidak ngerti dan hanya diriwayatkan oleh Sofyan dari orang lain dari Anas . Orang lain ini tidak disebutkan siapa itu apa orang jujur apa orang pendusta. Sedemikian ini dikatakan hadits lemah tidak boleh tidak boleh dibuat pegangan tapi lepaskan saja dan tidak usah diajarkan tapi kalau mengajarkan bilang bahwa hadis ini adalah lemah, tidak boleh dibuat pegangan , kalau dibuat pegangan kita ini akan bertentangan dengan Alquran yang

Lalu.

Berdoa itu ibadah , mayat apakah di beri pahala? Padahal dia sudah tidak di wajibkan ibadah dan tidak di sunahkan, bahkan tidak bias beribadan sebagaimana ayat :

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

hingga datang kepada kami kematian

Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?"

( 43 )   Mereka menjawab: "Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat,

( 44 )   dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin,

( 45 )   dan adalah kami membicarakan yang bathil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya,

( 46 )   dan adalah kami mendustakan hari pembalasan,

حَتَّىٰ أَتَانَا الْيَقِينُ

 

( 47 )   hingga datang kepada kami kematian".

Apa keuntungannya mayat-mayat diberitahu tentang kebaikan kerabatnya dan mayat tidak bisa berbuat kebaikan juga tidak bisa berbuat kejahatan, untuk apa diberitahu, terus kapan tidurnya mayat-mayat itu kalau mereka itu dikatakan masih hidup di kuburan. Kerabat-kerabat itu diberitahu tentang perbuatan kita di dunia saja tidak bisa menolong ,dan tidak mendoakan apalagi nanti di akhirat.

 

 

 

Kamis, Agustus 20, 2026

Hukum baca al quran di kuburan

 

 Hukum baca al quuran di kuburan

حكم قراءة القرآن على القبور

سؤال

هل تجوز القراءة عند المقابر أي داخل المقابر؟ وهل ينتفع الميت بقراءة أخيه أو خاله، وغير ذلك؟

الإجابــة

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:

فليس من السنة قراءة القرآن عند المقابر، وما يفعله بعض الناس من اتخاذ قراءة القرآن عند القبور عادة هذا لم يرخص فيه أحد من العلماء.

Hukum Membaca Al-Quran di Kuburan

Pertanyaan: Apakah diperbolehkan membaca Al-Quran di kuburan, yaitu di dalam pemakaman? Dan apakah orang yang meninggal mendapat manfaat dari bacaan saudara laki-laki, paman, atau kerabatnya yang lain?

Jawaban: Segala puji bagi Allah, dan shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarganya, dan para sahabatnya. Selanjutnya:

Membaca Al-Quran di kuburan bukanlah termasuk Sunnah. Apa  yang dilakukan sebagian orang, menjadikan kebiasaan membaca Al-Quran di kuburan, tidak diperbolehkan oleh ulama mana pun.

 

 Komentarku ( Mahrus ali ) :

يرى علماء الشيعة الإمامية أن قراءة القرآن الكريم عند القبور وعند زيارة الموتى مستحبة ومؤكدة، وتُعد من الأعمال الصالحة التي يهدي ثوابها للميت لتخفيف عذابه وإدخال الأنس على روحه، مستندين في ذلك إلى الروايات الواردة عن أهل البيت.ا

 

Para ulama Syiah Imami meyakini bahwa membaca Al-Quran di kuburan dan ketika mengunjungi orang yang telah meninggal dianjurkan dan ditekankan, serta dianggap sebagai salah satu amal kebaikan yang pahalanya didedikasikan kepada orang yang telah meninggal untuk meringankan penderitaannya dan memberikan ketenangan bagi jiwanya, berdasarkan riwayat dari Ahl al-Bayt.

 

 Komentarku ( Mahrus ali ) :

المشهور في المذهب المالكي هو كراهة قراءة القرآن عند القبر وعلى الميت بعد الدفن؛ لأن ذلك لم يكن من عمل السلف ولا عمل أهل المدينة المتقدمين. ورغم القول بالكراهة عند المتقدمين، فإن متأخري المالكية أجازوا ذلك وأفتوا بوصول الثواب للميت

Pendapat yang umum di kalangan mazhab Maliki adalah bahwa membaca Al-Quran di kuburan atau di atas jenazah setelah dimakamkan adalah hal yang tidak disukai, karena hal ini bukanlah praktik umat Islam awal atau para ulama awal Madinah. Terlepas dari ketidaksukaan yang dipegang oleh para ulama terdahulu, para ulama Maliki terahir memperbolehkannya dan menetapkan bahwa pahalanya sampai kepada orang yang meninggal.

