Kamis, Februari 12, 2026

luruskan barisan salat ke 6

 

 

27يَا بَنِي آدَمَ لَا يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أَخْرَجَ أَبَوَيْكُم مِّنَ الْجَنَّةِ يَنزِعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوْآتِهِمَا ۗ إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لَا تَرَوْنَهُمْ ۗ إِنَّا جَعَلْنَا الشَّيَاطِينَ أَوْلِيَاءَ لِلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ

27 Wahai anak Adam, janganlah setan menggoda kamu sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua orang tuamu dari surga, dengan menelanjangi mereka dan menyingkapkan aurat mereka. Sesungguhnya ia dan kaumnya melihat kamu dari tempat yang tidak kamu lihat. Kami telah menjadikan setan sebagai sekutu orang-orang yang tidak beriman. Al a`raf 27.

Orang bilang : Mungkin juga mu`jizat.

Saya katakan: Mu`jizat hendaknya cocok dengan ayat. Allah suddah menjelaskan Rasul itu manusia biasa , bukan mlaikat an bukn jin . Kita tidak percaya ayat ini

فَقَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِن قَوْمِهِ مَا نَرَاكَ إِلَّا بَشَرًا مِّثْلَنَا وَمَا نَرَاكَ اتَّبَعَكَ إِلَّا الَّذِينَ هُمْ أَرَاذِلُنَا بَادِيَ الرَّأْيِ وَمَا نَرَىٰ لَكُمْ عَلَيْنَا مِن فَضْلٍ بَلْ نَظُنُّكُمْ كَاذِبِينَ

Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya: "Kami tidak melihat kamu, melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa) seperti kami, dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu, melainkan orang-orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihat kamu memiliki sesuatu kelebihan apapun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta". Hud 27

Bila kita percaya Rasul bisa melihat setan dari belakang ketik a salat , kita ber arti tidk mngerti ayat itu atau mendustakanny a, tidak percaya paanya. dan ayat itu tidak berfungsi dalam kehidupan kita sseperti omong kosong belaka,tidak dari Allah bahkan bikinan manusia. Lalu bodohnya kita memegang hadis mungkar untuk lemparkan ayat suci.

 

كان رسولُ اللهِ ﷺ إذا أُقيمَتِ الصلاةُ مسَحَ صُدورَنا، وقال: رُصُّوا المَناكِبَ بالمَناكِبِ، والأقدامَ بالأقدامِ، فإنَّ اللهَ تعالى يُحِبُّ في الصلاةِ ما يُحِبُّ في القِتالِ، كأنَّهم بُنيانٌ مَرصوصٌ.

الراوي: البراء بن عازب • شعيب الأرنؤوط، تخريج مشكل الآثار (٥٦٢٧) • إسناده ضعيف • أخرجه الطحاوي في ((شرح مشكل الآثار)) (٥٦٢٧) بلفظه، وابن أبي عاصم في ((الجهاد)) (١٤٣) ببعض لفظه

Ketika salat hendak dimulai, Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam biasa mengusap dada kami dan berkata, “Rapatkan bahu kalian dan kaki ( mata kaki kalian, karena Allah menyukai dalam salat apa yang Dia sukai dalam peperangan, seolah-olah keduanya adalah bangunan yang kokoh.”

 

Diriwayatkan oleh: Al-Bara’ ibn ‘Azib • Shu’ayb al-Arna’ut, Takhrij Mushkil al-Athar (5627) • Sanad periwayatannya lemah • Juga diriwayatkan oleh al-Tahawi dalam Sharh Mushkil al-Athar (5627) dengan redaksi yang sama, dan oleh Ibn Abi ‘Asim dalam al-Jihad (143) dengan beberapa redaksi yang sama

Hadis lemah.

الكتاب: شرح مشكل الآثار

المؤلف: أبو جعفر أحمد بن محمد بن سلامة بن عبد الملك بن سلمة الأزدي الحجري المصري المعروف بالطحاوي (المتوفى: 321هـ)

تحقيق: شعيب الأرنؤوط

الناشر: مؤسسة الرسالة

الطبعة: الأولى - 1415 هـ، 1494 م

عدد الأجزاء: 16 (15 وجزء للفهارس)

Kitab: Penjelasan Riwayat-Riwayat yang Sulit

Pengarang: Abu Ja'far Ahmad ibn Muhammad ibn Salamah ibn 'Abd al-Malik ibn Salamah al-Azdi al-Hajari al-Misri, dikenal sebagai al-Tahawi (wafat 321 H)

Penyunting: Shu'ayb al-Arna'ut

Penerbit: Yayasan Al-Risalah

Edisi: Pertama - 1415 H, 1494 M

Jumlah Jilid: 16 (15 jilid dan satu jilid untuk indeks)

شرح مشكل الآثار (14/ 294)