 

Komentarku ( Mahrus ali ) :

Baca Alquran di kuburan ini kebanyakan dari kalangan orang-orang NU, jarang sekali orang-orang Muhammadiyah salafi atau Ldii yang membaca Alquran di kuburan. Nabi pun tidak pernah menjalankan, begitu juga para sahabat tabiin dan penduduk Madinah. walhasil membaca Alquran di kuburan ini perkara baru yang tidak ada di masa sahabat, tidak ada dalilnya kecuali dipaksakan.Buktinya tidak ada para sahabat yang menjalankan berarti Rasulullah tidak memberikan tuntunan tentang membaca Alquran.  Memperbolehkan membaca Alquran di kuburan tapi jangan dibuat pengadatan, jangan dibuat kebiasaan itu hanya pendapat ibnuTaimiyah bukan para sahabat dan bukan tabiin.  Buang saja , jangan di ambil , tiada dalilnya.

Mahrus Ali mknu: maksud tidak disukai menurut ulama dahulu adalah haram , karena hal itu tidak ada pada masa sahabat atau dari penduduk Madinah atau lainnya itulah yang benar. Untuk ulama yang terakhir memperbolehkan membaca Alquran di kuburan tidak punya dalil , baik dari Alquran maupun hadis apalagi dikirimkan kepada mayat , malah tidak boleh. karena Allah telah menyatakan

15إِنَّ السَّاعَةَ آتِيَةٌ أَكَادُ أُخْفِيهَا لِتُجْزَىٰ كُلُّ نَفْسٍ بِمَا تَسْعَىٰ

( 15 )   Segungguhnya hari kiamat itu akan datang Aku merahasiakan (waktunya) agar supaya tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa yang ia usahakan. 15 طه

( 39 )   dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya,

( 40 )   dan bahwasanya usaha itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya).

( 41 )   Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna,

( 42 )   dan bahwasanya kepada Tuhanmulah kesudahan (segala sesuatu), النجم

(

Membaca Alquran di kuburan baik sebagai adat tiap Jumat atau bukan atau tiap haul tetap tidak diperbolehkan sebab tidak ada dalilnya. Para ulama dari para sahabat dan penduduk Madinah serta imam Malik pun tidak memperbolehkan, bila kita ikut orang banyak dengan membaca Alquran di kuburan, kita ini ikut kesalahan dan kesesatan, hal yang tidak dilakukan oleh nabi dan sahabat, karena itu hindarilah dan tidak usah baca Alquran di kuburan

 

 

 

 

 Komentarku ( Mahrus ali ) :

 

 

Senin, Agustus 10, 2026

jAWABANKU UNTUK BIN BAZ

 

Konentarku kepada syaikh bin baz

Situs web bin baz

إثبات عذاب القبر ونعيمه

السؤال

لهن قضية حول عذاب القبر ونعيمه سماحة الشيخ: سؤالهن على قدر ما استطعن أن يكتبن، يقلن:

عندما يدفن الميت هل ترجع روحه إليه في القبر؟ وإذا كان الأمر كذلك، فإلى متى يبقى الميت في العذاب؟

أم تصعد روحه إلى السماء العليا؟ وهل تبقى أم يستمر العذاب حتى يوم الحساب؟ أفيدونا؛ لأن الذين ماتوا منذ زمان بعيد منذ قرون مضت هل يبقون في العذاب، أم ينتظر حتى يوم الحساب

نريد أن توضحوا لنا هذا الأمر، جزاكم الله خيرًا.

 

Bukti Siksaan dan Kebahagiaan di Kubur

Pertanyaan:

 

Mereka( Kaum wanita ) memiliki pertanyaan mengenai siksaan dan kebahagiaan di kubur, Yang Mulia. Pertanyaan mereka, sejauh yang dapat mereka tulis, adalah sebagai berikut:

Ketika seseorang dikuburkan, apakah jiwanya kembali kepadanya di kubur? Jika demikian, berapa lama orang yang meninggal tersebut tetap berada dalam siksaan?

Atau apakah jiwanya naik ke surga tertinggi? Dan apakah jiwanya tetap di sana, atau apakah siksaan berlanjut hingga Hari Kiamat? Mohon berikan nasihat kepada kami, karena mereka yang meninggal sejak lama, berabad-abad yang lalu—apakah mereka tetap berada dalam siksaan, atau apakah mereka menunggu hingga Hari Kiamat?

Kami ingin Anda menjelaskan masalah ini kepada kami. Semoga Allah membalas Anda.

 

الجواب:

القبر إما روضة من رياض الجنة، أو حفرة من حفر النار، كما جاءت به الأحاديث عن رسول الله -عليه الصلاة والسلام- فالمؤمن ينعم في قبره، المؤمن في نعيم في قبره، وروحه في نعيم في الجنة، تنقل إلى الجنة، أرواح المؤمنين تكون في الجنة في شكل طائر يرد الجنة، ويأكل من ثمارها، تكون هذه الأرواح بشكل طائر ترد الجنة، وتأكل من ثمارها.

ويردها الله إلى الجسد إذا شاءعند السؤال، وفي الأوقات الأخرى التي يشاؤها الله -جل وعلا-.

وهو في نعيم أبدًا، وهو في نعيم وجسده ما دام باقيًا، فهو في نعيم، يناله نصيب من النعيم، كما يشاء الله سبحانه، والكافر في عذاب روحه في عذاب، وينال جسده نصيبه من العذاب

Jawaban:

Kuburan itu bisa berupa taman dari taman-taman Surga atau lubang dari lubang-lubang Neraka, sebagaimana diriwayatkan dalam hadits-hadits dari Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam. Orang beriman diberkati di dalam kuburnya; orang beriman berada dalam kebahagiaan di dalam kuburnya, dan jiwanya berada dalam kebahagiaan di Surga. Jiwanya diangkat ke Surga. Jiwa orang-orang beriman berada di Surga dalam bentuk burung-burung yang mengunjungi Surga dan memakan buah-buahannya. Jiwa-jiwa ini berada dalam bentuk burung-burung yang mengunjungi Surga dan memakan buah-buahannya.

Dan Allah mengembalikannya ke dalam tubuh ketika Dia kehendaki, pada saat ditanya, dan pada waktu-waktu lain yang Dia, Yang Maha Tinggi, kehendaki.

Ia berada dalam kebahagiaan abadi, dan tubuhnya berada dalam kebahagiaan selama masih ada. Ia menerima bagian kebahagiaan, sebagaimana yang dikehendaki Allah Yang Maha Agung. Adapun orang kafir, jiwanya berada dalam siksaan, dan tubuhnya menerima bagian siksaannya.

Komentarku ( Mahrus ali ) :

Barangkali bin bas itu berpegangan kepada hadis sebagai berikut:

١- القبْرُ رَوضةٌ مِن رِياضِ الجنَّةِ، أو حُفرةٌ مِن حُفَرِ النارِ.

الراوي: سعيد بن جبير • شعيب الأرنؤوط، تخريج منهاج القاصدين (٣٩٩) • [في سنده ضعيفان

1- Kuburan itu bisa berupa taman dari taman-taman Surga atau lubang dari lubang-lubang Neraka.

Diriwayatkan oleh: Sa'id ibn Jubayr • Shu'ayb al-Arna'ut, Takhrij Minhaj al-Qasidin (399) • [Rantai periwayatannya mengandung dua perawi lemah]

Komentarku ( Mahrus ali ) :

Ia hadis lemah.

٣- القبرُ رَوضَةٌ من رياضِ الجنةِ، أو حُفرَةٌ من حُفَرِ النارِ

الراوي: أبو سعيد الخدري وأبو هريرة • السخاوي، المقاصد الحسنة (٣٥٩) • إسناده ضعيف • أخرجه الترمذي (٢٤٦٠) واللفظ له.

3. Kuburan itu bisa berupa taman dari taman-taman Surga, atau lubang dari lubang-lubang Neraka.

Diriwayatkan oleh: Abu Sa'id al-Khudri dan Abu Hurayrah • Al-Sakhawi, Al-Maqasid al-Hasanah (359) • Sanad periwayatannya lemah • Juga diriwayatkan oleh al-Tirmidhi (2460), dan redaksinya adalah redaksi beliau.