مَا قَدْ حَدَّثَنَا أَبُو أُمَيَّةَ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْقَاسِمِ الْأَسَدِيُّ، عَنْ أَبِي جَنَابٍ الْكَلْبِيِّ، عَنْ طَلْحَةَ بْنِ مُصَرِّفٍ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْسَجَةَ، عَنِ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أُقِيمَتِ الصَّلَاةُ مَسَحَ صُدُورَنَا، وَقَالَ: " رُصُّوا الْمَنَاكِبَ بِالْمَنَاكِبِ، وَالْأَقْدَامَ بِالْأَقْدَامِ، فَإِنَّ اللهَ تَعَالَى يُحِبُّ فِي الصَّلَاةِ مَا يُحِبُّ فِي الْقِتَالِ , كَأَنَّهُمْ بُنْيَانٌ مَرْصُوصٌ "

 

Penjelasan Riwayat-Riwayat yang Sulit (14/294)

Abu Umayyah meriwayatkan kepada kami, Muhammad ibn al-Qasim al-Asadi meriwayatkan kepada kami, dari Abu Janab al-Kalbi, dari Talhah ibn Musarrif, dari Abd al-Rahman ibn Awsajah, dari al-Bara’ ibn Azib, yang berkata: Ketika shalat hendak dimulai, Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam mengusap dada kami dan berkata: “Rapatkan bahu ke bahu dan rapatkan kaki.” Dengan kaki ( mata kaki dengan mata kaki ), karena Allah Yang Maha Kuasa menyukai dalam shalat apa yang Dia sukai dalam peperangan, seolah-olah mereka adalah bangunan yang kokoh.

Komentarku ( Mahrus ali ): Tidak ada kitab kitab sunnah yang mencantumkan hadis tsb kecuali musykilil atsar. Saya tidak menjumpai hadis yang menerangkan untuk merapatkan bau dan mata kaki yang valid. Kita hanya mendengar orang bilang begitu.  Para imam ahii hadis enggan memasukkan hadis tsb dalam kitab mereka. Ini bukti hadis itu tidak sahih. Andaikan sahih mengapa mereka berbuat seperti itu. Lihat sanadnya :

مَا قَدْ حَدَّثَنَا أَبُو أُمَيَّةَ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْقَاسِمِ الْأَسَدِيُّ، عَنْ أَبِي جَنَابٍ الْكَلْبِيِّ، عَنْ طَلْحَةَ بْنِ مُصَرِّفٍ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْسَجَةَ، عَنِ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ

Abu Umayyah meriwayatkan kepada kami, Muhammad ibn al-Qasim al-Asadi meriwayatkan kepada kami, dari Abu Janab al-Kalbi, dari Talhah ibn Musarrif, dari Abd al-Rahman ibn Awsajah, dari al-Bara’ ibn Azib,

عبد الرحمن بن عوسجة الهمداني ثم النهمي الكوفي

Abd al-Rahman ibn Awsajah al-Hamdani, kemudian al-Nahmi al-Kufi

Kevalidan hadis itu harus diklarivikasi ,matan dan sanadnya. Bila salah satunya cacat, maka hadis itu tidak sahih dan harus dI tinggalkan karena lemah, tidak boleh I buat pegaangan atau sandaran dalam beragama. Cacat disini karena tafarrudnya Abd Rahman bin Ausaja dari Irak. Perawi Medinah tidak ada yang paham hadis itu. Pada hal  kesendirian perawi Irak itu gawat sekali.

 

لا يُشك أن تفرد الصدوق ليس كتفرد الضعيف المتفق على ضعفه، فوجب التفريق بينهما؛ لأن تفرد الصدوق مشكوك فيه عند من لا يقبله، وأما تفرد الضعيف فالمترجح في الظن أنه خطأ، ولهذا فالأولى أن يُستعمل لفظ (التوقف) بدل الرد إلا بالنسبة لمن صرح بالرد كالبرديجي مثلاً فيُحافظ على عبارته كما قالها، وأما من حيث عموم المذهب فلفظ (التوقف) أولى.

Tidak diragukan lagi bahwa riwayat tunggal dari perawi terpercaya tidak sama dengan riwayat tunggal dari perawi lemah yang kelemahannya disepakati secara bulat. Oleh karena itu, harus dibedakan di antara keduanya. Riwayat tunggal dari perawi terpercaya dipertanyakan oleh mereka yang tidak menerimanya, sedangkan riwayat tunggal dari perawi lemah umumnya dianggap keliru. Karena alasan ini, lebih baik menggunakan istilah "penangguhan" (tawaqquf) daripada "penolakan" (radd), kecuali dalam kasus seseorang yang secara eksplisit menolak suatu riwayat, seperti al-Bardiji, yang redaksinya harus dipertahankan. Namun, mengenai posisi umum mazhab tersebut, istilah "penangguhan" lebih tepat.

Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pesan yang baik, jangan emosional.Bila ingin mengkeritisi, pakailah dalil yang sahih.Dan identitasnya jelas. Komentar emosional, tidak ditayangkan