[عن سعيد بن جبير:] القبرُ روضَةٌ من رياضِ الجنَّةِ أو حفرةٌ من حُفَرِ النّارِ.

الشوكاني، الفوائد المجموعة (٢٦٩) • لم يصب من ذكره في الموضوعات فقد أخرجه الترمذي والطبراني وفي إسناده ضعف

[Dari Sa'id ibn Jubayr:] Kuburan itu adalah taman dari taman-taman Surga atau lubang dari lubang-lubang Neraka.

Al-Shawkani, Al-Fawa'id al-Majmu'ah (269) • Siapa pun yang memasukkannya ke dalam buku hadits palsu telah keliru, karena hadits ini diriwayatkan oleh al-Tirmidhi dan al-Tabarani, dan sanadnya lemah.

Jadi kuburan itu bukan kenikmatan atau tempat siksa an tapi kuburan itu tidak ada siksaan dan tidak ada kenikmatan, karena manusia di dalam kuburan adalah tidur seperti orang tidur tapi rohnya sudah dicabut sudah mati sebagaimana ayat

Ayat 15ثُمَّ إِنَّكُم بَعْدَ ذَٰلِكَ لَمَيِّتُونَ

Al mukminun

Kemudian, sesudah itu, sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati.

Bila manusia di kuburan mendapatkan kenikmatan , apakah kenikmatan itu berupa minuman lalu mereka minum atau berupa bidadari lalu mereka bertemu dengannya atau bersenang-senang dengannya atau kenikmatan lain ada kasurnya ada air yang dingin dan lain-lain.Bila berupa siksaan maka siksaan itu berupa apa, apakah api yang menyala atau cambuk dan lain-lain Ternyata yang benar di kuburan itu nggak ada kenikmatan dan tidak ada siksaan sebagaimana ayat sebagai berikut

52قَالُوا يَا وَيْلَنَا مَن بَعَثَنَا مِن مَّرْقَدِنَا ۜ ۗ هَٰذَا مَا وَعَدَ الرَّحْمَٰنُ وَصَدَقَ الْمُرْسَلُونَ

Mereka berkata: "Aduhai celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat-tidur kami (kubur)?". Inilah yang dijanjikan (Tuhan) Yang Maha Pemurah dan benarlah Rasul-rasul(Nya). Yasin 51

Bersambung……………..

 

 

Selasa, Juli 07, 2026

KisahAbu Thalib wafat

 

َضَرَت أبا طالِبٍ الوفاةُ

إتحاف المهرة لابن حجر (13/ 195)

حب في الخامس من الخامس: أنا ابن قتيبة، ثنا حرملة بن يحيى، ثنا ابن وهب، أنا يونس، عن ابن شهاب، أخبرني سعيد بن المسيب، عن أبيه، به.

رواه أحمد: ثنا عبد الرزاق، ثنا معمر، عن الزهري، به.

اللؤلؤ والمرجان فيما اتفق عليه الشيخان (1/ 6)

حديث المُسَيَّبِ بْنِ حَزْنٍ قَالَ: لَمّا حَضَرَتْ أَبا طَالِبٍ الْوَفاةُ جاءَهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَوَجَدَ عِنْدَهُ أَبا جَهْلِ بْنَ هِشامٍ وَعَبْدَ اللهِ بْنَ أَبي أُمَيَّةَ بْنِ المُغِيرَة، قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لأبي طالِبٍ يا عَمِّ قُلْ لا إِلهَ إِلاّ اللهَ كَلِمَةَ أَشْهَدُ لَكَ بِها عِنْدَ اللهِ، فَقَالَ أَبُو جَهْلٍ وَعَبْدُ اللهِ بْنِ أَبي أُمَيَّةَ يا أَبا طَالِبٍ أَتَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ عَبْدِ المُطَّلِب فَلَمْ يَزَل رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْرِضُها عَلَيْهِ، وَيَعُودَانِ بِتِلْكَ المَقالَةِ حَتّى قَالَ أَبو طَالِبٍ، آخِرَ ما كَلَّمَهُمْ، هُوَ عَلى مِلَّة عَبْدِ المُطَّلِبِ، وَأَبى أَنْ يَقُولَ لا إِلهَ إِلاّ الله، فَقالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَمّا وَاللهِ لأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ ما لَمْ أُنْهَ عَنْكَ فَأَنْزَلَ اللهُ تَعالى فِيهِ (مَا كانَ لِلنَّبِي) الآية

__________

المسند الجامع (15/ 164)

11432- عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ:

لَمَّا حَضَرَتْ أَبَا طَالِبٍ الْوَفَاةُ، جَاءَهُ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم، فَوَجَدَ عِنْدَهِ أَبَا جَهْلٍ، وَعَبْدَ اللهِ بْنَ أَبِي أُمَيَّةَ بْنِ الْمُغِيرَةِ، فَقَالَ: أَيْ عَمِّ، قُلْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، كَلِمَةً أُحَاجُّ لَكَ بِهَا عِنْدَ اللهِ، فَقَالَ أَبُو جَهْلٍ، وَعَبْدُ اللهِ بْنُ أَبِي أُمَيَّةَ: أَتَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ، فَلَمَ يَزَلْ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَعْرِضُهَا عَلَيْهِ، وَيُعِيدَانِهِ بِتِلْكَ الْمَقَالَةِ،

4772)

Diriwayatkan dari Sa'id ibn al-Musayyab, dari ayahnya, yang berkata:

Ketika Abu Talib berada di ranjang ajalnya, Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam mendatanginya dan mendapati Abu Jahl dan Abdullah ibn Abi Umayyah ibn al-Mughirah bersamanya. Beliau berkata: "Wahai pamanku, ucapkanlah 'Tidak ada Tuhan selain Allah,' sebuah pernyataan yang dengannya aku dapat membelamu di hadapan Allah."

، فَقَالَ أَبُو جَهْلٍ، وَعَبْدُ اللهِ بْنُ أَبِي أُمَيَّةَ: أَتَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ، فَلَمَ يَزَلْ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَعْرِضُهَا عَلَيْهِ، وَيُعِيدَانِهِ بِتِلْكَ الْمَقَالَةِ

 Abu Jahl dan Abdullah ibn Abi Umayyah berkata: "Apakah kalian berpaling dari agama Abd  Al-Muttalib’’, dan Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam terus menyampaikannya kepadanya, dan mereka terus mengulangi pernyataan itu kepadanya,

حَتَّى قَالَ أَبُو طَالِبٍ، آخِرَ مَا كَلَّمَهُمْ: عَلَى مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ، وَأَبَى أَنْ يَقُولُ: لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: وَاللهِ، لأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ مَا لَمْ أُنْهَ عَنْكَ، فَأَنْزَلَ اللهُ: "مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينِ) ، وَأَنْزَلَ اللهُ فِي أَبِي طَالِبٍ، فَقَالَ لِرَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم: "إِنَّكَ لاَ تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ". خ (

 

sampai Abu Talib berkata, sebagai kata-kata terakhirnya kepada mereka: "Aku berada di agama Abdul-Muttalib," dan dia menolak untuk mengatakan: "Tidak ada Tuhan selain Allah." Dia berkata: Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda: “Demi Allah, aku akan memohonkan ampunan untukmu selama aku tidak dilarang melakukannya.” Kemudian Allah menurunkan firman-Nya: “Bukanlah hak Nabi dan orang-orang yang beriman untuk memohonkan ampunan atas dosa-dosa mereka.” (Bagi kaum musyrik), dan Allah menurunkan firman-Nya tentang Abu Talib, lalu ia berkata kepada Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam: “Sesungguhnya kamu tidak memberi petunjuk kepada siapa yang kamu cintai, tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki.” (4772)

بيان الوهم والإيهام في كتاب الأحكام (2/ 470)

 وَهُوَ عِنْدِي مُرْسل، لَا من جِهَة الِاحْتِمَال الَّذِي فِي قَول الصَّحَابِيّ: قَالَ رَسُول الله - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -، من أَن لَا يكون سمع ذَلِك، لَكِن من جِهَة أَن الْمسيب بن حزن بن أبي وهب إِنَّمَا هُوَ وَأَبوهُ من مسلمة الْفَتْح.

Penjelasan la wahm wal iham dalam Kitab Ahkam (2/470)

Menurut hemat saya, Hadis itu  adalah mursal, bukan dari sudut pandang kemungkinan sahabat berkata: Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam - berkata, bahwa dia tidak mendengarnya, tetapi dari sudut pandang bahwa Al-Musayyab bin Hazn bin Abi Wahb, dia dan ayahnya berasal dari orang yang masuk islam waktu penaklukan kota Mekkah.

HR BUkhari , muslim, ahmad dan nasai .

Jadi ayah Said tidak mengetahui kejaadia itu , sebab belum Masuk islam, dan tidak ada keterangan saat itu dia berada di sana. Dan benar bila di katakana haddis itu mursal, ( lemah ).

 

 

Perawi tunggalnya adalah Ibnu Syihab al zhri . .

قال علي بن المديني : له نحو من ألفي حديث . وقال أبو داود : حديثه ألفان ومائتا حديث ، النصف منها مسند

Ali bin al-Madini berkata: Beliau memiliki sekitar dua ribu hadits. Abu Dawud berkata: Hadits-haditsnya berjumlah dua ribu dua ratus, setengahnya merupakan sanad yang sahih.

 

هو الإمام أبو بكر محمد بن مسلم بن شهاب الزهري. قُرَشيّ من بني زُهرة. وُلد في المدينة المنورة سنة 50 للهجرة أو بعدها، ونشأ فيها، ثم أقام في الشام، وصَحِبَ خلفاء بني أميّة.

Beliau ( Al zuhri ) adalah Imam Abu Bakr Muhammad ibn Muslim ibn Shihab al-Zuhri. Beliau adalah seorang Quraisy dari Bani Zuhra. Beliau lahir di Madinah pada tahun 50 Hijriah atau setelahnya, dan dibesarkan di sana, kemudian beliau menetap di Levant, dan mendampingi para khalifah Umayyah.

وفاته: توفي الزهري سنة مئة وأربع وعشرين للهجرة، في شغب بين الحجاز وفلسطين.

رحمه الله تعالى ورضي عنه، وهيّأ للأمّة العلماء الزهّاد الكرماء الناصحين.

Wafatnya: Al-Zuhri wafat pada tahun 124 Hijriah, pada masa konflik antara Hijaz dan Palestina.

 

Semoga Allaerah dan meridainya, serta menganugerahkan kepada umat Muslim para ulama yang saleh, dermawan, dan tulus.

Ibnu sihap meriwayatkan hadis sampai 2200 setengahnya sahih.Saya sendiri masih meragukan , kok begitu banyak hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu syihab ini, Apalagi beliau terkenal muda llis  orang yang ahli menyelipkan perawi lemah agar hadisnya tanpak shahih-tahun 100-an bagaimana beliau bisa mengumpulkan hadis-hadis itu. Kalau dilihat abu bakar saja hadisnya sedikit sekali apalagi  abu bakar itu yang paling sering kumpul dengan nabi tapi hadisnya sedikit sekali . Ada orang mengumpulkan musnad abu bakar secara khusus  sebagai berikut

  Komentarku ( Mahrus ali ) :

والظاهر - والله أعلم - أن المؤلف قصد إلى جمع كل ما أمكن الوقوف عليه من الأحاديث المروية من طريق أبي بكر؛ فلأجل ذلك لم يتحر الصحة في المرويات.

Tampaknya—dan Allah Maha Mengetahui—penulis bermaksud mengumpulkan semua hadits yang diriwayatkan melalui Abu Bakar yang dapat ia temukan; oleh karena itu, ia tidak memverifikasi keaslian riwayat tersebut.

Jumlah hadits yang disertakan, termasuk pengulangan, adalah 140.

Pengarangnya Abu bakar al marwazi.

هذا؛ وقد بلغت جملة ما فيه من الأحاديث ١٤٠ حديثا بالمكرر

Ini; dan jumlah total hadits yang terkandung di dalamnya, termasuk pengulangan, adalah 140.

Riwayat abu Thalib itu bila dipercaya maka akan bertentangan dengan ayat 90 Yunus cerita tentang Firaun di akhir hayatnya membaca kalimat tauhid tapi tidak diterima oleh Allah .makanya nabi tidak akan menyuruh abu Thalib untuk membaca kalimat tauhid ketika menjelang wafatnya sebab beliau adalah kafir

Senin, Juli 06, 2026

orang kafir masuk surga benarkah ?

 

Hadis orang kafir masuk surga benar ?

٣- قال رجُلٌ لمْ يعمَلْ خيرًا قَطُّ لأهلِهِ، إذا ما مات، فأحرِقوهُ، فذَرُّوا نِصفَهُ في البَرِّ، ونِصفَهُ في البَحرِ، فواللهِ لَئِنْ قدَر اللهُ عليه لَيُعَذِّبَنَّهُ عذابًا لا يُعَذِّبُهُ أحَدًا منَ العالَمِينَ، فلمّا مات فعَلوا، فأمَر اللهُ البَحرَ فجمَع ما فيه، وأمَر البَرَّ فجمَع ما فيه، ثمَّ قال: لِمَ فعَلْتَ هذا؟ قال: مِن خَشْيَتِكَ يا ربِّ، وأنتَ أعلَمُ، فغفَر له.

الراوي: أبو هريرة • شعيب الأرنؤوط، تخريج مشكل الآثار (٥٦٣) • إسناده صحيح على شرطهما • أخرجه الطحاوي في  ((شرح مشكل الآثار)) (٥٦٣) واللفظ له، والبخاري (٣٤٨١)، ومسلم (٢٧٥٦) كلاهما بنحوه.

جامع الأصول (8/ 42)

«كان رجل يُسْرِفُ على نَفسِه، فلما حَضَرَهُ الموتُ،

جامع الأصول (8/ 42)

قال رجل لم يعمل حسنة قَطُّ لأهله: إذا مات فَحرِّقُوه

Jami' al-Usul (8/42)

 

"Ada seorang pria yang sangat sombong.(  melewati batas dalam kjelekan ) Ketika kematian menghampirinya,

Jami' al-Usul (8/42)

Seorang pria yang tidak pernah berbuat baik kepada keluarganya berkata: 'Ketika dia meninggal, bakarlah dia.'"

 

 

 Seorang pria yang tidak pernah berbuat baik kepada keluarganya berkata, “Ketika aku mati, bakarlah aku, lalu sebarkanlah separuh abuku di darat dan separuhnya lagi di laut. Karena demi Allah, jika Allah mempunyai kuasa atas aku, Ia akan menghukumku dengan hukuman yang tidak seperti hukuman apa pun di dunia.” Maka ketika ia mati, mereka melakukan seperti yang diperintahkannya. Kemudian Allah memerintahkan laut untuk mengumpulkan apa yang ada di dalamnya, dan Ia memerintahkan darat untuk mengumpulkan apa yang ada di dalamnya. Kemudian Ia berkata, “Mengapa kamu melakukan ini?” Ia menjawab, “Karena takut kepada-Mu, ya Tuhan, dan Engkau Maha Mengetahui.” Maka Allah mengampuninya.

 

Perawi: Abu Hurairah • Shuaib Al-Arna’ut, Takhrij Mushkil Al-Athar (563) • Rantai periwayatannya sahih menurut syarat-syarat mereka • Diriwayatkan oleh Al-Tahawi dalam Sharh Mushkil Al-Athar (563) dan redaksinya sama dengan miliknya, dan oleh Al-Bukhari (3481), dan Muslim (2756), keduanya dengan redaksi yang serupa.

 

ابن عبد البر، الاستذكار (٢/٦١٩) • روي موقوفاً والصواب رفعه، وقد روي من طرق كثيرة • أخرجه البخاري (٧٥٠٦)، ومسلم (٢٧٥٦)

Ibn Abd al-Barr, Al-Istidhkar (2/619) • Diriwayatkan sebagai pernyataan seorang Sahabat,( Mauquf ) namun pandangan yang benar adalah bahwa itu adalah pernyataan Nabi. Diriwayatkan melalui banyak rantai periwayatan. • Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (7506) dan Muslim (2756).

الألباني، صحيح النسائي (٢٠٧٨) • صحيح • أخرجه مسلم (٢٧٥٦) باختلاف يسير، والنسائي (٢٠٧٩) واللفظ له • شرح حديث مشابه

Al-Albani, Sahih An-Nasa'i (2078) • Sahih • Diriwayatkan oleh Muslim (2756) dengan sedikit perbedaan, dan An-Nasa'i (2079) dengan redaksi seperti di atas • Penjelasan hadits serupa

[Perawi tungggal hadis tsb adalah Zuhri dan beliau adalah

[هو الإمام أبو بكر محمد بن مسلم بن شهاب الزهري. قُرَشيّ من بني زُهرة. وُلد في المدينة المنورة سنة 50 للهجرة

Beliau adalah Imam Abu Bakr Muhammad ibn Muslim ibn Shihab al-Zuhri. Seorang Quraisy dari Bani Zuhrah. Beliau lahir di Madinah pada tahun 50 Hijriah.

وفاته: توفي الزهري سنة مئة وأربع وعشرين للهجرة، في شغب بين الحجاز وفلسطين

 

رحمه الله تعالى ورضي عنه، وهيّأ للأمّة العلماء الزهّاد الكرماء الناصحين.

Wafatnya: Al-Zuhri wafat pada tahun 124 Hijriah, di staghob  antara Hijaz dan Palestina.

Semoga Allah merahmatinya dan meridainya, serta menganugerahkan kepada umat Muslim para ulama yang saleh, dermawan, dan tulus.bertempat tinggal d suria

Hadis tersebut kadang diriwayatkan oleh az-zuhri yaitu orang Syam Suriah kadang diriwayatkan oleh imam Malik masing-masing dari abu Hurairah sanadnya  masih dikatakan bagus,Bararti bukan perawi tunggal karena imam malik meriwayatkan .  boleh juga di shahihkan, tapi hadis itu  tidak hanya sanadnya yang bagus tapi kalimatnya tidak bertentangan dengan al quran. Ada perbedaan kalimat dari hadis tersebut dari satu perawi yaitu abu Hurairah mana yang benar. kita tidak tahu kalimatnya sebagaimana di sebutkan di atas.

Arti musrifin juga di sebut dalm al quran seperti Firaun sbb ;

فَمَا آمَنَ لِمُوسَىٰ إِلَّا ذُرِّيَّةٌ مِّن قَوْمِهِ عَلَىٰ خَوْفٍ مِّن فِرْعَوْنَ وَمَلَئِهِمْ أَن يَفْتِنَهُمْ ۚ وَإِنَّ فِرْعَوْنَ لَعَالٍ فِي الْأَرْضِ وَإِنَّهُ لَمِنَ الْمُسْرِفِينَ

[10.02, 24/6/2026] Mahrus ali: Maka tidak ada yang beriman kepada Musa, melainkan pemuda-pemuda dari kaumnya (Musa) dalam keadaan takut bahwa Fir'aun dan pemuka-pemuka kaumnya akan menyiksa mereka. Sesungguhnya Fir'aun itu berbuat sewenang-wenang di muka bumi. Dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang melampaui bat

Komentarku ( Mahrus ali ) :

Lelaki dalam hadis tersebut adalah kafir, kalau dia muslim akan mengerjakan kebaikan, salat puasa dan lain-lain. Tapi  dia tidak melakukan kebaikan sama sekali, makanya saya katakan lelaki itu kafir,  dia melanggar juga dengan wasiat agar tubuhnya dibakar. Dalam Islam membakar tubuh mayat itu tidak diperkenankan dan tidak dilakukan oleh para nabi atau sahabat. Anehnya hadis itu dimasukkan di dalam shahih Bukhari an muslim dan Albani sendiri menshahehkan . Mestinya hadits tersebut adalah lemah. tinggalkan saja jangan dibuat pegangandan jangan dipercaya, tapi ragukan saja buang saja walaupun ia muttafaq alih diriwayatkan oleh Bukhari Muslim dalam kitab shahihnya . Kalau kita ini percaya pada hadis tersebut berbahaya karena orang kafir kok masuk surga

bila dosa lelaki itu sudah diampun. sudah tentu tidak dimasukkan ke neraka tapi ke surge.  Untuk apa pengampunan dosa lalu tetap dimasukkan ke dalam neraka. Kalau dia dimasukkan ke surga maka akan ditiru oleh kaum muslimin.  kalau disahihkan akan dibuat pedoman oleh bangsa sekarang, makanya hadis tersebut tidak benar tapi kok disahihkan oleh Albani, tepatlah apa yang dikatakan oleh syekh Mahfud dalam kitab manhaj dzawin nadhor bahwa ahli hadis itu bodoh-bodoh.

 Dan tidak mengerti makna matan atau arti redaksi hadits itu, karena itu jangan terlalu percaya dengan omongan ahli hadis yang tidak mengerti makna hadits kalau dipercaya kita yang berbahaya. Percayalah ahi quran yang alim.